
Mamaku mengusap air mata tatkala melihat diriku di cermin yang sangat elegan mengenakan kebaya putih dan sanggul. Yup, hari ini adalah hari lamaran resmi Chef Agusta.
"Loh, Mama kenapa nangis?" Aku menggenggam tangannya.
"Rasanya baru kemarin kamu lahir, Mama gendong-gendong, eh sekarang udah dilamar aja."
Mataku berkaca-kaca, ikut terharu. Namun, berusaha tegar. "Mama jangan sedih dong. Itu artinya Naura udah dewasa, tugas Mama membesarkan aku telah selesai. Mama tenang aja, aku akan selalu jadi anak kecil Mama."
Pintu kamar terbuka. Athiyah muncul di sebelahnya. "Naura, Chef Agus beserta rombongan keluarganya udah datang."
"Yuk, keluar."
Aku agak kesulitan berdiri karena baru kali ini mengenakan jarik. Boro-boro makai jarik, wong rok aja nggak pernah. Sehari-hari memakai celana. Akhirnya dibantu Mama.
Setelah aku di ruang tamu, aku dan Chef Agus bertatapan mata. Seketika melemparkan senyum.
"Ya ampun, cantik banget calon istriku."
Aku tersipu malu. "Ah, Mas bisa aja."
Aku duduk di sebelah Abah.
Seorang pria berpeci berdiri. "Bismillahirrahmanirrahim. Perkenalkan saya Abdul Qadir, paman Agusta. Tujuan kami ke sini hendak meminang Adinda Naura Kharunnisa untuk menjadi istri Ananda Agusta Wimala. Apakah Adinda Naura bersedia menerima pinangan kami?"
Giliran abahku yang berdiri. "Sebuah kehormatan bagi keluarga kami atas pinangan Ananda Agusta Wimala. Namun, yang menjalani rumah tangga anak kami, Naura. Maka segala keputusan saya serahkan ke Naura."
Pandangan Abah beralih ke mataku. "Nah, bagaimana Naura, apakah kamu bersedia menerima pinangan Ananda Agusta Wimala?"
Sebelum menjawab, lagi-lagi aku dan Chef Agusta Wimala saling bertatapan. Lalu tersenyum simpul. Akhirnya aku mengangguk mantap. "Insya Allah saya siap menjadi istri Chef Agusta Wimala sampai akhir hayat saya."
"Alhamdulillah," ucap seluruh keluarga.
Kami pun lanjut membahas tanggal pernikahan. Setelah diskusi panjang, akad nikah 12 Desember 2022 dan resepsi tanggal 11 Januari 2023.
***
@daffawardhani
Hai, apa kabar?
Aku menelan ludah berkali-kali. Kenapa dia hadir lagi setelah aku dilamar Chef Agusta? Usahaku move on dari dia sejak dua tahun lalu ambyar tatkala dua kalimat 'apa kabar?'
Dulu aku dan dia tiga tahun menjalin hubungan tanpa status. Dekat kayak pacaran, tapi nggak ada nembak. Ketika aku meminta penjelasan, dia malah bilang belum siap dan ingin kuliah di London dulu. Lalu dia menghilang tanpa jejak.
Aku balas pesannya.
Baik. Abis lamaran malah.
Sengaja aku bilang seperti ini. Biar dia panas. Itupun kalau dia masih ada rasa denganku. Walau nggak yakin dari dulu ada rasa.
Chat berlanjut.
__ADS_1
DaffaWardhani
Wah, selamat ya. Yah, telat deh. Padahal aku chat kamu lagi karena mau melamarmu. Aku baru aja lulus kuliah di London.
Naurakhairunnisa
Ke mana aja lu? Kayak hantu aja datang dan pergi sesuka hati. Nggak tau sakitnya gue lu ghosting 3 tahun lebih. Setelah 99.99999999 usaha gue berhasil move on dari lu eh muncul lagi.
Daffawardhani
Maaf, aku nyesel sia-siain kamu. Andai kamu kasih kesempatan kedua untukku, aku siap melakukan apa aja demi kamu. Termasuk aku penuhi mahar tertinggi darimu.
Tok … tok … tok
Terdengar pintu kamarku diketuk.
"Naura, ada Chef Agus di ruang tamu!" teriak Mama."
Aku menepuk jidat. Baru ingat hari ini aku janjian sama Chef Agus untuk beli souvenir nikahan. Aku langsung beranjak untuk mandi dan ganti baju.
***
Ketika sudah cantik, aku turun menemui calon suami.
"Maaf Mas jadi lama nunggu. Aku mandi dulu. Yuk, berangkat. Aku dah siap."
Mama mendelik dengan melempar tatapan curiga. "Loh, kalian mau ke mana?"
"Tapi kan kalian lagi dipingit. Pamali jalan berdua. Takut ada apa-apa."
Aku mendesah napas berat. Hari ini Mama masih aja percaya mitos. "Ma, itu hanya mitos. Mitos akan terjadi kalau kita mempercayainya. Percaya sama aku, nggak akan terjadi apa-apa." Aku berusaha meyakinkan Mama.
Mama akhirnya menyerah. "Ya udah deh. Tapi hati-hati ya."
Aku tersenyum seraya mencium tangan Mama. "Oke, Ma. Aku pergi dulu ya. Assalmualaikum."
***
Di Arsha Butik, selain ada gaun pengantin juga menyediakan souvenir resepsi nikahan. Banyak banget pilihannya. Sampai bingung memilih yang mana. Setelah berkeliling, mataku tertuju ke kipas motif batik.
"Mas, ini bagus deh. Kita make souvenir ini aja ya?"
"Nggak deh. Aku lebih suka ini." Dia memperlihatkan dompet motif sasirangan.
"Ih, ini aja. Aku mau nikahan kita ada khas Jawanya. Kan aku lahir di Solo."
"Aku juga inginnya resepsi kita nuansa khas Banjar."
Akhirnya kami cekcok adu mulut. Pramuniaga Arsha Butik menghampiri kami.
"Mbak, Mas, mohon maaf nih bukannya ikut campur atau apa, tapi menurut saya lebih baik kalian beli keduanya aja. Biar adil ada khas Jawa dan Banjar."
__ADS_1
Aku dan Chef Agusta saling berpandangan.
"Ya udahlah. Kami ambil kedua souvenir ini ya. Masing-masing 250 biji."
Target nikahan kami mengundang 500 orang. Tiba-tiba aku kebelet pipis.
"Mbak, toilet di mana ya?"
"Mbak lurus aja. Abis itu belok kiri."
"Makasih, Mbak."
***
Usai dari toilet aku kaget, Chef Agusta memegang ponselku.
"Loh, kok bisa ada di kamu? Ada telepon di HP-ku ya?"
"Adanya chat mantanmu nih. Jadi kamu masih kontekan sama mantan?"
"Apa sih. Dia ngechat cuma ngucapin selamat doang kok karena aku dilamar."
"Ngucapin selamat buntutnya bisa sepanjang ini?"
Pertanyaannya seolah menyudutkan aku ada apa-apa dengan mantan.
"Terus kenapa kalau ada chat panjang sama mantan? Nggak boleh? Kamu aja masih ketemu langsung sama mantan juga kok."
"Loh, itu kan nggak sengaja ketemunya."
"Aku juga nggak sengaja ngechat dia. Dia duluan yang ngechat. Ah, udahlah. Kamu egois. Kamu males sama kamu."
Aku jadi badmood. Lalu pulang sendiri naik taksi online tanpa pedulikan Chef Agusta di butik.
***
"Assalamualaikum." Aku mengetuk pintu rumah.
Mama yang buka pintu menatapku heran. "Loh, pulang sendirian aja. Chef Agusnya mana?"
"Kami lagi berantem hebat, Ma. Jadi aku pulang sendirian aja naik taksi online."
Mama mengernyitkan dahi. "Berantem kenapa?"
"Nanti aku jelasin ya. Sekarang aku mau istirahat di kamar dulu."
Sepanjang perjalanan menuju kamar, aku berpikir apa ini akibat karena melanggar mitos tentang pingitan. Andai nurut sama Mama nggak pergi, pasti Chef Agus nggak akan melihat chatku dengan Daffa.
Ah, ternyata mitos nggak selamanya salah. Ada benarnya juga. Menang nggak menbahayakan aku, tapi membahayakan hubungan kami. Aku sendiri nggak tau apa yang terjadi selanjutnya.
Drrrrtttt …
__ADS_1
Ponsel di tas tangan bergetar. Berhenti sejenak. Lalu buka tas dan meraih ponsel. Di layarnya ada telepon Chef Agusta sampai 12 kali. Aku malas menerima panggilannya, langsung aku reject dan matikan telepon. Mungkin kami memang butuh jeda terlebih dahulu.