
"Jiva sekarang ngomong sama gue tadi kenapa sampai bisa kambuh serangan panik nya."
"Hm.. ga."
"Jiva..."
"oke.. gue ceritain.. jadi gini.. " beberapa menit Jiva menjelaskannya dari awal hingga sampai akhir dengan jujur."
"Apa!!!.., Nevan se nekat itu?."
"Kemungkinan dia udah ga sabar gue juga tadi salah ngomong ke dia."
"Lu sih kenapa bilang ke dia begitu, lu mau apa, gue juga bakal sabaran kalo gue jadi Nevan, lu tuh pinter dari hal akademik tapi soal ngelawan keras kepala lu yang ga bisa di kontrol itu oon."
"Yue..." mata Jiva yang mengsipit dan dahinya mengkerut.
"Tapi lu ga diapa-apainkan sama Nevan."
"gue gapapa, tapi gue ke inget sama perkataan Nevan yang sama persis kayak Syarif, gue ga tau kenapa bisa kambuh serangan panik nya."
"oh iya.. gue baru inget."
Dua tahun yang lalu.
"Hai Aul..." suara Syarif yang memanggil Jiva yang sedang duduk di kantin.
"Oh.. hallo kak.." Jawab Jiva.
"Aku boleh duduk di sini?."
"Oh boleh duduk aja."
"Mulai dah centil nya.." Ucap Sisil yang pedas karena dia ga suka dengan Syarif.
"is.. apaan sih sil.. "
"bodo lah.." Sisil yang makin kesal karena Jiva membela Syarif.
"Hahaha.. ga kok aku mau duduk di sini soalnya ga ada tempat duduk lagi."
"kenapa harus disini, kan ada tempat duduk lain."
"sisil.. apaan si ah.." Jiva yang sangat kesal dari tadi melihat kelakuan nya Sisil ke Syarif.
__ADS_1
"Yaudah deh aku ga jadi aku ke kelas aja makasih ya."
"Kak.. mau kemana gapapa di sini aja."
"Gapapa kok aku ke kelas aja, Hehe.."
"Dasar baperan najis... " saut Sisil.
"Sisil.. apaan sih dari tadi lu sinisin terus kak Syarif , lu yang ngusir lu juga yang bilang baperan, gimana orang betah."
"Gue ga suka lu deket-deket sama tuh orang.., lu tau kan di sini dia bagaimana kelakuannya, udah jelek kelakuannya kayak fakboy anak pembalap motor liar terus dicap jelek sama sekolahan gara-gara kelakuannya itu, semua sekolah juga udah tau."
"Itu rumor ga jelas sil... dia aja diangkat jadi ketua OSIS di sini gimana sih lu."
"Iya itu dia pas kelas tujuh, kita kan juga belum masuk ke sekolah ini jadi belum tau itu rumor doang apa kenyataan, dia juga masih kelas tujuh loh, tapi udah jadi pembalap motor liar." penjelasan Sisil yang kekeh untuk memberitahu ke Jiva.
"lu itu udah tau, kalo kita tuh belum tau kenyataan apa gaknya, udah nuduh-nuduh aja, bilang aja lu mau kak Syarif kan ambil aja sil.. ambil..., dah lah gue ga mau makan, gue ke kelas aja." Jiva yang menjawab dengan kesal dan langsung pergi meninggalkan Sisil di kantin.
"Jiva... tunggu mau kemana, bukan itu maksudnya, apa sih.. kok jadi begini, keras kepalanya emang ga berubah-ubah." ucap Sisil yang mengetahui Jiva pergi dari kantin tetapi Sisil tidak langsung menghampiri Jiva dia menunggu Jiva tenang dulu.
...----------------...
Lalu Jiva pergi meninggalkan Sisil yang sedang duduk di kantin, Sebelum masuk ke kelas Jiva di panggil seseorang yaitu Syarif.
"Oh ga.. gapapa aku mau ke kelas duluan dia masih di sana." Jiva menjawab.
"Oh begitu."
"Iya... oh ya kak maafin ya tadi omongannya Sisil."
"Oh iya gapapa, kalau boleh tau dia kok bisa begitu ya sama aku kayaknya dia benci sama aku."
"oh ga kak dia ke masukkan sama perkataan rumor yang ga enak dari Kakak di sekolahan ini."
"oh rumor ya, hehe.., pantes aja."
"iya maaf ya kak.."
"gapapa kok emang pasti begitu."
"Hah, maksudnya."
"enggak maksudnya dia pasti begitu soalnya sikap aku yang jelek di rumor'in."
__ADS_1
"Iya juga sih.. yang sabar ya kak, aku percaya kalau kakak ga seburuk cerita orang lain."
"Hehe.. iya." senyum yang memaksa.
"Oh iya nanti kamu pulang di jemput ga, mau aku anterin pulang?."
"Hm.. ga ada sih, Abang lagi ada kelas tambahan jadi ga bisa jemput aku."
"oh kebetulan kalau begitu, kamu mau aku anterin pulang?."
"hm.. emang boleh.. "
"Haha... boleh dong kan aku yang nawarin, seharusnya aku yang nanya itu ke kamu boleh apa gaknya."
"Hehe... iya juga."
"jadi gimana mau?."
"hm.. yaudah." setelah itu mereka masuk ke kelasnya masing-masing, beberapa jam kemudian dan bell pulang sudah berbunyi.
"Jiva.. jangan marah dong... aku bukan gitu maksudnya.." Sisil menghampiri Jiva yang sedang jalan lalu membujuk Jiva.
"Hm.." Jiva yang mengiyakan.
"maafin ya.. gue ga bakal ngelarang lu lagi, tapi gue harus waspada terus sama tuh anak."
"tuh.. kan dah ah mulai lagi gue pen pulang."
"hehe.. ini tuh untuk ke selamatan lu, gue kan perhatian sama lu, oh iya lu kan ga di jemput ayok kita pulang bareng sama gue aja."
"Ga perlu gue bisa pulang sendiri."
"Apa ga perlu, ga ayok harus pulang sama gue, lu ga boleh sendirian."
"Pulang aja sil.. gue udah dijemput."
"oh ya kah sama siapa."
"udah ah sana pulang gue udah ada barengan ga sendirian."
"Yaudah kalau begitu, hati-hati ya."
"iya sil.. hati-hati juga." Sisil pun langsung pulang duluan.
__ADS_1