Chef Tampan Pemikat Hati

Chef Tampan Pemikat Hati
Chapter XXI (Kinta Adriana Agatha)


__ADS_3

Hari yang kutunggu telah tiba. Hari di mana aku menambah pengalaman baru, ilmu baru bahkan sampai calon gebetan baru. Selama empat belas hari ke depan, aku bakal setiap hari ke rumah Mas Manis untuk mengajarinya menulis novel. Ya, kesepakatannya seperti itu. Setelah aku selesai mengajarinya menulis novel, nanti tanggal 14 April-30 April giliran dia yang datang ke rumahku untuk mengajar memasak.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Itu saatnya aku pergi ke rumah Mas Manis. Tentu saja aku ke sana tidak dengan tanpa hampa melainkan membawa Karjo – netbook kesayanganku dan buku 1 Bulan 1 Novel? Siapa Takut! – panduan menulis yang pernah aku terbitkan. 


“Tunggu!”


Langkahku terhenti ketika mendengar teriakan Adenna. Aku membalikkan badan. “Ada apa sih Den, lu jadi teriak-teriak gitu?”


“Ada yang mau gue omongin sama lu. Penting!”


 Dahiku mengernyit. “Jangan bilang lu mau mengatakan cinta ke gue! Oh my god. Gue masih normal,” ucapku seraya menunjukkan ekspresi shock.


“Yeee ... ngaco. Gue juga masih normal kali. Gue mau ngomong soal Mbak Inu dan admin Arsha Teen.”


“Ada apa dengan mereka berdua?”


“Mbak Inu hari ini nggak bisa masuk kerja karena anaknya di kampung masuk rumah sakit. Sedangkan admin Arsha Teen cuti melahirkan. Berarti Arsha Teen dan percetakan Arsha libur kan selama lu bertukar profesi dengan Mas Manis?”


“Enak aja libur. Kalau dua usaha itu diliburkan, kita mau makan apa? Belum lagi bayar cicilan rumah, listrik dan lain-lain.”


“Itu artinya lu mau nggak mau harus menggantikan tugas admin AT, tugas Mbak Inu dan membatalkan ide konyol bertukar profesi sama Mas Manis.”


“Itu lebih mustahil lagi gue lakuin. Soalnya gue sama Mas Manis sudah menandatangani surat perjanjian pertukaran profesia di atas materai. Jika salah satu ada yang membatalkan perjanjian, maka harus bayar denda ganti rugi senilai 10 juta rupiah. Lu mau bayar denda ganti ruginya?”


“Terus gimana dong?”


Aku menggigit bibir bagian bawah. Itu kebiasaanku jika sedang berpikir keras mencari solusi terbaik. “Jalan satu-satunya adalah lu yang menggantikan tugas Mbak Inu dan admin AT.”


“Loh, kok gue? Itu bukan kerjaan gue!”


“Tapi lu bisa kan ngelakuinnya?”


“Iya sih. Tapi ...”


“Nggak ada tapi-tapian. Kalau lu nggak mau menggantikan tugas Mbak Inu dan admin AT, besok gue booking tiket pesawat buat lu pulang kampung dan nggak usah jadi manager gue lagi.”


Jika aku mengucapkan kalimat seperti itu, aku yakin Adena tak bakal berani membantah perintahku lagi. Berhubung solusi sudah ditemukan, aku meninggalkan Adeena dalam kondisi manyun. Terlintas ide jahil di kepalaku. Aku mengambil smartphone dari tas selempang. 


Jebret!


Dalam lima detik aku berhasil mengabadikan ekspresi manyun Adeena. “Woy, gue lagi kesel kenapa lu foto?”


“Buat kenang-kenangan. Hahaha.” 


Aku mengibrit lari masuk ke mobil sebelum dijitak Adeena. Jujur, aku juga merasa tak enak hati melimpahkan pekerjaan yang bukan tugas Adeena. Tapi mau gimana lagi. Pertukaran profesi dengan Mas Manis juga hal yang penting. Terutama penting untuk masa depan percintaanku. “Adeena, maafin gue hari bikin lu kesel. Gue yakin suatu saat nanti lu akan berterima kasih dengan apa yang gue lakuin hari ini,” gumamku sebelum tancap gas mengendarai mobil.


*** 

__ADS_1


Hari pertama Chef belajar menulis novel


Kecintaan Mas Manis terhadap tanah kelahirannya memang patut diacungi jempol. Terbukti di tengah-tengah kota Yogyakarta, dia membangun rumah adat Banjar Kalimantan Selatan. Nama bangunan rumahnya itu Rumah Bubungan Tinggi. 


Rumah Bubungan Tinggi atau Rumah Ba-Bubungan Tinggi adalah salah satu jenis rumah Baanjung yaitu rumah tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan dan bisa dibilang merupakan ikonnya Rumah Banjar karena jenis rumah inilah yang paling terkenal karena menjadi maskot rumah adat khas provinsi Kalimantan Selatan. Di dalam kompleks keraton Banjar dahulu kala bangunan rumah Bubungan Tinggi merupakan pusat atau sentral dari keraton yang menjadi istana kediaman raja (bahasa Jawa: kedhaton) yang disebut Dalam Sirap (bahasa Jawa: ndalem) yang dahulu tepat di depan rumah tersebut dibangun sebuah Balai Seba pada tahaun 1780 pada masa pemerintahan Panembahan Batuah.


Rumah Bubungan Tinggi mirip Rumah tardisonal Betawi yang disebut Rumah Bapang[1], namun pada Rumah Bubungan Tingghi dibangun dengan konstruksi panggung dan memiliki anjung pada kiri dan kanan bangunannya.


Singkat kata, aku dipersilakan Mas Manis masuk ke rumahnya. Mataku jelalatan memerhatikan setiap detail rumah Mas Manis. Siapa tahu bisa dijadikan setting tempat di novel baruku. 


Dari yang aku lihat, rumah bubungan tinggi memiliki ciri-ciri : Atap Sindang Langit tanpa plafon, tangga Naik selalu ganjil, Pamedangan diberi Lapangan kelilingnya dengan Kandang Rasi berukir motif bunga.


Konstruksi rumah adat Banjar atau rumah ba-anjung dibuat dengan bahan kayu. Faktor alam Kalimantan yang penuh dengan hutan rimba telah memberikan bahan konstruksi yang melimpah kepada mereka, yaitu kayu.


Adapun konstruksi pokok dari rumah adat Banjar dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu : Tubuh bangunan yang memanjang lurus ke depan, merupakan bangunan induk. Bangunan yang menempel di kiri dan kanan disebut Anjung. Bubungan atap yang tinggi melancip disebut Bubungan Tinggi. Bubungan atap sengkuap yang memanjang ke depan disebut atap Sindang Langit. Bubungan atap yang memanjang ke belakang disebut atap Hambin Awan.


Tubuh bangunan induk yang memanjang terus ke depan dibagi atas ruangan-ruangan yang berjenjang lantainya.


Aku bukan tipe cewek yang suka basa-basi. Begitu dipersilakan duduk di ruang tamu Mas Manis aku langsung menjelaskan pelajaran pertama yakni menulis novel tak beda jauh dari dunia kuliner. Di dunia kuliner ada tiga hal yang harus diperhatikan, Presentasi, Tekstur dan Cita Rasa. Dalam dunia literasi pun juga demikian.


Presentasi atau biasa disebut penampilan sebuah tulisan terletak pada kerapian naskah – perihal pengaturan margin, font, spasi, tabulasi dan justify — Ejaan yang Disesuaikan dan peletakan tanda baca yang tepat. Judul juga termasuk di dalamnya.


Sedangkan teksturnya sebuah tulisan itu terletak pada story telling/penyusunan kalimat dan penyusunan plot cerita yang epic. Terakhir soal cita rasa. Cita rasa sebuah tulisan adalah bergantung pada karakter tokoh yang kuat, konflik greget dan penjiwaan. Qoutes juga bisa menjadi bumbu penyedap sebuah tulisan. 


“Oke, sampai di sini ada yang mau kamu tanyakan, Mas?” tanyaku seraya melirik Mas Manis. Orang yang ditanya malah sibuk main HP. Secepat kilat aku menyambar HP Mas Manis. “Loh, kok HP-ku kok diambil?”


“Ampun deh. Baru kali ini aku nemu guru cewek yang super galak. Aku nggak heran jika penulis Arsha Teen menjulukimu dengan sebutan Chef Juna versi cewek.”


Aku melototinya. Darimana coba dia tahu penulis Arsha Teen menjulukiku dengan sebutan Chef Juna versi cewek? “Nggak usah banyak komentar. Sekarang coba jelasin apa yang udah aku terangkan ke kamu!”


“Tadi kamu menjelaskan pelajaran pertama yakni menulis novel tak beda jauh dari dunia kuliner. Di dunia kuliner ada tiga hal yang harus diperhatikan, Presentasi, Tekstur dan Cita Rasa. Dalam dunia literasi pun juga demikian. Bla-bla-bla.”


Aku semakin mengagumi dan mencintai Mas Manis. Dia memiliki daya ingat yang kuat. Terbukti walau tadi dia main HP tapi bisa menerangkan apa yang aku ucapkan tanpa salah sedikit pun. “Oke, sampai di sini ada yang mau kamu tanyakan, Mas?”


“Udah ngerti kok.”


“Kalau gitu kita lanjut ke pelajaran ke dua.”


Pelajaran kedua adalah tips mencari ide. Hal pertama yang dilakukan penulis sebelum menulis novel adalah mencari ide dasar. Semakin ide itu antimainstream semakin keren. Seperti yang kubilang sebelumnya Bagian ini yang paling diutamakan editor mayor, yang membedakan naskahmu dengan naskah lainnya. Tapi sayang penulis pemula masih banyak yang kesulitan mencari ide yang keren.


    Mencari ide itu susah-susah gampang. Ide itu sama seperti rezeki dan jodoh. Ada kalanya ide itu datang dengan sendirinya namun ada pula ide datang kalau kita yang menjemputnya duluan. Bagi kamu yang ingin menjemput ide, harus menggunakan rumus BM+BT+BH\=Ide. Oke, aku akan jelaskan satupersatu rumus itu.


1.    BM (Buka mata)


Mengamati hal yang ada di depan mata. Jadi dalam hal ini kamu wajib bawa buku kecil kemana-mana. 


2.    BT (Buka telinga)

__ADS_1


Mendengarkan apa yang diucapkan orang sekitarmu. 


Terkadang kita malas banget dengerin curhatan temen. Apalagi kalau temenmu suka banget curhat tentang cowoknya, sedangkan kamu masih jomblo. Rasanya nyesek, Bro. Mulai sekarang coba deh dengerin curhatan temen-temenmu. Siapa tau curhatan itu bisa dijadikan ide bikin novel. 


Seperti novelku “Cinta di Tujuh Keajaiban Dunia.” Ide dasarnya itu berasal dari curhatan Adipati Dimas, mantan gebetanku. Dia dulu pernah curhat ke aku tentang kisah cintanya yang kandas gara-gara mitos Arca Urung, candi Borobudur. 


3.    BH (Buka Hati)


Mungkin kamu kapok jatuh cinta karena takut patah hati lagi. Mulai sekarang kamu harus buang jauh-jauh rasa takut itu. Sebab rasa takut akan menghalangimu meraih kesuksesan. Nih, aku kasih tau ya, “Sampai kapanpun sejatinya cinta tetap indah walau pada akhirnya ia akan berhadapan dengan luka.”


 Cobalah buka hati untuk memulai pedekate dengan cewek baru. Lewat pedekate itu kamu nemuin karakter unik dari si cewek baru itu. Karakter uniknya lumayan dimasukin jadi karakter  tokoh novelmu. Novel kalau di acc mayor bisa jadi duit. Luka bisa jadi indah asal kita pintar mengolahnya. So… buat apa kamu takut jatuh cinta?


“Rumus terakhir mencari ide kayaknya nyindkir gue,” gumamnya. Telingaku tajam bisa mendengar suara sepelan apapun. “Jadi benar yang dikatakan infotainment bahwa kamu belum bisa moveon dari bibir seksi?” 


“Yeee ... kepo. Udah ah. Ngapain sih bahas mantan. Bikin baper aja. Mending lanjut ke pelajaran berikutnya.”


“Sebelum aku melanjutkan pelajaran, aku mau nanya sesuatu dulu sama kamu. Kamu mau bikin novel tema dan ide dasarnya apa?”


“Emang dalam kesempatan kali ini aku disuruh nulis novel juga?”


“Iyalah, percuma melahap teori berbulan-bulan kalau nggak action nulis novel ya nggak bakal jadi novelis.”


“Aku sih maunya bikin novel yang simpel aja. Temanya apa yang terjadi adalah sebuah kisah. Aku akan menulis tentang kita. Dari awal kita ketemu sampaki memutuskan bertukar profesi, gimana bagus nggak?”


Senyum merekah terlukis di bibirku. “Bukan bagus lagi tapi blilian. Nah, sekarang lanjut ke pelajaran berikutnya.” 


“Allahu Akbar ... Allahhuakbar.”


Baru aku mau melanjutkan pelajaran ketiga, suara adzan Dzuhur sudah berkumandang. Memang benar yang dikatakan orang, jika kita bersama orang yang dicintai waktu cepat sekali berlalu. Tiga jam kebersamaan, berasa tiga menit.


“Mas, kita salat Dzuhur berjamaah, yuk!”


“Aku pernah denger ceramah ustaz, jika salah berjamaah berdua yang bukan mahrom maka salatnya jadi tidak sah.”


“Hah? Masa? Ada dalil dan hadisnya gak?”


“Ada. Tapi aku lupa dalil dan hadisnya.”


“Ya udah kalau gitu kita suruh aja Mas Yoga dan Adeena datang ke sini biar kita salat jamaahnya berempat.”


“Kalau itu aku setuju.”


Jari-jariku menari l ncah di keypad smartphone.


Adeenaaa, lu sekarang juga ke rumah Mas Manis. Alamatnya abis ini gue search location. 


Sent to Adeena Sasikirana Arundati.

__ADS_1


*** 


__ADS_2