Chef Tampan Pemikat Hati

Chef Tampan Pemikat Hati
Chapter XXX (Adeena Sasikirana Arundati)


__ADS_3

Cinta adalah misteri dalam hidupku


Yang tak pernah kutahu akhirnya   


Penggalan lagu Ungu berjudul Kuingin Selamanya, sama persis seperti yang aku rasakan saat ini. Seberapa keras usahaku mendapatkan cinta Yoga Pratama, jika pada akhirnya Tuhan tak mengizinkan aku bersatu dengannya, aku bisa apa?


“Apakah ijab qobul sudah bisa kita mulai?” tanya penghulu di depanku.


Pria mengenakan jas putih dan berpeci putih dihiasi ukiran elegant menoleh ke arahku untuk meminta persetujuanku. Dialah yang akan menjadi imamku dalam beberapa menit lagi. Aku  hanya menganggukkan kepala sesaat kemudian menunduk lagi. “Bisa mulai sekarang, Pak,” ujarnya mantap.


Sebelum pria di sebelahku melafazkan ijab qobul, terlebih dahulu penghulu memberikan wejangan tentang pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warrahmah.


"Oiiii ... ngapain Non ngelamun?" tanya ART membuyarkan segalanya. Ternyata cuma halu. Aku senyum-senyum sendiri membayangkan hal itu jadi nyata. Ah, tak sabar hari itu tiba.


Seketika pikiranku melayang ke arah dua bulan yang lalu, saat dimana aku menerima lamarannya. 


*** 


 “Tatha, aku hargai pernyataan cintamu. Kamu wanita yang cantik, cerdas, baik, mandiri dan sukses, saya suka sama kamu. Tapi maaf hanya sebatas suka bukan cinta. Aku hanya menganggapmu sebagai adik, tak lebih. Sudah ada wanita lain yang mengisi relung hati saya.”


Aku benar-benar tak menyangka Chef Wimala mengucapkan kalimat itu. Pandanganku beralih ke Agatha. Mata wanita di hadapanku ini berkaca-kaca. Firasatku mengatakan dalam hitungan detik air matanya mengalir deras bak anak sungai. Aku mengerti perasaan Agatha, pasti hancur berkeping-keping namun aku bisa apa?


“Apa yang kamu lakukan ke saya itu JAHAT!” teriak Agatha mengucapkan kalimat andalan Cinta di film Ada Apa dengan Cinta 2.


Agatha berlari ke luar lesehan ini. Tak lama kemudian Yoga berpamitan ke Chef Wimala dan aku untuk menyusul Agatha. Aku juga beranjak dari tempat duduk hendak menyusul mereka. 


“Tunggu, Adeena!” Chef  Wimala menahan langkahku. “Kamu nggak penasaran siapa wanita yang aku cintai?” tanya dia.


“Untuk apa aku penasaran dengan wanita itu? Toh, wanita itu tak ada hubungannya denganku.”


“Justru wanita itu sangat berhubungan erat denganmu.”


Dahiku berkerut. “Maksudnya?”


“Wanita yang aku cintai itu kamu.” Dia berlutut di hadapanku seraya mengacungkan cincin berlian. “Will you marry me?”


Aku menatap matanya. Terlihat jelas sebuah kejujuran. Aku hanya menggaruk kepala yang tak gatal. Mimpi apa aku semalam? Orang yang sama sekali tak pernah kusangka tiba-tiba menyatakan cinta kepadaku.


“Ya, aku mau.” Entah setan apa yang mendorong lidahku mengucapkan 3 kata itu. Yang pasti pria di hadapan ini sosok pria yang sholeh, bertanggung jawab, dan bisa diandalkan. Aku yakin masa depanku akan bahagia bersamanya. So, tak ada alasan untukku menolak dirinya.

__ADS_1


Aku tahu setelah ini akan ada masalah besar menghampiri hidupku. Mulai dari hancurnya hubungan dengan Tatha, kehilangan pekerjaan bahkan hal terburuk keluargaku diusir dari kampung. Tapi aku yakin Chef Wimala bersedia menguatkanku menghadapi masalah tersebut.


        ***


Aku datang ke rumah Thatha. Aku tahu dia pasti masih marah besar sama aku. Namun, aku nggak mau terus-terusan bermusuhan dengannya. Persahabatan bukan hanya sehari dua hari. Sudah bertahun-tahun Maka dari itu hari ini aku tekadkan minta maaf langsung ke Thatha. Kalau perlu sujud di kakinya agar dia memaafkanku.


Tok ... tok ...tok


Tak lama kemudian pintu terbuka. Dia kaget melihatku. Aku memasang senyum manis. "Hai, Tha. Apa kabar?"


Pertanyaanky nggak dijawab, malah dia buru-buru ingin menutup pintu. Aku bergegas menahan pintu tersebut.


"Tha, please. Gue mau ngomong bentar sama lu. Lima menit aja."


"Ngapain lagi lu ke sini? Nggak puas nyakitin gue?"


"Tha, gue tau lu pasti marah banget sama gue. Tapi perlu lu tau, gue sama sekali nggak ada niat nyakitin lu. Gue sendiri juga nggak tau kenapa bisa nerima lamaran Mas Agus. Tanpa gue sadari, ternyata gue juga mencintai Mas Agus. Maafin gue karena nyakitin lu."


Ting!


Notifikasi line berdenting di ponselku.


"Gue cuma mau bilang itu aja kok. Terserah lu maafin gue atau nggak. Tapi gue yakin lu orang baik yang nggak pendendam. Well, mungkin suatu hari lu bisa maafin gue. Gue pamit dulu ya. Assalamualaikum."


Aku pun pulang dari rumah Thatha.


***


"Kamu dari mana?" tanya Mas Agus di teras rumahku.


"Dari rumah Thatha. Mau minta maaf."


"Terus?"


Aku menggeleng lemah. Raut wajahku lesu. Diia memelukku erat seraya mengelus punggungku erat. "Jangan sedih nanti kita coba lagi minta maaf sama Thatha."


Aku melepas pelukannya. "Oh iya, Mas ke sini ngapain? Katanya mau bicarain hal penting?"


"Kamu besok dan satu minggu ke depan ada acara?"

__ADS_1


"Kayaknya nggak ada. Kenapa?"


"Aku mau ajak kamu ke kampung halamanku untuk diperkenalkan ke keluarga besarku."


Mataku terkesiap kaget. "Yakin? Apa nggak terlalu cepat?"


"Makin cepat lebih baik, kan? Gimana bersedia nggak dikenalin ke keluargaku."


Aku mendesah napas panjang. "Bismillah. Aku bersedia."


***


Aku berbenah mengemasi barang ke koper. Besok hari aku akan dibawa Mas Agus ke Kalimantan Selatan. Dikenalin keluarga besarnya. Perasaanku? Jelas campur aduk. Antara bahagia, deg-degan dan takut ditolak sebagai calon menantunya.


Ting ... Tong!


Bel rumahku berbunyi.


"Iya, sebentar." Aku berlari ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Aku kaget ternyata Mas Agus tamunya.


"Loh, Mas ngapain ke sini? Ada barang ketinggalan di rumahku? Tadi udah ketemu loh. Kalau ada barang ketinggalan di rumahku, kan bisa line atau telepon aja. Besok juga ketemu di bandara."


"Nggak tau pengen ke rumahmu aja. Bawaannya selalu kangen sama kamu." Pipiku memerah ketika mengatakan kalimat itu.


"Mungkin bisa bantuin kamu packing," sambungnya lagi."


"Nah, kebetulan banget. Aku mau ambil koper yang gede di atas lemari, tapi nggak nyampe. Dulu yang naruh koper itu Thatha. Kan tahu sendiri Thatha tingginya bak super model Beda sama aku yang cebol."


Yup, tinggi Thatha 184 cm. Sedangkan aku hanya 155 cm. Mas Agus menempelkan jari telunjuknyabke bibirku. "Stttt ... kamu insecure mulu. Aku mencintaimu apa adanya."


Lagi-lagi pipiku tersipu malu. Dia pun bergerak mengambil koper di atas lemari.


"Mas, aku takut deh ketemu keluargamu."


"Nggak usah takut. Mereka nggak gigit kok. Justru sudah lama nanya kapan aku bawa calon istri."


"Bukan itu. Takut nggak direstui. Takut nggak memenuhi ekspetasi keluargamu."


Mas Agus menurunkan koper yang sudah berhasil dia pegang. Ditaruhnya koper itu ke lantai. Dia pun menggenggam tanganku erat. "Kamu tenang aja. Aku yakin keluargaku pasti suka dan terima kamu apa adanya sama seperti aku mencintaimu apa adanya."

__ADS_1


Aku menarik napas dalam. Lalu embuskan perlahan. Meyakinkan diri semua akan baik-baik saja. "Aamiin. Semoga aja mereka bisa menerima aku apa adanya."


__ADS_2