Chef Tampan Pemikat Hati

Chef Tampan Pemikat Hati
Babak III: Otw Menikah Chapter XXXI (Naura Khairunnisa)


__ADS_3

"Jadi gitu kisah cintamu sebelumnya? Ya ampun, FTV banget deh. Hahaha."


"Ya gitu deh."


"Terus kenapa kamu nggak nikah aja sama si Adeena?"


"Hmmm … cinta tak direstui. Mama saya maunya saya nikah sama binian asli Banjar. Tau sendiri Adeena asli Yogya," jawab Chef Agusta dengan wajah sendu.


Rasa bahagia menjalar di hatiku. Soalnya aku gadis Banjar asli. "Kalau misal mantanmu tiba-tiba muncul ngajak balikan gimana?"


"Ya nggak mungkin lah. Kalau pun iya, ya nggak akan mempengaruhi sama cinta saya ke kamu."


Pipiku memerah mendengar kalimat itu.


"Assamualaikum." 


Terdengar suara wanita. Sontak membuat kami berdua menoleh ke belakang. Ada dua wanita. Yang satu tinggi semampai, putih, rambut bergelombang sebahu. Satunya lagi rambut panjang luruh hitam, kulit cokelat, tapi manis senyumnya. Mas Agus kaget serta berbinar melihat wanita itu. 


"Adeena, Kinta kalian kok bisa ada di sini?"


"Ini si Kinta ngidam mi bancir Chef Agus. Makanya kami samperin ke warung aslinya."


"Mari duduk. Saya siapkan mi bancir special untuk kalian."


Oh, ini namanya Adeena. Ucapan adalah doa. Namun, tak menyangka doaku terkabul secepat ini.


Mas Agus ke dapur. Nggak lama kemudian kembali, mereka bertiga mengobrol dengan asyik. Bahkan aku saja nggak dikenalin ke mereka. Entah mengapa aku malah bete melihat pemandangan ini.


"Hmmm." Aku mendehem. Berharap Mas Agus peka aku kurang menyukai situasi ini. Ternyata dicuekin.


"Hmmm."


Sial, masih dicuekin. Aku berdiri dan langsung pulang tanpa pamit.


"Loh, Naura kamu mau ke mana?"


Giliran aku cuekin dia. Aku terus melangkah masuk ke mobil.


***


Tok … Tok … Tok


"Naura, kamu di dalam kamar kan?" tutur Mama di luar kamar.


"Iya, Ma. Masuk aja nggak dikunci kok."

__ADS_1


Mama membuka pintu. "Naura, ada Mas Agus tuh nyari kamu."


"Ma, aku minta tolong bilang aja ke dia aku nggak ada di rumah atau apa kek. Aku males nemuin dia."


"Nggak boleh gitu. Kenapa kamu nggak mau nemuin dia?"


Aku bangun dari rebahan. Lalu menceritakan kehadiran Adeena dan Kinta. 


Mama hanya tersenyum simpul. "Itu namanya cemburu, Sayang."


"Nggak cemburu aja sih, Ma. Aku juga mendadak insecure, Adeena yang nyaris sempurna aja nggak direstui sama mamanya, apalagi aku yang tak seberapa ini? Apa aku tolak aja ya lamarannya?"


"Ya jangan dong." Tiba-tiba Mas Agus muncul dari balik pintu kamarku. Dia mengalihkan pandangan ke mamaku. "Maaf, Bu, saya nyelonong masuk. Tadi disuruh Rafly, langsung ke kamar Naura aja."


"Hmmm … sepertinya kalian harus bicara dari hati ke hati. Saya tinggal ke belakang dulu."


Mama pun keluar dari kamarku.


"Naura, maafin aku tadi cuekin kamu. Kamu tenang aja, mamaku sudah meninggal jadi nggak bakal ada yang menghalangi cintaku ke kamu."


"Kan masih ada dua kakakmu lagi. Bukannya ini kesempatan bagus kalau kamu balikan sama Adeena lagi? Kan nggak ada yang menghalangi cinta kalian," ujarku dengan nada kesal. Aku masih cemberut.


"Naura, harus berapa kali aku bilang bahwa Adeena itu hanya masa lalu. Masa depanku itu kamu. Gini deh, kalau kamu nggak percaya besok kamu aku ajak ke kampungku ya. Aku kenalin sama seluruh keluargaku. Lagian jauh sebelum aku melamarmu, udah pernah bilang ke dua kakakku bahwa aku mencintaimu. Mereka nggak sabar mau ketemu kamu."


Aku jadi ragu. Mau nggak ya ke kampung Mas Agus. Takut merasakan sakit hati karena nggak direstui.


***


"Mas, kok banyak orang ya? Lagi ada acara? Aku nggak enak. Takut nggak pas situasinya."


"Itu ulah kedua kakakku. Dia bilang ke orang kampung bahwa kedatang selebriti chef."


Aku tersipu malu. Kami turun dari mobil. Disambut senyuman hangat. "Selamat datang di keluarga kami, Naura Khairunnisa."


Mas Agus memperkenalkan kedua kakaknya. Aku pun sungkem ke mereka.


"Yuk, masuk. Kakak sudah nyiapin masakan banyak buat kalian berdua."


Ketika memasuki rumah Mas Agus aku semakin terpesona. Interiornya keren banget. Benar-benar serasa di istana kerajaan Banjar. Jantungku semakin berdebar kencang. Ini bukan debaran cinta. Debaran rasa takut. Walau kakaknya sangat ramah di depan tadi, tetap saja rasa takut sulit dienyahkan.


"Naura, kok tegang banget sih? Santai aja, anggep keluarga kamu sendiri," ujar kakaknya nomor dua.


Aku menunduk malu. "Keliatan banget ya tegangnya?"


"Ya gitu deh. Wajar kok. Namanya juga di rumah calon kakak ipar. Oh iya, Agus sering cerita sama kamu loh."

__ADS_1


"Oh ya? Pasti cerita yang jelek-jeleknya ya?" Aku memelototi Mas Agus.


"Nggak kok. Justru sebaliknya. Katanya kamu itu cantik banget, bisa bikin dia jatuh cinta pandangan pertama, terus sebulan lalu dia cerita seneng banget ketemu kamu lagi dan dia bilang masakanmu enak."


Aku semakin menunduk malu. Padahal Mas Agus bisa aja bilang hal-hal jelek tentangku. Ternyata dia tak melakukan itu. Aku bersyukur aibku masih ditutup Allah di keluarganya.


Obrolan kami semakin seru. Kedua kakaknya asyik banget. Muncul rasa hangat menjalar ke hatiku. Dari sini aku yakin bahwa Mas Agus jodohku.


***


Seluruh keluarga telah merestui pernikahanku sama Mas Agus. Tanggal pernikahan telah ditetapkan, bulan depan. Tepat tanggal cantik 2-2-2022. 


Aku buka Instagram siapa tau menemukan gaun pengantin yang bagus. Pas banget, di beranda paling atas muncul foto resepsi Ria Ricis dengan Teuku Ryan. Aku terpesona dengan gaun pengantinnya yang mewah bak princess, tapi tetap sopan dan berhijab pula. Muncul keinginan mengenakan gaun serupa di hari pernikahanku.


Aku screenshoot foto Ria Ricis tersebut. Lalu aku kirim ke WA Ariny, teman kuliahku dulu. Dia kini punya Arsha Butik.


Hello, apa kabar? Di butikmu ada gaun kayak gini nggak?


Dia malah menelponku. 


"Hallo, hei Naura. Kabarku baik. Lama tak bersua. Tau-tau menanyakan gaun pengantin. Awak mau menikah?"


"Insya Allah. Gaunnya ada nggak kayak di foto aku kirim?"


"Ada. Mau dipake buat kapan?"


"Besok aku ke butikmu aja. Bisa nggak?"


"Bisa banget."


"Oke, aku tunggu ya."


Klik. Sambungan telepon terputus. Aku beralih menelepon Mas Agus.


"Hallo, Sayang. Ada apa? Kangen ya?"


"Besok kita fitting baju yuk di butik temenku."


"Harus besok banget? Yah, aku berangkat ke Lombok buat juriin lomba masa terbesar spesial hari jadi Lombok. Gimana kalau kamu fitting bajunya sama Athiyah dulu aja?"


Berkecamuk rasa kecewa di hati. "Ya udah deh."


"Kamu nggak marah, kan?"


"Nggak kok. Santai aja." Aku berbohong karena malas bertengkar. Telepon kumatikan. Lalu beralih WA Athiyah.

__ADS_1


Athiyah, isuk kawani unda ke Butik Arsha.


__ADS_2