Ceraikan Aku Mas!

Ceraikan Aku Mas!
Part 21


__ADS_3

POV. Ali


Sudah beberapa hari aku memantau pergerakan Sukma, dan hari ini aku memberanikan diri untuk menemuinya. Aku tak mau kalah langkah dan membiarkan berlian yang aku buang diambil oleh orang lain.


Beruntungnya aku, akhirnya aku bisa menemui mantan istriku ini. Namun, sialnya! Ia sedang asyik makan romantis bersama seorang duda yang tempo hari memperkenalkan diri sebagai calon suami Sukma.


Dengan segala drama serta kebohongan yang aku buat, hampir saja Sukma iba dan kasihan padaku! Tapi sialnya, si duda itu justru menghentikannya. Padahal sedikit lagi aku bisa mempermainkan hati Sukma dan membuat ia kembali kepelukanku.


Aku sudah pusing dengan debt colector yang datang silih berganti menagihku, baik secara langsung atau lewat via telepon.


"Sayang, Mas mohon maafkan, Mas!" ucapanku kembali mengalihkan perhatian Sukma dari lelaki putih itu. Namun, tak ada respons. Sejak kepergian si duda itu, Sukma terus saja menatap punggungnya tanpa berkedip. Membuat aku kesal saja!


"Sayang, tolong dengarkan, Mas!" ujarku kembali. Namun kali ini, aku meraih jemari tangan Sukma dan mengusapnya lembut. Dengan cepat mantan istriku itu menepis tanganku kasar.


Sukma tampak memainkan bibir dan menatapku tajam. Tidak seperti Sukma yang aku kenal dulu, yang selalu menatapku lembut dengan penuh cinta.


"Apa kamu sudah gila, Mas? Dapat keberanian dari mana kamu datang kesini dan dengan entengnya memintaku untuk rujuk denganmu, setelah apa yang kamu lakukan selama ini terhadapku. Jangan bermimpi, Mas!" ucap Sukma. Cukup membuatku terdiam, ia seolah sedang mengulitiku atas sikapku di masa lalu.


"Dek, Mas mohon, tolong maafkan, Mas! Bukankah dulu kita pernah berjanji selalu menyayangi dan membangun keluarga kecil bahagia milik kita. Lagi pula Fitri sekarang sudah mulai besar, dia pasti membutuhkan figur seorang ayah!" ucapku untuk terus memainkan hatinya. Aku yakin pasti masih ada sisa cinta, Sukma untukku, di dalam hatinya.


Sukma tampak tersenyum sinis padaku. "Keluarga bahagia? Keluarga bahagia bagaimana yang kamu maksud, Mas! Setelah apa yang kamu lakukan padaku, kamu pikir aku mau kembali lagi denganmu hanya dengan janji manis dari mulutmu itu! Mimpimu terlalu tinggi, Mas! Aku tak sudi lagi menjadi istri lelaki yang tak setia sepertimu!" ucap Sukma dengan nada yang terdengar ketus.

__ADS_1


Sukma menolakku? Apa ia sudah tak cinta lagi padaku? Pasti ini semua karena lelaki putih itu! Tidak ... ini tak boleh terjadi, jika Sukma menolak rujuk denganku, maka bagaimana caranya aku membayar hutangku yang sudah menjerat leherku itu. Aku harus mengambil hati Sukma dan memaksa ia untuk rujuk lagi denganku.


Aku yakin Sukma pasti luluh jika bersangkutan dengan putrinya, aku permainkan saja hatinya tentang Fitri, ia pasti akan luluh! Kali ini aku tak boleh gagal.


"Mas mohon sayang, kita kembali seperti dulu, demi Fitri. Apa kamu tidak kasihan dengan putri kita? Sebentar lagi dia masuk sekolah, apa kata teman-temannya jika tahu bahwa Fitri tidak memiliki ayah. Dia pasti diejek teman-temannya. Kamu tak mau kan, itu terjadi pada putri kita?"


Sukma meneguk ludah, kemudian ia tampak menekan dadanya pelan. Pandangan matanya mulai berkaca-kaca. Sepetinya aku sudah mulai mempermainkan hatinya. Semoga saja hatinya bisa aku kendalikan.


Aku menarik tangan Sukma dan membawanya ke dalam dekapanku, sudah lama aku tidak memeluk tubuh sintal mantan istriku ini. Apa lagi sekarang aku melihat ia tambah seksi di balik setelan formalnya itu.


Namun, tidak disangka Sukma yang dulu lugu dan penurut menjadi Sukma yang pemberontak. Baru saja aku mendekap hangat tubuhnya, kaki Sukma yang menggunakan sepatu bertumit, ia hentakkan dengan kuat di atas kakiku. Lalu mendorong tubuhku kasar hingga aku terjerembab ke belakang.


"Arkhhhh ..." teriakku tertahan, rasanya kaki dan tulang ekorku sakit sekali. Dengan perlahan aku berdiri sambil memegang pantatku yang masih sakit. Bahkan kakiku masih berdenyut, rasanya nyeri sekali.


Degh!


Ucapan Sukma tadi cukup membuat hatiku terpaku! Kepalaku seakan dihantam ribuan palu, sakit sekali. Bayangan akan hidup enak dan terbebas dari hutang menjadi sirna seketika.


"Sayang ... apa kamu tak melihat ketulusanku, aku tulus meminta maaf padamu, dan memperbaiki hubungan kita. Apa aku salah?" ujarku berusaha meyakinkan, dengan ekspresi yang serius aku mainkan agar Sukma luluh


Sukma terlihat mengulas senyum tipis, lalu menghela napas panjang. "Aku sudah memaafkanmu, Mas, tapi kembali rujuk? Itu tak akan mungkin terjadi! Pergilah dari sini, Mas! Aku masih banyak kerjaan, dan jangan pernah datang lagi ke sini, untuk menemuiku!" ujar Sukma yang membuatku ternganga.

__ADS_1


Sukma beranjak pergi meninggalkan aku sendiri. Sial! Kenapa Sukma sekarang tidak mudah dibujuk? Sukma yang kini seolah seperti sosok Sukm yang tak kukenal. Jika begini, akan sulit untukku membuat ia kembali padaku.


Kutelan ludahku dan kujambak rambutku era, jika Sukma kekeh tidak mau balik rujuk. Lalu bagaimana dengan hutang-hutangku itu, bunganya semakin hari semakin meninggi. Bekerja siang malam juga tidak akan cukup untuk menutupi semua hutang itu.


Sabar Ali! Sabar! Aku harus bisa mengontrol emosiku, bisa saja Sukma masih melihatku, apakah aku sudah berubah dan lagi memikirkan apa yang aku ucap tadi.


Aku yakin pasti ada cara yang membuat Sukma mau rujuk kembali padaku. Aku harus secepatnya mengambil hatinya kembali agar semua harta yang ia miliki bisa jatuh ke tanganku.


Drett ... dret ... dret ...


Ponselku yang berada di saku celana bergetar, pertanda ada panggilan yang masuk. Segera aku raih dan aku lihat panggilan siapa dari Ratna. Segera aku mengangkatnya.


"Hallo, Mas? Kamu segera pulang ke rumah sekarang, mas, cepat!" ujar Ratna terdengar begitu panik dari sebrang sana.


"Ada apa, apa yang terjadi?" tanyaku. Apa terjadi sesuatu lagi pada putraku, aku merasa bersalah telah menjadikan ia tumbal di depan Sukma, dan mengatakan bahwa ia bukan darah dagingku. Padahal satu-satunya putra kebanggaanku.


"Mas cepat kamu pulang! Di rumah ada debt kolektor yang sedari tadi menunggumu, mereka menagih janji hutang yang mau kamu bayar hari ini, Mas! Aku takut, Mas. Mereka mengamuk melihat kamu tak ada di rumah dan membanting vas bungaku. Kamu cepat pulang, Mas!" ujar Ratna masih dengan nada suara yang panik.


Napasku seakan berhenti berhembus, jantungku berpacu sangat cepat. Aku baru ingat, jika hari ini aku memiliki janji membayar hutang yang sudah jatuh tempo dan harus di bayar. Aku pikir Sukma tidak akan menolak rujuk denganku, dan dengan sedikit rayuan serta kebohongan aku bisa mendapatkan uang darinya untuk membayar hutangku itu.


Namun, ternyata?

__ADS_1


Astaga, aku harus bagaimana, sekarang?


__ADS_2