CINTA. (STORY OF NADIRA DAN AKIRA)

CINTA. (STORY OF NADIRA DAN AKIRA)
2. Kegalauan Nadira


__ADS_3

Selamat datang di karya kedua author,, semoga kalian menyukainya 🤗🤗


.


.


Jangan lupa dukung dengan memberi like,, koment atau pun ⚘ dan ☕


.


.


🌻🌻🌻🌻


Sebagian ruangan ruangan dibutik itu telah sepi dan listrik pun sudah dipadamkan hanya bagian depan teras butik saja yang masih dibiarkan menyala seperti biasa. Namun kali ini masih satu ada ruangan yang lampunya menyala,, itu adalah ruang kerja pemilik butik ini,, ia tidak sedang lembur menyelesaikan rancangan pelanggannya melainkan sedang duduk termenung di kursi kerjanya ia menatap lekat lekat hp miliknya.

__ADS_1


Nadira sedang berfikir keras mengapa hpnya berlogo apel digigit itu tak berbunyi baik untuk telpon maupun pesan yang masuk,, ia sedang menunggu kabar dari sahabatnya Arshaka pria keturunan indo amerika itu yang entah kemana perginya karna telah seminggu pria itu hilang tak memberinya kabar, tumben sekali pikirnya. Karna biasanya sahabatnya itu selalu memberitahukan keberadaannya. Hal ini membuatnya galau dan uring uringan 3 hari terakhir ini.


Nadira memandang jalanan di dari balik kaca jendela ruangannya dilantai 3,, ia melihat lalu lalang mobil dan lampu lampu jalan yang mulai menyala. Dengan tatapan menerawang.


"Kemana sih tuh anak?" Desis nya sambil tangannya mengetuk ngetuk meja kerjanya. Ia merasa sepi sekali selama seminggu ini karna tak ada sahabatnya itu.


Nadira dan Arshaka sering menghabiskan waktu bersama walau tak selalu jumpa tiap hari karena kesibukkan masing masing, tapi mereka selalu memberi kabar. Kedekatan mereka sering disalah artikan oleh teman teman mereka dan mengira mereka sepasang kekasih. Arshaka hanya menganggap dirinya adik begitu pula sebaliknya karena mereka sama sama anak tunggal.


"Baiklah mari kita pulang, dan lupakan anak sialan itu" gumam Nadira pada dirinya sendiri, lalu beranjak merapihkan barang barangnya.


"Kak Dira mau pulang sekarang, mau kiki antar kak sudah malam?" Ucap kiki yang khawatir dengan atasannya yang dia sudah anggap seperti kakaknya itu.


"Gak usah ki,, kamu pasti capek,, aku naik taksi saja" jawab Nadira dengan senyuman.


"Kamu istirahat aja ki,, cepet kunci pintunya yaa" lanjut Nadira diujung pintu dan segera berlalu.

__ADS_1


"Diraa.." panggil seseorang ketika ia baru keluar dari butiknya,, suara yang dia hapal betul siapa pemilik suara itu,, orang yang selama ini dia galaukan dan cemaskan tapi ia tak langsung menggubris panggilan orang tersebut dan mempercepat langkahnya,, niat awal ia akan menunggu taksi di depan butik ia urungkan dan berjalan menuju halte.


"Diraa,, hai bisa tunggu gue sebentar." Tanya lelaki itu sambil memegang tangan dira dengan napas tersegal segal karna berlarian mengejar sahabatnya itu.


"Mau apa lu?" Tanya Dira ketus. Ia menatap lelaki itu dengan tajam tanda bahwa ia sedang marah.


Tau jika sahabatnya sedang marah dan pasti itu karna ulahnya, Arshaka hanya bisa menggaruk tengkuknya sambil tersenyum. "Gue mau tanya? Mau ga lu nemenin gue makan malam,, gak enak makan sendiri". Ucapnya


Dira hanya memperhatikan tingkah sahabatnya itu dan tidak menjawab pertanyaannya. "Ayoolah gue yang traktir,, lu bebas pilih tempatnya" ujar Arshaka karna tidak mendapatkan jawaban Dira.


Dira hanya mendengus kesal tanda ia kalah,, dirinya tak bisa marah lama dengan sahabatnya itu "sialan luu!! kemana aja lu seminggu ini gak ada kabar? Sahabat Durjana luh" caci Dira.


"Gue mau makan angkringan paklek blangkon!" Kata dira ketus. Dan berjalan menuju mobil Arshaka yang terpakir didepan butiknya. Sedangkan Arshaka masih mematung ditempatnya melihat tingkah sahabatnya itu.


Sebenarnya Akhira paling anti makan dipinggir jalan ditambah lagi amgkringan yang menjual berbagai macam jeroan ia sangat menjaga pola makannya dan harus higienis. Namun kali ini iyaa mengalah demi sahabatnya itu. Dari pada ia harus melihat sahabatnya itu marah dan mengacuhkan dirinya karna baginya seminggu tanpa Dira membuatnya hampa.

__ADS_1


__ADS_2