
Aku kembali menyusuri jalanan Martapura sampai Banjarbaru untuk mencari kerja. Di tengah perjalanan, bola mataku menangkap sosok yang kukenal memasuki kafe sudah satu tahun lebih terbengkalai.
"Itukan Rafly. Jadi di sini persembunyiannya."
Aku langsung menghentikan laju motor. Lalu mengendap-endap memasuki kafe terbengkalai ini. Ketika di dalam, betapa terkejutnya aku ada Mama dan abahnya Naura juga. Ngapain mereka?
Karena penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, aku bersembunyi di balik tembok untuk menguping.
"Semoga rencana kita berhasil."
Aku memberanikan diri muncul di hadapan mereka. "Rencana apa?" tanyaku heran.
Mama Naura mendekatiku. Lalu beliau menjelaskan semuanya. Seketika hatiku langsung plong. Ternyata apa yang dilakukan Rafly adalah skenario orang tua Naura agar Naura menjadi lebih baik.
...*** ...
Di saat seru-serunya ngeprank Naura, tiba-tiba mamaku menelepon. Memintaku cepat pulang.
"Maaf, ulun (aku) harus bulik bedahulu. Tadi Mama nelepon suruh cepat bulik (pulang)."
"Loh, ada apa?" Mamanya Naura terlihat khawatir.
"Kada tahu jua pang nah." (Nggak tau juga sih)
"Kalau ada apa-apa langsung habari lah."
Aku keluar dari tempat ini dan melajukan motor. Sengaja agak mengebut biar cepat sampai. Soalnya penasaran kenapa Mama menyuruh cepat pulang? Khawatir terjadi sesuatu buruk di rumah.
Ketika sudah di rumah, aku kaget banyak orang di ruang tamu.
Mama keluar berdiri di depan pintu. "Akhirnya ikam bulik jua (kamu pulang juga). Keluarga Zaini udah lama nunggu."
"Mereka beapa ke sini?"
"Kok beapa (ngapain)? Ya, melamar ikam (kamu) lah."
Deg!
Mimpi apa semalam jadi hari ini dilamar. Jantung ini semakin berdegup kencang. Rasa bahagia, takut, haru, khawatir menjadi satu. Inikah rasanya dilamar?
Pelan-pelan memasuki rumah.
"Nah, berhubung Ananda Nurul Athiyahnya sudah datang, saya selaku ayahnya Zaini ingin mengutarakan niat baik." Pandangan bapaknya tertuju ke arah Zaini. "Zaini, biar ikam aja yang langsung menyampaikan niat baik ini."
Zaini berdiri dan berjalan ke arahku. Dia berlutut sambil mengeluarkan kotak cincin. "Nurul Athiyah, maukah ikam (kamu) menikah denganku?"
Dia membuka kotak cincin. Ternyata ada dua. Satu emas. Satunya lagi perak. "Jika ikam menerima lamaranku pakai yang cincin emas, tapi jika ditolak pakai cincin perak."
__ADS_1
Aku serasa sesak napas mendengar kalimat itu. Kalimat paling indah sepanjang hidup.
"Sebuah kehormatan sekaligus kebahagiaan anak saya dilamar oleh Zaini, pria baik dan salih. Namun, keputusan tetap di tangan anak kami, Athiyah," jawab abahku.
Orang tuaku menatapku dengan harap-harap cemas menanti jawabanku. Jantungku semakin berdebar-debar. Tanpa terasa tangan ikut gemetar. Aku tarik napas dalam, lalu hembuskan perlahan.
"Bismillahirrahmanirrahim, insya Allah saya menerima lamaran Kak Zaini."
"Alhamdulillah."
Seluruh keluarga semringah bahagia menerima keputusanku.
***
Selepas kepulangan seluruh keluarga Zaini, Naura muncul di teras.
"Ada apa tadi rame-rame di rumah kamu? Terus pake pulang duluan tadi? Aku khawatir tau."
Aku memeluk Naura erat. "Naura, aku dilamar Zaini. Sumpah, nggak nyangka secepat ini."
"Cieee … yang seapa (bentar) lagi kawin."
"Ayo ikam nyusul kawin jua lawan Chef Agus. Kalian cocok loh. Kalau bersatu, kada terbayang sedahsyat apa bisnis kuliner kalian. Fix, aku kawal kalian sampai halal, jar netijen."
Naura senyum-senyum. "Ih, apaan sih. Ikam (kamu) duluan aja. Aku ikhlas."
***
Sembari menunggu Naura keluar, aku jalan-jalan melihat koleksi baju-baju di butik ini. Siapa tahu ada yang cocok untuk kupakai resepsi pernikahan dengan Zaini.
Setelah capek muter-muter, tiba-tiba …
"Gimana? Cantik nggak?"
Aku membalikkan badan. Seketika mataku nggak berkedip. Kupandangi dari atas ke bawah untuk memastikan Naura atau bukan.
"Masya Allah cantik bener bidadari di depanku ini. Ikam tu Naura kan?"
"Bukan. Ria Ricis."
"Ternyata bener kata Siti, Ikam abis dilamar Chef Agus. Tapi kok kada bari tahu aku?"
"Biar kejutan. Gimana cocok nggak aku make gaun ini?"
"Cocok banget. Yakin mau berhijab?"
"Insya Allah. Aku ngerasa malu sama Allah. DIA udah baik banget masih nutup aib-aib yang kulakukan ke Mas Agus, masa untuk menjalankan perintahnya menutup aurat aja aku enggan?"
__ADS_1
"Masya Allah. Akhirnya Naura dapat hidayah."
"Doain aja istiqamah hijrah ke jalan-NYA."
Jalan menemukan hidayah seseorang itu beda-beda. Naura salah satu orang yang hijrah menemukan hidayah lewat cinta. Aku berharap dia istiqamah sampai kapan pun.
***
Bayangan di cermin memantulkan wajah cantik jelita dengan mengenakan kebaya pengantin adat Banjar. Aku sendiri pangling, aku bisa secantik ini. Ya, hati ini merupakan hari pernikahanku dengan Zaini.
Tiba-tiba Naura masuk ke kamar.
"Ya ampun, bungasnya (cantiknya) pengantin baru nih."
Aku tersipu malu dipuji Naura. "Bisa aja, pian (kamu) nih. Ulun sebungas (aku secantik) ini berkat saran makeup pengantin dari pian. Bay the way, pian wahayapa (kamu kapan) nyusul ijab qobul?"
Naura menautkan jari telunjuk do dahunya. Nampak keras lagi berpikir. "Hmmm ... kapan ya? Kapan-kapan deh. Hahaha."
"Nggak boleh gitu. Kan udah dilamar. Nggak sengaja dilama-lamain ijab qobulnya."
"Udah ada tanggalnya kok. Cuma masih dirahasiakan dulu biar kejutan."
"Dih, suka banget sih main rahasia-rahasiaan."
"Oiii ... rombongan Zaini lawan penghulu sudah datang. Lajui keluar," kata Mama yang di depan pintu kamar.
Berhubung kebayanya super ketat, aku kesulitan berdiri. Untung ada Naura yang mebantu. Dia pula yang mendampingiku sampai di ruangan ijab qobul.
Sebelum ijab qobul, penghulu memberikan ceramah singkat perihal pernikahan. Penghulu juga menanyakan kepada kami apakah kami siap mengarungi bahtera rumah tangga dalam kondisi apa pun? Dengan mantap kami menjawab, 'ya, siap.'
"Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan engkau Zaini bin Syafullah dengan Nurul Athiyah binti Zainuddin dengan mas kawin lima gram emas dan uang tunai sebesar dua puluh lima juta rupiah serta seperangkat alat salat dibayar tunai."
Deg!
Aku deg-degan. Takut Zaini salah menyebut namaku atau nama abahku.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nurul Athiyah binti Zainuddin dengan mas kawin lima gram emas dan uang tunai sebesar dua puluh lima juta rupiah serta seperangkat alat salat dibayar tunai."
"Gimana saksi? Sah?"
"SAH," ujar serentak para saksi.
Alhamdulillah, semua lancar. Usai ijab qobul, kami digiring ke pelaminan. Namun, sebelum duduk kami diminta MC untuk melempar biket bunga pengantin terlebih dahulu.
"Siap ya. 1 ... 2 ... ti ..."
Dalam hitungan ketiga, aku melempar buket bunga pengantin. Dan ternyata yang menerima bunga tersebut Naura dan Chef Agus.
__ADS_1
Sejak ulang tahun Naura, ia semakin dekat dengan Chef Agus. Aku berdoa semoga mereka berjodoh. Jika mereka benar berjodoh, mereka akan jadi pengusaha kuliner nggak tertandingi.
Betapa bahagianya aku hari ini. Aku berharap, kebahagiaanku merupakan awal kebahagiaan untuk Naura juga.