
Aku lagi menghitung omset bulanan Kafe Naura. Nggak terlalu rame. Masih stabil di 8 digit.
"Kak, kalau pian (kamu) jadi bini Chef Agus, Kafe Naura tetep jalan? Atau mau dijadikan satu sama Mi Bancir Chef Agus aja?" Athiyah tahu-tahu duduk di sebelahku dan berkata demikian.
"Tetep lah. Ini kan bisnis dah lama sebelum nikah. Kalau dijadiin satu ntar ribet harta gono gini. Belum lagi, kalau ada apa-apa sama pernikahan ntar aku bingung mesti ngapain."
"Cerdassss."
"Wanita tuh harus cerdas dan mandiri biar nggak diinjak-injak cowok."
"Betul."
Seketika aku lemas. "Aku sendiri ragu pernikahan dengan Mas Agus tetap terjadi atau batal. Sampai sekarang aja Mas Agus belum menghubungiku. Kesannya dia nggak perjuangkan aku agar pernikahan ini nggak batal."
Jangan gitu. Itu namanya nggak percaya siapa tau dia lagi sibuk cari bukti."
Dahiku mengernyit. "Bukti? Bukti apa?"
Athiyah memalingkan pandangan dan langsung berdiri. "Ikut aku yuk."
"Ke mana?"
"Ada deh. Aku mau nunjukin fakta yang bisa membikin melongo."
"Kafe siapa yang jaga?"
"Tutup aja mumpung lagi sepi. Siti lagi cuti juga, kan?"
Rasa penasaranku yang tinggi, membuat nurut aja dibawa Athiyah ke mana pun.
***
Aku heran kenapa Athiyah membawaku ke Perumahan Tepi Sawah 2. Hanya ada satu rumah yang selesai dibangun. Itupun masih dikelilingi lahan kosong.
Aku celingak-celinguk. "Mana hadiahnya? Nyawa (kamu) mau kasih kado rumah di sini? Wah, makasih banget ya."
"Ngaco. Ulun (saya) aja belum bisa kebeli rumah. Udah tunggu aja. Bentar lagi kejutannya muncul."
Benar saja bola mataku menangkap dua orang, pria dan wanita keluar dari rumah. Hah? Itu kan Nichol dan Adeena? Ngapain mereka? Batinku bertanya-tanya.
"Mana uang bayaranku?" ujar Nichol nada tinggi.
"Heh, sadar. Kerjaan lu belum beres. Kan janji gue bakal gue lunasin kalau gue dah berhasil bikin Chef Agus gagal menikah sama cewek itu!"
Duarrrr. Hatiku bagai disambar gledek. Jadi mereka kerja sama untuk batalkan pernikahanku?
Aku nggak sabar mendamprat mereka. Lalu, aku keluar dari tempat persembunyian.
"Oh … jadi kalian sengaja bikin kami gagal nikah?"
"Itu tidak akan terjadi. Kami justru akan mempercepat pernikahan. Iya kan, sayang?" Mas Agus tahu-tahu muncul di sebelahku. Berarti dia sedari tadi bersembunyi juga?
__ADS_1
Raut wajah Adeena memucat. Mereka tahu-tahu kabur begitu saja.
Mas Agus menggenggan tanganku. "Kamu sudah tahu fakta sebenarnya kan? Maafin aku udah nggak percaya kamu, ngegas duluan."
"Nggak apa. Itu artinya cemburu. Kamu serius mau percepat nikahan kita?"
"Iya, biar nggak ada pengganggu lagi."
"Tapi kan baju, katring, pelaminan, dan lain-lain belum beres."
"Soal itu, nanti aku beresinnya."
***
Malam ini keluargaku dan keluarga Mas Agus kembali rapat dalam membicarakan tanggal pernikahan yang maju.
"Hah? Pernikahannya dimajukan? Kok kesannya buru-buru banget. Kalian nggak …" tutur Mama nada curiga.
"Kagak, Ma. Kami masih tau agama nggak mungkin lakuin hal itu sebelum ijab qabul." Aku menyela agar yang lain nggak ikut curiga seperti mamaku.
"Yang dipercepat akad nikahnya aja. Resepsi tetap kok. Kami ingin mempercepat nikahan karena ada pihak yang ingin membatalkan nikahan kami. Kalau nggak dipercepat, nanti ada gangguan pihak lain lagi," sambung Mas Agus.
"Soal ketring, baju, undangan, gedung kan semua belum siap," sela Mama lagi.
"Itu tenang saja. Semua sudah saya bereskan."
"Ya tetap saja. Itu artinya kita mesti cari tanggal baik dan berdasarkan weton dulu juga."
"Udah turun temurun itu. Kalian mau nikah kapan?"
"Jumat ini juga."
"Hah? Empat hari lagi dong?" Kakak tertua Mas Agus ikutan kaget.
"Bentar, Ma, tolong ambilkan kertas, kalkulator dan bolpen."
Mama beranjak dari tempat duduk, lalu pergi ke kamar. Nggak sampai lima menit Mama kembali dengan membawakan apa yang Abah pinta.
Abah mulai coret-coret angka di kertas. Aku sendiri nggak mengerti. Menghitung weton mungkin.
"Dari hitungan weton sih hari Jumat ini jatuhnya Rezeki. Masih tanggal bagus. Okelah, kalian menikah tanggal segitu."
"Alhamdulillah."
Padahal tadi sudah deg-degan. Takut dapat weton buruk dan pernikahan harus batal karena nggak disetujui Abah.
***
Mataku terpaku melihat pantulan diri sendiri di cermin. Sumpah, cantik banget mengenakan kebaya serta riasan paes adat Jawa Tengah. Ini adalah konsep nikahan yang kuimpikan sejak dulu.
Untungnya Mas Agus mengalah mengambil jalan tengah. Ijab qobul mengenakan adat Jawa, sedangkan resepsi adat Banjar.
__ADS_1
Dari cermin, aku nggak sengaja liat Mama menghapus air mata.
"Mama kok nangis?"
"Eh, nggak kok. Ini kelilipan."
"Jelas Mama bohong. Ma, aku tuh dari di kandungan sampai 27 tahun selalu sama Mama. Aku tahu kapan Mama bohong atau jujur."
"Rasanya baru kemarin Mama gendong kamu pas lahir, eh sekarang bentar lagi jadi bini orang."
Aku menggenggam tangan Mama. "Terima kasih ya selama ini udah membesarkan aku penuh cinta. Mama tenang aja, Mama nggak akan kehilangan aku. Bakal sering nengokin Mama."
Sialnya, giliranku air mataku yang menggenang di pelupuk mata. Tiba-tiba pintu terbuka. Muncul Athiyah.
"Mas Agusnya beserta rombongan sudah datang."
"Yuk, keluar!" ajak Mama.
"Mama duluan aja. Aku mau benerin make up dan ngilangin grogi dulu."
"Naura biar sama ulun aja, Cil."
"Okelah."
Mama keluar duluan. Aku menghapus air mata tadi. Lalu menambahi celak di mata biar nggak kelihatan abis nangis.
"Ya ampun manten baru cantik banget. Rasanya baru kemari pian benci setengah mati sama Mas Agus gara-gara buka warung depan kafe kita. Eh, tau-tau bentar lagi jadi bininya. Ciyeeee … benci bilang cinta. FTV banget sih."
"Benar kata orang, cinta dan benci beda tipis."
Aku senyum-senyum sendiri mengingat hal itu. Tuhan memang maha bolak balikkan hati manusia.
"Ya gimana, FTV kan berdasarkan kisah nyata."
"Ya udah yuk keluar!"
"Aku dah cantik? Make up masih cemong nggak?"
Jujur, aku masih grogi. Makanya mengulur waktu sebentar. Sudah siapkah diriku menjadi istri Chef Agusta Wimala?
"Masya Allah, kurang cantik gimana lagi? Ayo keluar. Nanti Mas Agusnya bete gegara pengantin wanita lama keluar."
Aku dibantu Athiyah berdiri dan digandeng menuju depan penghulu."
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Naura Khairunnisa binti Khairullah dengan mas kawin, mahar dua puluh lima juta dan seperangkat alat salat dibayar tunai."
Aku bernapas lega ketika Mas Agus lancar mengucapkan ijab qabul di depan penghulu, Abah dan saksi.
"Sah," ujar para saksi serentak.
__ADS_1
Kami memanjatkan doa. Aku berharap abis ini nggak ada drama-drama kehadiran mantan lagi. Capek hati berantem mulu. Moga rumah tanggaku sama Mas Agus langgeng sampai kakek-nenek.