
Tak terasa sudah satu minggu waktu berlalu, sejak Grand opening restoran ini. Italie (itan kalie) Resto namanya, karena terletak di sebelah timur sungai.
Suasana resto saat ini begitu ramai, membuat aku sangat bahagia, atas respons dan antusias para pengunjung yang tak henti-hentinya datang ke restoran ini.
Semoga saja menjadi berkah untuk keluarga kecilku. Semoga pengorbananku membangun resto ini nanti, hingga jauh dari anakku dan meninggalkannya bersama ibu tidak akan sia-sia. Aku yakin selalu ada pelangi habis terang, dan untuk Mas Ali, aku tidak tahu kabarnya dan tidak mau tahu.
Semoga saja ia bisa hidup bahagia dengan keluarganya, agar tidak menggangu hidupku dan Fitri nantinya.
Aku masih asyik berkutat dengan kuali dan kompor, karena resto ini masih baru, dan semua karyawan tentunya belum pada paham. Jadi akulah yang harus turun tangan langsung ke dapur untuk menyiapkan masakan.
Walaupun badanku terasa lelah, tapi aku ikhlas demi masa depan anakku nanti. Beberapa menu sudah kusiapkan dengan cepat dan lincah. Ayam panggang, udang rica-rica serta nasi Hainan adalah menu yang paling diminati di resto ini.
Semua bumbu aku siapkan dan kuracik sendiri, hingga memiliki cita rasa yang khas di lidah para pengunjung, dan tentunya enak. Membuat para pengunjung yang sudah pernah makan di sini akan kembali lagi ke sini.
Saat sedang repot-repotnya, anaknya Bu Romla datang menghampiriku di dapur. Membuat aku menghentikan pekerjaanku sejenak dan menemuinya sebentar.
"Sukma, siapkan makanan untukku! Untuk dua orang? Pinta Mas Amar padaku.
Untuk dua orang? Apa Mas Amar mengundang temannya untuk makan siang ke sini? Ahh ... terserahlah, toh itu bukan urusanku.
"Mau saya siapkan makanan apa, Mas?" tanyaku.
Siapa tahu ia ingin sesuatu, menu yang istimewa untuk makan siangnya kali ini? Apa lagi ia mengajak seseorang untuk menemaninya makan, mungkin seorang klien atau kekasihnya, mungkin?
"Apa saja, yang penting enak!" jawab Mas Amar sambil berlalu pergi. Pria itu memang tidak pemilih dalam hal makanan, apa saja ia makan, asalkan enak. Ya ... asal enak adalah syarat pengajuan makanan untuknya.
Hanya keberadaan pria ini yang membuatku tak nyaman bekerja di sini. Sikapnya yang dingin dan irit bicara, membuatku merasa seperti diawasi kepala batalion tentara. Begitu ketat dan disiplin! Huuhhh ...!
__ADS_1
"Iya, Mas, akan Sukma minta Dini menyiapkannya untuk Mas." jawabku.
"Bukan Dini, tapi kamu! Saya mau kamu yang menyiapkannya, sekarang!" ujar Mas Amar lagi dengan menekan setiap kata-katanya. Apa bedanya sih, aku yang menyiapkan dengan orang lain?
Melihat wajahnya yang kaku seperti kanebo kering serta tanpa senyum, membuatku enggan berlama-lama berhadapan dengannya. Jadi dengan cepat aku menjawab permintaannya tanpa bantahan.
"Baik, Mas," jawabku singkat.
Aku langsung berlalu dan menyiapkan menu untuk makan siang pria pintu kulkas itu. Mas Amar bekerja di sebuah perusahaan dengan jabatan yang tinggi, seperti Mas Ali, mantan suamiku itu.
Setiap jam makan siang, ia akan datang ke resto untuk makan siang dan beristirahat satu atau dua jam di sini. Sebenarnya itu tidak masalah, karena resto ini juga miliknya. Hanya saja tatapan matanya yang tajam, selalu mengawasi gerak-gerikku itu yang membuatku tak nyaman.
Mungkin rasa tak nyaman itu juga yang dirasakan mantan istrinya terdahulu, hingga lebih memilih bercerai dari Mas Amar saat pernikahan mereka berumur empat bulan.
Aku mendengarkan cerita itu dari Bu Romla, saat kami mengobrol santai beberapa hari yang lalu.Dari cerita Bu Romla, aku tidak bisa menyalahkan mantan istrinya Mas Amar juga sih, siapa juga yang tahan hidup dengan pria tampan tapi sikapnya kaku dan dingin.
"Ini Mas, makanannya," ujarku stelah meletakkan makanan yang kumasak tadi ke atas meja. Saat ini Mas Amar sedang duduk di salah satu gazebo, yang disediakan resto untuk pengunjung yang ingin makan dengan nuansa outdoor, dengan sedikit pemandangan taman.
"Duduk!" perintah Mas Amar setelah aku selesai menyajikan semua makanan.
"Apa, mas?" tanyaku kaget. Pria ini menyuruhku duduk? Apa pendengaranku yang bermasalah, sehingga aku salah dengar?
"Apa aku harus mengulangi perkataanku lagi, Sukma?" sahut Mas Amar datar.
"tapi, Mas, saya..."?
"Mau ke mana? Kamu belum makan, kan? Maka itu, temani aku! Dan aku tak suka dibantah Sukma!" ujar Mas Amar sambil melirikku tajam, membuatku menelan saliva karena takut. Takut jika membantah justru membuatku dipecat.
__ADS_1
Aku hanya bisa mengangguk dan menuruti keinginannya, untuk duduk di hadapannya saat ini. Ada rasa malu yang hinggap di hatiku, bagaimana jika yang lain melihat kami makan berdua seperti ini? Bisa jadi bahan gunjingan nantinya. Janda dan duda duduk bersama!
Ditengah kebimbangan hatiku, tiba-tiba Mas Amar menyodorkan piringnya padaku, membuatku mengernyitkan dahi karena bingung.
Ini maksudnya apa? Piring untukku? Kan, aku sudah ada piring sendiri.
"Kenap bengong? Ayo cepat!" titahnya.
"Maksudnya, Mas? Kan, saya sudah ada piring, Mas?" jawabku yang terdengar seperti orang bodoh.
"Isi makanannya, Sukma. Bukan piringnya untuk kamu," jelasnya.
Kali ini Mas Amar mengatakannya dengan nada yang lebih lembut, membuatku menjadi heran. Benarkah ini mas Amar? Aneh sekali sikapnya kali ini?
Masih dengan terheran-heran, aku mengambilkan nasi serta lauk pauk dan meletakkan di atas piringnya, lalu memberikannya kembali padanya."Cepat makan! Dan makan yang banyak! Jangan sampai tubuh kurusmu itu merusak pemandangan para pengunjung resto," perintahnya lagi.
Hampir saja aku tersedak mendengar perkataannya barusan. Baru saja di dalam hati aku memuji sikap lembutnya tadi, tapi sekarang, dengan entengnya mulut ia menghinaku.
Apa hubungannya badanku yang kurus dengan pengunjung resto?
"Hey, tuan! Body shaming ini namanya! Ini resto bukan klab malam!" Ingin sekali aku meneriakkan kata-kata itu di telinganya.
Memang aku akui, sejak mengurus resto, bobot tubuhku turun beberapa kilo. Namun tetap saja, ia tidak punya hak mengatakan itu padaku.
Tidak tahukah ia, berat badan adalah hal yang paling sensitif bagi wanita.
Aku melirik sekilas pria di hadapanku yang sedang makan dengan lahapnya ini, ia seakan tak berdosa setelah mengeluarkan kata-kata sindiran itu, membuatku menjadi kesal.
__ADS_1
Perasaan kesalku membuat nafsu makanku hilang menguap begitu saja. Ya Tuhan ... cobaan apa lagi yang engkau kirimkan untukku, kali ini? Tidak bisakah engkau biarkan hidupku tenang tanpa tekanan? Jujur, aku merasa tertekan di dekat pria ini, Tuhan!