
"Aku juga nggak sengaja ngechat dia. Dia duluan yang ngechat. Ah, udahlah. Kamu egois. Kamu males sama kamu."
Loh, kok dia malah ngegas? Harusnya kan saya yang marah. Lelaki mana yang tidak marah ketika melihat calon istrinya masih chat sama lelaki lain.
Dia ngeloyor pergi dan saya mengejarnya. "Naura, tunggu. Aku belum kelar ngomong."
Dia diam aja dengan muka cemberut. Tak lama kemudian taksi onlinenya datang. Dia masuk ke mobil. Saya tahan pintunya. "Naura, plis. Biar saya aja yang antar kamu pulang. Kamu perginya sama saya, jadi saya bertanggung jawab mengantar kamu pulang."
Dia masih diam aja. Lalu menepis tangan saya agar pintu bisa ditutup.
"Pak, jalan."
Mobil melaju kencang. Saya kembali ke parkiran mobil. Lalu tancap gas menyusul Naura.
***
Mengejar Naura tidak terburu karena kena lampu merah dan macet. Jadilah saya melajukan mobil ke rumah Naura saja.
Tok … tok … tok
Saya mengetuk pintu rumah Naura. Yang membukakan pintu, mamanya.
"Maaf, Bu. Nauranya sudah sampai rumah?"
"Sudah sih tadi. Tapi dia langsung masuk kamar. Sebenarnya kalian ada apa?"
Sedikit bernapas lega, berarti Naura belum cerita apa pun ke ibunya.
"Nggak ada apa-apa kok, Bu. Salah beda pendapat dan salah paham sedikit. Boleh saya bicara sama Naura? Biar masalag kami cepat selesai."
"Bentar, saya ke atas manggil Naura dulu."
Belum sepuluh menit, ibunya Naura kembali tanpa bersama Naura.
"Nauranya lagi nggak mau ketemu kamu dulu. Mungkin emang dia perlu waktu sendiri."
"Gitu ya, Bu?" ujar saya lemas.
Saya coba chat Naura dulu.
Saya
Naura, plis aku mau ngomong sama kamu dulu biar masalah kita kelar.
Naura Khairunnisa
Males. Ngomong aja sana tembok!
Saya
__ADS_1
Plis deh jangan kayak anak kecil. Salah paham dikit kabur, terus menghindar.
Naura Khairunnisa
Kalau gue kayak anak kecil, kenapa? Nyesel ngelamar gue? Batalin aja pernikakahn kita!
Saya mendesah napas berat. Dia malah tambah emosi. Mungkin benar dia butuh waktu sendiri dulu.
"Maaf, Bu saya pamit pulang dulu. Sepertinya memang Naura butub waktu sendiri dulu."
Saya keluar dari rumah Naura dengan kecewa.
***
Pulang dari rumah Naura, saya langsung ke warung mi bancir. Ternyata ada Adeena sedang bertengkar dengan seorang pria.
"Oh, jadi ini alasan kamu kabur dariku? Karena masih cinta kan sama mantanmu itu?"
"Eh, kita berakhir karena aku capek sama kelakuanmu yang tempramental dan suka marah sama aku. Nggak ada hubungannya sama Mas Agus!"
"Bulshit. Aku nggak mungkin marah sama kalau kamunya nggak bikin kesal aku terus!"
Pria itu terlihat mencekal tangan Adeena serta menarik paksa Adeena. "Ayo sini kita pulang sekarang juga!"
"Nggak mau! Lepasin! Tolong!"
Saya mendekati mereka dan membantu melepas cekalan dari tangan Adeena.
"Saya pemilik warung ini. Saya berhak menghentikan segala bentuk kekerasan yang ada di warung ini."
"Oh jadi ini yang namanya Chef Agusta Wimala?" Pria itu memandangi saya denga tatapan meremehkan. "Cakepan juga gue."
"Sekarang Anda pergi! Kehadiran Anda sangat menggangu kenyamanan pelanggan saya!" tegas saya ke dia.
"Saya akan pulang kalau dia ikut pulang sama saya!"
Saya lirik Adeena. Air matanya mengalir deras serta menggelengkan kepala. Saya paham maksudnya yang tidak ingin ikut bersama pria di depan saya.
"Gue nggak sudi pulang sama lu. Cukup setahun batin gue tersiksa sama lu!" jerit Adeena.
"Tuh, Anda denger sendiri kan? Ceweknya aja tidak mau ikut dengan Anda. Jadi silakan Anda pulang. Atau mau saya panggil satpam dulu?"
"Oke, gue bakal pulang. Tapi gue balik balik buat kasih perhitungan ke kalian berdua!"
Dia masuk ke mobil. Adeena terduduk lemas dengan menelungkupkan muka ke tangannya. Saya ke dapur untuk mengambilkan minum untuk Adeena.
Saat kembali Adeena masih di posisi tadi. "Adeena, ini kamu minum dulu biar lebih tenang."
Dia tiba-tiba memeluk saya erat. Menangis di pelukan saya. Saya sadar, ini tidak pantas. Terlebih status saya calon suami Naura. Kalau Naura tahu, semakin mengamuk dirinya. Namun, satu sisi lainnya saya juga tidak tega dengan Adeena. Akhirnya saya biarkan beberapa menit. Begitu dia agak enakan, saya pelan-pelan melepas pelukannya.
Dia mengambil tisu serta mengelap ingusnya. "Maaf, aku lupa kamu sudah punya calon istri."
__ADS_1
"Nggak apa. Saya paham kamu butuh pelukan untuk menenangkan diri. Dia siapa? Kamu bisa ceritabke saya biar lega."
"Jadi setelah kita putus, saya down dan pasrah dijodohin orang tua sama Nichol. Ternyata Nichol tempramental dan ringan tangan. Hiks. Berulang kali minta putus, tapi dia nggak mau. Akhirnua aku nggak kuat lagi, makanya kabur ke sini."
Tidak sengaja saya melihat ada memar di bahunya. Jujur, saya jadi merasa tidak enak dengan Adeena. Secara tidak langsung saya yang jadi penyebab penderitaannya. Lantas, apa yang harus saya perbuat?
"Menurut saya lebih baik kamu bilang ke masing orang tua dulu. Karena lari dari masalah semakin memperunyam keadaan." Saya sok bijak menasihati Adeena.
"Gimana kalau orang tua Nichol tetap memaksa hubungan ini?"
"Udah pernah nyoba bicara baik-baik di depan dua belah orang tua?"
Adeena menggeleng. "Aku terlalu takut mengecewakan orang tuaku."
"Dicoba aja dulu. Orang tuamu pasti memahami dan ingin anaknya bahagia."
Adeena kembali mengusap air matanya. "Makasih ya sarannya. Aku bakal coba bicara baik-baik ke mereka dulu."
Adeena mengangkat tangan kanannya yang ada jam tangan. "Udah jam lima sore nih. Aku pamit dulu. Nggak enak lama-lama ganggu kamu kerja."
***
Saya masih di warung mi bancir. Menghitung omset bulanan. Bulan ini nggak terlalu bagus memang, tapi nggak turun drastis juga. Stabil di angka sepuluh juta rupiah.
Drrrrtttr …
Ponsel saya bergetar. Saya langsung menerima panggilan tanpa melihat nama yang tertera di layar.
"Ma … Mas … A…Gus. Hiks." Terdengar suara Adeena yang lagi gugup, panik, dan menangis.
"Loh, kamu kenapa?"
"Mas lagi sibuk nggak? Bisa jemput aku? Aku lagi ngumpet dari kejaran Nichol."
"Oke. Share lock ya. Aku segera ke sana. Usahain ngumpet di tempat yang aman. Kalau perlu, cari post polisi terdekat."
"Buruan ya, Mas. Aku takut banget nih."
"Kamu tenang dulu. Aku usahain secepatnya sampai di sana."
Saya memutuskan sambungan telepon. Lalu, saya buru-buru menyimpan data keuangan serta mematikan laptop.
"Zaini!" Saya memanggil karyawan.
"Ada apa ya, Kak?"
"Kamu nanti kunci warung ya. Saya buru-buru pergi soalnya."
"Oke, siap, Kak."
Saya mengambil kunci mobil. Lalu pergi menuju tempat Adeena berada. Dalam hati saya berdoa semoga saya tidaj terlambat dan dia baik-baik saja.
__ADS_1