
Hari kedua Chef belajar menulis novel
Tips mencari ide sudah aku bahas kemarin. Hari ini aku akan mengajarkan pelajaran ketiga sama Mas Manis. Langkah selanjutnya menulis novel adalah penulis harus membuat outline. Outline itu kerangka cerita. Setiap manusia pastilah menyusun daftar apa aja yang dilakukan di kemudian hari agar hidup terarah. Begitu juga penulis harus membuat outline agar cerita terarah. Jadi cerita di novel tak muter-muter kayak sinetron. Outline itu gak sama dengan sinopsis. Jika sinopsis jalan cerita yang ditulis secara singkat, outline justru ditulis secara detail perbab.
Selain itu outline yang kamu buat harus ada opening/perkenalan, konflik, klimak naik, ******* turun, penyelesaian masalah, dan ending. Biasanya opening/perkenalan itu di bab 1-2, konflik di bab 3-4, ******* naik di bab 5-6, ******* turun 7-8, penyelesaian masalah di bab 9-10, ending bab 11.
“Kamu punya contohnya nggak outline yang baik dan benar?” tanya Mas Manis.
“Ada. Tunggu.”
Tangan kananku menggerakkan kursor untuk membuka file ‘outline’
Bab 1
Anak perempuan (nama dan karakter fisik terserah kamu) dia tomboy dan suka banget nonton dvd detektif conan dan baca novel detektif. Muncul keinginan bikin grup detektif. Untuk membangun tim detektif, dia mengajak 2 temannya.
Bab 2
Tim detektif resmi berdiri, lalu mereka ke sana kesini untuk mencari kasus.
Bertemulah dengan seorang polisi yang menyelidiki kasus pencurian. Si anak tomboy berserta dua temannya menawarkan diri membantu polisi mencari tau pelaku pencurian. Awalnya polisi ragu bekerja sama dengan anak kecil, tapi bujukan anak perempuan tomboy polisi itu luluh juga.
Bab 3
Menginterogasi si korban pencurian, mencari petunjuk di TKP dan menganalisa pelakunya.
Bab 4
Menginterogasi calon tersangka.
Bab 5-6 (ending terserah kamu aja)
“Gimana udah mudeng lum?”
__ADS_1
“Udah.”
“Nah, sekarang aku kasih kamu tugas bikin outline terdiri dari 7 bab dalam, waktu 10 menit.”
Mata Mas Manis melotot. “Whats? Aku kan masih unyu mana bisa bikin outline terdiri dari 7 bab dalam, waktu 10 menit.”
“Dicoba dulu. Orang yang ingin sukses, pantang mengucapkan kata nggak bisa diawal.”
“Iya deh. Cewek selalu bener.”
Sembari menunggu Mas Manis menyelesaikan tugas bikin outline, aku mengisi waktu main HP. Sekadar liat beranda instagram, facebook, line, balas BBM dan whatsapp. Sekilas aku melirik ke arah cowok di sampingku ini. Terlihat jelas ekspresi manyun. Ini kesempatan emas buat mengabadikan ekspresi Mas Manis yang tak biasa.
Begitu foto tersimpan, aku segera mengunggah foto tersebut di instagram dengan caption, ‘Sudah 2 hari chef @agustawimala belajar nulis novel. Ini dia eksperinya ketika tak kasih tugas bikin outline. Ada lucu-lucunya gitu kan guys? Hahaha.’
Detik demi detik terus bergulir. Aku melirik ke arah jam dinding yang menempel di sudut ruang tamu Mas Manis. Jarum jamnya menunjukkan pukul 11.10 WIB. “Udah sepuluh menit nih, gimana tugas outline-nya sudah selesai?”
“Udah.”
Sekarang giliran mataku yang melotot begitu melihat hasil outline yang ditulis Mas Manis. “Apa-apaan coba konfliknya tokoh utama cewek dibikin amnesia? Tokoh dibikin amnesia itu sudah BASI. Sudah ada sejak tahun 2002. Kamu ingat drama Meteor Garden II? Si Tou Ming See-nya dibikin amnesia. Sinetron Indonesia juga kebanyakan pasti tokoh utama amnesia. Aku aja saat baca novel, tokohnya ada yang amnesia langsung berhenti baca. Sudah bisa ditebak endingnya, ingatan tokoh itu pulih kalau kepalanya digetok. Aku sih lebih kalau tokoh novelmu dibikin cinta segiempat.”
“Kayaknya pelajaran cukup sampai di sini deh. Tapi sebelum aku pulang, kamu tak kasih PR dulu. Nah, berhubung kamu sudah bisa bikin outline, PR-nya adalah kamu tulis bab 1 seperti yang di outline berkisar antara 5-10 halaman. Di bab 1, kamu harus menonjolkan karakter tokoh yang kuat.”
“Menghasilkan karakter tokoh yang kuat itu gimana sih?”
“Gini loh, Say. Tuhan itu kan menciptakan manusia memiliki 3 komponen karakter. Di antaranya : Karakter fisik, karakter sifat, dan karakter kebiasaan unik. Jadi kalau kamu pengen karakter tokohmu kuat ya masukin aja 3 komponen karakter itu.”
Mas Manis manggut-manggut. Ntah karena sudah mengerti atau mengantuk. “Ada yang mau ditanyain nggak, Mas?”
Hening. Sama sekali tak ada satu patah kata pun keluar dari mulut Mas Manis. “Oke. Aku anggap kamu sudah mengerti. Aku pulang dulu ya. Besok aku dateng lagi ke sini buat ngoreksi PR-mu. Kalau nggak ngerjain PR, aku getok kepalamu sampai amnesia.”
***
Hari ketiga Chef belajar menulis novel.
__ADS_1
Aku mengernyitkan dahi sambil memijit pelipis. PR bab 1 yang dikerjakan Mas Manis benar-benar di luar dugaanku. Story telling kayak tulisan anak SD, over serangan ‘ku atau aku’, dan ditambah belepotan dalam meletakkan tanda baca. Ingin sekali aku menyemprotnya habis-habisan seperti aku lakukan ke penulis Arsha Teen tapi ntah kenapa hatiku tak tega. Mungkin karena cinta. Cinta memang selalu ingin membuatku membahagiakannya bukan mematahkan semangatnya.
“Kalau hasil garapanku jelek bilang aja. Aku udah terbiasa dikritik kok. Sepedes-pedesnya komentarmu tetap lebih pedes omongan Chef Juna.”
“Tulisanmu lumayan kok. Hanya saja over serangan ‘ku atau aku’, dan ditambah belepotan dalam meletakkan tanda baca. Terus ini lagi kenapa coba karakter Agatha dibikin egois, keras kepala, suka ngomel, parnoan, curigaan sama orang dan suka mabok naik mobil?”
“Aku menuliskan apa-adanya kok. Kenyataannya kamu memang seperti itu kan?” Dia justru malah bertanya balik sambil memamerkan tampang tak berdosa.
“Sotoy. Kita itu baru kenal 6 bulanan, jadi kamu belum tahu apa-apa soal aku,” ketusku.
Dia mengeluarkan smartphone dari saku kemeja sasirangannya. “Hey, udah aku bilang kalau lagi belajar nulis novel jangan main HP.”
“Aku nggak main HP. Aku Cuma pengen nunjukin sesuatu ke kamu.” Tak berapa lama Mas Manis mengacungkan smartphone-nya kepadaku. “Nih, coba kamu lihat sendiri. Ini bukti bahwa apa yang aku tulis sesuai kenyataan.”
Mataku melebar, di layar smartphone Mas Manis penuh screenshot status-statusku di facebook. Status pertama waktu aku mengomel gara-gara dikibulin sahabat. Status kedua saat aku curiga ke tetangga mengambil paketku. Status ketiga ketika pergi ke Jakarta. Oh, Tuhan. Betapa malunya aku di depan Mas Manis. Jika seperti ini aku sudah tak bisa lagi menutupi sifat jelekku ke dia.
Aku melotot ke arahnya. “Jadi kamu diem-diem stalker FB-ku?”
“Kan kamu sendiri yang bilang, kalau nulis novel itu jangan setengah-setengah. Aku bela-belain stalker FB-mu demi karakter novelku kuat.”
“Tapi kalau dipikir-pikir lebih baik karakter novelmu jangan dibeberin semua di bab awal. Simpan buat di tengah dan ending.”
“Oh, gitu ya? Okelah ntar aku revisi.”
“Eh, Mas, mulai besok sampai tanggal 14 nggak dateng ke rumahmu dulu ya. Aku nggak enak sama tetanggamu. Tadi pagi mereka menatapku sinis sambil bisik-bisik. Mereka pasti mikirnya aku cewek yang nggak bener karena tiap hari dateng ke rumah cowok.”
“Iya juga ya? Aku kok nggak mikir efek buruknya? Terus gimana dong caraku belajar nulis novel kalau kamu nggak ke rumahku?”
“Mulai besok kamu kerjakan bab 2 sampai ending aja. Kalau ada yang mau ditanyain, bisa lewat chat atau video call. Gampang kan?”
Tak lupa aku mengeluarkan dua buku dari tas selempang yang bertengger di pundak. Buku pertama itu buku 1 Bulan 1 Novel? Siapa Takut! – buku panduan menulis karyaku. Sedangkan buku kedua 101 Dosa Penulis Pemula karya Isa Alamsyah. “Dua buku ini bisa membuatmu makin nulis novelnya sekaligus bisa membuat tulisanmu makin cakep bin mulus.”
“Udah jam dua siang nih, aku pulang dulu ya. Inget PR-nya dikerjakan. Kalau sampe novelmu nggak kelar, aku akan bilang ke seluruh wartawan bahwa kamu pemalas-rapuh-payah.”
__ADS_1
Berat memang dalam beberapa hari aku harus menahan diri untuk bertemu dengan orang kucintai namun apa boleh buat daripada nanti terjadi fitnah? Apalagi nanti muncul gosip yang tidak-tidak. Ah, aku belum siap masuk infotainment.