
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya keluarga Angga sarapan pagi bersama di meja makan dan mereka pun berbincang di tempat makan.
"Jiva.. kamu nanti bareng lagi ya sama Abang, papa sekarang udah ga bisa kasih kamu supir pribadi lagi."
"Iya.. gapapa kok pah." Jiva yang selalu menuruti perkataan orang tuanya.
"Oh ya bang, nanti kalau bisa kamu sekalian jemput adik kamu ya." papa berbicara kepada Jeszki.
"Iya nanti aku jemput, tapi kalau aku ada kelas tambahan aku ga bisa jemput." saut Jeszki ke ayahnya.
"Yaudah nanti kabarin papa.., biar papa yang jemput ke sekolahan." jawaban papa Jiva ke Jeszki.
"Kalau ga ada yang bisa jemput aku gapapa, aku bisa naik angkutan umum sendiri." Jiva menjawab sambil menyuapkan makanan yang ada dimeja.
"Ga kamu pokoknya harus dijemput." kekeh papa yang khawatir.
"Yaudah deh seterah papa aja." saut Jiva, Jiva dan Jeszki berpamitan dan berangkat ke sekolahnya masing-masing.
...----------------...
Setelah selesai sekolah.
"(Sisil ga masuk, Abang juga ada kelas tambahan, terus papa aku telponin ga di angkat-angkat, yaudah deh aku pulang sendiri)." ucap Jiva di dalam hati.
Lalu Jiva pun pulang dengan angkutan umum, di dalam angkutan dia tertidur dan angkutan umum pun berhenti diakhir perjalanan dan sempat bus itu berhenti mogok.
...****************...
"Neng..., bangun bus nya mogok." Abang sopir angkutan umum membangunkan Jiva yang sedang tertidur, Jiva pun terbangun.
"Hm.., oh iya!!!." Jiva yang langsung terkaget mengingat dia masih di bus sendiri lalu dia melihat ke jendela dia tidak tahu ada dimana sepertinya Jiva kebawa terlalu jauh dari bus itu, dia seperti itu karena dia terbiasa habis pulang sekolah pasti dijemput dan ketiduran di mobil, ditambah dia pertama kali nya menaiki angkutan umum sendiri, biasanya dia bersama temannya kalau ingin menaik angkutan umum seperti itu, tetapi dia merasa kalau dirinya bisa sendiri tetapi kenyataannya tidak.
"Emang neng mau turun di mana?." tanya supir angkutan umum itu.
"Saya ingin berhenti di perum 2." saut Jiva.
"Wah.. itu udah jauh banget kelewatannya." terkejut.
"Emang ini ada dimana pak?." bertanya.
"Ini udah mau ke Tangerang neng." menjelaskan.
__ADS_1
"Apa!!!." kaget.
"Iya.."
"Pak bisa tolong anterin saya ga ke perum 2."
"Maaf neng bukannya bapak ga mau anterin kamu, bensin busnya sudah habis, di dekat sini juga jarang ada yang jualan bensin, apa lagi kalau sudah malam begini, makanya bapak lagi nunggu dulu ada yang bawain bensin ke sini, tapi kayaknya cukup lama bisa jam sepuluhan dia baru datang."
"Oh iya udah set sembilan." Jiva yang langsung melihat jamnya di tangan.
"Oh yaudah deh gapapa, tapi kalau boleh tahu pak didekat sini ada warung ga yang buka, soalnya aku mau tunggu di warung aja sambil mengecas hp aku." Jiva bertanya.
"Oh iya ada kok, kamu bisa lurus saja dari sini pasti ada yang buka, nanti bapak juga mau ke sana tapi mau lihat mesinnya dulu kayaknya bukan bensin aja yang habis mesinnya juga ada yang rusak." menjawab.
"Baik pak terima kasih, oh iya ini uangnya." Jiva yang menjulurkan tangannya untuk memberikan ongkos perjalanannya.
"Sama-sama neng, tapi gausah kamu pakai saja uangnya buat pulang nanti." sopir itu menjawab karena dia tahu kalau Jiva sedang tersasar dan kayaknya butuh uang.
"Gapapa kok pak ini buat bapak aja, saya masih ada." Jiva yang tetap kekeh memberikan uang itu.
"Yaudah makasih ya neng." saut sopir itu.
"Iya pak sama-sama, makasih juga, mari...(maksudnya permisi).." Jiva langsung pergi ke warung terdekat itu dan dia menunggu ponselnya yang sedang di cas karena sudah mati dari tadi, tetapi saat dia menunggu ponselnya ada segerombolan pria yang sangat menyeramkan menghampiri Jiva, seluruh pria itu bertato dan salah satu dari mereka bermata hitam total.
"Eh neng geulis.., lagi apa di sini kenapa malem-malem berkeliaran."
"Wah iya.. juga.."
"Neng cantik mau ngapain ada di sini, ayok ikut kami buat bersenang-senang." segerombolan itu menggoda Jiva yang sedang duduk sendirian malam-malam.
"Tolong jangan pegang-pegang." Jiva yang bernada keras karena risih.
"Weh.. galak banget, adik manis ga boleh galak-galak ya..., nanti cantiknya hilang loh.."
"Eh ga bakal dia cantik banget lihat aja sendiri..., iya ga beb." sambil menyentuh dagu Jiva.
"Jangan sentuh-sentuh!!!." Jiva yang berteriak karena sangat kesal sudah disentuh oleh preman itu.
"Heh.. ada apa ini, kalian ngapain ada di sini pergi sana atau saya laporkan ke polisi." seseorang pria muda yang menghampiri Jiva dan menolong dia.
"Heh..., anj-g ganggu aja lu." ucap kasar preman itu karena kesal diganggu.
Jiva yang bergegas untuk pergi ke lelaki itu dan memeluk pria tersebut untuk meminta pertolongan.
__ADS_1
"Heh... ayok ikut saja sama kami." preman itu menarik tangan Jiva.
"Apa-apaan lu lepas!!!, lu siapa mau ngajak dia." pria itu menangkis tangan preman itu yang sedang memegang tangan Jiva.
"Dia adik kita." saut preman itu.
"Apa itu benar?." pria itu bertanya kepada Jiva.
"Ga.. bukan dia pegang-pegang aku sembarangan, tolong aku..., aku ga kenal mereka." jiva pun menjawab sambil memegang erat genggaman tangannya ke baju pria itu.
"Tuh lu denger.. pergi ga lu apa gue suruh warga sini buat gebukin lu semua." Pria itu berusaha keras untuk mengusir para preman itu.
"Udah ayok kita pergi aja." preman itu pun pergi dari Jiva dan laki-laki itu.
"Kamu gapapa?." laki-laki itu langsung memegang kedua pundak Jiva yang ingin memeriksa keadaannya.
"Gapapa." saut Jiva dengan pelan.
"syukurlah..."
"Terimakasih sudah mau tolong aku." Jiva berterimakasih ke pria itu.
"Tenang saja.., kamu kenapa jam segini keluar rumah, apa ini kamu masih pakai seragam sekolah?." bertanya.
"Jadi gini...." Jiva ingin menerangkan kejadian tersebut.
"Sebentar maaf lebih enak ceritanya kamu duduk dulu." sebelum melanjutkan perkataannya laki-laki itu menyuruh Jiva untuk duduk terlebih dahulu.
"Ayo lanjut."
"Jadi kan aku baru pertama kali naik angkutan umum sendirian, aku lupa kalau aku masih di dalam bus terus aku ketiduran, jadinya aku ke bawa sampai ke sini, seharusnya aku turun di perum 2." Jiva yang menerangkan ke pria itu.
"Wah apa... itu jauh banget ini udah mau ke Tangerang loh." saut pria itu.
"Iya makanya aku mampir dulu ke warung ini buat ngecas hp disini terus nanti buat pesen ojek online."
"Oh.. jadi gitu."
"Loh!.. hp ku kemana?." Jiva panik, ia sedang mencari ponselnya yang sedang dicas sambil melihat dibawah kolong meja, dia kira ponselnya jatuh, hanya saja cuman chagernya yang masih tergantung tetapi ponselnya tetap tidak ada.
"Emang tadi kamu taruhnya dimana?." bertanya.
"Disini, ini casnya masih nyakut." menunjukkan stopkontak yang sedang ada kabel charger ponselnya.
__ADS_1
"Kayaknya tadi diambil sama preman itu sebelum dia pergi." jawaban pria itu.
"Yah.. terus aku pulang pakai apa." jiva yang khawatir karena dia tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk pulang kerumahnya.