
Pagi ini aku bangun agak lambat, tidak seperti biasanya yang bangun selalu pagi-pagi sekali.
Aku menghela napas, memandang wajahku di pantulan cermin. Walaupun sudah aku tutupi dengan make up, tapi mata cekung kurang tidurku tak dapat tertutup dengan sempurna.
Aku menghela napas, kulirik Fitri yang masih tertidur lelap di atas ranjangku. Malam tadi, gadis kecilku sedikit manja. Tidak biasanya ia minta tidur bersamaku. Biasanya ia akan selalu tidur bersama neneknya.
"Sayang, bunda pergi kerja dulu ya, Nak, kamu sama nenek aja di rumah! Dan jangan nakal ya, Nak. Jangan bikin nenek repot!" ujarku sambil mencium rambut Fitri.
Entah gadis kecilku itu mendengarkannya atau tidak? Yang jelas Fitri masih tak bergeming. Masih tertidur lelap tampaknya.
Kuciumi kembali pipi gembulnya sebelum melangkahkan kaki pergi. Aku tersenyum membayangkan waktu yang cepat sekali berputar. Tak terasa gadis kecilku sudah mulai besar dan akan masuk sekolah tahun ini.
Seperti biasa di jam makan siang, aku akan selalu menemani Mas Amar untuk makan siang di resto. Di tempat biasa yang menjadi favoritnya.
Namun, ada sedikit kecanggungan yang kurasakan saat bersamanya kali ini, sejak ia memintaku untuk menikah dengannya, membuatku tak berani menatap wajahnya secara langsung.
"Apa kamu kurang tidur, Sukma?" tanya Mas Amar memecah keheningan diantara kami. Aku menggelengkan kepala sambil mengulas tersenyum. Entahlah, aku hanya lagi malas bersuara saja kali ini.
"Maaf Pak Amar dan Bu Sukma, ada orang yang sedari tadi memaksa ingin bertemu, Bu Sukma," ujar seorang karyawan menyela saat kami mulai menikmati makanan kami. Aku menoleh dan seketika mataku menanam melihat sosok yang berdiri di samping karyawanku itu.
"Kamu?!" ujarku tak percaya. Ada angin apa yang membuat mantan suamiku itu datang kesini? Apa ia ingin memakai dan menghinaku lagi? Pelayan yang bernama Azril itu pergi mengundurkan diri, sedangkan aku masih menatap Mas Ali tak percaya.
__ADS_1
"Ada apa kamu kesini?" tanya Mas Amar to the point. Ia terlihat tak suka melihat kedatangan Mas Ali ke sini.
"Maaf jika kedatangan saya mengganggu kalian berdua. Sukma bisa kita bicara berdua sebentar? Ada hal yang ingin aku bicarakan bersamamu. Tentang kita!" pinta Mas Ali.
Dahiku berkerut, memangnya apa yang ada di antara kami, yang masih harus di bahas? Sepertinya tak ada lagi!
"Kau memang mengganggu, jika ada yang mau dibahas, maka bahas, lah, masalah itu di sini!" ujar Mas Amar menyela.
Tiba-tiba Mas Ali duduk di sebelahku, ia memegang tanganku, membuatku terkejut. Pun Mas Amar. Mas Ali menggenggam tanganku erat dan menatapku dengan tatapan lembut yang dulu pernah selalu ia berikan padaku, tepatnya pada waktu ia mencintaiku.
"Sukma, maafkan Mas! Mas sadar jika selama ini mas salah. Mas telah menelantarkan kamu dan Fitri, putri kita. Maafkan mas, Sukma!" ujar Mas Ali. Aku melihat raut serius di wajahnya. Hanya saja aku bingung kenapa tiba-tiba pria ini berubah baik begini?
"Apa maksudmu, Mas? Kenapa kamu tiba-tiba datang dan bersikap seperti ini?" ujarku.
"Maafkan aku Sukma, aku mengaku salah dengan sikapku selama ini padamu. Ternyata kamulah wanita yang baik untukku, bukan Ratna. Wanita itu telah mengkhianatiku dengan mengandung anak pria lain. Bagas bukan putraku, tapi Fitrilah anak kandungku. Maafkan aku, Sukma!" ucap Mas Ali mengiba.
Aku mulai mengerti kenapa sikapnya tiba-tiba berubah, ternyata anak lelaki yang ia harapkan bukanlah benihnya. Entah bagaimana aku menggambarkan perasaan di hatiku kali ini. Haruskah aku bahagia di atas kesedihannya kali ini, atau aku harus bersedih? Kenapa ia baru menyadari kesalahannya setelah sekian tahun aku dan Fitri hidup menderita.
"Aku mohon, Sukma. Maafkan aku, aku mau kita rujuk kembali dan membangun keluarga kita kembali. Kamu, aku dan Fitri, putri kita. Kamu mau kan sayang?" ujar Mas Ali lembut padaku. Begitu meyakinkan.
Kutarik napas ini pelan, baru saja mulut ini akan berucap, sebuah tangan dengan kasar melepaskan pegangan tangan Mas Ali pada tanganku. Aku menoleh l, aku lihat wajah Mas Amar yang memerah dengan rahang yang mengeras.
__ADS_1
Degh
Aku baru sadar jika sedari tadi pria ini ada di sampingku dan menyaksikan drama mengajak balikan, yang diciptakan Mas Ali.
"Hebat sekali, setelah menyakiti sekarang kamu datang dengan santainya mengajak Sukma untuk balikan?! Kamu pikir kamu siapa, hah! Silahkan kamu pergi dari sini sebelum aku menyeretmu keluar!" ucap Mas Amar lantang. Bahkan tersirat emosi di dalamnya.
Aku menelan ludahku, baru kali ini aku melihat Mas Amar semarah ini. Wajahnya tampak menyeramkan. Untung saja pengunjung siang ini sudah banyak yang pergi, sehingga tak ada pengunjung yang makan di area gazebo. Jika tidak mungkin kami sudah menjadi tontonan orang banyak.
"Aku mantan suami dan ayah dari anaknya. Apa aku tidak boleh meminta Sukma untuk balik lagi padaku? Memangnya siapa kamu yang melarang Sukma untuk rujuk padaku?!" jawab Mas Ali santai, tapi terdengar tak tahu malu di telingaku. Begitu entengnya ia mengatakan hal itu, seperti ia tak ada dosa.
Aku lihat Mas Amar tersenyum sinis menatap Mas Ali nyalang. "Mantan suami yang tukang selingkuh serta ayah yang tak bertanggung jawab, maksudmu?"
"Jaga ucapan Anda, saya tidak ada urusan dengan anda. Saya hanya ada urusan dengan mantan istri saya yang merupakan ibu dari anak saya Fitri! Jadi bisakah anda, tinggalkan kami berdua untuk berbicara!"
Mas Ali mulai berbicara dengan kata-kata formal dan menegaskan status Mas Amar yang bukan siapa-siapa bagiku. Membuat Mas Amar semakin mengeratkan rahangnya.
Tangannya tampak terkepal di kedua sisi tubuhnya. Sebelum melangkah pergi meninggalkan kami berdua. Mas Amar menatap kedua mataku dalam, tatapan yang tak bisa aku artikan. Marah? Kecewa? Cemburu? Atau?? Entahlah ...
Namun baru berjalan beberapa langkah, Mas Amar kembali berbalik. "Selesaikan urusan kalian secepatnya, dan suruh pria itu pergi dari sini! Aku harap jawabanmu terhadap pria itu tidak mengecewakanku, Sukma! Karena apa yang kukatakan padamu tempo hari itu serius!"
Hatiku berdesir, menatap punggung Mas Amar yang pergi menjauh. Entah kenapa aku begitu bahagia mendengar ucapannya tadi. Secara tidak langsung ia menunjukkan bahwa ia cemburu padaku.
__ADS_1
Apakah aku mulai menyukai pria dingin itu? Lalu apa yang harus aku lakukan pada pria egois yang ada di hadapanku ini? Setelah menyakiti dan menghinaku, sekarang denan entengnya dia datang dan mengajakku rujuk. Memangnya dia anggap apa aku ini!