
"Hei tunggu Aul.." ucap Abang nya sambil mengejar mereka.
"Mama... Abang gangguin aku." Jiva langsung memeluk mamanya sedang ada diruang tamu duduk di sofa sambil menonton televisi.
"Abang.. kamu jangan ganggu terus adik kamu..." Ucap mamanya.
"Lagian mah dia ngeledekin aku terus.." sahut kakaknya.
"Iya kamu harus lebih sabar kan kamu kakaknya."
"Harus sabar apa lagi, tuker aja mah dia di tukang loakan lumayan dapet gelas sama piring."
"Eh..enak aja kamu ngomongnya... mana bisa ditukar kayak begituan, dia itu anak mahal ga ada yang bisa gantiin dia dimana pun juga seluruh dunia ini."
"Mama aja yang berlebihan sayangin dia."
"Eh.. ngomong apa, sini abang duduk sama mama.." kakak Jiva pun duduk di sampingnya.
"Mama tuh sayang kalian berdua ga ada mama beda- bedain dari kalian, kalian itu sama-sama anak mahal yang mama sangat bersyukur sama Allah. karena udah kasih mama anak yang pintar, baik, cantik, ganteng, dan Soleh dan solehah seperti kalian." mama Jiva yang langsung memeluk kedua anaknya yang ada di samping mereka dan mencium kepala mereka berdua.
"Mama jangan nangis kita juga sangat sayang mama... lebih sayang dari diri aku sendiri."
Jiva yang langsung melihat mata mamanya yang air matanya mengalir.
"Uts... kamu ga boleh ngomong begitu... kamu harus utamain diri kamu sendiri, kalau kamu ga sayang diri kamu sendiri gimana caranya kamu sayang sama orang lain, kalau kamu keadaan nya ga baik-baik aja."
"Hm.. iya mah.. tapi tetep aja mama, papa, Abang nomer satu yang harus Jiva jagain."
"Heleh... jagain yang ada kamu minta di jagain sama aku." Jawab kakanya.
"is... yaudah Abang gausah aku jagain."
"Hahaha.." mereka bertiga pun tertawa bahagia.
"Ada apa nih kalian ketawa... papa ga di ajak.. oh mentang-mentang papa ga ada di rumah terus ya.. jadi ga ada yang sayang sama papa..." Jiva langsung berdiri dan memeluk papa nya yang melihat mereka sedang tertawa.
"Ga kok.. pah... aku juga sayang banget sama papa..., lagian papa telat dateng nya sih jadi acaranya udah selesai..."
"hahaha..." mereka pun tertawa mendengar ucapan Jiva, walaupun papanya tadi sudah mendengarkan semua cerita nya di belakang mereka.
"Yaudah aku mau bikin topoki dulu ya bye..."
"Aku juga dong mau bikinin satu.."
"Ga mau bikin sendiri aja..."
"Aul ih..."
"wlee..." mereka pun langsung ke dapur untuk membuat makanan.
"Jiva... kamu ga boleh makan banyak-banyak makanan instan apalagi yang pedes, nanti maag kamu kambuh lagi..." ucap papa nya yang meneriakkan Jiva yang sedang berada di dapur.
"Iya pah... ini sekali lagi kok... ga lagi..."
"Iya pah.. omelin aja, dia makan jajanan diluar mulu." ucap kakak Jiva yang mengadu papanya.
"apa" tetapi ayahnya ga terlalu mendengar suara kakaknya.
"Abang!... ntar aku bilangin Sisil ya... soal tadi."
"Ets... segala ga kedengaran papa aku ngomong."
__ADS_1
"Gapapa pah dia katanya juga mau dibikinin." Jiva yang menjawab dengan suara lebih keras.
"Oh yaudah.."
Mereka berdua pun memasak bersama dan memakannya di tempat meja, Jiva yang sambil menonton anime di tabnya, dan kakaknya sedang asik memainkan handphonenya seperti sedang asik chattan sama seseorang sambil memakan makanan yang sudah mereka seduh bersama.
...----------------...
Beberapa jam kemudian mereka dipanggil sama ayahnya dari ruang tamu, mereka pun langsung menghampiri ayahnya yang menyuruh mereka berdua datang ke ruang tamu.
"Iya pah.. ada apa." Ucap kakaknya Jiva yang sudah datang ke ruang tamu.
"Sana kalian siap-siap udah jam segini terus jangan lupa sholat dulu."
"Siap pah..." dan mereka berdua siap-siap untuk berganti baju sehabis itu mereka beribadah terlebih dahulu.
"Udah pah..." Kakak Jiva yang berbicara dengan papanya.
"Wah... anak papa.. ganteng banget.." sahut papanya.
"Iya dong... kan tadi papa beli aku jas ini, makasih pah.."
"sama-sama."
"Aul.. kemana si dia lama banget dandannya."
"Namanya juga anak cewek..., tadi mama lagi dandanin Jiva di kamar dia."
"Pantes..."
"Tuh.. dia."
"Iya dong anak siapa dulu." papanya yang langsung merangkul pundak kakaknya Jiva dan tersenyum.
"Anak mamah.." mama Jiva langsung menjawab perkataan papanya.
"Eh anak kita berdua.."
"Hai... gimana bang aku cantik ga..." Jiva bertanya ke kakaknya.
"Banget.."
"Iya dong."
"Udah ayok kita berangkat..., bang kamu yang nyetir mobil nya ya."
"Iya siap pah..."
...----------------...
Lalu mereka semua memasuki mobil dan berangkat menuju restoran itu. Sesampai di restoran itu Jiva yang terlalu cantik membuat semua orang menatap nya. Dan setelah mereka sudah duduk di bangku yang sudah disiapkan terlebih dahulu.
Tiba-tiba ada sekeluarga yang menghampiri tempat duduknya keluarga Angga yaitu keluarganya jiva dan menyapanya. dan Jiva pun terkejut melihat mereka ternyata mereka adalah,
"Kak Fatan..."
"Eh.. Jiva..."
Mereka adalah keluarga Fatan mereka di undang oleh papanya Jiva karena.
"Oh kalian udah saling mengenal.. " Tanya papa Jiva.
__ADS_1
"Oh iya kamu juga udah kenal ya Fatan.. " ucap tanya ayah Fatan.
"Iya pah.. dia Kakak kelas aku di sekolah..." jawab Jiva ke papa nya yang bertanya.
"Iya yah.. aku kenal." dan Fatan juga menjawab ayahnya yang bertanya.
"Oh bagus lah kalo begitu jadi kita ga perlu repot-repot menyatukan mereka."
"A-apa.. maksudnya apa pah..."
"Gapapa cuman bercanda, kalian tadinya mau di jodohin, haha.." jawab papa Jiva sambil tertawa dan ayah Fatan juga tertawa.
"Tapi ga kok, kalau kamu ga mau juga gapapa, kamu berhak memilih laki-laki yang kamu inginkan." ucap ayahnya Fatan yang bijak.
"Tapi kalo emang cocok kenapa ga ya kan, hahaha...." mereka berdua tertawa lagi.
"Jadi gini Jiva Om Dion ini teman kecil papa dan papa baru bertemu sama dia sebulan yang lalu, nah terus jadinya papa mau ngajakin kita kumpul bareng makan bersama di sini." ucap papa nya Jiva yang menerangkan.
Jiva yang terkejut hanya terdiam mendengarkan cerita orang tua mereka, dan kakaknya Jiva pun hanya terdiam sama sekali tidak tahu apa-apa.
"Oh.. ini jeszki, tampan sekali, memang ya kalian berdua tidak salah membuat produk, haha.." ucap ayah Jiva.
"Hahaha..." papa Jiva tertawa.
"Tapi kamu juga kok anaknya ganteng juga liat Fatan dia tampan sekali."
"Iya soalnya dia ngambil semua yang ada di mamanya."
"Oh iya, emang istri kamu dari mana." tanya papa Jiva.
"Dia dari Rusia.."
"Wah... mantep sih memang ga salah lagi."
"Terus juga kamu bilang istri kamu dari Jepang kan... terus kamu ada keturunan dari eropa, gimana ga gagal, hahaha..."
"Hahaha... udah ah jangan dibahas malu Jiva masih belum cukup umur, udah ayok kita makan saja."
"Hehe.. iya, maaf ya Jiva.. "
"Iya gapapa om.. " Jiva hanya tersenyum.
Dalam hati Fatan yang melihat wajah Jiva yang sangat cantik. "(Dia cantik banget terus ditambah dengan senyuman itu loh sekarang manis banget, udah yah.. plis... tolong jodohin aku aja sama dia harus pakai pemaksaan biar aku dapet dia)."
"Oh iya kamu bilang kamu ada anak kembar sama ada anak perempuan juga satu mereka kemana ga ikut?." Tanya papa Jiva.
"Oh iya... anak aku yang perempuan lagi ada tugas kampus diluar kota terus kembarannya Fatan dia lagi ga enak badan jadi dia ga bisa ikut, maaf ya aku baru kasih tau." Jawab ayahnya Fatan.
"Oh..gapapa kok, aku cuman mau tawarin jeszki aja buat ngeliat anak perempuan kamu dia sekolahnya satu tingkatankan, terus di foto aja cantik banget, apa lagi nanti ketemu, hahaha.. pasti dia langsung kelepek-lepek" papa Jiva yang meledeki Jeszki.
"Apa sih pah.." jawab kakaknya Jiva yang malu karena dia sedang diledeki dengan papanya.
"Hahaha.." Ayah Fatan tertawa.
Papa Jiva terus saja meledeki kakanya Jiva.
"Lagian kamu ga punya pacar-pacar jadi papa harus yang nyariin."
"Ga pah aku mau cari sendiri udah gede."
"Hahaha... iya kamu bener kamu bisa cari sendiri, kita cuman bercanda doang kok." dan mereka pun berbincang di meja sambil menyantap makanan yang sudah mereka pesan, anak-anak mereka hanya terdiam mendengarkan cerita orang tua mereka yang ada di tempat meja makan itu.
__ADS_1