
POV Naila
"Kamu ini bagaimana sih, Mas! Bukannya belain istri, tapi malah menurut omongan kakakmu itu. patuh banget kamu jadi adik?!" ocehku kesal.
Kami masih di dalam mobil, masih dalam perjalanan menuju rumah. Namun, hatiku sudah tak sabar untuk mengomel pada suamiku ini.
"Kamu yang apa-apaan, menyiram Sukma pakai minuman segala. Kamu mau mancing keributan, Nai? Jangan kekanak-kanakan, deh. Kamu itu sudah dewasa, sudah jadi seorang ibu." Ujar Mas Reno. Tatapan matanya tetap fokus menatap ke jalan. Aku mencebikkan bibir.
"Mancing keributan bagaimana, Mas? Memang Sukmanya aja, tuh, yang sensi sama aku. Dia juga sudah ngata-ngatain aku yang tidak-tidak tadi. Kamu aja ngak dengar!" sungutku. Aku berbohong sedikit agar Mas Reno ikut membenci Sukma.
Mas Reno terlihat melirikku sekilas lalu tersenyum kecut. "Aku yang lebih mengetahui siapa kamu, luar dalam, Naila. Aku juga tahu bagaimana bencinya Istriku ini terhadap Sukma sejak SMA, dulu. jadi, kamu tak perlu berbohong padaku seperti ini,"
Degh.
Saat Mas Reno ngomong seperti itu, mataku terbelalak. Seolah ia menekankan, bahwa ia tidak percaya pada apa yang aku katakan. Bukannya sebagi seorang suami, dia harusnya membela istrinya. Bukan malah memojokkan aku seperti ini.
Aku dan Mas Reno serta Sukma, satu sekolah saat SMA, kami juga satu angkatan, hanya saja aku satu kelas dengan Sukma, Mas Reno anak kelas lain.
Sedangkan Mas Amar kakak kelas kami yang duduk di kelas X11 IPA 2. Bukan rahasia umum lagi, jika Mas Amar menyukai Sukma sejak dulu. Hanya saja, Sukma yang bodoh dan tidak peka.
Bahkan hingga Mas Amar kuliah di luar kota pun, Sukma tidak juga peka akan perasaanya. Sedang aku, tamat SMA memang sengaja mengikuti ke mana Mas Reno pergi hingga kuliah pun, aku satu Universitas dan satu jurusan dengannya.
Pucuk di cinta, akhirnya aku dan Mas Reno menikah. Hidupku mewah sebagi menantu satu-satunya keluarga Anggara yang kaya. Ibu mertuaku selain seorang juragan kontrakan, ia juga memiliki berpuluh hektar kebun sawit seta sawah.
Sedangkan Sukma menikah dengan Ali, yang aku dengar, Ali selain kasar dan tukang selingkuh, keluarganya juga jahat pada Sukma.
Sejak dulu aku memang tidak suka dengannya, bukan hanya parasnya yang cantik, ia juga baik. Sehingga semua orang menyukainya, membuat orang-orang selalu muji-muji dirinya. Termasuk ibu mertuaku itu.
"Kok ... sekarang kamu jadi belain Sukma, sih, Mas! Yang istri kamu itu aku, bukan Sukma!" sungutku lagi. Aku benar-benar tidak terima.
"Bukannya membela Sukma, aku hanya mau meluruskan, lagi pula sebagai suami, aku wajib menasehati istriku jika salah. Apa lagi ..."
"Jadi maksud kamu, aku yang salah di sini! Kenapa sih mas, dari dulu hingga sekarang, kamu selalu bela Sukma. Memangnya apa sih hebatnya Sukma, sampai kakak kamu itu juga cinta mati dengannya!" timpalku. Dengan cepat aku memotong ucapan suamiku. Aku malas mendengarkan pujian-pujian mereka tentang Sukma lagi.
Suasana mulai memanas, aku mulai terpancing emosi mendengar ucapan Mas Reno barusan.
"Sudah cukup! Kamu dibilangin suami bukannya mikir, malah makin marah-marah. Sudah cukup kamu bersikap sesukamu seperti ini, Naila. Sudah jangan berisik! Aku sedang menyetir, Kenzo di belakang juga sedang tidur, nanti dia bangun pula karena mendengar suaramu. Untuk kedepannya jangan kamu ulangi!" ucap Mas Reno tegas. Jika ia sudah seperti ini, itu artinya ia tidak mau dibantah lagi.
__ADS_1
Semakin membuat hati ini, semakin jengkel saja. Bukannya membela istri, malah dia pula yang mengomel padaku. Huh!
Mas Reno sekarang sudah berubah, dia tidak lagi sepeti Mas Reno yang dulu, yang selalu mendukung semua kata-kataku serta apa yang aku lakukan. Semenjak Kenzo lahir, dia tidak pernah memanjakanku, semua yang aku lakukan selalu salah di matanya. Di bilang aku kekanak-kanakan. Lalu yang dewasa itu seperti siapa? Sukma?
Ishhh ... melihat wajahnya saja, aku tak sudi. Aku diam mengutuk Sukma di dalam hati, hingga akhirnya kami tiba di rumah.
Seperti biasa, pagi ini aku bangun, mandi dan berdandan rapi. Lalu dengan santai berjalan ke meja makan. Selama menikah aku tinggal di rumah mertua, aku tidak pernah bangun pagi dan menyiapkan sarapan. Untuk apa? Toh ... sudah banyak pelayan di rumah ini. Enaknya punya mertua kaya, ya, gini. Apa-apa tinggal minta dan perintah.
"Pagi, Ma." Sapaku manis pada ibu mertuaku yang baik. Setelah seminggu menginap di rumah menantu barunya itu, akhirnya mama pulang juga.
Aku menggeser kursi yang ada di antara Mas Reno dan putraku, Kenzo. Kenzo tampak asyik menikmati sarapannya, tanpa memperdulikan aku sebagai ibunya yang datang.
"Pagi." jawab mama singkat.
Mertuaku memang seperti itu, ia selalu irit bicara saat bersamaku. Jika tidak penting-penting sekali, maka dia hanya akan diam. Sangat berbeda saat bersama Sukma. Membuat hati ini cemburu melihatnya, dan sialnya lagi. Sukma justru sudah menjadi menantunya.
Aku mengambil nasi goreng, meletakkannya ke piring, menyuapkan nasi ke mulutku sambil mendengarkan perbincangan antara suami dan ibu mertuaku ini.
"Mama mau, kamu mengurusnya cepat, Reno. Mama mau bulan depan surat balik nama restoran itu selesai," ujar mama yang membuat keningku berkerut.
"Siap, Ma. Secepatnya Reno akan urus semua sesuai keinginan mama. Reno yakin Mas Amar pasti senang, jika mendengar restoran itu sekarang akan menjadi milik istrinya,"
Aku seketika tersedak mendengar ucapan suamiku. Restoran itu akan dibalik nama atas nama Sukma?! Maksudnya, restoran besar itu akan menjadi milik Sukma, gitu? Tidak ini tidak boleh dibiarkan!
"Tidak! Restoran itu tidak bisa mama berikan pada Sukma begitu saja, aku tidak setuju! Ma ... menantu mama itu bukan cuma, Sukma saja. Kenapa justru mama berikan pada Sukma, seharusnya bagi dua denganku. Aku, kan, juga menantu mama, ini tidak adil! Mama tidak adil!" teriakku protes.
Ini yang tidak kusuka jika Sukma masuk ke dalam keluarga ini ia pasti sedikit demi sedikit menggeser posisiku di hati keluarga ini. Mengambil semuanya dariku. Aku tak mau itu terjadi.
Mama dan Mas Reno menatapku, sepertinya mereka terkejut melihatku protes seperti ini. Biar saja, aku tak peduli. Aku juga punya hak di keluarga ini. Apa lagi, aku juga ibu dari penerus keluarga ini. Jadi seharusnya resto itu menjadi milikku, bukannya Sukma!
"Loh ... kenapa tidak boleh, itu memang hak Sukma, dia yang sudah berjuang mati-matian membangun resto itu dari 'nol'. Hingga resto itu berkembang pesat hingga sekarang. Lagi pula, mama juga sudah tua, sudah malas mengurus hal-hal seperti itu lagi. Mama mau menikmati hari tua mama, bermain bersama cucu-cucu mama." jawab mama mertua.
Degh.
Cucu-cucu Mama? Hello ... mama mertuaku sayang, cucumu itu cuma Kenzo, putraku. Bukan Fitri. Membuat hatiku semakin panas saja mendengarnya.
"Jika mama ngak mau mengurusnya lagi, mama kan bisa memberinya padaku, bukannya Sukma. Aku ini menantu pertama mama dan ibu dari cucu kandung mama. Loh! Seharusnya aku yang berhak!" sungutku sambil menekan setiap kata, agar mertuaku itu mengerti siapa sebenarnya cucunya.
__ADS_1
"Dek!" tegur Mas Reno. Ia menatapku tak suka dengan apa yang kukatakan pada ibunya. Biar saja, akau hanya sedang mempertahankan hakku sebagai menantu, kok. Ibunya saja yang pilih kasih.
"Memberikan resto itu padamu? Dan membiarkan resto itu gulung tikar secara perlahan?" ucap mama santai. Tapi terasa meremehkanku.
"Maksud mama, apa?"
Mama terlihat menghela napas panjang, lalu menatapku lekat-lekat. "Naila, apa kamu ingat. Saat mama memberikan modal untuk Sukma membuka resto, kamu juga menuntut modal dengan mama untuk membuka butik. Mama turuti keinginan kamu, karena kamu bilang, mama lebih mengutamakan Sukma yang bukan siapa-siapa ketimbang kamu yang merupakan menantu mama. Bahkan modal yang mama berikan kepadamu jauh lebih besar dari modal yang mama berikan dari modal yang mama berikan pada Sukma. Mama juga tidak meminta sepeser pun bagian dari butikmu itu, seperti Sukma yang memberikan 40% omset bersihnya kepada mama. Akan tetapi, kenyataannya, apa? Butikmu bukannya semakin berkembang, justru semakin sepi dan hampir bangkrut, kan? Jadi jangan salahkan Sukma, jika ia mendapatkan resto itu. Karena itu memang hasil kerja keras dia. Kamu mama kasih butik, sedangkan Sukma mama kasih resto. Mama rasa, mama sudah berlaku adil terhadap kalian berdua selaku menantu mama."
Sial! Kenapa ibu mertuaku ini jadi mengungkit soal modal yang dulu ia berikan padaku. Seolah ia tak ikhlas, memberikannya padaku.
"Tapi tetap saja, tidak bisa begitu dong, Ma! Dulu aku menantu mama, sedangkan Sukma orang luar. Seharusnya resto itu di bagi ..."
Naila! Tutup mulutmu, jangan serakah kamu!" bentak Mas Reno membuat hati ini sakit. Tega sekali ia membentakku, seharusnya ia membelaku. Ibunya sudah tidak adil padaku.
"Tidak, aku tidak mau tutup mulut. Mama sudah tidak adil, masa' aku diberikan butik yang sepi dan hampir bangkrut, sedangkan Sukma, yang baru menjadi menantu. Justru diberikan restoran yang sedang berkembang. Ini tidak adil!" sungutku tak terima. Hatiku kesal luar dalam.
"Diam kamu, Naila. Lancang sekali kamu bilang seperti itu pada mama. Jika kamu mau butikmu itu berkembang, seharusnya kamu berusaha seperti Sukma. Inovasi, kek, atau gimana, supaya pelanggan butikmu semakin ramai. Bukannya malah shoping dan menghambur-hamburkan uang saja, bisanya!"
Degh.
Aku tersentak mendengar suara lantang Mas Reno, baru kali ini ia tampak begitu marah padaku. Kutelan ludah ini, menatap matanya yang tajam menatapku.
Aku semakin membenci Sukma. Ia baru masuk dalam keluarga ini saja, sudah membuat aku dan mertuaku bertengkar. Ditambah lagi sekarang , suamiku pun juga sudah berani membentakku.
Aku lihat ke arah mama, beliau terlihat memijit pelipisnya. Mungkin ia pusing melihat aku dan Mas Reno yang mulai bertengkar. Ini semua karena menantu baru mama.
"Benar kata Reno, jika kamu ingin butik itu berkembang, kamu harus berusaha, harus kreatif! Mamasudah berusaha berlaku adil, cuma kamu saja yang tak pernah puas." ucap mama akhirnya, sebelum ia beranjak pergi meninggalkan aku dan Mas Reno.
"Mas seharusnya kamu, bantu aku bilang sama mama, bukannya ..."
"Aku mau berangkat kerja, bisa kesiangan jika aku mendengarkan ocehanmu. Urus Kenzo dengan baik! Jangan selalu mengandalkan pengasuh, ibu Kenzo itu kamu, bukan pengasuh!" ujar Mas Reno memotong ucapanku. Kemudian ia membalikkan badan, pergi meninggalkanku.
Aku menatap punggung suamiku dengan kecewa. AKu sangat kecewa, karena sebagai seorang suami, ia tidak membelaku. Aku harus secepatnya mendepak Sukma dari keluarga ini, jika tidak. Lama-kelamaan ia bisa menggeser posisiku di keluarga ini.
Lihat saja sekarang, baru masuk saja ia sudah membuat aku, dan suamiku bertengkar. Mama mertuaku juga menjadi tidak senang padaku. Semua ini karena Sukma.
Awas saja kamu, Sukma!
__ADS_1