
Dalam satu malam yang gelap, kota kecil Bernaville diguyur hujan gerimis yang lembut. Jalanan yang seharusnya ramai dengan aktivitas malam mulai sepi, terasakan keheningan yang tak tergambarkan. Terpaan hujan membuat segala sesuatu terasa seperti dalam alunan lagu sedih, namun, hening ini akan segera tergantikan oleh ketakutan yang tak terbayangkan.
Saat jam menunjukkan pukul 3 pagi, warga Bernaville yang masih terjaga mulai merasakan sesuatu yang tidak wajar. Mereka keluar dari rumah mereka untuk melihat apa yang terjadi. Namun, ketika mereka menengadahkan wajah mereka ke atas, mereka melihat pemandangan yang membuat bulu kuduk merinding.
Dari atas langit yang gelap, tangan besar yang kelam mulai muncul satu per satu. Mereka tampak seperti bayangan hitam yang tak bertuan, tetapi sangat nyata. Hujan gerimis yang masih turun menciptakan ilusi gemerlap di sekitar tangan-tangan tersebut, seolah-olah mereka adalah entitas dari dunia lain.
Seorang pria paruh baya bernama John, yang berdiri di teras rumahnya, melihat tangan pertama muncul. Tangan itu melintasi langit dengan perlahan, seolah-olah mencari sesuatu. Matanya tak bisa berpaling saat tangan itu semakin dekat. Tangan itu terlihat pucat, kulitnya keriput, dan kuku-kukunya panjang seperti cakar hantu.
Ketika tangan pertama telah sepenuhnya muncul, tangan kedua datang setelahnya, diikuti oleh tangan-tangan berikutnya. Mereka terlihat seperti tangan manusia, namun besar, sangat besar, dan kehadiran mereka di atas langit mengguncang keyakinan semua orang. Warga Bernaville yang terdiam melihat pemandangan yang luar biasa ini.
Hujan gerimis semakin lebat, dan itu memberi kesan seperti tangan-tangan besar itu muncul dari dalam awan. Mereka bergerak bersama, seolah-olah mereka memiliki tujuan yang sama. Mereka bergerak perlahan, mencari sesuatu yang tidak bisa dimengerti oleh manusia.
Wanita tua bernama Clara, yang duduk di depan jendela kamarnya, tak bisa menahan ketakutannya. Dia melihat tangan-tangan itu dengan mata berkaca-kaca, dan ingatannya membawanya ke masa lalu. "Mereka datang untuk mengambil kita," gumamnya pelan, suaranya gemetar.
Semakin banyak warga yang menyaksikan penampakan mengerikan ini, semakin besar kepanikan yang menyebar di seluruh kota. Mereka berbisik dan bertanya-tanya apa yang mungkin menjadi penyebabnya. Apakah ini pertanda malapetaka? Apakah dunia akan berakhir?
Kemudian, tangan-tangan itu mulai bergerak dengan lebih cepat. Mereka bergerak dengan koordinasi yang tidak manusiawi, seolah-olah mereka membentuk sebuah rencana yang hanya mereka ketahui. Hujan gerimis kini terasa seperti air mata langit yang menangis atas nasib yang tak dapat dihindari.
Beberapa warga mencoba menghubungi pihak berwenang, tetapi semua upaya mereka sia-sia. Telepon tidak berfungsi, dan pesan yang mereka kirim tidak pernah sampai. Kota Bernaville terisolasi, dan mereka ditinggalkan menghadapi tangan-tangan besar itu sendirian.
Ketika tangan-tangan besar semakin mendekati permukaan kota, warga Bernaville merasa tak berdaya. Mereka merasa seperti binatang kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa di bawah cengkeraman takdir yang gelap. Beberapa mencoba bersembunyi di rumah mereka, tetapi dengan sia-sia; tangan-tangan itu menembus atap-atap dan tembok-tembok.
Ketakutan yang melanda Bernaville semakin nyata dengan setiap detik yang berlalu. Warga berteriak, menangis, berdoa, mencoba mencari perlindungan dalam pelukan keluarga mereka. Namun, tangan-tangan besar itu terus mendekati, tak peduli dengan histeria yang melanda kota.
Seorang wanita muda bernama Emily berlari ke kamar anaknya, Alex. Dia menemukannya tidur pulas dalam keheningan malam yang mencekam. Emily merasa segera harus melindungi anaknya. Dia meraih Alex yang masih tidur dan membawanya ke bawah, merasa ketakutan melihat tangan-tangan besar yang menakutkan itu.
Saat dia mencoba meraih pintu depan untuk melarikan diri, sebuah tangan besar menembus dinding rumah mereka. Itu datang begitu cepat, seolah-olah mereka tak punya tempat berlindung. Emily menjerit keras, berusaha menarik diri dan Alex keluar dari cengkeraman takdir yang menakutkan ini.
__ADS_1
Tapi tangan besar itu kuat. Mereka menggenggam Emily dan Alex dengan erat. Emily mencoba keras untuk membebaskan diri, tapi usahanya sia-sia. Histeria menyebar di matanya, dan dia merasa cengkeraman tangan itu semakin kuat.
Mereka terangkat dari lantai, naik ke langit yang gelap. Emily menatap ke bawah dan melihat kota Bernaville yang terlihat seperti kota mainan yang kecil di bawah mereka. Mereka sedang terbang, dipegang oleh tangan-tangan besar itu. Alex terbangun dan menangis ketakutan, berpegangan erat pada ibunya.
Malam semakin dalam, dan hujan gerimis masih turun. Di atas langit yang gelap, tangan-tangan besar itu membawa Emily dan Alex menjauh dari kota. Mereka merasa seperti dihisap ke dalam alam yang tidak diketahui, seperti dalam mimpi buruk yang tidak ada jalan keluarnya.
Di tengah ketakutan mereka, Emily mencoba untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada tangan-tangan itu, tapi mereka terlalu abstrak, tak ada wajah, tak ada suara. Tangan-tangan itu seperti keberadaan yang tak memiliki emosi atau maksud. Mereka hanya menjalankan tugas yang tak dapat dimengerti oleh manusia.
Ketika mereka mencapai puncak langit, tangan-tangan besar itu mulai mereda. Emily dan Alex merasa diri mereka perlahan jatuh, turun dari ketinggian yang menakutkan. Mereka mendarat di tempat yang gelap, tempat yang tak terkenal.
Saat mereka berdiri di tanah yang asing, Emily mencoba untuk meredakan tangisannya dan menghibur Alex yang masih ketakutan. Mereka tidak tahu di mana mereka berada, tapi satu-satunya hal yang mereka tahu adalah bahwa mereka harus bertahan hidup.
Mereka memutuskan untuk menjelajahi tempat tersebut, mencari petunjuk atau tanda-tanda kehidupan lain. Namun, tempat itu terasa sunyi dan tak berpenghuni. Emily mencoba menemukan jalan keluar, tapi semakin mereka menjelajahi, semakin gelap dan terpencil tempat tersebut.
Di dalam gelap yang menyelimuti mereka, Emily dan Alex merasa seperti tidak ada harapan. Mereka merasa terbuang, terjebak dalam dunia yang tak mereka mengerti. Hujan gerimis yang mereka rasakan di kota Bernaville seakan telah berubah menjadi hujan keputusasaan yang tak pernah berhenti.
Mereka berjalan tanpa arah yang pasti, mencari jawaban atas pertanyaan mereka. Bagaimana mereka bisa kembali ke Bernaville? Apa yang terjadi dengan kota mereka? Mengapa tangan-tangan besar itu membawa mereka ke tempat ini?
Emily dan Alex merasa semakin terisolasi dan terasing di tempat yang tak dikenal ini. Mereka mulai kehabisan persediaan makanan dan air, dan ketakutan yang terus-menerus menghantui mereka membuat suasana semakin tegang.
Ketika malam kembali turun, Emily dan Alex menemukan tempat berteduh di dalam sebuah bangunan tua. Mereka membakar sisa-sisa kayu yang mereka temukan untuk membuat api kecil. Di bawah cahaya redup api, mereka duduk bersama, dan Emily mencoba meredakan kecemasan Alex.
"Kita akan menemukan cara kembali, Alex," kata Emily dengan suara yang bergetar. "Kita harus kuat dan bersatu."
Alex menatap ibunya dengan mata penuh ketakutan. "Apa yang akan terjadi pada kita, Mama?"
Emily mencoba memberikan senyum lembut. "Kita tidak tahu, Sayang. Tapi kita tidak boleh menyerah. Kita akan bertahan, dan kita akan kembali ke rumah."
__ADS_1
Mereka tidur dengan berpelukan, di bawah langit yang gelap. Hujan gerimis masih turun, dan itu seperti penjaga malam mereka, meskipun dengan sentuhan kesepian yang mendalam.
Hari berikutnya, mereka terus menjelajahi tempat tersebut. Mereka menemukan air terjun yang indah di tengah hutan lebat, dan sebuah danau kecil yang jernih. Meskipun tempat tersebut sunyi dan tak berpenghuni, alamnya begitu cantik dan mempesona. Mereka merasa seperti di alam mimpi, tempat yang tidak seharusnya ada.
Malamnya, mereka kembali ke tempat berteduh mereka di bangunan tua. Namun, malam ini, sesuatu berbeda. Mereka mendengar suara-suara langkah yang mendekati. Emily memegang erat tangan Alex dan mendiamkan nafas mereka. Suara itu semakin mendekat, dan mereka bisa merasakan kehadiran yang tidak mereka kenal.
Ketika pintu bangunan tua itu terbuka perlahan, Emily dan Alex melihat seseorang masuk. Orang itu berdiri di ambang pintu, menatap mereka dengan mata yang tak terlukiskan. Ini bukan manusia. Ini adalah entitas yang tak dikenal, berwujud manusia tapi begitu berbeda.
"Siapa kamu?" tanya Emily dengan suara yang gemetar.
Entitas itu tak menjawab. Dia hanya berdiri di tempatnya, seakan-akan menilai mereka. Kemudian, dengan gerakan tiba-tiba, dia mengulurkan tangan besar ke arah Emily dan Alex. Mereka menatap tangan itu dengan ketakutan, tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tangan itu menyentuh Emily dan Alex dengan lembut. Entitas itu menunjukkan kebaikan, meskipun penampilannya yang menakutkan. Dia membawa makanan dan air, menawarkan kepada mereka. Emily dan Alex menerima dengan hati-hati, masih takut, tapi juga lapar.
Mereka tidak bisa berbicara dengan entitas tersebut. Bahasa yang digunakan entitas itu terasa asing dan tidak dapat dimengerti. Namun, mereka merasa entitas itu adalah satu-satunya pelindung yang mereka miliki di tempat ini.
Malam demi malam, entitas itu datang dengan makanan dan air. Mereka tidak tahu apa maksudnya atau mengapa dia membantu mereka, tapi mereka merasa terima kasih. Mereka mulai merasa bahwa entitas itu adalah bagian dari tempat ini, mungkin salah satu penjaga atau pemiliknya.
Selama berhari-hari, Emily dan Alex hidup dengan entitas tersebut di tempat yang aneh ini. Mereka mulai merasa nyaman dengan kehadirannya, meskipun entitas itu tidak pernah berbicara atau mengungkapkan emosi apa pun. Mereka bahkan memberinya nama, "Sahaja," sesuai dengan penampilan entitas tersebut yang sederhana.
Mereka belajar untuk bertahan hidup di tempat ini, menggunakan sumber daya yang tersedia. Mereka menjelajahi sekitarnya, memahami flora dan fauna tempat tersebut, dan mulai merasa bahwa mereka memiliki tempat di dunia ini, meskipun tempat itu sangat berbeda dengan yang mereka kenal.
Waktu berlalu dengan lambat di tempat tersebut. Emily dan Alex beradaptasi dengan kehidupan yang mereka jalani. Mereka tidak tahu apakah mereka akan pernah kembali ke Bernaville, atau apakah tangan-tangan besar itu akan datang lagi. Tapi mereka belajar untuk menjalani kehidupan baru mereka dengan Sahaja, entitas yang telah menjadi teman tak terduga mereka.
Ketika mereka merasa bahwa tempat ini adalah rumah baru bagi mereka, Emily dan Alex menyadari bahwa mereka telah melewati ujian takdir yang gelap dengan tekad dan ketabahan. Mereka tidak pernah tahu jawaban atas pertanyaan mereka, tapi mereka menemukan arti baru dalam arti keluarga, persahabatan, dan ketahanan dalam menghadapi yang tak terduga.
Dan di tempat yang tak dikenal ini, di bawah hujan gerimis yang tak pernah berhenti, mereka meneruskan perjalanan mereka dengan Sahaja, menjalani kehidupan yang tidak pernah mereka bayangkan, sambil menantikan petualangan dan misteri yang mungkin ada di masa depan.
__ADS_1