
Malam itu adalah malam yang sangat dingin di puncak gunung yang terpencil. Kabut tebal menyelimuti sekitarnya, menjadikannya tempat yang begitu sunyi sehingga kau bisa mendengar denyutan jantungmu sendiri. Mamat, seorang pendaki berpengalaman, merasa terpesona oleh kecantikan hutan di sekitarnya, meskipun ketika malam tiba, dia sadar bahwa dia telah tersesat. Dia mencoba menyalakan ponselnya, tetapi tidak ada sinyal. Ketika rasa panik mulai menyelimuti dirinya, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Di tengah kegelapan, Mamat melihat cahaya samar-samar di kejauhan. Itu hampir seperti kilatan mata manusia, tetapi dia tidak yakin. Mamat memutuskan untuk mengikuti cahaya itu, satu-satunya petunjuk yang dia miliki dalam situasi yang begitu gelap.
Semakin dekat dia mendekati cahaya itu, semakin jelas tampaknya bahwa itu adalah cahaya dari sebuah warung kecil. Warung itu tampak tua dan usang, seperti sesuatu yang hilang di masa lalu. Ketika dia memasuki warung, dia merasa seolah-olah dia telah terperangkap dalam waktu.
Di dalam, warung itu sangat berbeda dari yang dia harapkan. Ini terasa seperti langit yang luas dengan bintang-bintang terpampang di langit malam, dan tanah berbentuk seperti hutan yang sangat rimbun. Di balik meja kayu tua, seorang wanita tua dengan rambut putih panjang dan mata yang bersinar duduk. Dia tersenyum pada Mamat dan menyambutnya.
"Selamat datang, anak muda," katanya dengan suara yang lembut. "Kau tampak lelah. Duduklah, pesanlah sesuatu."
Mamat yang kelelahan dan bingung, mengikuti saran wanita itu dan duduk di meja kayu yang terasa ajaib. Dia memesan secangkir teh, dan ketika minuman itu tiba, rasanya begitu hangat dan membangkitkan semangat. Wanita itu melanjutkan dengan ramah, "Kau mungkin bertanya-tanya bagaimana kau bisa sampai di sini."
Mamat mengangguk sambil menyeruput tehnya. "Ya, saya tersesat. Tapi bagaimana mungkin ada warung di tengah hutan yang begitu terpencil seperti ini?"
Wanita itu tersenyum lagi, "Warung ini memiliki caranya sendiri untuk menemukan mereka yang tersesat dan membutuhkan tempat untuk beristirahat. Tapi tentu saja, ada harga yang harus dibayar."
Mamat merasa ada sesuatu yang aneh tentang warung ini, tetapi dia terlalu lelah untuk memikirkannya lebih lanjut. Dia bertanya, " Berapa lama saya harus tinggal di sini?"
Wanita itu hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Mamat. Seolah-olah waktu telah kehilangan makna di dalam warung ini, Mamat tidak tahu berapa lama dia telah berada di sini. Waktu berlalu dengan cara yang aneh, seperti sangat cepat, dan Mamat merasa dia telah menjadi bagian dari warung ini.
__ADS_1
Selama waktu yang dia habiskan di warung, dia mulai mendengar cerita aneh dari wanita itu. Cerita tentang hutan ini yang penuh dengan makhluk-makhluk gaib, tentang orang-orang yang hilang selamanya di dalamnya, dan tentang warung ini yang muncul untuk menyelamatkan mereka. Cerita-cerita itu semakin menambah rasa takut dan ketidakpastian Mamat.
Malam berganti siang, siang berubah malam, dan Mamat terus mencoba keluar dari warung ini, tetapi selalu gagal. Ketika dia mencoba keluar, dia selalu kembali ke meja di mana dia duduk tadi, seolah-olah warung ini memiliki kekuatan gaib untuk menjaga orang tetap di dalamnya.
Mamat merasa semakin kehilangan akal sehatnya. Dia tahu bahwa dia harus mencari cara untuk melarikan diri dari warung ini, tapi setiap upaya dia berakhir dengan sia-sia. Dia merasa seperti wanita itu, yang tampaknya tidak menua, memiliki kendali atas nasibnya.
Suatu hari, ketika dia sedang merenun, dia melihat sesuatu yang mengejutkan. Di kejauhan, dia melihat sekelompok pendaki yang tampaknya juga tersesat. Mereka sedang mendekati warung ini, menarik oleh cahaya samar-samar yang menyinari langit malam. Mamat berteriak ke arah mereka, berteriak untuk memperingatkan mereka tentang bahaya yang mengintai.
Namun tiba tiba dia melihat sesuatu yang membuatnya berhenti. Dia melihat wajah mereka, dan terkejut melihat bahwa mereka adalah teman-temannya yang telah hilang selama beberapa waktu.
Malam itu, ketika Mamat melihat teman-temannya yang telah hilang, dia merasa kebingungan dan ketakutan. Mereka tidak terlihat seperti teman-temannya yang dulu. Mereka tampak tenang, wajah mereka tanpa ekspresi, dan matanya kosong, seolah-olah mereka telah kehilangan semua emosi dan identitas mereka.
Teman-temannya hanya tersenyum padanya, bukan senyuman yang ramah, tetapi senyuman yang aneh dan menakutkan. Mamat mencoba berbicara dengan mereka, mencoba membangkitkan kenangan masa lalu, tetapi tidak ada tanggapan. Mereka hanya duduk di sekitar meja kayu di dalam warung, seperti dikendalikan oleh sesuatu.
Mamat merasa jantungnya berdebar keras. Dia tidak ingin teman-temannya terjebak di dalam warung ini seperti dia. Dia merasa bertanggung jawab untuk mencari jalan keluar untuk mereka semua. Dengan tekad yang kuat, dia kembali mencoba untuk mencari jalan keluar.
Setiap hari dia mengamati teman-temannya yang seperti tidak ada ekspresi apa-apa, dan setiap hari dia mencoba mencari celah yang mungkin mengarah ke kebebasan. Dia berbicara dengan mereka, mencoba mengingatkan mereka tentang kehidupan di luar warung ini, tetapi upayanya selalu gagal. Teman-temannya hanya menjawab dengan senyuman kosong dan tatapan mata yang hampa.
Selama waktu yang dia habiskan di dalam warung ini, dia melanjutkan mendengar cerita-cerita aneh dari wanita tua itu. Cerita tentang hutan yang dihuni oleh makhluk-makhluk gaib yang tak terlihat, tentang orang-orang yang hilang selamanya di dalamnya, dan tentang warung ini yang muncul untuk menyelamatkan mereka. Cerita-cerita itu menjadi lebih mengerikan setiap harinya, dan Mamat merasa semakin terobsesi dengan misteri warung ini.
__ADS_1
Dia mencoba untuk mengumpulkan petunjuk tentang bagaimana warung ini bekerja. Dia berbicara dengan wanita tua itu, bertanya tentang asal-usul warung dan cara keluar. Wanita itu tidak pernah memberikan jawaban yang memadai, selalu berbicara dalam teka-teki dan peribahasa. Mamat merasa semakin frustrasi, tetapi dia tahu dia harus terus mencari jawaban.
Malam berganti siang, siang berubah malam, dan Mamat terus mencoba keluar dari warung ini. Dia mencoba untuk menyusun rencana dengan hati-hati, mencari tanda-tanda kecil yang mungkin membawanya ke kebebasan. Namun, setiap upaya dia selalu berakhir dengan sia-sia.
Pada suatu malam yang gelap, ketika dia berpikir, dia melihat sesuatu yang mengejutkannya. Di kejauhan, di tengah hutan yang tebal, dia melihat kilatan cahaya yang aneh. Cahaya itu berkilauan seperti bintang, dan seolah-olah itu adalah sebuah petunjuk.
Mamat merasa dorongan kuat untuk mengikuti cahaya itu. Dia merasa bahwa inilah kesempatan terakhirnya untuk keluar dari warung ini dan membawa teman-temannya bersamanya. Dia meninggalkan warung dan memasuki hutan, mengikuti cahaya yang semakin bersinar.
Namun, perjalanan ini bukanlah perjalanan yang mudah. Hutan terasa semakin gelap dan menjebaknya dalam labirin yang rumit. Suara-suara aneh dan bayangan yang menakutkan mulai muncul di sekelilingnya. Mamat merasa seperti ada sesuatu yang mengintainya di dalam hutan ini, sesuatu yang tidak ingin dia mencapai tujuannya.
Dia merasa putus asa dan lelah, tetapi dia tidak bisa menyerah. Dia terus mengikuti cahaya itu, melewati rintangan dan bahaya yang muncul di jalannya. Dia merasa seperti dia sedang diuji oleh kekuatan misterius yang menguji tekadnya.
Akhirnya, setelah perjuangan yang panjang dan melelahkan, dia mencapai tujuannya. Cahaya itu membawanya ke sebuah jalan setapak yang tampak lebih terang dan terbuka. Mamat melangkah maju dengan hati berdebar, dan ketika dia melihat ke belakang, dia terkejut melihat bahwa warung itu tiba-tiba menghilang, meninggalkan hanya hutan yang gelap dan sunyi.
Mamat merasa lega dan bahagia. Dia tahu bahwa dia telah berhasil melarikan diri dari warung misterius itu dan menemukan jalan keluar. Namun, dia tidak bisa merasa senang sepenuhnya. Dia merasa sedih dan bersalah karena teman-temannya yang masih terjebak di dalam warung itu.
Dia tahu dia harus kembali untuk mencoba menyelamatkan mereka. Dengan tekad yang kuat, dia kembali memasuki hutan dan mengikuti jejaknya yang telah dia buat sebelumnya. Dia tahu bahwa dia harus membawa teman-temannya keluar dari warung itu, tidak peduli apa pun yang menghadangnya.
Mamat berjalan melewati hutan yang gelap dan bahaya, dan akhirnya, dia kembali tiba di depan warung yang misterius. Namun, ketika dia masuk, dia mendapati bahwa teman-temannya sudah tidak ada di sana. Warung itu sepi seperi warung yang telag lama tidan ter urus dan wanita tua yang misterius juga menghilang.
__ADS_1
Mamat merasa bingung dan terkejut. Dia mencari-cari teman-temannya, tetapi mereka telah hilang tanpa jejak. Dia merasa sedih dan terpukul, tetapi dia juga merasa lega karena berhasil melarikan diri dari warung itu.
Sejak hari itu, Mamat tidak pernah lagi mendaki gunung atau menginjakkan kakinya di dalam hutan yang terpencil. Dia tahu bahwa di suatu tempat di dalam hutan itu, warung misterius itu mungkin