Chef Tampan Pemikat Hati

Chef Tampan Pemikat Hati
Chapter XXXVI (Agusta Wimala)


__ADS_3

Saya heran kenapa Adeena bisa sampai di tempat ini, gudang kosong terbengkalai sekitar Landasan Ulin. Saya celingak-celinguk memastikan ada orang atau tidak. Pelan-pelan saya memasuki gudang dengan mengarahkan senter ponsel yang saya pegang.


Seorang wanita menutupi matanya denga  mata efek silau cahaya senter. Wanita itu tak lain dan tak bukan adalah Adeena.


"Astagfirullah, Adeena. Kamu kenapa bisa seperti ini?" ujar saya kaget melihat kondisi Adeena yang tangan serta kakinya sudah dilakban, dirantai samping lemari pula. Ditambah wajahnya penuh lebam. Ada bekas darah di sudut bibirnya.


"Panjang ceritanya. Lepasin aku dulu. Buruan ntar keburu Nichol datang!"


Saya celingak-celingung mencari sesuatu yang bisa membuat rantai terlepas. Seketika ingat di baju Chef saya kenakan ada jarum pentul. Saya usaha sekeras mungkin membuka rantainya. Ya. Berhasil. Adeena langsung memeluk saya. Kami pun keluar dari tempat ini. 


***


Di mobil.


Sepertinya sudah agak jauh. Belum ada tanda-tanda kami diikuti atau tidak. Saya sedikit bernapas lega.


"Nah, sekarang kamu cerita kenapa bisa sampai di tempat itu?"


"Tadi saya coba bicara dengan kedua belah pihak keluarga lewat video call. Tapi Nichol manis banget di depan mereka. Setiap saya mau bicara, selalu disela Nichole. Setelah selesai video call, kami berantem hebat. Nichol memukuliku sampai aku dibawa ke tempat tadi. Bahkan aku dimasukkan ke bagasi."


Jujur, saya merasa bersalah telah menyarankan hal demikian kepada Adeena. Bukan semakin baik, justru tambah parah. 


"Apa yang harus aku lakukan agar membuat hidupmu bahagia dan terlepas dari Nichol?"


Adeena mengangkat bahu. "Entahlah. Mungkin takdirku harus berakhir di tangan Nichol."


"Oh iya, kamu mau saya antar ke mana?"


"Perumahan tepi sawah 2, Sungai Paring Banjarbaru aja."


"Rumah saudara ya?"


"Aku kan kerja di property perumahan sekarang. Nah, bosku bangun perumahan di Banjarbaru ini. Makanya kan aku bisa ketemu sama kamu. Takdir emang nggak ke mana ya."


Entah takdir baik atau buruk sehingga dipertemukan lagi dengannya.


***


Tinnnn!


Saya membunyikan klakson mobil ketika tiba di depan rumah Adeena. Tergopoh-gopoh Bi Desi – ART Adeena membukakan pintu pagar. Usai mobil masuk halaman, saya turun menggendongnya.


“Loh, Non Adeena kenapa?”

__ADS_1


“Panjang ceritanya, Bi. Sekarang tolong tutup pintu mobil saya ya.”


Saya mengelonyor masuk ke rumah Adeena. Di ruang tamu ada sofa panjang. Saya letakkan tubuh Adeena di sofa tersebut. Nggak lama kemudian Bi Desi masuk.


“Loh, kok nggak sekalian diantar ke kamar aja?”


“Saya takut ke kamar cewek. Takutnya ada setan lewat menggoda iman saya, lalu terjadi hal tidak diinginkan,” jawab saya disertai senyum.


“Den, gimana ceritanya sih Non Adeena bisa pingsan?”


“Gara-gara saya menyarankan Adeena putus baik-baik lewat ngobrol kedua belah pihak keluarga, pacarnya Adeena ngamuk dan menculik Adeena. Bibi ke mana aja sih nggak nolong Adeena.”


“Oh, gitu ceritanya.” Bibi tertunduk. "Maaf. Tadi Bibi cari martabak disuruh Den Nichol buat makan malam. Eh, pas pulang Non Adeena udah nggak ada. Saya pikir mereka jalan-jalan."


“Berhubung Adeena sudah aman ada di rumah ini, saya mau permisi pulang dulu. Sudah ditunggu calon istri saya.”


“Baik, Mas. Makasih ya sudah menolong Non Adeena.”


“Sama-sama, Bi. Sebagai manusia kan harus tolong menolong. Apalagi Adeena wanita yang pernah saya cintai.”


Ketika saya beranjak pergi, tangan saya dipegang seseorang. “Mas, please jangan pergi. Aku takut Nichol datang ke sini nyakitin aku,” ujar Adeena dengan tatapan memelas bak anak kecil takut ditinggal orang tuanya.


Kalau sudah begini saya jadi tidak enak pergi. Khawatir Adeena ada apa-apa juga. Adeena tiba-tiba mendekat. Sialnya, dia malah semakin mendekatkan wajah kayak di film-film adegan siap ciuman. Jantung saya tidak aman. Terus berdebar kencang disertai keringat dingin.


Saya berusaha menghindari dengan bangkit dari tempat duduk.


"Ambil minum. Haus banget nih."


Tiba-tiba Bibi datang membawa dua gelas. "Mas, nggak usah ke dapur. Nih, udah Bibi siapin teh anget. Monggo." Bibi meletakkan dua gelas itu di meja tamu.


Saya gelapan meminum teh anget. Tak tahu kenapa mata saya jadi berat banget. Dalam sekajap semua gelap.


***


Saya terbangun kaget mendapati diri tanpa baju. Mana gelap. Ditambah ada Adeena tertidur di dada saya. Sebenarnya apa yang terjadi? Mungkinkah …


Tiba-tiba ada cahaya menyinari mata saya. Saya menggeliat berusaha menoleh ke belakang. Sudah ada Naura. Kenapa dia bisa ada di sini?


"Astagfirullah, Mas Agus."


Dia menangis dan lari dari rumah ini. Saya coba kejar dia, tapi percuma. Dia justru semakin kencang berlari. Dia tipe perempuan kalau lagi kesal dibiarkan terlebih dahulu. Setelah tenang, baru diajak mengobrol baik-baik.


Ketika membalikkan badan, ada Adeena dengan piyama kimononya.

__ADS_1


"Duh, maaf banget ya gara-gara aku calon istrimu harus melihat apa yang kita lakukan."


"Emang kita ngelakuin apa? Seingat saya abis minum teh, saya langsung ambruk. Nggak inget apa lagi-lagi." 


Saya kembali masuk ke rumah Adeena. Lalu, langsung mengenakan baju dan pulang.


***


Semalaman saya tidak bisa tidur. Memikirkan hubungan antara Naura dan Adeena. Saya merasakan kejanggalan, tapi tidak tahu bagian yang janggal di mana.


Saya cek ponsel, pesan yang saya kirimkan ke Naura hanya dua centang biru yang artinya dia masih marah ke saya.


Akhirnya saya buka laptop. Hal pertama, saya cek facebook dulu. Postingan pertama yang muncul di beranda adalah foto Yoga Pratama yang lagi liburan bersama Kinta.


Saya jadi rindu sama dia. Dia apa kabar? Terakhir saya dengar, setelah dia resign jadi manager saya, dia keterima kerja di Samarinda. Abis itu tidak ada komunikasi lagi. Saya ambil ponsel, mencoba menelepon Yoga.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Apa kabar, Yog?"


"Alhamdulillah baik. Mas Agus ada apa? Tumben nelepon?"


"Tadi liat postinganmu di Facebook. Mendadak kangen aja."


"Oalah. Mas Agus sendiri apa kabar? Katanya mau nikah ya. Wah, selamat."


"Entahlah. Saya sendiri tidak tahu hubungan ini akan lanjut ke pelaminan atau tidak."


"Loh, kenapa?"


Saya akhirnya menceritakan apa yang terjadi. Dari kemunculan Adeena sampai hal tadi malam.


"Hmmm … kalau berkaitan dengan Adeena, sebaiknya Mas Agus jangan terlalu percaya dia."


"Emang dia kenapa?"


"Dulu tak kira dia ngebet memisahkan Mas Agus sama Kinta karena cemburu. Ternyata ada hal lain. Dia suka mepetin lelaki kaya biar dia ikut kaya dan bayarin utang-utangnya. Sejak dia resign dari percetakan Kinta, dia luntang lantung."


"Masa sih dia kayak gitu?" tanya saya sedikit tidak percaya.


"Iya. Aku dulu pas mau nikah sama dia sempat diganggu. Persis kayak yang Mas Agus alami."


"Oh gitu. Makasih infonya. Udah dulu ya. Saya mau mandi."

__ADS_1


Sambungan telepon terputus.


Sedikit muncul pencerahan siapa yang harus saya perjuangkan. Namun, bagaimana cara agar Naura tahu hal ini serta tidak marah lagi dengan saya?


__ADS_2