Cerita SMA&SMK

Cerita SMA&SMK
MASA LALU YANG HARUS DI LUPAKAN


__ADS_3

"Syarif.." Ucap Jiva.


"Hah di mana... oh iya itu kayak Syarif, tapi bukannya dia lagi belajar di luar negri." Kakak Jiva menjawab.


Lalu pria itu juga menatap mereka dan menghampiri mereka berdua di tempat duduk.


"Eh hai... Aul....eh ada kak jeszki juga."


"Eh bener kan.. itu Syarif bang."


"Lah iya.. Oh ya kok lu ada di indo bukannya lagi belajar di London."


"Oh.. aku lagi ada libur makanya aku ke indo aja lumayan dua Minggu, juga aku kangen sama seseorang."


"Oh lagi libur."


Jadi dia itu kakak kelas Jiva yang sekolah nya bersama dengan Jiva, dia sangat pintar hingga mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar di London, Jiva pun mendapat pertukaran pelajar di Jepang dan US tetapi dia tidak mau dan tidak di ijin kan oleh orang tuanya. Karena itu Jiva menuruti perkataan orang tuanya.


Dahulu Syarif adalah cinta pertamanya Jiva disekolah mereka berbeda satu tingkat di kelasnya, tetapi mereka sekarang berdua tidak mempunyai hubungan lebih cuman adik kelas dan kakak kelas alumni, setelah mereka sempat memberi tahu ke orang tua mereka kalau dia berdua sempat berpacaran tetapi mereka berdua dilarang karena ada permasalahan dari orang tua mereka, ayah mereka merebutkan saham, tetapi ayah Jiva kalah dan seluruh saham jatuh ke tangan ayahnya Syarif dengan perbuatan yang licik, dengan menukarkan proposal yang ayah Jiva sudah kerjakan dan di ganti dengan proposal yang kosong, sehingga ayah Jiva sangat membenci keluarga Sanjaya. Syarif memiliki nama panjang Syarif Sanjaya.


Kemungkinan ayah Jiva tidak terlalu cukup untuk membiayakan Jiva belajar di sana, jadi menyarankan dia sekolah di sana dengan itu pasti ayah Jiva bisa menyanggupkan biaya Jiva dan sekalian kakak nya untuk kuliah.


"Oh gimana kabar nya kalian berdua?." Tanya Syarif.


"Alhamdulillah kita baik.. lu sendiri." Jawab Kakak Jiva.


"Oh.. Alhamdulillah sama aku juga baik."


"Oh iya sebentar mau ke kasir dulu." Ucap kakak Jiva.


"Mas ini semua yang barusan saya pesan bisa dibungkus saja ga?." tanya kakak Jiva yang berbeda di kasir.


"Oh iya boleh sebentar ya."


"Iya."


Beberapa menit kemudian.


"Ini mas udah."


"Oh iya terima kasih mas."


Dan kakak Jiva menghampri kembali Jiva yang sedang duduk berdua dengan Syarif.


"Ayok Jiva kita udah selesai nunggunya udah jadi ayok kita pulang."


Kakak Jiva yang mengisyaratkan ke Jiva untuk pergi dari Syarif dengan cara pelan-pelan dan Jiva mengerti.


"Oh.. iya." Jiva mengiyakan.


"Syarif.. kami pulang dulu ya."


"Oh iya.. cepet amat kita baru ketemu baru tadi aku mau meneraktir kalian."


Jawab Syarif.


"Oh gausah kami udah beli sendiri kapan-kapan aja ya bye."


Kakak Jiva pun menarik tangannya untuk menjauh dari Syarif, dan mereka berdua langsung masuk ke mobil.


"Bang.. bukannya itu keterlaluan dia gatau apa-apa loh... tentang masalah itu..." Jiva yang bertanya kepada kakaknya .

__ADS_1


"Apa emang dia gatau..."


"Iya.. liat aja dia ga benci ke kita, karena papa bilang kalau ayahnya licik ke kita."


"Mungkin dia bermain licik juga sama kayak ayahnya dia tapi dengan cara yang lain."


"Udah bang dia ga gitu orangnya..."


"Seharusnya kamu harus sadar dia tuh kayaknya cuman mau memanfaatkan kamu Jiva."


"Ga bang ih...."


"Di bilangin ngeyel liat aja nanti."


"Seterah Abang." Jiva yang tetap kekeh membela nya karena dia masih ada rasa Syarif.


"Assalamualaikum." Ucap Jiva memberikan salam ke rumahnya. Dan dijawab sama mamanya yang sedang menonton televisi di ruang tamu.


"Waalaikumsalam..., kamu habis ke mana aja sayang... sampai sore banget pulangnya."


"Hm... tadi Abang ngajakin aku ke m'dontl beli makanan, oh ya mah ini aku beli makanan ada ayam sama buger buat mama aku stik kentang aja sama es krim."


"Oh kamu abis beli makan, udah kamu bawa aja semuanya mama udah kenyang barusan makan."


"Yaudah deh aku makan, aku ke atas dulu ya mah."


"Iya."


"Eh... Abang kamu habis beli makan sama Jiva ya?." Mama bertanya.


"Iya mah..." Jawab kakak Jiva.


"Oh iya tadi mama liat muka Jiva manyun kenapa, kamu habis jailin dia lagi kan?."


"Apa Syarif... Keluarga Sanjaya?."


"Iya mah..., kayaknya dia masih ada rasa sama Syarif."


"Apa.. ga mama harus melarangnya buat dekat lagi sama dia."


"Mama mau kemana."


Mama Jiva pun pergi menghampiri kamar Jiva, lalu suara ketukan pintu kamar Jiva berbunyi dan Jiva pun membukanya.


"Jiva buka ini mama, mama mau ngomong sesuatu."


"Iya mah.. ada apa."


"Apa kamu ketemu sama Syarif itu di sana?."


"Iya.. mah tapi sebentar doang, tadi Abang langsung ajak aku pulang."


"Ya ampun sayang... udah ya kamu jangan dekat-dekat lagi sama anak dari keluarga Sanjaya itu."


Mama Jiva menerangkan ke Jiva dengan suara pelan.


"Tapi mah.. kenapa dia kan ga salah."


"Jiva!!!.. "


Tiba-tiba mamanya langsung membentak Jiva dan Jiva terkejut karena pertama kalinya dia di bentak sama mamanya.

__ADS_1


"Maaf." Jiva menahan untuk tidak menangis lalu menghampiri tempat tidurnya, dan mama Jiva langsung menutup pintu kamarnya lalu pergi ke ruang tamu.


"Mah.. kok Aul di bentak." tanya kakaknya yang khawatir karena Jiva di bentak oleh mamanya, dia mendengar pembicaraan nya di tangga dan tidak berani untuk mengikut campuri percakapannya.


"Biar dia tau, kalau lama kelamaan di biarin pasti dia makin ngelunjak."


Kakak Jiva yang juga sangat terkejut karena baru pertama kali ini melihat mama Jiva yang semarah seperti itu ke Jiva, kakak Jiva tidak ingin permasalahan ini di perpanjang dia masuk ke kamarnya sendiri.


Makan malam pun sudah tiba.


"Di mana Jiva?."


"Kayaknya dia masih dikamar."


"Biarin aja biar dia kelaparan."


"Mah.. jangan terlalu begitu ke Jiva." kakak Jiva yang sangat mengkhawatirkannya langsung ke kamar Jiva.


"Aul.. ayok kita makan malam." Kakak Jiva yang memanggil dan mengetuk kamar nya.


"Ma..af kak aku udah kenyang kakak aja makan dulu sana, tadi kan udah dibeliin kakak makan." Jawab Jiva yang masih berada di dalam kamar.


"Tapi itu cuman ayam sama burger doang, ayok sini makan." ga ada jawaban dari Jiva, kakak Jiva langsung pergi ke meja makan lagi.


"Kenapa ga mau?, sudah di bilang dia keras kepala, ga akan mau, biarin aja."


Kakak Jiva hanya terdiam dan mama Jiva langsung pergi ke kamarnya, kakak Jiva langsung menghampiri kamar Jiva untuk memberikan makanan untuk dia.


"Aul.. buka dong pintunya kalau kamu ga mau makan aku juga ga makan, aku tunggu di pintu kamar kamu sampai kamu buka pintu sama makan baru aku juga mau makan." Jiva yang tidak tega mendengar suara kakaknya langsung membuka kan pintunya.


"Nah gitu dong anak cantik..."


"Apa-apaan kamu belum ganti baju terus ini makanannya juga belum ada yang dimakan? Abang kan udah beliin ke kamu kenapa ga dimakan."


Jiva yang masih aja terdiam dan terlihat mukanya kusut karena habis menangis dan berpura-pura menyelesaikan tangisannya karena ada kakaknya di sini.


"Yaudah sana kamu ganti baju dulu, nanti aku yang beresin." kakaknya yang sangat peka karena melihat keadaan adiknya yang sangat hancur karena di bentak sama mama, Jiva mengikuti perkataan kakaknya untuk berganti baju, setelah selesai mengganti baju, Jiva langsung ke kasur.


Lalu ia di suapkan makanan oleh kakaknya karena Jiva tidak mau makan.


"Liat aku kayak ngurusin kamu pas kecil, sayang sekarang udah gede jadi ga gemesin kayak dulu lagi deh." kakaknya yang ingin mengibur Jiva yang sedang melamun.


Tetesan air mata mengalir begitu saja di mata Jiva.


"Eh kok nangis.. "


"Bang.."


"Iya kenapa."


"Ke kenapa mama sampai begitu sama aku, kan emang dia ga tau apa-apa."


"Iya kan sudah Abang bilang kalau jangan dekat-dekat lagi sama dia."


"Tapi.. "


"Ga ada tapi-tapi turutin aja."


"Yaudah.. "


"Janji ya jangan dekat-dekat sama dia demi Abang kamu?." kakak Jiva mengulurkan jari tangan kelingking nya ke arah tangan jiva. Lalu Jiva mengulurkan jari tangan kelingking nya juga ke kakaknya.

__ADS_1


"Iya."


Dan Jiva pun langsung tersenyum.


__ADS_2