Chef Tampan Pemikat Hati

Chef Tampan Pemikat Hati
Chapter XXV (Agusta Wimala)


__ADS_3

Setiap saya mengisi seminar atau jadi bintang tamu acara talk show inspiratif, saya selalu mengatakan salah satu tips meraih sukses adalah berani bereksperimen. Itulah yang saya lakukan selama empat belas hari ini. Saya yang biasa menulis buku resep kini mendadak banting stir menulis novel. Alhamdulillah, aku berhasil menulis novel 60 halaman hanya dalam waktu 13 hari. Tentu saja semua berkat jasa Agatha. 


Saya tak pernah menyesali pertukaran profesi dengan Agatha, walau awalnya ditentang Yoga. Menulis novel ternyata membuat saya bertambah ilmu dan pengalaman. Saya sudah tak sabar melihat novel saya beredar di toko buku seluruh Inonesia. Kira-kira bagaimana respon masyarakat? Pasti akan jadi trening topic.


Drrr ... drrttt   


Smartphone yang tergeletak di sebelah Pijo – nama laptop kesayangan bergetar. Saya menyambar benda itu secepat kilat. Ternyata video call dari Agatha. Panjang umur dia. Baru saya bicarakan, sudah muncul. Saya geser icon telepon warna hijau tanda saya menerima panggilan video call darinya. Dalam sekejap muncullah wajah Agatha di layarnya. 


 “Hai, kamu lagi ngapain? Video call-ku ganggu kamu nggak?”


“Tenang aja, kamu nggak ganggu aku. Soalnya aku lagi melototin laptop aja kok.”


“Gimana dengan kabar novelmu? Sudah sampai halaman berapa kamu ngerjainnya?”


“Alhamdulilah, suah sampai 60 halaman. Ntar malam tinggal nulis endingnya aja.”


Saya bisa melihat dengan jelas Agatha memancarkan ekspresi shock mendengar ucapan saya barusan. “Wuih, keren. Aku biasanya ngerjain novel dalam waktu tiga minggu.”


“Kamu kan tiga minggu karena naskahnya 150 halaman, lah aku cuma 70 halaman. Apalagi aku nggak ada kerjaan lagi.”


“Tetap saja bagi penulis pemula itu sudah keren. Bay the way, besok jadi kan ke rumahku buat ngajarin aku masak?” Agatha mengalihkan topik pembicaraan.


“Jadi dong. Kalau nggak jadi, itu artinya sama aja aku menyerahkan uang lima juta ke kamu.”


“Besok enaknya kita masak apa ya?”


“Kamu sendiri maunya masak apa?” Saya malah bertanya balik kepadanya.


“Aku itu suka banget sama sego liwet. Nah, aku pengen belajar masak sego liwet. Kamu bisa kan ngajarin aku masak sego liwet?”


“Bisa dong. Besok sebelum aku datang, bisa nggak kamu siapin bahan-bahannya dulu. Jadi enak kita tinggal masak aja.”


“Beres.”   

__ADS_1


Mendadak sambungan video call terputus bersamaan dengan munculnya email dari Yoga. Aneh. Tak biasanya Yoga mengirim email. Jika ada hal penting dia pasti menelepon atau chat di whatsapp. Rasa penasaran tingkat dewa, membuat saya menyentuh pemberitahuan email masuk tersebut.


Yogyakarta, 13 April 2017


Kepada


Yth.Chef Agusta Wimala


Di tempat.   


Dengan hormat,


Melalui surat ini, saya Yoga Pratama, bermaksud untuk mengundurkan diri dari manager Chef Agusta Wimala terhitung sejak tanggal 13 April 2017. Saya mengambil keputusan ini karena suatu hal – belum bisa saya ceritakan sekarang.


Saya mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang pernah saya dapatkan untuk bekerja jai manager and, dan tidak hanya itu, saya juga memohon maaf kepada anda an seluruh karyawan mie Bancir jika terdapat kesalahan dan kekeliruan yang pernah saya perbuat selama saya bekerja.


Saya mengharapkan selalu semakin sukses dan menjadi chef yang terbaik di Inonesia.


Hormat saya,


Mata saya melotot ketika membaca email dari Yoga. Siapa yang tak kaget jika manager kesayangan tak ada angin dan tak ada badai tiba-tiba mengirimkan surat pengunduran diri. Selama kurang lebih enam ia bekerja dengan saya, saya tak pernah punya masalah dengannya. Pasti dia lagi ada masalah besar. Atau jangan-jangan dia mengundurkan diri karena saya tak memenuhi permintaannya membatalkan kontrak pertukaran profesi dengan Agatha? Untuk menemukan jawabannya, saya harus ke rumah Yoga. 


*** 


Berbeda dengan saya, Agatha justru cinta terhadap negara lain, Jepang. Terbukti di tengah-tengah kota Yogyakarta, dia membangun rumah Minka – rumah khas tradisional Jepang. Hampir sama engan rumah khas Banjar, rumah Minka juga termasuk rumah panggung. Letak perbedaannya di arsitektur tradisional rumah Jepang memiliki keindahan sendiri. Keindahan rumah tradisional Jepang terletak pada aura ketenangan yang muncul dari desainnya. Rumah tradisional Jepang ini selalu tampak tenang dan nyaman untuk ditinggali. Tidak hanya itu, rumah-rumah ini pun selalu tampak asri dan memiliki koneksi yang erat dengan alam sekitarnya.


Salah satu ciri dari rumah tradisional Jepang adalah adanya genkan di setiap rumah. Genkan sendiri adalah tempat dimana orang melepas sepatu mereka. Ketika seseorang melepas sepatu mereka, orang-orang melangkah naik ke lantai yang lebih tinggi dari genkan. Di samping genkan terdapat sebuah rak atau lemari yang disebut dengan getabako, merupakan tempat untuk menyimpan sepatu dan menggantinya dengan sandal yang ada di rumah. Hal itu juga terapat dalam rumah Agatha.


Bagian tengah rumah Agatha terdapat taman kecil – nakaniwa. Dalam taman Jepang tidak dikenal dengan garis-garis lurus atau simetris. Tamn sengaja dirancang secara asimetris agar tidak ada satu pun tanaman yang menonjol. 


Ketertakjuban saya masih berlanjut ketika Agatha membawa saya ke dapur. Luas, bersih dan masih terlihat baru. Mungkin kesibukan Agatha membuatnya jarang masuk ke dapur.


Agatha melambaikan tangannya ke depan mata saya. “Hello, kok malah bengong? Kapan nih kita mulai masak?”

__ADS_1


Pertanyaan Agatha membuyarkan seluruh lamunan saya. “Aku Cuma takjub aja sama rumahmu. Benar-benar unik. Yuk, kita mulai masak sekarang.” 


Bahan-bahan memasak sego liwet seperti : 2 bungkus santan kara ukuran kecil, 1 lembar daun pandan,  2 lembar daun salam, 1 batang sereh, digeprek, 1 lembar daun jeruk,  1 sendok teh munjung garam halus, sudah bertengger cantik di meja depanku. 


“Mas, langkah-langkah masak nasi liwet gimana?” tanya Agatha bingung. Aku bisa memaklumi ini pasti pertama kalinya dia belajar masak. 


“Pertama-tama kamu cuci bersih beras dan siapkan santan serta bumbunya. Terus masukkan beras beserta bahan lainnya ke dalam magic com, aduk dan nyalakan. Tunggu sampai tombol lampu berubah sambil sesekali diaduk agar santan tidak pecah dan bisa nyampur.”


Agatha manggut-manggut mengerti. Lalu melakukan apa yang saya katakan. Berhubung beras sudah kucuci terlebih dahulu, jadi tinggal masukkan beras dan bahan lainnya ke magic com, aduk dan nyalakan. 


Tak sampai satu jam masakan sudah jadi dan siap disantap. Sayangnya hasil masakan Agatha tak sesuai dugaan. Nasinya terlalu encer. Tak beda jauh dengan bubur. Bubur kalau bumbunya pas masih enak dimakan, ketika saya mencicipi masakan Agatha ternyata keasinan. Jika sudah seperti ini, siapa yang mau makan masakannya?


Agatha menatap nanar masakan yang gagal itu. Terlihat jelas kekecewaan dari raut wajahhnya. “Ternyata memasak itu nggak segampang nulis novel. Kalau tulisan ancur, masih bisa direvisi. Lah, makanan ancur yang ada cuma bisa masuk tong sampah.”


“Dalam memasak gagal itu biasa kok. Kamu terkenal sebagai wanita tangguh, masa gitu aja mau mewek?”


“Siapa juga yang mau mewek? Aku itu cuma kesel, realita tak sesuai ekspetasi.”


Saya masih bisa mendengar Agatha mengoceh mengutuki kebodohannya memasukkan air dan garam terlalu banyak, tapi saya tak memedulikan ocehannya itu. Pikiran saya terus saja tertuju ke Yoga Pratama. Dimana dia sekarang?


“Aw!” jerit saya begitu merasakan sebuah cubitan kecil mendarat di tangan. “Kamu apa-apaan seenaknya nyubit orang,” omel saya.


“Kamu tuh yang apa-apaan, aku ngomong panjang kali tinggi kali lebar bukannya itanggepin malah melamun. Kamu lagi mikirin apa sih? Hayo, ngaku!”


“Tha, mulai besok sampe tanggal 30 April aku nggak bisa ke rumahmu ya. Kalau kamu minta aku bayar denda karena melanggar kontrak, aku siap kok.”


“Emang kamu ke mana?”


“Aku mau nyari Yoga. Dia mendadak mengundurkan diri jadi managerku. Tadi pagi pas ke rumahnya eh kata tetangga dia udah pindah. Firasatku mengatakan dia lagi kena masalah besar dan aku nggak tega membiarkannya menghadapi masalah itu sendirian.”


“Kalau sudah seperti itu apa boleh buat. Terus siapa dong ngajarin aku masak?”


“Aku akan tetap mengajarimu masak walau lewat video call. Resep aku kirim ke WA. Tanggal 30 April kita ketemu, saling membawa tugas. Aku bawa naskah yang selesai, kamu bawa masakan yang udah kamu masak selama 14 hari. Gimana? Deal?” Aku mengulurkan tangan.

__ADS_1


Dia menjabat tanganku sambil tersenyum. “Oke, deal.” 


__ADS_2