Ceraikan Aku Mas!

Ceraikan Aku Mas!
Bab 15.


__ADS_3

Aku keluar membiarkan Fitri dan Mas Amar berdua di dalam.Melihat kondisi putriku yang berangsur membaik, membuat hatiku lega, aku memilih duduk di bangku panjang depan kamar inap Fitri seorang diri, aku ingin menghirup udara sebentar sambil mengontrol gemuruh hati ini. Ada perasaan senang dan sedih yang bercampur menjadi satu, saat melihat Fitri begitu dekat dengan Mas Amar.


Di sini aku duduk sendiri, karena ibu sudah pulang lebih dulu menggunakan taksi. Aku sempat menawarkan diri untuk mengantarkan, tapi, ibuku itu menolak. Ia bilang kasihan Fitri, nanti gadis kecilku itu nyariin aku, jika ia melihat mamanya tak ada.


Saat sedang duduk melamun seorang diri, aku melihat pintu kamar inap nomor dua di sebelah kananku terbuka.


Degh.


Aku langsung tersentak, dan berdiri saat melihat siapa yang keluar dari balik pintu itu.


"Ratna!" ucapku tanpa sadar. Ingin rasanya aku memukul mulutku sendiri, yang tak sadar memanggil nama wanita itu. Walau pelan, tapi sepertinya telinga wanita itu begitu tajam.


Mendengar namanya dipanggil wanita itu langsung menoleh ke arahku. Wajahnya juga tampak kaget melihatku, tapi hanya sesaat, karena setelahnya langsung berganti dengan seringai merendahkan. Ratna berjalan mendekatiku.


"Ngapain kamu di sini? Nungguin anak majikan yang dirawat," ujarnya mengejekku. Lagi-lagi ia menghinaku, apa menurutnya tampilanku semodis ini patut di sangka seorang baby sister?


"Kamu sendiri ngapain di sini?" balasku santai. Malas berdebat juga.


Bukannya menjawab, aku justru balik bertanya dengan nada angkuhku. Wanita itu mendengus kesal. Memangnya dia pikir, hanya dia saja yang bisa seperti itu.


"Tentu saja menemani anakku yang sedang sakit, sedangkan kamu ngapain? Jangan bilang kamu juga menemani anak kamu yang di rawat disini. Penjual gado-gado seperti kamu, mana mampu membayar biaya rumah sakit mahal seperti ini, apa lagi ini kelas VIP!" ujar Ratna kembali mencibir dan menghinaku.

__ADS_1


Tatapan matanya merendahkanku, tidak sadarkah ia, dirinya lah yang lebih rendah dariku. Mantan wanita murahan!


"Kamu pikir, hanya kamu saja yang memiliki uang di sini?! Memangnya kenapa jika anakku jua dirawat di rumah sakit ini, apa tidak pantas?" sungutku.


Emosiku mulai terpancing. Aku mulai geram dengan gaya angkuhnya itu, seakan aku ini hanya orang susah dan miskin, yang tak akan mungkin bisa membayar rumah sakit ini.


Baru saja Ratna mau membuka mulutnya untuk melawanku, pintu rawat di belakangnya terbuka, menampilkan sosok laki-laki yang seharusnya di panggil Fitri dengan sebutan Ayah.


Ia melihat ke arah punggung istrinya, Ratna, yang berdiri persis di hadapanku menoleh, saat Mas Ali melangkahkan kakinya mendekati kami berdua.


"Ma, dari tadi ditungguin lama banget, ngak nongol-nongol. Ternyata ... kamu?!" Ucapan Mas Ali terhenti saat matanya bertemu pandang dengan mataku, ia tampak terkejut. Setelah sekian lama akhirnya kami bertemu saat ini, dengan keadaan seperti ini.


"Sukma! Oh ... pantesan lama, rupanya bertemu kenalan lama," ucap Mas Ali enteng padaku.


"Kenapa kamu di sini, Sukma? Oh ... aku tahu, anak kamu sakit dan kamu mau minta biaya rumah sakit sama aku. Iya, kan? Pergi sana! Aku tidak akan memberikannya padamu!" ujarnya lagi seraya tangannya mengibas-ngibas di depanku. Seolah aku adalah pengemis di hadapannya.


Padahal selama empat tahun ini, tidak pernah sekalipun, aku dan anakku menerima sepeser pun uang yang ia janjikan di hadapan hakim dulu.


"Jangan sombong kamu, Ali! Aku tidak butuh uangmu dan juga tidak sudi menerimanya! Jika tuhan berkehendak, bisa saja ia mengambil apa yang kamu miliki saat ini!" sungutku seraya menekan setiap kata-kata yang keluar dari mulutku, hilang sudah rasa hormatku padanya.


Tak ada lagi panggilan manis ataupun kata 'Mas' seperti yang kuucapkan dulu. ku begitu muak melihat pria sombong di hadapanku saat ini.

__ADS_1


Aku bingung, kenapa aku bisa menerimanya sebagai suamiku dulu. Padahal dulu, aku cantik dan termasuk primadona dan bahan rebutan para pria. Banyak pria tampan dan kaya yang mendekatiku dulu, tapi, entah kenapa aku hanya menatap Mas Ali seorang saja, hingga mau menjadi istrinya.


"Sayangnya itu tidak mungkin terjadi, buktinya sekarang hidupku bahagia," Ali meraih tangan Ratna begitu lembut. Memamerkan kemesraannya padaku.


"Bahkan aku sekarang telah memiliki seorang putra dari, Ratna. Ia memberikanku, putra lelaki yang lucu dan pintar. Tidak seperti kamu yang hanya mampu memberiku seorang putri, dasar istri tak becus!" hardiknya lagi.


"Mantan istri sayang," sahut Ratna manja, yang ditanggapi Ali dengan senyuman, membuatku semakin muak.


Ali memindai tampilanku dari atas hingga ke bawah, selalu meneliti setiap item yang aku gunakan di tubuhku. Ia kembali menatapku dengan sebuah seringai.


"Jadi simpanan siapa kamu, sepertinya orang kaya, ya? Pantas tampilan kamu beda sekarang, semua yang kamu pakai di tubuhmu juga barang-barang berkualitas. Atau kamu menjual ..."


Plak!


Tangan kananku melayang begitu saja ke wajahnya Ali, membuat Ratna terkejut, mulut lancang Ali membuatku emosi, berani-beraninya ia menyamakan aku dengan wanita murahan yang ada di sampingnya itu.


Setelah apa yang telah ia lakukan terhadapku dan Fitri, sekarang masih ia tambah lagi dengan hinaan yang menyakitkan dari mulut kotornya itu. Memangnya ia pikir, aku tidak punya kemampuan untuk memiliki semua barang mewah itu, apa?


"Berani sekali kamu Sukma!" hardik Ratna. Wanita itu mendorong bahuku kuat, hingga membuatku terhuyung ke belakang beberapa langkah. Dengan langkah cepat aku maju beberapa langkah ke hadapan Ratna. Aku tak terima mereka perlakukan seperti ini.


Plak!

__ADS_1


Kembali kulayangkan tanganku, tapi kali ini bukan ke pipi Ali, melainkan pipi mulus istrinya. Amarah dan sakit hati yang selama ini aku tahan, akhirnya lepas juga. Seperti boom waktu, dimana saat meledak cukup mematikan tanpa memandang tempat ataupun kondisi.


Sudah cukup mereka menyakiti aku dan putriku dulu, tapi sekarang tidak akan lagi! Tak ada lagi lagi air mata yang mengalir di pipi, hanya tersisa amarah dan kebencian. Tidak akan kubiarkan lagi mereka menghina dan memperlakukanku seperti dulu. Akan kutunjukkan pada mereka, siapa Sukma Safitri sebenarnya!


__ADS_2