
"Saya terima nikah dan kawinnya Sukma Safitri binti Heri Hendrawan, dengan mas kawin satu set perhiasan seberat 100gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"
"Sah, para saksi?"
"Sah!"
"Sah!"
Dengan satu tarikan napas, Mas Amar berhasil mengucapkan kalimat sakral yang mengikatku seumur hidup, menjadikanku istri yang sah.
Mas Amar menepati janjinya, pada Fitri untuk bisa tinggal di rumah ini dalam tiga hari. Dengan segala persiapan yang terkesan dadakan, tapi pantas, akhirnya pernikahan ini terlaksana dengan khidmat.
Pernikahan ini hanya dihadiri sanak saudara serta tetangga-tetangga dekat komplek saja.
Doa untuk para pengantin dipanjatkan, aku tak kuasa menahan haru, akhirnya air mata pun jatuh ke pipi. Begitu pun dengan ibu. Saat ini perasaanku bercampur aduk, ada rasa sedih, juga ada rasa bahagia yang melebur jadi satu.
Dulu saat menikah dengan Mas Ali, aku berharap pernikahan yang kujalani saat itu, adalah pernikahan sekali seumur hidup. Namun nyatanya, pernikahan itu hancur bak kapal karam. Menimbulkan luka yang masih membekas di hatiku hingga kini.
Setelah sekian tahun hidup sendiri, berusaha menata hati sebaik mungkin. Akhirnya sekarang aku sudah mempunyai pendamping hidup lagi, yang akan menemaniku mengarungi bahtera rumah tangga ini.
Aku berharap ini yang terakhir untukku, ya Robbi. Sebait doa dan harapan aku lantunkan di dalam hati. Semoga saja kali ini, Tuhan benar-benar mengabulkan doa-doaku itu.
Aku meraih tangan Mas Amar yang terulur padaku, aku cium punggung tangannya dengan takzim. Mas Amar mencium keningku lembut. Walau ini bukanlah yang pertama kurasakan, tetap saja, aku merasakan getaran yang berbeda kali ini.
Ciuman lembutnya di dahiku, terasa sampai ke dalam hati. Semoga saja Mas Amar adalah lelaki yang tepat. Aku memeluk Fitri yang sedari tadi duduk di sampingku. Matanya berbinar sejak tadi melihat suasana rumah yang begitu ramai, serta penuh dengan dekorasi bunga khas pernikahan.
Aku bergeser sedikit ke arah ibu Romlah, menyalaminya. Aku sangat bahagia, wanita yang telah banyak membantu hidupku ini, akhirnya menjadi ibu mertuaku. Bu Romlah balas memeluk tubuhku erat. Sedangkan suami Buk Romlah sudah meninggal saat Mas Amar masuk bangku kuliah.
Sedangkan ibu yang berada di antara Fitri dan Bu Romlah, tak henti-hentinya tersenyum menatap ke arah kami. Sepertinya ibulah, orang yang sangat berbahagia dengan pernikahanku ini, selain Fitri.
"Belalti nanti malam, ayah boleh tidur di sini, kan, Bunda?" celetuk Fitri tiba-tiba. Membuat semua yang hadir tertawa.
"Tentu saja sayang, ayah akan tinggal di sini. Bersama Fitri dan Bunda, sama nenek juga,"
Mas Amar mengusap kepala Fitri, dengan sayang. Ia lebih tampak seperti ayah kandung Fitri, ketimbang sebagai ayah sambung. Membuat hatiku kembali menghangat.
"Tapi, malam ini, Fitri tidur sama Nenek dan Oma saja. Biar ayah sama bunda! Besok baru Fitri, ayah dan bunda, ya!" bisik ibu pelan di telinga Fitri, membujuk gadis kecil itu. Walau pelan, tapi masih terdengar di telingaku.
Ucapan ibu membuat mataku membulat seketika. Walau ucapan ibu terdengar biasa saja, tapi mampu membuat wajahku terasa memanas.
__ADS_1
Sedangkan Mas Amar hanya tersenyum simpul menatap ke arahku dengan tatapan nakal. Aku yakin dia juga mendengar apa yang diucap ibu pada Fitri barusan.
"Widiwww ... pengantin baru, udah ngak sabar ya, Bang? Tu mata, udah main kode-kodean," ujar Mas Reno menggoda kakaknya. Aku hanya tersenyum simpul, sedangkan Mas Amar membalas godaan Mas Reno dengan mengacak rambut adiknya.
Mas Reno adalah adik Mas Amar, pria ini telah menikah dan memiliki seorang putra yang umurnya tua satu tahun dari Fitri.
Mas Reno selain tampan, sifatnya juga bertolak belakang dengan Mas Amar. Mas Reno orangnya lebih ramah pada semua orang. Sedangkan Mas Amar lebih dingin dan kaku, ia akan banyak bicara hanya sebatas pada orang-orang yang dekat dengannya saja.
Semua orang tersenyum melihat tingkah kedua kakak beradik itu yang begitu akrab. Bahkan sedikit konyol, menurutku. Membuatku beberapa kali mengulas senyum mendengar candaan yang mereka berdua lontarkan.
Namun sayang, kebahagiaan yang sedang kurasakan kali ini harus terusik dengan sebuah tatapan mata yang sedari tadi menatapku tajam. Tatapan matanya memancarkan kebencian, seolah ia tidak suka, melihatku yang berbahagia terhadap apa yang aku rasakan kini.
"Heh ... aku tidak menyangka, akhirnya Mas Amar menikah denganmu! Aku heran, apa yang ia lihat darimu?" ujar Naila dengan nada yang terdengar sinis. Ia tiba-tiba datang menghampiriku, yang sedang berdiri di sudut meja, mengambil minuman.
Sorot matanya memindai diriku dari atas hingga kebawah, lalu kembali lagi menatap wajahku dengan senyum mengejek. Seolah aku adalah wanita yang sangat buruk dan tak pantas di matanya. Aku tidak tahu kenapa sejak dulu, wanita ini selalu membenciku.
Rasa-rasanya, aku tidak pernah melakukan kesalahan ataupun berbuat sesuatu yang menyakiti hatinya.
"Memangnya kenapa? Aku tak mengerti apa yang sedang kamu maksud?" jawabku santai. Karena aku memang malas meladeni, aku tak mau moodku rusak, hingga menghancurkan sukacita yang kurasakan di hari bahagiaku ini.
Baru saja aku mau melangkah pergi, Naila dengan cepat mencekal tanganku erat, sehingga membuat lenganku sakit. Aku menepis tangannya kasar, tapi Naila malah melangkahkan kakinya, mendekatkan dirinya di sampingku. Untung saja suasana rumah sudah pada sepi, semua tamu sudah pada pulang, hanya tersisa kami, para keluarga dan beberapa orang pelayan yang sedang berberes. Jika tidak, mungkin kami berdua sudah menjadi tontonan orang banyak.
"Kamu tahu, Sukma! Kamu itu tidak pantas masuk ke dalam keluarga Anggara! Aku heran, apa yang dilihat dari Mas Amar hingga ia mau menikah dengan janda sepertimu. Di lihat dari segi mana pun, Mbak Vira jauh lebih cantik dan baik dari pada kamu!" ujar Naila, membuat hatiku teriris. Sakit sekali rasanya, jika ada orang yang membandingkanku dengan mantan suamiku itu.
"Kenapa? Apa kamu cemburu?" timpal Naila dengan seringai mengejek yang tak lepas tersungging dari bibirnya itu.
Ingin rasanya aku mencakar-cakar wajahnya itu. Wajah Naila dulu tak seperti ini, dulu walau tak terlalu cantik,tapi wajahnya manis. Enak dipandang, namun setelah melakukan banyaknya rangkaian perawatan kecantikan. Membuat wajahnya mengalami sedikit perubahan. Hidung dan dagu yang mancung oleh filter itu, membuat ia terlihat aneh dan wajahnya tidak simetris.
Kulit yang terlalu putih akibat infus whitening yang berlebih, membuat kulitnya bak kapas pucat, dipadu make up yang terlalu menor, membuat siapa saja yang melihat bukannya mengagumi tapi justru bergidik ngeri.
Aku menoleh ke arah Mas Amar yang sedang berbincang dengan adiknya, sedangkan ibu duduk di sofa bersama Bu Romlah dan Fitri serta Kenzo.
Fitri dan Kenzo baru bertemu, tapi sepertinya mereka tampak begitu akrab satu sama lain. Kenzo juga anaknya ramah dan baik, persis seperti bapaknya. Untung saja tidak seperti wanita yang ada di hadapanku ini. Aku kembali menoleh ke arah Naila, dengan malas.
"Tak ada yang perlu aku cemburukan dari masa lalu," ujarku singkat sebelum berlalu pergi. Tak ada gunanya aku berdebat dengannya, lebih baik aku bergabung bersama ibu dan mertuaku itu.
Namun belum sempat aku melangkah, Naila sudah lebih dulu menumpahkan minuman berwarna merah dari gelas yang sedari tadi ia pegang. Mataku melebar sempurna melihat kebaya putih gading yang aku gunakan menjadi kotor di bagian dadanya.
"Upssst ... maaf kakak ipar, aku tidak sengaja." Ujarnya dengan sebuah seringai jahat.
__ADS_1
Benci sekali aku melihat wajah sok tak bersalahnya itu. Sepertinya setelah lepas dari keluarga Mas Ali, aku akan menghadapi adik ipar yang tak tahu diri ini.
"Ada apa ini?" tiba-tiba terdengar suara Mas Amar, ia mendekat ke arah kami membuat aku dan Naila tersentak. Apa ia melihat keributan kecil diantara kami tadi?
"Hmmm ... tidak ada apa-apa, Mas. Ini tadi, aku tak sengaja menumpahkan minuman di kebaya Mbak Sukma. Aku juga sudah minta maaf tadi, tapi Mbak Sukma justru memakiku dengan kata-kata kasar," ujar Naila dengan memainkan expersi wajahnya.
Fixx Iparku kali ini bermuka dua!
Untuk sesaat aku terkejut, tapi dengan cepat aku mengontrol raut keterkejutan dan berganti dengan senyuman simpul.
Aku hanya diam saja saat Mas Amar menatap sekilas ke arahku, aku ingin melihat bagaimana Naila akan bereaksi kembali menjatuhkanku di depan mata suamiku. Selain itu aku juga ingin tahu, bagaimana cara Mas Amar menyikapi ini semua.
Baru hitungan jam aku memasuki keluarga Anggara, aku sudah langsung menemukan musuh dalam selimut. Sungguh miris sekali hidupku.
"Benar itu Naila? Tapi yang kulihat tidak seperti itu." Ujar lelaki yang baru saja menjadi suamiku itu.
"Lalu seperti apa, Mas? Tentu saja kamu akan membela istrimu ini. Karena matamu sudah buta dengan cintamu terhadapnya sedari dulu. Tanpa kamu sadari wanita seperti apa yang kamu nikahi ini!" balas Naila.
Kata-katanya membuatku semakin kesal, memangnya ia tidak berkaca pada dirinya sendiri, apa? Apa dia tidak sadar jika dirinya bahkan lebih buruk dariku!
Tapi tunggu dulu. 'Dengan cintamu terhadapnya sedari dulu' apa maksud dari perkataan itu. Aku menatap lurus ke arah mata Mas Amar mencari maksud dari makna kata itu.
Mas Amar terdiam, ia menoleh ke arah adiknya yang sedang mengobrol dengan ibunya. "Reno! Tolong bawa istrimu pulang segera, sepertinya ia sudah mulai lelah."
Mas Reno yang mendengar namanya dipanggil datang mendekat. Mas Amar terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Mas Reno membuat adiknya itu mengangguk paham.
"Ayo dek, kita pulang! Hari juga sudah mulai sore, kasihan Kenzo dia juga sudah mulai tampak lelah," ajaknya.
"Tapi, Mas ..."
"Dek, ayo!" potong Mas Reno tegas. Membuat Naila terdiam, menoleh ke arahku.
'Awas saja nanti, aku akan balas kamu Sukma' begitulah kata-kata yang aku tangkap dari gerak bibirnya yang tanpa suara. Sebelum ia pergi meninggalkan kami. Aku hanya menghela napas panjang, sepertinya hari-hariku tidak akan setenang yang aku bayangkan.
"Sudah, jangan dipikirkan, Mas percaya sama kamu. Cepat ke kamar ganti bajumu, lihat! Kebayamu sampai kotor begini, sayang. Ckk ..."
Aku melihat kebaya yang kukenakan tampak mengenaskan, dengan wajah yang di tekuk, aku membalikkan badan berjalan menuju kamar. Namun baru saja berjalan selangkah, Mas Amar kembali membisikkan kata-kata yang membuat wajahku merona.
"Ganti baju yang biasa saja ya, sayang! Bayu seksinya simpan saja, untuk nanti malam!" bisiknya dengan nada menggoda.
__ADS_1
"Dasar nakal!" tanganku sukses berpindah ke perutnya dan mencubitnya pelan. Membuat Mas Amar tertawa, aku pun terkekeh.
Semoga saja rumah tanggaku kali ini bisa bahagia, dan semoga Mas Amar tetap seperti ini. Tetap menjadi lelaki yang mencintaiku setulus hati.