Chef Tampan Pemikat Hati

Chef Tampan Pemikat Hati
Chapter XXIX (Yoga Pratama)


__ADS_3

Kenapa Chef Agusta Wimala bisa tahu soal perasaanku? Terus ngapain coba dia besok pagi mengajakku ketemuan di Lesehan Cipto Roso? Dua pertanyaan yang terus bercokol di pikir. Hanya ada dua orang yang tahu tentang perasaanku ke Agatha: Adeena dan Rafi Izam. Di antara mereka berdua siapa coba paling memungkinkan membocorkan ke Chef Agusta?


Adeena? Rasanya tak mungkin. Apa coba motifnya membocorkan rahasiaku ke Chef Agusta? Rafi Izam yang lebih memungkinkan melakukan hal itu.


Rafi Izam adalah sohibku sejak kecil. Kami selalu bersama-sama sejak SD-SMA. Dia memiliki sifat ceroboh, ceplas ceplos dan mulut ember. Dia jugalah yang menyeretku tinggal di rumah susun kumuh, kotor, dan pengap. Tapi setidaknya berkat dia aku tak tidur di emperan toko. Uangku sudah ludes buat bangun rumah Joglo. Gaji bulan ini belum turun gara-gara aku libur.  


“Wajah lo serius banget, abis baca email dari siapa?” tanya seseorang berkulit hitam, penampilan dekil, dan rambut acak-acak. Baru juga diomongin Rafi Izam sudah nongol di sebelahku.


“Dari mantan artisku. Dia ngajakin gue ketemuan besok pagi. Males banget deh.”


“Mantan artis lo? Chef Agusta?”


Aku mengangguk pasti. “Gue mau nanya sama lo, apa lo yang udah bocorin rahasia gue ke Chef Agusta?”


“Kalau iya, kenapa? Masalah buat lo?” 


Aku mendorong tubuhnya dengan kasar. “Dasar pengkhianat. Kalau lo gak mau gue tinggal di sini bilang, jangan main bocorin rahasia gue.”


Rafi bangkit dari tempat duduk. Matanya melotot dan dia balik mendorong tubuhku dengan kasar. “Eh, denger ya, gue ngelakuin itu karena gue sayang sama lo. Gue nggak mau sohib gue sejak kecil jadi pengecut. Hanya orang pengecut lari masalah. Asal lo tahu artis lo itu kebingungan setengah mati nyariin lo. Siapa tau aja dia besok ngajakin lo ketemuan karena meluruskan kesalahpahaman.”


Alisku terangkat sebelah. Sulit mencerna kata-kata terakhir diucapkan Rafi. “Kesalahpahaman apa coba?”


“Makanya besok lo dateng ke tempat yang dikasih tau artis lo itu. Biar lo tahu dimana letak kesalahpahaman di antara kalian.”

__ADS_1


Atas bujukan Rafi, akhirnya hatiku luluh. Okelah, besok aku mau datang ke Lesehan Cipto Roso jam sembilan pagi.


*** 


Ketika tiba di Lesehan Cipto Roso, bola mataku menangkap sosok Chef Agusta. Dia tak sendiri, bersama Agatha dan Adeena. Hatiku bertanya-tanya, apa tujuan Chef Agusta mempertemukan kami di tempat ini? Apakah dia ingin mengumumkan hari jadiannya dengan Agatha?


Chef Agusta melambaikan tangan ke arahku. “Yoga, ayo ke sini! Kami sudah nungguin kamu dari tadi loh,” panggilnya.


Mau tak mau aku harus menghampiri mereka. “Hello, Chef. Apa kabar? Sebenarnya apa ya tujuan Chef Agusta mengundang saya ke tempat ini?” tanyaku blak-blakan begitu duduk berhadapan dengan Chef Agusta.


“Kalian pasti bingung kan kenapa kalian bertiga saya kumpulkan di tempat ini? Sebelum saya jawab, terlebih dahulu saya ingin meluruskan kesalahpahaman yang terjadi antara saya dan Yoga. Seminggu yang lalu kamu pasti melihat saya dan Agatha suap-suapan mesra, padahal apa yang kamu lihat tak sesuai kenyataan. Kenyataannya Agatha hanya membersihkan nasi yang menempel di sudut bibir saya.” Chef Agusta menjelaskan secara panjang kali tinggi kali lebar. 


Aku menatap matanya. Terlihat jelas sebuah kejujuran. “Dan maksud tujuan saya mengundang kalian bertiga di tempat ini adalah mengumumkan jawaban saya terhadap pernyataan cinta Agatha kemarin.”


Hatiku bagai disambar petir. Apa yang aku takutkan terjadi. Aku menyumpal telinga menggunakan earphone. Sungguh, saat ini aku belum siap mendengar mereka jadian. Chef Agusta menatap Agatha lekat-lekat. Tatapannya itu meremukkan hatiku. 


Oh, Tuhan bolehkah aku meminta sesuatu kepada-MU? Buatlah aku pingsan detik ini juga, agar Chef Agusta membatalkan niatnya menerima cinta Agatha.


 “Tatha, aku hargai pernyataan cintamu. Kamu wanita yang cantik, cerdas, baik, mandiri dan sukses, saya suka sama kamu. Tapi maaf hanya sebatas suka bukan cinta. Aku hanya menganggapmu sebagai adik, tak lebih. Sudah ada wanita lain yang mengisi relung hati saya.”


 Walaupun telingaku disumpal menggunakan earphone namun aku masih bisa mendengar apa yang diucapkan Chef Agusta. Sungguh, di luar dugaanku dia mengucapkan kalimat itu. Apa dia tak salah ngomong?


Pandanganku beralih ke Agatha. Mata wanita di hadapanku ini berkaca-kaca. Firasatku mengatakan dalam hitungan detik air matanya mengalir deras bak anak sungai. Aku mengerti perasaan Agatha, pasti hancur berkeping-keping namun aku bisa apa?

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan ke saya itu JAHAT!” teriak Agatha mengucapkan kalimat andalan Cinta di film Ada Apa dengan Cinta 2.


Agatha berlari ke luar lesehan ini. Aku pun berpamitan ke Chef Agusta dan Adeena untuk menyusul Agatha.


*** 


Satu jam mengikuti Agatha muter-muter tanpa arah tujuan, pada akhirnya mobilnya berhenti tepat di dekat jembatan gantung Desa Kedung Miri. Aku tahu jembatan gantung itu menjadi tempat wisata terbaru di Yogyakarta karena menyajikan pemandangan perbukitan hijau nan indah, barisan pohon asri dan sungai Oyo yang cantik. Lantas untuk apa Agatha ke tempat? Apa jangan-jangan dia mau bunuh diri?


Aku tak boleh membiarkan hal itu terjadi. Bergegaslah aku turun dari mobil dan mencari sosok Agatha. Wanita yang kucari ternyata sudah bertengger cantik di atas jembatan gantung. Semakin kupercepat langkah menghampirinya. 


“Arrrrgggh ... kurang apa gue sampe Mas Manis nolak gue?” teriak Agatha sekeras-kerasnya. Tak lama kemudian dia menangis tersedu-sedu.


Aku mengeluarkan sapu tangan dari saku kemeja. Lalu menyerahkan sapu tangan itu kepadanya. “Menangislah sepuasmu, tapi menangisnya cukup hari ini saja. Chef Agusta menolak kamu justru karena sayang sama kamu. Dia nggak ingin melukai hatimu lebih dalam lagi. Kamu juga nggak mau kan pacaran rasa kakak adek? Dia melakukan itu juga demi menjaga perasaan pria yang mencintaimu.”


Agatha menoleh ke arahku. “Emang kamu tau siapa pria yang mencintaiku?”


“Tentu saja aku tau. Orang yang mencintaimu itu aku.”


“Kamu nggak lagi bercanda kan?” tanya Agatha sambil menatap tajam mataku. Ditatap seperti itu, aku jadi keder sendiri. Seolah-seolah yang menatapku adalah pengawas ujian nasional yang memergokiku lagi asyik mencontek. 


“Saat seperti ini, aku mana berani bercanda. Aku serius. Dua rius malah. Asal kamu tau,   jauh sebelum aku bertemu kamu di Jogja tivi, aku sudah jatuh cinta padamu. Kamu sosok wanita yang hebat. Sifatmu yang blak-blakan tanpa jaga image, walaupun udah terkenal dia tetap rajin memotivasi banyak orang. Will you marry me?” Aku tak menyangka, kalimat itu mengalir begitu saja di lidahku. Padahal sebelumnya aku termasuk pria yang susah mengungkapkan cinta secara langsung ke wanita.


“Tapi tetap saja ini terlalu cepat untukku. Gimana kalau kita taarufan dulu? Aku ingin mengenalmu lebih jauh dulu.”

__ADS_1


Senyum manis terlukis di bibirku. Walaupun jawaban Agatha kurang memuaskan hatiku, namun setidaknya dia mengizinkanku untuk dekat dengannya lebih lama lagi. “Oke, nggak masalah. Aku akan buat kamu jatuh cinta.”


__ADS_2