
Sejak kepulangan Fitri dari ruah sakit, aku merasa was-was. Entah kenapa, aku merasa seperti ada seseorang yang membuntuti dan mengawasi kami sejak kemaren.
"Sukma, kamu ngapain ngintip-ngintip di balik jendela?" ujar ibu mengagetkanku. Aku memang sedang mengintip dari balik jendela kamarku yang dapat mengarah langsung ke jalanan. Menurutku ini tempat yang strategis untuk memantau dari dalam rumah.
"Astagfirullah! Ibu ngagetin Sukma, saja." Aku beranjak dari jendela, dan duduk di sebuah sofa panjang yang kuletak di dekat jendela itu
"Entah kenapa, sejak Fitri pulang dari rumah sakit, Sukma merasa ada yang mengawasi gerak gerik Sukma, Bu,"
"Mengawasimu? Siapa?" tanya ibu dengan dahi yang mengerut. Aku mengangkat bahuku, tanda tak tahu.
"Sudahlah Sukma, jangan kamu pikirkan lagi! Itu cuma perasaanmu saja,"
Aku mengangguk, mungkin ibu benar. Aku saja yang terlalu berhalusinasi, kali ini. Ibu menarik lenganku, untuk kembali duduk di sampingnya, saat aku mulai berdiri dan ingin beranjak pergi.
"Mau ke mana kamu, Sukma?" Tanya ibu membuatku bertambah bingung.
"Sukma mau ke kamar Fitri, Bu. Memangnya ada apa?"
"Fitri lagi di ruang tamu sama ayahnya?!"
Mataku melebar seketika. "Mas Ali ke rumah ini?" tanyaku. seakan tak percaya, lelaki itu ada di rumah ini.
__ADS_1
"Bukan Ali, Sukma! Tapi, nak Amar! jawab ibu.
Aku menghela napas panjang, bersyukur di dalam hati. lagi pula apa yang aku pikirkan, bagaimana mungkin Mas Ali mau datang ke rumah ini hanya untuk menemui anaknya. Itu adalah sesuatu yang mustahil terjadi!
"Sukma, ibu mau bertanya padamu, jawab pertanyaan ibu dengan jujur?" ujar ibu. Ia menatap dalam mataku, membuat aku menjadi salah tingkah. Aku yakin ibu ingin bertanya tentang panggilan ayah yang Fitri sematkan pada Amar.
"Apa itu, Bu? Apa tentang panggilan yang Fitri ucapkan untuk Mas Amar?"
"Bukan itu saja, Sukma. Ibu mengerti kenapa Fitri memanggil Amar ayah, pasti karena di rumah sakit, Fitri mengira Amar itu ayahnya. Namun yang ibu tanyakan padamu adalah, sampai kapan kamu akan sendiri seperti ini, Sukma? Kamu tidak bisa selamanya membiarkan Fitri hidup dalam kebohongan. Amar itu bukan ayahnya!" Ibu tegas.
Aku cukup terenyak mendengar ucapan ibu. Aku tidak menyangka ibu akan protes akan hal ini. Aku pikir ia akan mendukungku, dan membiarkan untuk sementara waktu Fitri memanggil Mas Amar dengan sebutan ayah. Hingga umur Fitri nanti, sudah cukup mengerti akan situasi yang kami alami kini.
"Apa maksud ibu, apa ibu mau aku mengatakan pada Fitri bahwa Mas Ali adalah ayahnya?" terasa sesak hati ini membayangkan bagaimana perihnya hati putriku jika nanti ia merasa rindu ingin bertemu, justru mendapat penolakan dari ayah kandungnya itu.
Air mataku jatuh ke pipi, luka yang selama ini aku simpan akhirnya terkuak kembali. Sesak dadaku menahan semua gejolak hati. Bagaimana mungkin aku bisa menikah lagi dengan kondisiku seperti ini. Aku takut jika suatu saat lelaki yang menikah denganku, akan menceraikanku lagi, hanya karena aku tidak dapat memberikannya keturunan, seperti Mas Ali dulu.
"Kenapa kamu menangis, Sukma? Kenapa diam?" Ibu kembali bertanya. Kuhapus air mata di pipi dengan kasar.
"Sukma takut, Bu. Ibu tahu dengan pasti akan keadaan Sukma saat ini. Sukma tidak mungkin menikah lagi, lelaki mana yang mau menikah dengan wanita yang tak mampu memberikannya keturunan, Bu!" ujarku lirih. Sebisa mungkin kutekan rasa sakit ini, agar air mata ini tak lagi menetes, tapi ternyata aku tak lagi menetes, tapi ternyata aku tak sekuat itu. Lagi-lagi air mata ini terjun bebas tiada henti.
Andai aku bisa meminta? Aku tak akan mau menerima takdir yang begitu menyakitkan ini. Sebagai seorang wanita, aku tidak minta lelaki yang kaya dan mapan asalkan ia mau mencintai dan menerimaku dengan tulus itu saja sudah cukup untukku.
__ADS_1
Ya Tuhan ... apa permintaanku itu begitu sulit, hingga engkau mengujiku seperti ini! Aku menangis di pangkuan wanita yang melahirkanku ini dengan tersedu, ucapan ibu tadi terngiang-ngiang di telingaku, membuat bayangan wajah sedih putri kecilku seakan membayang di pelupuk mata.
"Ibu yakin, pasti ada seseorang yang dikirim Tuhan untuk mengobati luka hatimu, Nak. Kamu jangan takut Sukma, suatu saat jika tuhan berkehendak, hanya dengan sekali tiupan. Rahimmu yang kering itu mampu melahirkan putra-putri yang cantik wajah dan akhlaknya. Jangan takut, Nak!" ujar ibu lembut seraya mengusap-usap kepalaku sayang. Menguatkanku.
Jleb!
Doa ibu sangat mengena sekali di hati ini, menembus ke hati dan meremasnya. Mungkinkah itu bisa terjadi padaku? Mungkin aku bisa memiliki anak lagi suatu hari nanti, ah ... aku tak berani berandai-andai, aku takut terjatuh untuk kesekian kalinya. Hingga membuat hatiku hancur berantakan lagi.
"Tapi, Bu. Sukma belum siap untuk ..."
"Ibu mohon Sukma, pikirkan permintaan ibu, bukalah sedikit hatimu dan menikahlah lagi, Nak! Demi Fitri!" pinta ibu. Memotong ucapanku.
Kurasakan tetesan air membasahi pipiku yang telah basah, aku menoleh keatas, kulihat ibu juga meneteskan air mata bersamaku.
Ya Allah ... cobaan yang Engkau berikan padaku bukan hanya melukai hatiku dan putriku saja, tapi juga telah melukai hati malaikat tak bersayapku ini. Aku sadar, ibu lah yang paling terluka disini. Bisa kurasakan betapa pedih hatinya menyaksikan aku yang terluka seperti ini. Sama seperti hancurnya hatiku yang melihat kabut sedih di mata Fitri.
"Maafkan aku, Bu. Maafkan aku yang telah membuat hati ibu sedih, maafkan aku yang selalu membuat ibu terluka," ucapku lirih, kembali kebenamkan kepalaku diatas pangkuannya.
"Sudahlah nak, ikhlas kan apa yang terjadi, coba lah membuka hatimu. Mintalah pada yang Kuasa, karena sejatinya hanya Ia lah yang menentukan takdir dan jodoh manusia." ujar ibu.
Aku mengangguk masih dengan isak tangis yang sebisa mungkin keredam. Ibu benar, hanya Tuhanlah yang menentukan takdir dan jodoh manusia.
__ADS_1
Ya Allah ... adakah laki-laki yang mau menerima segala kekuranganku dan menyayangi aku dan putriku, nanti? Jika tidak ada, maka aku hanya memohon padamu ya Robbi, kuatkan hati dan batin ini untuk menjalani segala ujian kehidupan yang Engkau berikan!