Cerita Pendek Sebelum Tidur (Horror)

Cerita Pendek Sebelum Tidur (Horror)
Panggilan Saat Malam Jumat Kliwon


__ADS_3

Di suatu kampung kecil di pedalaman Jawa, terdapat sebuah rumah tua yang dikenal sebagai rumah berhantu oleh sebagian besar penduduk desa. Rumah itu ditinggalkan selama puluhan tahun setelah pemiliknya yang terakhir meninggal secara misterius. Dindingnya yang retak dan pintu-pintunya yang usang menambah kesan angker pada rumah tersebut. Beberapa warga yang nekat berani mendekati rumah itu mengaku pernah mendengar suara-suara aneh di dalamnya. Namun, cerita yang paling menyeramkan adalah kisah seorang pria bernama Slamet.


Slamet adalah seorang petani yang hidup sendirian di kampung tersebut. Dia tinggal tidak terlalu jauh dari rumah tua yang konon berhantu. Setiap malam Jumat Kliwon, ketika hujan gerimis turun, Slamet sering mendengar suara seseorang memanggil namanya. Suara itu lembut dan menyeramkan, seakan-akan meminta Slamet untuk keluar rumah. Namun, Slamet selalu diingatkan oleh orang tua di desanya untuk tidak pernah keluar rumah saat ada yang memanggil di malam Jumat Kliwon.


Pada suatu malam Jumat Kliwon, hujan gerimis turun dengan lebatnya. Slamet berbaring di kamarnya, mencoba untuk tidur. Namun, suara memanggilnya semakin keras dan lebih menggoda. Slamet merasa sesuatu yang aneh dan memutuskan untuk tidak pergi keluar. Dia tahu bahwa cerita-cerita tentang rumah tua itu mungkin benar, dan dia tidak ingin menghadapi bahaya yang tak terbayangkan.


Tetapi suara itu tidak berhenti. Itu seperti mantra yang menghantui pikirannya. Slamet mencoba keras untuk mengabaikannya, namun sesuatu dalam dirinya membuatnya merasa tergoda untuk keluar rumah. Setelah berjuang dengan dirinya sendiri selama beberapa saat, Slamet akhirnya meraih kunci pintu dan membuka pintu rumahnya. Dia melangkah keluar ke dalam gerimis yang semakin lebat.


Di kegelapan malam, Slamet melihat sosok bayangan yang tak jelas berdiri di depannya. Sosok itu tampak seperti seorang wanita, tetapi wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang basah karena hujan. Suara memanggilnya semakin keras, dan Slamet merasa seperti dia ditarik ke arah wanita itu.


Dengan langkah ragu, Slamet mendekati sosok itu. Dia ingin bertanya siapa wanita itu dan mengapa dia memanggilnya. Namun, semakin dekat dia mendekati sosok itu, semakin jelas terlihat bahwa sesuatu yang tidak wajar terjadi. Wajah wanita itu terlihat pucat, matanya terbelalak, dan ia terus-menerus mengulangi kata-kata yang sama: "Ikutlah denganku, Slamet."

__ADS_1


Slamet merasa ketakutan dan ketidakberdayaan. Dia mencoba berbalik dan kembali ke dalam rumahnya, namun pintu rumahnya telah tertutup dengan sendirinya. Dia merasa terjebak. Wanita itu semakin mendekatinya, dan Slamet merasa takut sekaligus penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Wanita itu mendekati Slamet dengan lambat, dan saat dia berada di depannya, dia meraih tangan Slamet. Tangan wanita itu terasa dingin dan lembab, seperti tangan mayat. Slamet mencoba melepaskan diri, tetapi kekuatan wanita itu lebih kuat daripada yang dia bayangkan.


"Siapa kamu?" teriak Slamet dengan suara gemetar.


Wanita itu tidak menjawab, tetapi matanya semakin menakutkan. Dia mencoba menarik Slamet ke arah yang lebih gelap, menuju arah hutan yang gelap dan lebat. Slamet merasa ketakutan dan panik, dia ingin sekali berteriak meminta tolong, tetapi suaranya tercekat oleh ketakutan.


Hujan gerimis semakin deras, membasahi pakaian Slamet dan rambutnya. Tetapi Slamet sudah tak lagi peduli pada cuaca. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana dia bisa melepaskan diri dari wanita misterius ini dan menghindari nasib mengerikan yang sepertinya menantinya.


Tiba-tiba, sebuah cahaya terang muncul di kejauhan. Itu datang dari arah hutan yang gelap dan lebat yang telah ditunjukkan wanita misterius. Sebuah obor besar berapi-api muncul, dipegang oleh seseorang yang Slamet tidak kenal. Mereka mendekati Slamet dan wanita misterius itu dengan mantap.

__ADS_1


Obor itu membakar dengan nyala yang kuat, memberikan penerangan pada wanita misterius itu. Wajahnya yang pucat dan mengerikan semakin terlihat. Matanya tampak berdarah, dan kerutan-kerutan wajahnya memberikan kesan ketidaknyataan. Pada detik itu, Slamet melihat bahwa wanita ini bukanlah manusia. Dia adalah makhluk gaib yang jahat, dan penampakan ini adalah kenyataan yang tak dapat dipungkiri.


Mereka yang membawa obor tiba-tiba membacakan mantra-mantra kuno yang Slamet tidak mengerti. Suara mantra itu bergema di malam gelap, menciptakan energi pelindung yang mengelilingi mereka. Wanita misterius itu, yang terlihat marah dan ketakutan, mencoba untuk mundur, tetapi kekuatannya terbatas oleh mantra-mantra itu. Dia mengerang dan menggerutu, mencoba untuk tetap menarik Slamet, tetapi gagal.


Mereka yang membawa obor mendekatinya lebih dekat dan meneriakkan kata-kata suci. Wanita misterius itu kemudian tersedot ke dalam obor yang membara. Slamet melihat dengan ngeri bagaimana wanita itu lenyap ke dalam nyala api dan menghilang, meninggalkan hanya bau amis yang tidak menyenangkan di udara.


Ketika Slamet akhirnya ditarik kembali dari keadaan shock, dia merasa lemas dan gemetar. Mereka yang telah menyelamatkannya membantu dia berdiri dan memastikan dia baik-baik saja. Mereka menjelaskan bahwa mereka adalah anggota komunitas spiritual di desa yang bertugas untuk menjaga dan merawat energi di sekitar rumah tua tersebut, terutama pada malam-malam yang berbahaya seperti malam Jumat Kliwon.


Mereka menjelaskan bahwa Slamet hampir saja menjadi korban roh jahat yang mendiami rumah tua itu. Malam ini, mereka telah berpatroli di sekitar rumah tua dan mendeteksi kehadiran wanita misterius yang mencoba menggoda Slamet. Berkat pengetahuan spiritual mereka, mereka tahu bagaimana menghadapi makhluk gaib tersebut dan menyelamatkan Slamet dari nasib yang mengerikan.


Slamet merasa terharu dan bersyukur pada mereka yang telah menyelamatkannya. Dia juga menyadari bahwa cerita-cerita seram tentang rumah tua itu adalah nyata, dan bahaya yang mengintai di malam Jumat Kliwon bukanlah mitos semata. Dia bertekad untuk tidak pernah lagi mengabaikan peringatan dari orang tua di desanya, untuk tidak keluar rumah saat ada yang memanggil di malam Jumat Kliwon.

__ADS_1


__ADS_2