
2019.
Hari ini hari spesial bagiku soalnya dibawa Mas Agus ke kampung halamannya. Pelaihari Kalimantan selatan. Memang rumahnya lebih kecil dari rumahnya yang di Yogyakarta. Namun, sekitar rumah ini sangat asri dikelilingi pohon dan bunga. Tanpa AC atau kipas angin, tetap adem. Jadi nggak sabar tinggal permanen di sini.
Mamanya muncul dengan membawa teh anget. Beliau meletakkannya di meja tamu. "Mari diminum dulu. Kan capek perjalanan jauh."
Aku minum cantik. Kalem. Nggak terburu-buru dan langsung habis. Aku balikan lagi gelasnya di meja tamu.
"Nak Adeena asli mana ya?"
Calon mertua mulai kepo nih. Jantungku berdegup kencang. Aku menggosok kedua tangannya. Ini biasa aku lakukan kalau grogi. Sumpah, berhadapan sama mertua sama seperti berhadapan dengan pengawas ujian.
"Bandung, Bu."
"Lalu, bertemu sama Agus di mana?"
"Di Yogya TV. Saya kuliah dan kerja di Yogya."
"Oh."
Habis itu kami saling diam. Aku mau nanya duluan nggak enak.
"Oh iya, Ma kayaknya Adeena capek deh butuh istirahat dulu. Kamarnya sudah siap?"
"Mari Nak Adeena istirahat dulu. Kamar sudah kami bereskan."
Alhamdulillah, Mas Agus menyelamatkanku dari kekikukan haqiqi. .
"Terima kasih Mas, Bu."
Akhirnya aku diantar ke kamar sama Mas Agus. Ternyata di lantai dua. Sambil jalan aku menanyakan sesuatu ke Mas Agus.
"Mas, di rumah ini cuma ada Ibu ya?"
"Ada dua kakakku lagi. Dua-duanya sudah menikah. Nah, yang nemenin Mama di rumah ini Kakak Kedua. Mereka nanti sore datang kok."
Menghadapi mamanya aja sudah kikuk apalagi menghadapi kedua kakaknya yang cewek?
***
Benar saja, ketika aku bangun aku sudah mendapati kedua kakaknya di dapur. Mereka memasak bareng sama ibunya. Sebagai calon menantu, aku sok mau membantu biar nggak dikatain pemalas.
"Bu, Kak, apa yang bisa saya bantu?"
"Nggak usah. Bentar lagi selesai kok," ujar kakaknya yang berkacamata. Nggak tau dia kakak nomor berapa.
"Benar itu. Mending kamu tunggu Agus aja di luar. Lagian kamu juga nggak ngerti masakan Banjar kan?" sahut ibunya.
"Emang Mas Agus ke mana, Bu."
"Ke kebun. Ambil lombok atau sayur apa gitu," sahut kakaknya yang agak gemuk.
Entah perasaanku saja atau gimana, aku merasa mereka nggak menyukaiku. Nada bicara mereka ketus. Sebagai orang yang peka, aku sadar diri. Aku melipir dari dapur.
***
Malam yang dingin ini aku melihat Mas Agus lagi bakar sampah. Ibu dan kedua kakaknya sudah pada masuk kamar. Aku duduk di teras. Mungkin ini waktu yang tepat bicara sama Mas Agus.
"Mas, aku mau ngobrol sama kamu."
__ADS_1
Mas Agus duduk di sebelahku. "Sama sih. Ada yang mau aku obrolkan juga sama kamu. Tapi kamu duluan deh yang ngomong."
"Mas, entah perasaanku saja atau gimana, aku merasa mereka nggak menyukaiku. Aku harus gimana? Apa aku pulang aja?"
Mas Agus tertunduk. "Maaf ya Adeena kalau sikap Mama dan kakakku membuatmu nggak nyaman. Sebenarnya ini juga yang mau aku bicarakan sama kamu. Sepertinya hubungan kita nggak bisa diteruskan. Mama maunya punya mantu asli orang Kalsel."
Jleb. Aku berharapnya jawaban Mas Agus bakal mempertahankanku atau minimal kasih solusi agar aku bisa disukai keluarganya. Namun, realita justru sebaliknya.
Butir bening jatuh dengan sendirinya dari pelupuk mata. Aku tidak bisa berkata-kata lagi.
Mas Agus mengusap air mataku. "Maaf banget nyakitin hatimu. Sepertinya kamu akan jauh lebih bahagia dengan pria lain yang jauh lebih baik dariku."
Aku langsung masuk ke kamar dan mengemasi barang.
***
Dua minggu yang lalu.
Aku nggak sengaja melihat postingan Mas Agus di Instagram. Dia pamer undangan dengan cewek barunya. ****. Bisa-bisanya dia menikah di atas lukaku. Hal itu nggak akan aku biarkan terjadi. Dia harus merasakan rasa sakitku. Jika dia bukan jodohku, maka jangan sampai ada wanita manapun yang jadi jodohnya.
Hal pertama kulakukan mencari tahu segala hal tentang calon istri Mas Agus di Internet. Ternyata Naura Khairunnisa. Rivalnya di ICI. Dia punya mantan namanya Nicholas Prasaja. Kebetulan di web menemukan akun Instagram Nichol.
Aku cari, ketemu. @nicholeprasaja. Langsung kukirim pesan ke dia. Mumpung dia lagi online.
Aku
Hai, Nichol. Mantannya Naura kan?
Nichole Prasaja.
Kok tau? Stalk gue ya?
Aku
Nichole Prasaja
Udah deh nggak usah bertele-tele. Maksud lu hubungi gue apa?
Aku
Kamu sakit hati nggak Naura bentar lagi nikah sama cowok lain?
Nichole Prasaja
Jelaslah. Putusannya nggak baik-baik. Secara sepihak alasan mau fokus karier. Eh, nggak berapa lama jadian sama cowok lain. ****.
Aku
Nah, gue mau nawarin kerja sama ma kamu buat gagalin nikahan mereka.
Nichole Prasaja
Boleh juga.
Demi rencana itu aku harus terbang hari ini juga ke Banjarmasin. Terus cari rumah dan sebagainya. Beruntung Nichole bisa menyediakan semua keperluanku.
***
Sehari yang lalu.
__ADS_1
Rencana pertama adalah kami muncul lagi di hadapan mereka. Ya, cukup berhasil. Mereka jadi berantem.
Rencana kedua, aku menarik simpati Mas Agus karena diteror Nichole -pacar kasar- kebaikan dan nggak enakan Mas Agus membuat rencana ini berhasil lagi.
Rencana ketiga agak ektream. Aku minta dibawa ke rumah terbengkalai, kotor, bau. Aku sendiri nggak tau daerah mana.
"Nichole, buruan kamu iket aku atau apa kek."
Kebetulan di rumah ini ada lakban banyak dan rantai, sepertinya pemiliknya dulu jualan online shop. Nichole langsung melakban kaki serta tanganku. Begitu usai, dia malah merantaiku lagi di kaki lemari.
"Ngapain pake di rantai lagi? Sakit tau."
"Ya biar meyakinkan dan lu nggak kabur lah."
"Jadi kamu mau ninggalin aku di tempat ini sendirian?"
"Iyalah. Rencana kita kan gitu."
"Gimana kalau yang datang bukan Mas Agus justru orang jahat?"
"Ya berarti lu apes."
"Ya udah, buruan kamu teleponin Mas Agus make HP gue yang ada di saku celana gue."
Dia merogoh saku celanaku. Sialnya, dia malah meraba-raba pahaku. "Eh, kamu jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan ya."
Dia mencet-mencet ponselku. Lalu, menyodorkan ke mulutku. Aku langsung ngomong ke Mas Agus untuk minta tolong. Nggak lupa Nichole kirim shareloc ke dia.
Klik. Nichole mematikan sambungan telepon.
"Tugas gue udah selesai semua kan? Sisanya urusan lu."
"Gue mintol satu lagi, tolong gebukin gue. Biar Mas Agus makin kasian dan simpati sama gue."
"Yakin nih?"
"Iya, buruan."
Bruk! Bruk! Bruk!
Aw. Sakit. Sial, dia mukulnya kencang sekali. Sudut bibirku nyeri. Terasa amis.
"Udah kan? Gue cabut bye."
"Nichole jangan pergi dulu! Tunggu Mas Agus aja. Aku takut di sini sendirian!"
"Ah, berisik."
Dia merobek lakban lagi. Lalu memasang di mulutku. Dia menatapku dari ujung rambut ke ujunh kaki.
"Lu mulus juga ya. Sayang banget dianggurin. Mumpung momennya pas."
Dia mengelus rambut sampai dada.
Ah, Nichole sialan. "Hmmmm … hmmm." Aku coba teriak dan meronta sekuat tenaga.
Ketika bibirnya mencium leherku, tiba-tiba dia berhenti. "Eh, lu kan bekas si Chef. Males ah. Lagian cantikan Naura ke mana-mana."
Sehabis berkata itu dia pergi. Entah harus bersyukur atau sedih. Jujur takut. Bulu kudukku merinding. Dalam hati berdoa agar Mas Agus cepat datang.
__ADS_1