Chef Tampan Pemikat Hati

Chef Tampan Pemikat Hati
Chapter XXIII (Adeena Sasikirana Arundati)


__ADS_3

"Pemenang dalam tantangan masakan tradisional ini adalah Chef Agus," ujar Chef Junaidi datar 


"Horeee." Aku melonjak kegirangan.


Seseorang tiba-tiba muncul di sebelah. "Tumben, kamu nonton acara masak."


"Ada chef yang aku suka."


"Siapa?"


Aku menunjuk ketika Chef Agus tersorot kamera. "Ah, masih cakepan Chef Lucky."


"Aku suka bukan cakepnya. Tapi kemampuannya. Apalagi dia sangat menjunjung tinggi budaya Indonesia. Liat aja dia konsisten memakai baju batik dan masak masakan Indonesia."


***


Sejak saat itu aku menyukai Chef Agusta. Ketika bertemu, makin menyukainya. Ternyata sosok yang sangat ramah ke semua orang. Sialnya, malah Kinta menang banyak. Berbagai cara sudah aku lakukan untuk membatalkan ide gila Kinta. Ide gila ini yang membuat mereka semakin dekat.


Aku harus melakukan apalagi? Terakhir, gagal. Kinta malah minta aku gantiin Mbak Inu. Aku mondar-mandir nggak jelas sedang berpikir jelas.


Oh iya, chat Mbak Inu dulu. 


Aku


17.30


Mbak Inu, maaf nih cutinya nggak jadi. Kata Kinta kita tetap masuk.


Mbak Inu


17.40


Yah, nggak jadi makan gaji buta dong.


Drrrrt … Drttt


HP di tanganku bergetar lagi. Muncul di layar nama Yoga Pratama memanggil.


"Hallo."


"Halo, iya. Kenapa lagi?"


"Gimana rencana lu? Berhasil?"


"Gatot. Kinta malah nyuruh aku gantiin Mbak Inu. Kan ngeselin."


"Yah. Terus kita ngelakuin apa dong?"


Aku menangkap sesuatu yang janggal dari Yoga. "Bentar, kamu napa sih kok ngebet banget pengen ide gila mereka stop?"


"E … Anu …"


"Suka sama Kinta ya? Makanya nggak mau Kinta deket-deket sama Chef Agus?"


"Nah, tuh lu peka. Eh, gue baru nemu ide nih."


"Apa coba?"

__ADS_1


"Mulai besok lu mepetin Kinta aja kalau ada Chef Agus. Kalau mereka ada ksempatan mepet-mepetan halangin aja, ngapain kek."


"Gitu ya? Boleh juga sih. Besok aku coba deh. Udah kan? Bye."


***


"Kintaaaaaa!" teriakku begitu tiba di rumahnya.


Kinta kaget melihat kedatanganku. "Loh, ngapain ke sini? Kan harusnya gantiin tugas Mbak Inu."


"Dia nggak jadi cuti katanya."


"Oh, pas banget nih lu ke sini biar bantuin gue masak."


Aku celingak-celinguk mencari sosok Chef Agusta. "Mas Chef mana? Emang dia nggak ada kelas sama lu?"


"Gue suruh dia jangan sering-sering dateng. Takut fitnah. Belajar bisa lewat online kan?"


Senyum semringah terpancar dari bibirku. Yes. Artinya mereka nggak mepet-mepetan. "Oke, gue bantuin masak. Mo belajar masak apa?"


"Apa ya? Yang murah, gampang, unik."


"Mi Lethek aja gimana?" 


"Hah? Mi apa tuh? Baru denger namanya."


"Mi Lethek tuh mi dari Bantul Yogya. Dari tepung singkong. Siingkongnya tuh digiling dulu jadi tepung. Namanya Lethek karena kecokelatan. Artinya kotor."


Aku orang Kalimantan Selatan, tapi sudah pindah ke Yogyakarta sejak 2003. Makanya tahu banget makanan khas Yogyakarta.


"Kalau mau gampang, beli aja mi Letheknya di GoShop atau Shopee. Udah banyak yang jual kok."


Wajah Kinta cerah. "Nah, itu baru cakep. Praktis. Bentar, gue order dulu."


"Selain Mi Lethek, apa lagi bahan-bahannya?"


"Cabe rawit merah, Cabe hijau besar, ½ butir tomat, 5 siung bawang merah, 5 siung bawang putih, kecap manis secukupnya, garam secukupnya, kaldu bubuk secukupnya, Gula Jawa secukupnya dan air secukupnya."


"Aman berarti. Semua bahan itu udah ada di rumah."


Kinta mengeluarkan semua bahan-bahan yang aku sebutkan tadi dari lemari makanannya.


"Paketttt." Terdengar teriakan dari rumah.


Kami sama-sama bengong. "Cepet banget nyampenya. Kurang dari tiga puluh menit."


"Deket keknya warung minya."


Kinta keluar menemui kurir yang antar. Lalu, kembali ke dapur. 


"Deen, terus gimana lagi ini?"


Cara membuat:


Langkah pertama, panaskan minyak goreng untuk tumis bawang putih dan bawang merah.


Kemudian, masukkan cabai hijau dan cabai rawit, lalu tambahkan tomat aduk hingga merata.

__ADS_1


Lalu tambahkan garam, kaldu ayam, jika bumbu sudah layu tambahkan sedikit air agar tidak lengket.


Tambahkan kecap manis dan masukkan semua mie lethek. Aduk terus hingga bubu tercampur rata.


Mie lethek siap disajikan selagi hangat.


Aku membacakan resep yang tertulis di internet. Masalahnya aku juga nggak bisa masak. Biasanya kalau pengen makan, tinggal beli.


Kinta melakukan langkah demi langkah seperti yang aku bacakan tadi. Jujur, aku salut. Dia itu itu tipe cewek sebelas dua belas denganku. Males masak. Demi Chef Agus dia bela-belain masak. Terbit rasa cemburu di hatiku melihat semangat Kinta.


Nggak berapa lama Mi Lethek tersaji di meja. Aroma wangi menusuk indra penciumanku sehingga membuat jadi lapar. 


Ketika aku mau mencicipi, tanganku ditepis Kinta. "Oiiii … enak aja. Yang boleh mencicipi pertama tuh Chef Agus lah. Yuk, kita ke rumahnya."


Sial!


***


"Assalamualaikum, Chef Agus!" teriak Kinta begitu tiba di rumah Chef Agus.


"Waalaikumsalam. Loh, Kinta ngapain ke sini? Kan perjanjiannya …"


"Ini aku tadi nyoba belajar masak bikin Mi Lethek. Nah, aku mau Chef Agus jadi orang pertama yang nyicipin masakanku."


"Oh gitu. Yuk, masuk."


Ketika Kinta mau masuk ke rumah Chef Agusta, tiba-tiba sepatu hak tingginya nyangkut di tangga. Badannya terhuyung ke depan. Dengan sigap Chef Agusta menangkap tubuhnya agar nggak jatuh. Mata mereka berpadangan. Mendadak hatiku nyeri melihat pemandangan di depanku ini.


Aku langsung pulang begitu saja tanpa pamitan ke Kinta atau Chef Agus.


***


Aku nangis guling-guling di kamar sambil memeluk guling. Kenapa sih yang selalu beruntung tuh Kinta? Sudah cantik, sukses, banyak cowok yang suka, sekarang kesempatan dapat hatinya Chef Agus makin terbuka lebar.  Sedangkan aku selalu apes. 


Seketika teringat Yoga. Ini semua gara-gara Yoga. Kalau dia nggak menyuruhku nempelin Kinta nggak akan melihat adegan menyebalkan itu. Aku lebih baik di percetakan aja daripada mengurus Kinta.


Aku mau nelepon Yoga. Mau maki-maki dia. Baru mau memencet nomor Yoga, di layar muncul nama Kinta memanggil. Aku geser icon hijau ke atas tanda menerima panggilannya.


"Halo." Aku menjawabnya dengan nada lemas karena emang malas ngomong sama Kinta.


"Halo, Deen, kok lu tau-tau ngilang sih tadi?"


"Sori, tadi gue tiba-tiba dada gue sesek. Asma gue kumat. Kalau gue bilang lu, ntar lu ikut pulang. Nggak enak ganggu kalian." Aku berbohong ke dia. 


Walau aku sakit bersama Kinta, tapi aku nggak bisa meninggalkan dia. Kerjaannya gampang terus gaji tinggi dan nggak pernah marah sama aku soal kerjaan. Di tempat lain belum tentu seenak kerja sama Kinta.


"Oh gitu. Baguslah. Gue seneng banget tadi Chef Agus muji masakan gue loh." Kinta cerita berapi-api. Yang membuat hatiku makin sakit.


"Kin, udah dulu ya. Gue mau istirahat."


"Sori. Gue malah curhat padahal lu lagi sakit."


"Iya, nggak apa kok."


"Ya udah, cepet sembuh dan selamat istirahat ya."


Aku kembali memeluk guling serta melanjutkan tangis.

__ADS_1


__ADS_2