
Aku bosan di rumah. Jam tujuh malam ke kafe aja. Kedatanganku disambut dengan tatapan aneh oleh karyawan.
"Loh, kok pian (kamu) ke sini? Kan harusnya duduk cantik di rumah buat persiapan nikah," tegur Siti.
"Persiapan nikah apaan coba. Wong nikahannya aja otw batal," celetukku santai. Lalu duduk di meja kasir seraya bertopang dagu dan cemberut.
Seluruh karyawan mendekat. "Hah? Otw batal? Maksudnya?" tanya Athiyah bertubi-tubi.
Aku ceritakan kronologis dari awal Chef Agus ketemu Adeena sampai cekcok di butik. Untung kafe ini lagi sepi pelanggan. Jadi curhatanku nggak bakal didengar orang lain.
"Huft, lagi-lagi problem gara-gara mantan. Emang mantan tuh kek jelangkung. Pergi sesuka hati, eh nongol lagi pas kita udah move on!" tutur Sita berapi-api.
Sita ini karyawan baru. Adeknya Siti. Tugasnya cuci piring.
"Ujian mau nikah tuh ada aja. Pian sabar. Paling penting obrolin baik-baik masalahnya," tutur Athitah bijak.
Tiba-tiba Zaini muncul di kafe. Dia melihatku terheran-heran.
"Loh, Kak Naura kok di sini?" ujarnya.
"Terus mesti di mana lagi?"
"Aku kira pergi sama Chef Agus. Soalnya dia tadi buru-buru banget abis ditelepon seseorang."
Athiyah menyikut pinggang suaminya. "Apaan sih ember banget. Naura makin ovt yang ada!" omel Athiyah.
Alis tipis sebelah kiriku terangkat. Batinku bertanya-tanya, ke mana Chef Agus pergi? Apa perginya sama Adeena? Nggak. Nggak. Aku menggelengkan kepala berusaha menepis segala pikiran buruk.
Ting!
Notifikasi pesan Whatsapp di ponselku berdenting. Aku membukanya. Ternyata nomor tidak dikenal. Dia mengirimkan sharelock. Ditambah pesannya …
085751888999
Kalau mau tau apa yang dilakukan Chef Agus, silakan datang ke tempat ini.
Ah, orang iseng! batinku. Namun, sisi hatiku yang lain justru penasaran akut. Naluriku meminta mengikuti ke tempat yang dia kirimkan.
Aku bangkit dari tempat duduk langsung menyambar kunci motor.
"Naura, mau ke mana?" tanya Athiyah bingung.
"Ada urusan penting. Biar nyawa (kamu) ajalah yang tutup kafe. Bye."
Dari kejauhan aku masih bisa mendengar Athiyah dan yang lainnya menggibah. Bahkan Siti curiga terjadi sesuatu nggak beres.
***
Perumahan Tepi Sawah Sei Paring Banjarbaru adalah perumahan yang baru banget dibangun. Masih hanya satu rumah yang sudah jadi. Lainnya baru pondasi-pondasi.
Aku cek lagi maps yang diberikan si nomor gelap. Agak merinding soalnya masih melewati lahan dan persawahan. Apa jangan-jangan jebakan?
Aku coba chat nomor tidak dikenal itu.
Aku
__ADS_1
Gue dah nyampe perumahan tepi sawah 2 nih.
085751888999
Lu liat satu-satunya di rumah yang selesai dibangun kan? Nah, lu langsung masuk aja. Lu akan menemukan fakta mengejutkan.
Agak ragu memang. Takut jebakan. Gimana kalau di dalam rumah itu penuh penculik? Namun, aku sudah telanjur ke sini. Pepatah mengatakan, sudah telanjur nyebur kelelep sekalian. Rasa penasaran membuatku memberanikan diri membuka pintu rumah itu.
"Mas Agus." Aku panggil namanya.
Aku berjalan memasuki rumah. Aku mengambil ponsel, menyalakan senternya. Kuedarkan cahaya senter ke semua sudut rumah ini.
Seketika pandanganku tertuju pada sesuatu yang sangat menyakitkan. Mas Agus tanpa pakaian sedangkan bercinta dengan wanita. Siapa lagi kalau bukan Adeena.
"Astagfirullah. Mas Agus."
Air mata ini mengalir begitu saja keluar dari pelupuk mata. Orang yang kupanggil menggeliat, mengerjap mata efek silau senter ponsel yang kupegang.
"Na … naura. Aku bisa jelasin. Ini nggak seperti yang kamu pikirin."
"Nggak ada yang perlu dijelasin lagi, Mas. Semua sudah terang benderang. Mulai detik ini kita putus!"
Aku lari meninggalkan rumah ini.
"Naura tunggu!"
Chef Agus mengejarku. Aku semakin lari. Setelah agak jauh dari rumah, aku sadar lagi oleng. Kalau dipaksakan naik motor, takut kenapa. Alhasil, aku menelepon Athiyah.
"Halo."
"Naura, pian kenapa?"
"Bisa jemput aku nggak?"
"Oke. Sharelock ya."
Aku jongkok menunggu Athiyah menjemputku.
***
Begitu Athiyah tiba, aku langsung menangis di pelukannya. Dia mengelus punggungku.
"Naura, pian kenapa? Dibegal? Terus ngapain ke tempat ini? Sini, cerita sama aku."
"Hiks."
Aku masih menangis. Athiyah menyodorkan tisu yang dia keluarkan dari saku gamisnya.
Aku lap air mata serta ingus terlebih dahulu. Lalu, dengan lancar aku menceritakan apa yang aku lihat barusan.
Mata Athiyah melotot. "Kurang ajar si Agus. Mana dia sekarang! Biar ulun aja yang nabok dia bolak balik."
"Udah. Kita pulang aja yuk. Aku aja udah males liat mukanya. Aku telepon ikam (kamu) karena takut oleng di jalan dalam kacau kayak gini."
"Ya udah pelan-pelan aja mengendarai motornya. Atau mau boceng aku aja? Motor pian biar ulun (saya) suruh ambil ke sini."
__ADS_1
"Makasih banget ya."
"Sama-sama."
Akhirnya aku pulang bocengan sama Athiyah.
***
"Naura nyawa (kamu) kenapa?" Mama kaget ketika melihatku pulang bersama Athiyah dalam kondisi mata lembab dan rambut acak-acakan.
"Hiks."
Aku hanya bisa menangis. Bingung menjelaskan dari mana. Aku nggak mau Mama ikut sakit hati. Pasalnya Chef Agus itu sudah jadi kesayangan Mama. Dia mengebet cowok itu jadi mantu.
Pandangan Mama beralih ke Athiyah.
"Cil (Tan), nanti ulun (saya) jelaskan. Sekarang biar ulun antar Naura ke kamar dulu."
"Baiklah."
Aku nggak tahu lagi harus bilang apa ke Athiyah. Dia suka aku bentak-bentak, ngeyel, tapi dia selalu ada untukku. Andai malam ini nggak ada Athiyah, aku nggak tahu jadinya bakal gimana.
***
Bangun tidur kembali menangis di pelukan guling. Masih terbayang adegan menjijikan Chef Agus. Kenapa harus melihat adegan itu?
Pernah sakit, tapi tak pernah sesakit ini.
Penggalan lirik lagu itu mewakili isi hatiku. Patah hati bukan hal baru buatku. Dulu tahun 2015 juga pernah sakit hati, nyatanya tidak sesakit ini serta cepat moveon.
Aku mengecek notifikasi Whatsapp. Ada satu chat dari Chef Agusta.
Chef Agusta.
Naura, aku jelasin semuanya. Apa yang kamu liat nggak sesuai realita. Aku akan tunggu sampai kamu mau mendengar penjelasanku.
Balas atau blokir ya? Mengetuk-ngetuk ponsel menimbang apa yang aku lakukan kepada chat Chef Agus ini.
Tiba-tiba Athiyah datang.
"Oiii … ayo jalan!"
Baru mau cerita soal chat Chef Agus. Eh, dia ternyata mengajakku jalan. Kuurungkan niat untuk cerita. Dia juga pasti nggak bakal mau mendengar apa pun tentang Chef Agus. Sudah telanjur marah dan kecewa.
"Ke mana?"
"Murjani. Mumpung Minggu car freeday. Banyak orang jualan di sana."
"Males ah."
"Tau kok lagi patah hati, tapi kalau pian nangis, ngurung diri di kamar sambil meluk guling sakitnya makin terasa." Athiyah menarik tanganku. "Pokoknya ayo mandi. Temenin aku ke Murjani."
"Iya. Aku temenin."
"Nah, gitu dong."
__ADS_1
Mau nggak mau aku terpaksa bangkit dari tempat tidur. Ambil handuk dulu baru ke kamar.