Ceraikan Aku Mas!

Ceraikan Aku Mas!
Bab 14.


__ADS_3

Sesampainya kami di rumah sakit, aku langsung berlari ke arah resepsionis, menanyakan di mana putriku dirawat. Setelah mendapatkan informasi, aku dan Mas Amar langsung berjalan menuju ruangan tersebut.


Aku melihat ibuku dari kejauhan, sepertinya ia sedang berbicara pada seorang dokter.


"Ibu, bagaimana dengan Fitri?" tanyaku, sambil mengatur deru napasku yang tersengal karena jalan terlalu cepat, bahkan hampir bisa dikatakan setengah berlari.


"Apa kalian berdua adalah orang tua, Fitri?" ujar dokter padaku, membuat aku menoleh ke arahnya.


Bukannya ibu yang menjawab pertanyaanku, justru Dokter yang mengenakan name tag Abraham itu yang justru bertanya balik padaku.


"Betul dok, saya Bundanya Fitri. Bagaimana keadaan putri saya Dok?" tanyaku.


Dokter Abraham menatap aku dan Mas Amar secara bergantian. "Sebenarnya putri kalian tidak sakit, tapi batinnya yang sakit," jawab dokter itu ambigu. Membuatku bingung, apa maksud dari perkataannya.


"Maksud dokter?"


"Maaf, sebelumnya. Apa ibu dan bapak sudah pisah?" tanya dokter Abraham yang membuatku dan Mas Amar saling menatap, dan beralih menatap dokter Abraham seraya menggelengkan kepala.


"Sebelumnya saya sebagai dokter minta maaf, bukan maksud saya ikut campur dalam rumah tangga kalian. Namun, saran saya, walaupun kalian berdua sudah berpisah, tapi komunikasi antar ayah dan anak tetap berlanjut. Fitri sedari tadi meyebut ayahnya dalam tidurnya. Hingga menyebabkan suhu tubuhnya tinggi dan kejang, sepertinya ia sangat merindukan ayahnya," ujar dokter Abraham menjelaskan panjang lebar sambil melirik ke arah Mas Amar.


Sepertinya dokter ini salah paham, mungkin ia mengira Mas Amar adalah suamiku.

__ADS_1


"Boleh saya melihat putri saya, Dok?"


"Tentu saja, Ibu. Namun, akan lebih baik jika ayahnya juga ikut dengan anda masuk ke dalam ya, Bu. Saya permisi dulu," dokter itu pun memberi slam dan berlalu pergi.


Air mata yang tadi sudah kering kembali mengalir lagi di pipi. Semenderita itu, kah, putriku menahan rindu pada ayahnya, hingga ia sakit begini? Rasanya aku ingin menangis dan menjerit, serta menyeret tubuh pria tak bertanggung jawab itu ke hadapan putriku.


"Sudah Sukma, ayo kita masuk kedalam! Kasihan Fitri, ia pasti menunggumu!" Mas Amar mengusap lembut punggungku, membuat hati yang berkecambuk ini menjadi sedikit lebih baik.


Aku ingin sekali masuk dan memeluk putriku saat ini, tapi langkah kakiku seolah tertahan. Bagaimana nanti Fitri bertanya lagi tentang ayahnya, apa yang harus aku jawab? Apa aku bilang saja padanya jika ayahnya sudah terkubur di dalam tanah. Toh ... Mas Ali juga ngak akan mungkin menemuinya.


Jika aku mengatakan itu, apa Fitri suatu saat akan membenciku? Aku takut suatu saat putriku marah dan membenciku, karena membohongi dia tentang keberadaan ayahnya. Ya Tuhan ... tolong bantu aku!


"Ayo ... Sukma, apa yang kamu pikirkan?" Mas Amar lagi.


Kuusap lembut air mata yang tak henti-hentinya terjatuh di pipi. Hati ibu mana yang tak hancur melihat buah hati yang begitu dicintai, sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Aku memegang tangan kecil putih ini, mengusapnya lembut dan sesekali menciumnya.


"Fitri, sayang. Bangun, Nak! Ada bunda di sini, Fitri ngak mau peluk bunda, sayang," ucapku lirih. Aku sangat khawatir dengan keadaannya yang lemah saat ini, perlahan-lahan kulihat mata lentik itu terbuka.


Aku tersenyum saat mata indah putriku menatapku sesaat, sebelum mata lentik itu beralih, dan terukir sebuah senyum di bibirnya. Aku mengikuti arah pandang mata Naira, aku baru sadar jika di ruangan ini tidak hanya ada aku dan Fitri saja. Tapi juga ada Mas Amar yang sedari tadi hanya diam menemaniku.


"Ayah ... Ayah datang, Fitri kangen ayah!" serunya dengan bahagia.

__ADS_1


Degh!


Hati ini begitu tercabik melihat putriku merentangkan tangan ke arah Mas Amar. Ia mengira pria itu adalah ayahnya yang datang untuk dirinya.


Air mataku jatuh tak henti, aku menangis tanpa suara melihat kerinduan putriku terhadap sosok ayahnya. Sungguh tega dirimu, Mas Ali. Engkau sungguh zholim terhadap putrimu sendiri, menyiksa putri cantik kita dengan kerinduan yang tak terobati.


"Iya, Nak. Ayah di sini, Fitri cepat sembuh ya, sayang!" sahut Mas Amar dengan membelai kepala Fitri lembut. Ucapnya barusan membuatku membeku.


Apa maksudnya ini? Aku ingin marah padanya atas kebohongan yang ia lakukan, untuk apa ia memberikan Fitri harapan palsu yang pada akhirnya akan membuat putriku menjadi lebih sakit lagi!


Akan tetapi, melihat Fitri yang begitu riang, membuatku terdiam. Dengan semangat Fitri bangkit dari tempat tidurnya, ia langsung memeluk Mas Amar yang berada di dekatnya. Dengan air mata di antara senyumnya, gadis kecilku mengucapkan kata-kata yang menyayat hati ini.


"Ayah datang untuk Fitri? Fitri senang ayah datang. Belalti pitli punya ayah, sepelti teman-teman pitli. Ayah, kanapa ayah tidak tinggal sama pitli dan bunda, pitli kangen sama ayah!" ujar Fitri.


Saat ini gadis kecilku duduk manis di atas pangkuan Mas Amar. Tangan kecil itu mendekap tubuh Mas Amar kuat, seolah tak ingin ayahnya kembali pergi jauh darinya. Baru saja aku ingin membuka mulut, aku melihat Mas Amar menggelengkan kepala pelan padaku.


Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan, kenapa sekarang semua masalah ini jadi tampak rumit bagiku.


Namun, aku tak tega merusak kebahagian di wajah mungil Fitri saat ini. Biarkan saja ia menganggap Mas Amar adalah ayahnya, nanti aku akan bicara dengan Mas Amar. Setidaknya hingga gadis kecilku itu sembuh, andai pria itu tak mau, aku rela bersujud di kakinya, aku akan melakukan apa pun untuk kebahagiaan putriku.


Fitri! Maafkan bunda, Nak!

__ADS_1


Maaf karena bunda salah memilih pendamping hidup, hingga membuatmu menderita terlahir di dunia ini. Maafkan bunda, sayang. Maaf!


__ADS_2