Chef Tampan Pemikat Hati

Chef Tampan Pemikat Hati
Chapter XXXVIII (Nurul Athiyah)


__ADS_3

Lapangan Murjani setiap Minggu pagi dipadati oleh orang yang olah raga, jualan, jajan atau sekadar gabut. Seperti diriku yang baru tiba langsung ke lapak Gudeg Yogya Mama Nadhif.


"Mbak, nasi sambal krecek dua dan minumnya es teh."


Gudeng Yogya Mama Nadhif memang terkenal enak. Makin lama makin banyak pengunjungnya. Sembari menunggu pesananku diantar, aku main ponsel dulu untuk menbaca siapa tau ada gosip heboh.


Ternyata nggak ada yang menarik. Nggak sengaja mataku tertuju ke cowok lewat. Tampak familier di mataku. Seperti mantannya Naura yang tinggal di Samarinda dan tukang ghosting.


"Eh, itu Nichol bukan sih?" Jariku menunjuk ke cowok memakai kaos cokelat dan celana olah raga.


"Eh, iya ding. Itu Nichol. Ngapain dia ada di sini?"


"Wah, jangan-jangan pas WA pian (kamu tuh inya (dia) sudah ada di Banjarbaru. Tujuannya ke sini emang sengaja pengen membatalkan nikahanmu." Aku jadi bersuuzon ria.


Akhirnya makanan kami datang. Perut sudah keroncongan, skip dulu bahas Nicholnya.


***


Aku kaget pulang dari Murjani sudah ada Mas Agus mengobrol dengan Zaini di teras.


"Loh, Mas Agus ngapain ke sini?"


"Saya mau minta tolong sama kalian."


Dia lalu menceritakan Adeena dan mantannya bernama Nichol berantem di warung mi bancir. Lalu kejanggalan Adeena diculik Nichol, sampai prasangka buruk mantan manager Mas Agus.


"Bentar, Nichol kan mantannya Naura. Jangan-jangan …" Aku ikut berpikir negatif.


"Fix, Nichol dan Adeena kerja sama untuk membatalkan nikahan Mas Agus dan Naura." Zaini menimpali. 


"Terus saya harus gimana?"


"Kita bikin Nichol mau kerja sama dengan kita untuk menjebak Adeena ngaku atau apa pun yang bisa bikin Naura tahu fakta sebenarnya."


"Caranya?"


"Kita culik sampai mau kerja sama."


Sial. Suamiku ternyata idenya barbar. Ada benarnya juga sih.


"Bro, ada ide yang lebih kalem. Kalau main culik masuk kriminal. Nggak baik."


"Kalau nggak kayak gitu, mana mau dia kerja sama dengan kita."


Mas Agus nampak berpikir keras. Sesaat kemudian berkata, "Okelah. Saya ikut ide kalian."


Sebelum melakukan rencans penculikan, aku cari tahu tentang Nichol dulu. Ternyata dia manager Perumahan Tepi Sawah 2.


"Pantes, kemarin Adeena minta dianterin ke komplek perumahan itu."

__ADS_1


"Nah, sekarang gimana rencana kita culik Nichol biar nggak mencolok banyak orang?" Zaini terlihat serius memikirkan hal ini.


"Tenang aja, Perumahan Tepi Sawah 2 masih sepi kok. Hanya ada rumah dia yang selesai dibangun. Besok minggu para tukang pasti libur."


"Bagus. Sekarang kita susun strategi jitunya."


Aku ikut berpikir keras. Teringat adegan penculikan yang biasa terjadi di sinetron.


"Aha, aku punya ide." Aku lalu membisikkan sesuatu ke Zaini dan Mas Agus.


***


Kami datang ke Perumahan Tepi Sawah 2 pagi-pagi banget abis subuh.


Rencana penculikan Nicol adalah aku duluan masuk ke mobilnya. "Bener nih aku masuk ke mobilnya? Gimana kalau ternyata tuh cowok nggak kunjung keluar dari rumah? Yang ada aku duluan mati di mobil."


"Kamu tenang aja, kalau dia nggak kunjung keluar, kami akan mancing dia biar masuk mobil."


Aku coba buka mobil Nichol. Beruntung nggak dikunci. Benar saja, nggak lama kemudian Nichol masuk ke mobil. Buru-buru aku keluar dari persembunyian lalu menodongkan pisau ke lehernya.


"Jangan bergerak!" ucapku menirukan aksi di film-film.


"Lu siapa? Mau lu apa?"


Mas Agus dan Zaini muncul di samping pintu mobil. 


"Udah, buruan turun." Zaini ikut menodongkan pisau. 


***


Nichol dibawa ke rumah terbengkalai dserah Cempaka. Konon katanya, ini juga tempat penyekapan Adeena.


Mas Agus langsung merantai seluruh badan Nichol.


"Hmmm … Hmmm." Matanya melotot.


"Kayaknya dia mau ngomong sesuatu deh. Mungkin mo ngomong permintaan terkahir," ucapku.


Zaini mendekat ke Nichol lalu menarik lakban di mulutnya. 


"Aaaarggggh!" jeritnya. "Oiiii … lepasin gue. Mau kalian apa sih?"


"Coba ceritakan dulu kenapa tadi malam Adeena bisa kamu sekap di sini?" tanya Mas Agus penasaran.


"Itu dia sendiri yang minta. Katanya biar lu makin simpati sama dia! Udah gue ceritain kan? Sekarang lepasin gue!" jerit Nichol.


"Boleh aja. Mau kami adalah kamu bersedia kerja sama dengan kami untuk menjebak Adeena ngaku ide busuknya menggagalkan pernikahan saya dan Naura."


"Kalau gue nggak mau gimana?"

__ADS_1


"Ya, kamu bakal mati di sini," celetuk Zaini.


"Gini aja saya kasih kamu berpikir sepuluh menit. Nanti saya bakal ke sini lagi membawa ular berbisa peliharaan saya dan saya lilitkan ke badanmu biar dipatok ular sekalian. Kalau mau nyerah, silakan acungkan jempol."


Mas Agus menaruh kamera CCTV di atas meja depan Nichol.


"Ya, sip. Kami tinggal dulu. Silakan berpikir dengan matang. Ajalmu di tangan kami."


Mas Agus kembali melakban mulut Nicho. Lalu, kami pergi dari rumah ini.


***


Di mobil.


Kami bertiga melihat rekaman CCTV yang ada dalam rumah terbengkalai. Terlihat Nichol berusaha melepaskan diri.


"Wah, ternyata Kak Agus barbar juga ya. Hehe." Zaini terkekeh.


"Anggep aja sisi lain saya. Selama ini capai pakai topeng sok baik dan kalem mulu."


Waw. Sebuah kejutan untukku mengetahui sisi lain seorang Chef Agusta Wimala.


"Kalau Nichol tetep keukeuh nggak mau kerja sama dengan kita gimana?" Aku mulai khawatir rencana ini nggak berjalan lancar. "Emang Mas Agus beneran punya peliharaan ular berbisa?"


"Nggak sih. Itu gertak sambel aja. Kalau sepuluh menit dia nggak nyerah juga, terpaksa kita ke pasar ular dulu buat beli ular berbisanya."


Zaini mengangkat tangan kirinya. "Sisa 8 menit lagi. Kita sambil cari makan dulu yuk. Laper."


"Yuk, deket sini ada bubur ayam Bandung," sahut Mas Agus.


Ketiga Mas Agus ingin tancap gas, tiba-tiba di layar terlihat Nichol mengacungkan jempol.


"Akhirnya dia nyerah juga. Yuk, samperin."


Kami bertiga bergegas masuk lagi ke rumah terbengkalai.


Mas Agus kembalik menarik lakban di mulut Nichol.


"Akhirnya kamu nyerah juga."


"Capai gue. Pegel nih. Buruan lepasin."


Ketika Mas Agus ingin melepaskan Nichol, tangannya ditepis Zaini. "Jangan percaya gitu aja sama dia. Siapa tau setelah kita bebasin, dia malah kabur dan nggak mau kerja sama dengan kita."


"Sumpah, gue nggak akan bohong sama kalian. Gue juga males kerja sama dengan Adeena dia bossy banget."


"Jaminannya apa kalau kamu nggak bohong?" celetukku.


"Kalian bisa ambil rumah gue yang di Perumahan Tepi Sawah 2 kalau gue ingkar janji."

__ADS_1


"Oke. Aku pegang janjimu."


Mas Agus kemudian melepaskan rantai dan lakban di tubuh Nichol.


__ADS_2