Ceraikan Aku Mas!

Ceraikan Aku Mas!
Part 22


__ADS_3

Semenjak Sukma pergi, hidupku menjadi susah dan menderita. Aku memang mendapatkan anak laki-laki yang aku nantikan, hanya saja rezekiku menjadi seret dan hutangku semakin menumpuk setiap harinya.


Ratna tidak seperti Sukma yang sederhana dan bijak dalam mengatur keuanganku. Gaya hidup serta kebutuhan Ratna yang besar, membuatku terjerat hutang di mana-mana.


Perempuan itu pintar sekali mengambil kesempatan, memanfaatkan rasa sayangku, saat ia sedang mengandung anakku. Banyak sekali permintaannya padaku, dengan alasan bayi yang ada di dalam kandungannya.


Tentu saja, karena rasa bahagiaku yang sebentar lagi memiliki anak laki-laki darinya, membaut aku selalu mengabulkan keinginannya. Walau pada akhirnya semua permintaannya itu semakin menjadi saja.


Terkadang aku berpikir, apa iya ada orang ngidam perhiasan dan barang-barang branded. Ah ... itu pasti akal-akalannya saja. Hingga imbasnya sekarang, hutangku di mana-mana! Dan sekarang aku sampai tak berani pulang ke rumah, karena di kejar debt colector.


Malangnya nasibku!


Setelah berputar-putar mengelilingi kota, tak terasa mobil yang aku kendarai telah tiba di depan rumah mewah milik Sukma. Rumah mewah yang aku taksir memiliki harga yang fantastis, karena terletak di komplek pemukiman elit di tengah kota.


Aku parkirkan mobilku di sebrang jalan yang tak jauh dari depan rumah Sukma. Aku ingin melihat dan memantau situasi terlebih dahulu. Sudah hampir satu jam aku menunggu di mobil, tapi tidak ada tanda-tanda ada orang yang keluar dari gerbang itu.


Aku turun dari mobil, mendekati rumah itu, lalu membuka gerbang yang tidak terkunci, sepertinya langit pun sedang berpihak padaku. Kakiku melangkah perlahan sambil mengedarkan pandangan, ke seluruh penjuru rumah dari dekat pagar tinggi ini. Mataku terpaku pada seorang gadis kecil bergaun biru langit yang tiba-tiba datang, gadis kecil itu memungut bola yang tampaknya terlempar tidak jauh dari tempat aku berdiri. Aku yakin ini adalah putriku.


"Fitri!" teriakku pelan memanggil gadis kecil itu. Ia menoleh, pandangan mata kami bertemu.


Aku tersentak kaget, wajah gadis itu begitu cantik dan menggemaskan. Kulit yang putih, serta paras cantik perpaduan wajahku dan Sukma, walau lebih dominan wajahku yang ia ambil. Aku seperti melihat putraku Bayu dalam versi wanita.


"Fitri sini, sayang! Ini papa," ujarku sambil melambaikan tangan meminta ia mendekat.


"Papa?" ulang Fitri padaku, aku mengangguk sambil mengulas senyum.


Tak berselang lama gadis kecil itu mendekat, membuat aku tersenyum puas. Sepertinya tak sulit untuk membujuk anak ini. Kesempatanku untuk rujuk kembali dengan Sukma semakin terbuka lebar.

__ADS_1


Fitri melangkah pelan menghampiriku, sepertinya ia ragu-ragu. Aku tak mau menghilangkan kesempatan, aku tak mau ia takut dan lari padaku. Aku keluarkan sebatang coklat waferqueen yang sempat aku beli di supermarket tadi.


"Fitri mau ini? Ini papa bawakan untuk Fitri?" gadis itu mengangguk dan berlari kecil ke dekatku. Baru saja Fitri mengambil coklat di tanganku, sebuah suara mengagetkan kami.


"Apa yang kamu lakukan di sini, Ali? Apa yang mau kamu lakukan terhadap cucuku?" ujar wanita tua yang dulu pernah menjadi mertuaku itu.


"Aku hanya ingin menemui putriku, Bu. Apa itu salah? Ternyata putriku sudah besar dan cantik," jawabku. Ibu tampak mencebikkan bibir tak suka. Aku juga tak peduli. kugendong Fitri dan membiarkan ia makan coklat itu di dalam gendonganku.


"Setalah sekian tahun kamu menelantarkannya, sekarang dengan entengnya kamu bertanya, apa kamu salah? Tentu kamu salah, dan kamu tidak pantas menginjakkan kakimu di rumah ini!" jawab mantan ibu mertuaku itu.


Ucapannya yang pedas cukup membuatku tersinggung. Sombong sekali dia! Mentang-mentang anaknya sudah kaya, bisa dengan mudahnya ia berbicara kasar padaku, padahal dulu. Membantah ucapanku saja ia segan.


"Lepaskan cucuku, Ali! Berikan dia padaku!" titah nenek Fitri. Wanita tua itu berusaha merebut Fitri yang ada di gendonganku. Tentu saja aku tidak akan memberikannya. Karena anak ini, adalah senjataku agar Sukma mau rujuk denganku.


Aku akan membawa Fitri pulang ke rumah, jika Fitri ada di tanganku, tentu aku bisa memaksa Sukma rujuk kembali padaku. Karena aku tahu betul gadis kecil ini adalah kelemahan terbesar Sukma.


Dengan begitu, tentu saja rumah mewah ini akan menjadi milikku. Hidupku akan tenang dan terbebas dari hutang. Kalau hanya mengandalkan gajiku yang terpotong oleh bank, entah sampai kapan lunas itu hutang!


"Arkhh!" ringisnya tertahan sambil mengusap telapak tangannya yang lecet dan perih.


Aku harus pergi dari sini cepat sebelum Sukma pulang ke rumah yang pastinya sebelum ada yang melaporkan aksi nekadku ke polisi.


Bughhh.


Sebuah tinju melayang ke rahangku dengan keras, hingga membuatku jatuh tersungkur. Aku memegang sudut bibirku yang koyak dan mengeluarkan sedikit darah.


Aku tidak menyangka mereka berdua akan pulang secepat ini, dan menghentikan aksiku menculik Fitri. Saat mereka tiba aku baru saja keluar dari gerbang dan ingin membawa Fitri ke mobil.

__ADS_1


Tangan Amar dengan cepat merebut Fitri dari gendonganku dan memberikannya pada Sukma. Setelah itu dengan penuh amarah ia melayangkan tinjunya padaku, hingga perkelahian diantara kamu pun tak terelakkan.


Bughhh.


Satu tinju aku berikan, sebagai balasan atas tinju yang ia berikan padaku, namun pria itu begitu lincah. Ia kembali berhasil membalas tinjuku barusan, adu jotos tak dapat dihindari lagi diantara kami. Walau pada akhirnya, aku yang berulang kali kena tinju tangan pria itu, hingga membuat wajahku yang tampan menjadi babak belur. Tangan kiri Amar kini mencengkeram erat kedua kerah bajuku, membuatku terasa tercekik.


"Cukup! Cukup Mas, Mas Amar cukup!" terdengar suara Sukma yang melerai perkelahian diantara kami. Tangan Amar yang sedang melayang ke udara, siap menghantam wajahku, seketika berhenti saat mendengar namanya disebut.


Kami berdua menoleh ke arah Sukma, tampak gurat kekhawatiran ia pancarkan mantap diriku, membuat Amar terdiam. Aku yakin Sukma masih menyimpan cinta untukku, jika tidak mungkin ia khawatir padaku seperti tadi.


Aku melepas genggaman tangan Amar yang masih mencengkeram erat kerah bajuku, senyum simpul tergambar di sudut bibirku saat ini.


"Kenapa kamu ada di sini, Mas? Untuk apa kamu ke sini?" dari sekian banyak pertanyaan, kenapa hal itu yang justru ia lontarkan padaku Tidak kasihankah ia melihat wajahku yang babak belur begini?


"Aku hanya ingin bertemu dengan putriku, itu saja. Apa aku tidak boleh rindu dengannya!" ucapku dengan memainkan ekspresiku. Kulihat Sukma tersenyum sinis padaku, seolah mengejek ucapanku barusan.


"Setelah sekian tahun, kamu baru mau menemui putrimu sekarang? Apa yang kamu inginkan, Mas? Apa yang sedang kamu rencanakan?" ujar Sukma lantang dengan sorot mata yang tajam.


Sialan! Kenapa Sukma bisa jadi sepintar ini. Kutatap balik sorot mata itu. Bukan Sukma yang kukenal dulu, Sukma yang begitu penurut dan mudah dibohongi. Waktu benar-benar telah mengubahnya.


"Aku hanya ingin bertemu dengan putriku, Sukma. Kamu tak bisa melarangku bertemu dengannya! Walau bagaimanapun, Fitri tetaplah anakku, darah dagingku. Terlepas dari segala kesalahanku di masa lalu, aku tetaplah ayah kandungnya!" ujarku santai sambil menekan setiap kataku. Agar lelaki yang berada di sebelahnya saat ini sadar siapa dirinya itu. Walau bagaimanapun, akulah yah kadung Fitri, bukan dia!


"Kau tidak pantas di sebut sebagai seorang ayah, ayah yang mana yang menelantarkan putrinya sendiri bahkan tidak pernah memberikannya nafkah sedikit pun!" sahut Amar dengan lantang. Ia mengeram kesal, sedangkan aku menatapnya sinis kenapa ia yang emosi disini.


"Jangan ikut campur kamu, aku sedang berbicara dengan Sukma bukan kamu! Lagi pula, itu kan anakku, toh ... Sukma juga tidak mempersalahkan tentang nafkah itu. Itu juga salah Sukma sendiri, kenapa ia lebih memilih menjadi janda dari pada aku madu." Pungkasku tak kalah sengit.


"Cukup, Mas! Aku bilang sudah, cukup! Aku tidak mau mendengar apa pun dari mulutmu lagi! Karena percuma, manusia seperti kamu tidak akan pernah sadar akan kesalahanmu. Sekarang silahkan kamu pergi dari rumahku, sekarang juga! Dan jangan bermimpi untuk mendekati anakku! Apa kau lupa, jika dulu kau tidak mengakuinya sebagai putrimu! Jadi sekarang cepat kau pergi dari sini, sebelum aku memanggil scurity perumahan ini. CEPAT PERGI!" teriak Sukma.

__ADS_1


Aku cukup terkejut dengan ucapan yang di lontarkan oleh Sukma, ia mengusirku?! Bukan hanya mengusir, Sukma juga mengungkit masa lalu dan melarang aku untuk dekat dengan putri kami, itu artinya aku tak punya kesempatan untuk mendekatinya kembali.


Sial! Sial! Ini tak boleh terjadi. Aku tak rela ia bersama pria lain. Arkhhh ... apa yang harus aku lakukan? aku harus bagaimana? Sial!


__ADS_2