Chef Tampan Pemikat Hati

Chef Tampan Pemikat Hati
Chapter XXVII (Kinta Adriana Agatha)


__ADS_3

Selain menunggu, ada satu hal lagi yang aku benci; waktu begitu cepat bergulir saat merasakan di puncak kebahagiaan. Rasanya baru kemarin aku bertukar profesi dengan Mas Manis, kenyataannya besok sudah tanggal 30 April. Itu artinya kebersamaan dengan Mas Manis segera berakhir.  


Sungguh berat hati ini berpisah dengannya. Alasannya sederhana, hatiku sudah terlanjur jatuh di hatinya. Mendadak aku merasakan sesorang menyentuh pundakku. “Segitunya ngeliatin kalender. Emang lu lagi mikirin apa?” tanya orang itu.


Tanpa melihat pun aku sudah tahu, orang yang menyentuh pundakku tak lain dan tak bukan adalah Adeena. “Gue lagi keinget besok deadline lomba novel.”


“Bohong. Lu pasti lagi baper gara-gara besok hari terakhir pertukaran profesi sama Mas Manis, iya kan? Udah ngaku aja kalau lu berat berpisah dengannya.”


Sial. Beginilah kalau punya teman yang sudah bertahun-tahun saling mengenal. Aku tak pernah bisa berbohong pada Adeena. “Ya, gitu deh.”


“Kalau lu berat berpisah dengannya, lu harus membuat dia bertahan di sisi lu.”


Alis sebelah kananku terangkat. “Dengan cara apa?”


“Ya lu harus menjadikannya pacar atau bahkan calon suami.”


“Berarti gue harus menyatakan cinta ke dia dong?”


“Ya iyalah. Mas Manis lu itu kan seorang chef bukan magician mentalis yang bisa baca pikiran dan isi hati orang. Lagian lu juga nggak lagi main sinetron, yang dimana isi hati lu bisa kengeran banyak orang.”


Jleb!


Adeena kalau soal ceramah tentang cinta, selalu benar. “Tapi gue gengsi tauuu nyatain cinta duluan ke cowok.”


“Yakin masih mau melihara gengsi? Lu rela Mas Manis diambil cewek lain?”


Aku menggeleng cepat. “Nah, makanya itu buruan lu lakuin apa yang gue bilang!”


“Deen, seandainya gue nyatain cinta ke Mas Manis enaknya make cara apa biar terlihat elegant, romantis dan nggak murahan?”


“Itu tugas lu yang mikirin sendiri. Gue mau cabut ke percetakan dulu. Bye.”  


Dia jahat. Pergi meninggalkanku begitu saja di saat aku masih memerlukan saran darinya. Jika dipikir-pikir ada yang aneh dengan Adeena. Kenapa tiba-tiba dia begitu berambisi ingin aku jadian dengan Mas Manis? Ah, sudahlah. Daripada memikirkan Adeena, lebih baik aku memikirkan cara menyatakan cinta yang elegant, romantis dan terkenan tidak murahan.


Novel. Satu kata yang melintas di pikiranku. Awal bertemu dengan Mas Manis, aku sempat menulis novel tentang dia. Kebetulan novel itu sudah kucetak tapi belum dipromosikan. Aku akan menuliskan puisi kata hati di belakang novel tersebut. Ternyata menyatakan cinta ke cowok tak sesulit dan seribet yang kubayangkan.

__ADS_1


*** 


Hari perpisahan pertukaran profesi pun tiba. Aku memilih Desa Wisata Kalibiru sebagai tempat perpisahannya. Di desa ini merupakan wisata alam Yogyakarta yang lagi naik daun dan terkenal dengan pemandangan dari ketinggian yang indah. Mulai pemandangan waduk Serma hingga flying fox di atas bukit. Tak kalah cantik dengan tebing keraton di Bandung.


5 menu masakan yang terdiri dari sego liwet, gudeg, rawon, mie bancir, dan ipau besumap telah tersaji di atas meja makan. Masakan-masakan itu aku yang buat. Andai tak ada pertukaran profesi, aku tak mungkin belajar masak. Boro-boro belajar masak makanan, belajar masak air aja tak pernah. Intinya pertukaran profesi membawa berkah tersendiri bagiku. Sekaligus membawa cinta.


Mas Manis sibuk memerhatikan dan mencicipi 5 menu masakanku. Aku pun menghampirinya. “Gimana masakanku udah enak kan dibanding yang pertama kemarin?” tanyaku begitu ada di sebelahnya.


 “Lumayan lah. Setidaknya masakanmu kali ini nggak membuatku keracunanan dan muntaber. Hahaha.” Dia terbahak-bahak.


Sial. Pertama kalinya ada yang membullyku. Aku memanyunkan bibir 5 cm. Dia jahat. Kata-katanya menohok hati. Apa ini karma karena aku suka melontarkan kalimat pedas tiap mengkritik naskah orang?


“Yang penting aku sudah berhasil masak. Eh, Mas mulai besok kan kita kembali melakukan aktivitas masing-masing, kita akan sulit ketemu. Sebelum berpisah boleh nggak aku ingin nanya sesuatu sama kamu?” Aku mulai memancing pembicaraan ke arah serius.


"Nanya apa?"


"Langkah kamu ke depannya apa?"


"Paling pulang ke Kalsel. Mungkin, emang nggak diizinin Tuhan buka cabang di luar Kalsel. Semua porsinya sudah diatur. Lagi pula di Jawa sudah banyak tukang mi. Mi Ayam, Mi Rebus dan lain-lain." Terdengar jelas ada nada kesedihan ketika dia mengucapkan kalimat itu.


"Kok nyerah sih? Warung Mi Bancir Mas Agus itu memberi warna tersendiri loh di Kota Yogya. Masyarakat Yogya jadi tau Mi Bancir kuliner khas Kalsel."


Sekarang giliranku yang sedih. Itu artinya, Mas Agus akan pulang. Aku akan semakin susah bertemu dengannya.


Mas Agus melambaikan tangan di arah mataku. "Hey, kok begong? Raut wajahmu juga terlihat sedih?"


"Sedih aja abis ini pasti kita bakal makin susah ketemu."


"Ceilah, pake segala. Kamu tenang aja, aku bakal sering ke Yogya kok."


"Aku mau mengatakan sesuatu ke kamu, tapi ragu."


"Udah bilang aja. Jangan dipendam nanti jadi penyakit hati. Kamu mau mengatakan apa?”


“Bolehkah aku memintamu bertahan di sisiku?” Aku justru betanya balik padanya.

__ADS_1


Kerutan kening terlihat jelas di bola mataku. “Maksudnya?” Mas Manis gagal paham.


Aku mengeluarkan sebuah novel berjudul ‘Kamu adalah Cintaku’ dari tas selempang yang aku kenakan. Lalu aku berikan novel itu ke Mas Manis. “Jawaban atas pertanyaanku ada di novel ini. Baca sampai ending ya. Terutama di halaman terakhirnya.”


“Oke, makasih.”


“Aku pulang dulu ya. Sudah ditunggu Adeena soalnya.” Aku beralasan. Yang sebanarnya terjadi adalah semakin aku berada di dekatnya, semakin aku mencintainya. Gimana jika dia menolak cintaku? Yang ada aku kembali jatuh ke lubang patah hati. 


Secepat kilat aku menggelengkan kepala. Tak boleh negatif thinking. Sesuatu yang buruk lahir dari pikiran kita. Maka dari itu aku harus optimis caraku ini membawa Mas Manis bertahan di sisiku.


***


Pulang dari ketemu Mas Agus, aku langsung ke rumah Adeena untuk curhat. Kebetulan Adeena ada di teras.


"Abis dari mana lu?"


"Dari ketemu Mas Agus."


Matanya melebar. "Nembak dia ya? Terus gimana jawabannya? Diterima pasti kan?"


Aku malah mengeluarkan tangis pecah. "Huwaaaa. Hiks."


"Loh, kok malah mewek? Why?"


"Mas Agus abis ini mau balik ke Kalsel. Feeling gue pasti gue ditolak. Kalau pun diterima kami bakal LDR atau gue yang harus pindah ke Kalsel. Bisnis gue di sini gimana?"


"Hey, kok pesimis sih? Bukan Kinta Adriana Agatha banget. Lagi pula, ngapain khawatir sama bisnis sih? Kan ada gue. Gue siap bantu handel bisnis lu. Lu tinggal duduk manis jadi Nyonya Agusta Wimala dan menikmati keuntungannya."


Aku mengusap air mata. Rasa lega menjalar di hati. "Serius mau bantuin bisnis gue walau gue pindah ke Kalsel?"


"Iya, kapan sih gue nggak serius sama lu?"


Repleks aku memeluk Adeena erat. "Makasih banget ya. Lu emang sahabat gue yang paking baik dan bisa diandalkan."


"Masama. Tapi gaji gue double ya."

__ADS_1


"Beres. Gampanglah."


Sekarang nggak ada kekhawatiran lagi. Tinggal berdoa agar Mas Agus menerima cintaku.


__ADS_2