Chef Tampan Pemikat Hati

Chef Tampan Pemikat Hati
Chapter XXVI (Adeena Sasikirana Arundati)


__ADS_3

“Tha, mulai besok sampe tanggal 30 April aku nggak bisa ke rumahmu ya. Kalau kamu minta aku bayar denda karena melanggar kontrak, aku siap kok.”


“Emang kamu ke mana?”


“Aku mau nyari Yoga. Dia mendadak mengundurkan diri jadi managerku. Tadi pagi pas ke rumahnya eh kata tetangga dia udah pindah. Firasatku mengatakan dia lagi kena masalah besar dan aku nggak tega membiarkannya menghadapi masalah itu sendirian.”


Itulah percakapan terakhir yang aku dengar di rumah Tatha. Aku berpikir, pengunduran diri Yoga masih ada kaitannya dengan pertemuan terakhirku dengannya dua hari lalu. Waktu itu dia sempat mengirim sms kata-kata kasar seperti ini, “WOY, UDAH DEH GAK USAH PURA-PURA LAGI. TUJUAN LO MINTA GUE KE LESEHAN CIPTO ROSO BUAT MENJEBAK GUE KAN? LO SENGAJA BIAR GUE MELIHAT PEMANDANGAN MENYAKITKAN. MULAI SEKARANG LO JANGAN GANGGU GUE LAGI!” Pertanyaannya, pemandangan menyakitkan seperti apa yang dia lihat? Aku sama sekali tak tahu menahu soal pemandangan menyakitkan itu.


Untuk menjawab pertanyaan itu, aku harus menemukannya terlebih dahulu. Masalahnya aku mencari dia ke mana? Sedangkan  nomor telepon, kontak WA, akun FB, Intagram, Line dan twitterku saja diblokir olehnya.


Tiba-tiba teringat adikku. Lima tahun lalu, adikku sempat minta bikinin akun facebook, sampai sekarang akun facebooknya tak terpakai lagi. Sepertinya aku bisa memanfaatkan akun facebook itu untuk stalker facebooknya Yoga. Bergegaslah aku mengambil laptop.


Begitu berhasil login menggunakan akun facebook adikku, tanganku mengetik nama ‘Yoga Pratama’ di kolom pencarian. Yang muncul lumayan banyak. Tapi yang asli milik Yoga Pratama kumaksud di akun nomor tiga. Langsung saja mengarahkan kursor mengklik akun facebook itu.


Di timeline facebook Yoga, status terakhir enam hari yang lalu. Isi statusnya hanya curhatan gaje. Aku terus scroll ke bawah untuk membaca semua postingannya. Ada satu yang menarik, setiap dia update status atau upload foto, dia selalu menandai Rafi Izam. Apakah Rafi Izam sahabat terdekat Yoga?


  Aku kembali menggerakkan kursor. Kali ini menambahkan pertemanan di facebook Rafi Izam. Beruntung dia lagi online. Tak sampai lima menit, akun facebook adikku telah dikonfirmasi olehnya. Jika seperti ini aku lebih gampang menanyakan sesuatu ke dia. Aku mulai melancarkan aksi kepo di chat.


Aku : Hay, makasih ya udah dikonfirmasi.


Rafi Izam : Sama-sama.


Aku : Kamu sahabat terdekatnya Yoga Pratama? Setiap dia update status atau upload foto, dia selalu menandai akun fb-mu


Rafi Izam : Aku sahabatnya Yoga dari SD.  


Aku : Kamu udah tau lum, Yoga tiba-tiba menghilang tanpa jejak.


Rafi Izam : Kamu siapa sih? Kepo banget soal Yoga.


Aku : Aku sahabat terdekatnya Yoga. Aku dan chef Wimala itu panik mencari keberadaannya. Kami khawatir dia kenapa-kenapa.

__ADS_1


Rafi Izam : Hmmm ... gue tau sih keberadaan Agus. Tapi lu berani bayar berapa atas info yang gue kasih?


Sial, aku diperas. Berhubung aku butuh infonya aku setuju.


Aku : Oke, 500 ribu.


Rafi : Oke. Deal. Transfer ke rekening xxx atas nama Rafi Izam.


Aku beralih membuka mobile banking. Untuk transfer ke rekening Rafi Izam.


Aku : Nih, udah aku tranfer.


Rafi : Bagus. Kamu tenang aja, Yoga baik-baik aja. Dia nginep di rumahku.


Aku : Kalau gitu kamu bisa nggak mempertemukan aku dengan Yoga? Ada hal penting yang harus aku bicarakan dengannya.


Rafi Izam : Bisa. Kapan dan di mana?


Rafi Izam : Oke sip.     


Aku tak menyangka segampang ini menemukan keberadaan Yoga. Tapi apakah Rafi Izam bisa dipercaya? Jangan-jangan dia orang jahat yang suka menculik gadis perawan? Ih, aku bergidik ngeri membayangkan hal itu terjadi. Sepertinya besok siang aku harus bawa polisi saat ketemu Rafi Izam, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.


*** 


Puncak Kosakora adalah hasil fenomena eksokarst lain di Gunungkidul. Sebuah bukit karst yang berada dalam satu garis dengan deretan pantai-pantai cantik Gunungkidul. Pantai Ngrumput, Pantai Drini, Pantai Watu Kodok, Pantai Sepanjang, Pantai Kukup bahkan Mercusuar Pantai Baron yang jauh di barat pun dapat terlihat dari bukit yang berketinggian sekitar 50 mdpl ini. Bukit yang dulunya sunyi itu, kini menjadi buah bibir banyak orang yang ingin menikmati keindahan panoramanya atau sekedar ingin selfie dengan backgraound landscape pantai selatan dari ketinggian, seolah selfie di savana Kenawa. Di sini juga tempat yang pas untuk melihat sunrise atau sunset. Itulah sebabnya aku memilih tempat ini sebagai tempat bertemu dengan seseorang, Yoga Pratama.


Aku mengedarkan pandangan ke arah tepi bukit. Di sana berdiri tegak seorang pria mengenakan kemeja kotak-kotak warna abu-abu. Walaupun dia memungguiku, tapi aku masih bisa mengenali pria itu. Ya, dialah Yoga. Bergegas aku menghampirinya. 


“Hey, akhirnya aku menemukan keberadaanmu,” ucapku begitu berada tepat di belakangnya. 


Pria itu membalikkan badan seraya melempar tatapan sinis. “Jadi kamu orang dimaksud Rafi? Tau gitu gue ogah banget ke sini.”

__ADS_1


Dia hendak pergi namun aku berhasil menahan tangannya. “Tunggu! Ada yang mau aku bicarain penting!” 


“Oke. Tapi cuma lima menit, nggak lebih.”


“Kamu kenapa tiba-tiba mengundundurkan diri jadi manager chef Wimala? Apa ada kaitannya dengan aku ngajakin kamu ketemuan di lesehan Cipto Roso? Sebenarnya pemandangan menyakitkan seperti apa yang lihat di lesehan itu?” Aku sengaja memberondongi dia dengan berbagai pertanyaan, biar hemat waktu.


“Busyet, kalo nanya itu satu-satu. Jangan kayak gerbong kereta api.”


“Kan kamu cuma ngasih aku waktu bicara lima menit. Jadi aku sengaja memberondongi dia dengan berbagai pertanyaan, biar hemat waktu. Buruan jawab pertanyaanku!”


 “Waktu kamu ajak aku ketemuan di lesehan Cipto Roso, di sana aku lihat orang yang aku cinta suap-suapan mesra dengan orang terdekatku.” Simpel, namun seluruh pertanyaanku terjawab.


Jawabannya membuatku tercekat. Pasalnya lesehan Cipto Roso, aku melihat Tatha suap-suapan mesra sama Chef Wimala. “Jadi orang yang kamu cintai itu Kinta Adriana Agatha?”


“Jauh sebelum aku bertemu Tatha di Jogja tivi, aku sudah jatuh cinta padanya. Dia sosok wanita yang hebat. Sifatnya yang blak-blakan tanpa jaga image, walaupun udah terkenal dia tetap rajin memotivasi banyak orang.”


Jleb!


Mengapa dia mengucapkan pengakuan seperti itu? Tak sadarkah dia pengakuan tersebut membuat hatiku terluka bagai dicabik-cabik menggunakan belati berkali-kali? Kenapa coba? Apa ini namanya iri dengki karena lagi-lagi aku tahu bahwa ada pria yang mencintai Kinta. Kinta ... Kinta ... Kinta terus yang selalu jadi idola. Aku kapan?


Pantas saja dia begitu ngotot menentang pertukaran profesi antara Tatha dan Chef Wimala. Kata orang, tak akan mengkhianati hasil, tapi tak berlalu bagiku. Jika sudah seperti ini apa yang harus kulakukan?


  Mendadak aku merasa ada sepasang mata sedang menguping pembicaraan kami. Ketika membalikan badan, tak ada siapa-siapa. Apa ini cuma perasaanku saja?


"Terus sekarang mau lu apa? Dengan resign, lu makin jauh dan sulit memisahkan Kinta dan Chef Agusta."


"Entahlah. Gue udah pasrah. Mungkin emang Kinta ditakdirkan buat Chef Agusta, bukan buat gue. Gue bisa apa?"


"Bisa terus berjuang. Lagian belum ada janur kuning melengkung di rumahnya Kinta atau Chef Agusta. Itu artinya masih bisa ditikung di sepertiga malam."


Yoga menoyor bahuku. "Ah, lu bisa aja. Dikira gue Rey Mbayang, pake nikung cewek di sepertiga malam? Hahaha."

__ADS_1


Aku tersenyum. Senang banget akhirnya bisa melihat Yoga tersenyum lagi.


__ADS_2