
Aku kembali penasaran dengan hasil ide bersama Adeena kemarin. Langsung saja kutelepon dia lewat Whatsapp untuk menjawab rasa penasaranku.
"Halo."
"Halo, Deen. Gimana rencana kemarin? Sukses?"
"Sukses apanya? Gue malah liat pemandangan menyakitkan. Ini semua gara-gara lo."
Adeena ngoceh panjang kali tinggi kali lebar. Kupingku panas dengerin ocehannya. Kujaugkan telinga sesaat dari ponsel.
"Tenang dulu, Sis. Mati satu tumbuh seribu. Gagal satu ide, masih ada 1000 cadangan ide lainnya."
"Ide apa lagi?"
"Kita ketemuan dulu aja yuk. Biar enak ngobrolnya."
"Oke. Tapi di Lesehan Cipto Roso ya. Malam ini juga."
"Sip."
***
Aku pulang, tanpa dendam
Kuterima kekalahanku
Aku pulang, tanpa dendam
Kusalutkan kemenanganmu
Kau ajarkan bahagia, kau ajarkan derita
Memutar lagu Sheila on 7 – Berhenti Berharap semakin membuat hatiku tercabik-cabik. Kalah sebelum berperang, itulah istilah yang tepat aku rasakan saat ini. Sepuluh menit lalu aku tiba Lesehan Cipto Roso, bukan sosok Adeena yang kutemukan melainkan pemandangan menyakitkan yang tertangkap indera penghihatanku. Wanita yang kucintai suap-suapan mesra dengan orang terdekatku.
Seketika aku merasa Dejavu. Aku pernah mengalami hal ini sebelumnya, saat masih berpacaran dengan Renata Anara Chantika. Oh Tuhan, kenapa aku harus ditakdirkan melihat pemandangan menyakitkan itu lagi?
Adeena. Dialah yang patut disalahkan. Pasti dia sengaja menjebakku agar melihat kemesraan mereka. Pandangan kualihkan ke smartphone, ada satu pesan BBM dari Adeena.
Lo di mana? Gue dah lama nungguin lo, buruan ke sini!
Jari-jariku mengetik balasan untuknya.
WOY, UDAH DEH GAK USAH PURA-PURA LAGI. TUJUAN LO MINTA GUE KE LESEHAN CIPTO ROSO BUAT MENJEBAK GUE KAN? LO SENGAJA BIAR GUE MELIHAT PEMANDANGAN MENYAKITKAN. MULAI SEKARANG LO JANGAN GANGGU GUE LAGI!
Itu pesan terakhirku untuk Adeena. Setelah mengirim pesan, aku men-delete kontak Adeena secara permanen. Aku memblokir nomor telepon, kontak WA, akun FB, Intagram, Line dan twitter. Ya, aku memutuskan tak ingin lagi berhubungan dengannya. Mulai besok aku akan pergi sejauh mungkin meninggalkan semua yang menyakitkan di Yogyakarta.
***
Aku memandangi surat pengunduran diri yang baru selesai kuketik. Ketika ingin aku kirimkan ke Chef Agusta, mendadak rasa ragu menjalar di hati.
Bayangan kebersamaan bertahun-tahun mulai berseliweran di benakku. Yakinkah aku meninggalkannya setelah semua yang dia berikan kepadaku?
__ADS_1
Chef Agus sudah baik banget memberi kerjaan kepadaku saat aku benar-benar butuh uang. Saat aku kerja bersamanya, dia sangat memperlakukanku dengan layak. Suka kasih bonusan, dikenalkan ke orang-orang hebat, dan masih banyak lagi kebaikannya. Namun, sisi lainnya aku juga nggak sanggup bekerja dengan orang yang memacari cewek yang aku suka. Ah, pusing.
Logika dan hati terus bertarung. Hingga akhirnya logika yang menang membuat jemariku klik tombol sent ke email agustawimala1987@gmail.com
Semoga keputusanku tepat.
***
Aku sekarang bingung mesti ke mana. Ingin menginap di hotel bagus, tapi mahal. Sekarang aku pengangguran. Harus mode hemat. Mau cari kontrakan nggak tau di mana yang pas dan murah. Secara aku di Yogyakarta hanya perantauan. Asli Lampung.
Seketika melihat warung kecil. Aku mampir untuk membeli minum, snack dan rokok.
"Bu, saya beli air mineral, rokok sama roti ini ya?" ujarku menunjuk roti selai strawberry.
"Monggo."
Ibu warung membungkus pesananku.
"Totalnya berapa?"
"Dua puluh ribu aja."
Aku merogoh saku kemeja. Kebetulan ada uang dua puluh ribuan. Langsung kuserahkan ke ibu warung itu.
"Oh iya, Bu, di sini ada kontrakan murah, tapi nyaman dan bersih nggak?"
"Ada. Tapi rasanya udah full, Mas."
"Okelah. Makasih ya, Bu."
Setelah dua jam muter-muter kota Yogyakarta, akhirnya satu menemukan tempat persinggahan yang tepat. Villa Raffi Izam. Salah satu sahabatku juga. Alamat pastinya nggak tau. Yang pasti jauh dari Yogyakarta. Bisa jadi di tempat ini aku menemukan kedamaian.
Tok … tok …
Raffi membuka pintu. Dia kaget melihatku. "Yoga, apa kabar? Kok nggak ngabarin aku dulu kalau mau ke sini?"
"Maaf, Bro dadakan ke sininya. Aku boleh nginep di sini nggak?"
Raffi terheran-terheran melihatku bawa koper besar. "Ada angin apa pengen nginep di sini?"
"Aku nggak dibolehin masuk dulu nih? Biar enak bicaranya?"
"Ya udah, yuk masuk."
Aku agak kerepotan bawa dua koper. Raffi membantu membawakan dua koperku masuk ke rumahnya. Aku membanting diri ke sofa begitu dipersilakan duduk.
"Nah, kamu cerita abis kabur dari siapa? Berantem sama bini?"
"Boro-boro berantem sama bini, baru ngerasain cinta sama cewek aja udah ditikung orang. Aku abis resign jadi manager Chef Agusta."
"Hah? Kok bisa?"
__ADS_1
Aku menceritakan apa yang terjadi antara aku dan Chef Agusta.
"Anjay, FTV banget kisahnya. Mungkin kalau kisahmu dibikin FTV maka judulnya Cintaku Ditikung Bos. Hahaha."
Aku ikut tertawa seraya melempar bantal ke arahnya. "Sialan."
"Menurutmu aku salah nggak sih resign dari orang yang baik banget sama aku gara-gara cinta?"
"Dalam cinta nggak ada yang salah sih." Raffi mulai mengeluarkan kalimat bijaknya. "Tapi alangkah baiknya kamu berpikir jernih, bukan saat emosi. Menghindari penyesalan."
Batinku jadi bertanya-tanya, apakah keputusanku terburu-buru berdasarkan emosi saja?
"Oi … malah bengong. Nggak usah dipikirin. Cinta emang bikin ribet hidup. Makanya sampai sekarang aku memilih single."
"Aku bingung aja, ke depannya harus ngapain? Tinggal di mana? Terus boleh nggak nih nginep di sini sementara waktu? Sampai gue dapat kerja baru deh."
"Eh, nggak usah ding. Takut ngerepotin kamu. Minimal sampai aku dapat kontrakan yang pas aja ding."Aku buru-buru meralat ucapan.
"Boleh dong. Apa sih yang nggak buat situ. Santai aja kali. Toh, dari dulu kita emang saling merepotkan."
Repleks aku memeluknya erat. Dia megap-megap susah napas. "Lepas … lepas … oi. Jijik. Entar ada yang liat dikiranya kita homo. Hiiii."
"Hahaha."
Akhirnya aku bisa tertawa lepas di tengah kalutnya drama cinta segi empat.
***
Aku istirahat di kamar tamu. Mataku menerawang langit-langit villa. Di sini memang nyaman. Namun, aku nggak mungkin selamanya di sini. Aku ambil HP untuk mencari lowongan kerja di grup-grup Facebook, Instagram, atau sosmed lainnya.
Eh, tergoda baca ratusan chat di WA.
Chat paling atas dari Chef Agusta. Biasalah dia menanyakan alasan aku resign, di mana posisiku dan sebagainya. Nggak lupa dia nelepon sampai puluhan kali.
Chat di bawahnya ada Kinta. Dia sama seperti Chef Agusta. Menanyakan posisiku. Aku malas membalas chat mereka. Lalu nomor mereka aku blokir.
Mendadak aku kebelet kencing. Aku mau ke WC, seketika aku melihat Raffi senyum-senyum sendiri sambil megang HP. Aku penasaran. Aku coba intip dari belakang. Sayangnya, ketahuan. Dia menjauhkan HP-nya dariku.
"Ngapain kamu senyum-senyum?"
"Bacain komen netijen di Lambe Turah seru. Hahaha. Oh iya, besok kamu sibuk nggak?"
"Nggak sih. Kenapa?"
"Besok temenin aku di sini ya. Soalnya ada tamu istimewa datang. Aku takut grogi kalau ngadepin sendirian."
"Siapa emangnya?"
"Besok juga kamu bakal tahu."
"Bro, aku lagi cari kerja baru nih. Punya temen yang lagi nyari loker nggak?"
__ADS_1
"Nah, pas banget. Siapa tau tamuku besok bisa memberimu kerjaan baru.
Aku semakin penasaran, siapa sih tamu istimewanya Raffi? Ya udahlah. Lihat besok, aku balik melanjutkan langkah ke WC.