
Ella dan yang lain pun sudah berada di dermaga Gili mas. Sebelum turun dari kapal pesiar, Dian mewanti-wanti Ella dan yang lain agar kembali ke dalam kapal sebelum pukul 5 sore. Karena kapal pesiar akan kembali berlayar pukul 5 sore.
Ella dan yang lain pun mengangguk paham, lagipula mereka juga tidak akan mungkin berlama-lama. Karena memang hanya ingin berkuda dan mencicipi makanan tradisional saja di tempat itu. Mereka tak membawa banyak yang saku untuk berbelanja, hanya akan membeli beberapa oleh-oleh saja untuk keluarga mereka nanti di rumah.
Tiga hari sudah berlalu, ini adalah hari ke empat mereka liburan. Ella dan teman-temannya pun sudah tiba di sebuah tempat wisata yang menyediakan olahraga berkuda yang akan di temani warga lokal yang tentu saja bisa mengendalikan kuda dengan baik.
Sebenarnya Ella belum pernah melakukan olahraga berkuda, bahkan melihat kuda dari dekat pun baru kali ini. Ella sejak awal selalu berada agak jauh, menjaga jaraknya dari kuda-kuda yang sudah di keluarkan pengelola tempat wisata itu yang sudah di siapkan sesuai dengan pesanan mbak Dian.
"Ella, kamu pegang ini. Ambil gambar dan video ku ya. Nanti gantian kalau kamu yang naik, aku ambil gambar mu! oke?" tanya Dinda yang segera memberikan kameranya pada Ella.
Ella tanpa menjawab Dinda juga langsung meraih kameranya. Bahkan tak hanya Dinda, Ella juga mengambil gambar mbak Lusi dan Jacky. Bahkan mbak Dian tak ketinggalan dia abadikan dalam kamera milik Dinda.
Sampai dia mengarahkan kameranya ke arah Jacky, dari arah belakang Jacky. Dua orang pria tampan dengan kemeja kotak-kotak dan celana jeans-nya juga kaca mata hitamnya sedang berjalan sambil memegang tali kekang juga yang juga berjalan beriringan di sebelah mereka berdua masing-masing.
Tanpa sadar Ella malah menzoom ke arah dua orang itu. Bahkan pengaturan gambar makin dia perbesar pada sosok pria tampan dengan rambut ala Kim SeokJin tahun 2022 itu. Mata Laela terlihat berbinar melihat pria tampan itu berjalan ke arah tempat berkuda yang juga sedang di pakai Dinda dan yang lain.
Sosok itu memang sangat tampan, itu juga salah satu sebab Ella dulu jatuh cinta pada pandangan pertama pada Hendra. Apalagi ketika pria tampan itu tersenyum, Ella seolah meleleh di tempatnya.
Beberapa saat Ella memang sempat terpana, sampai dia mendengar teriakkan Dinda.
"Ella, bagus tidak gambarnya?" tanya Dinda yang lewat di depan Ella lalu pergi menjauh lagi dengan menunggangi kudanya.
Ella yang sempat terhipnotis pada penampilan Hendra yang datang bersama dokter Imran pun langsung mengalihkan pandangannya dari dua orang pria itu. Ella lalu melihat ke rekaman kamera, dia menghapus rekaman yang merekam Hendra tadi.
"Ck.. bisa-bisanya aku malah rekam gambar orang tengil itu. Ck.. bisa-bisanya siwer ini mata!" omelnya Ella pada dirinya sendiri.
Setelah menghapus gambar dan rekaman Hendra, Ella mengangkat tangannya dan menunjukkan jempolnya pada Dinda. Dinda terlihat sangat senang. Begitu pula dengan mbak Lusi dan Jacky.
"Kakaknya, gak mau naik kuda juga. Saya bisa bantu ambil gambar!" kata salah seorang warga lokal yang mungkin merasa iba pada Ella yang malah di sibukkan mengambil gambar sedangkan yang lain sibuk berkuda.
Tapi mendapatkan tawaran seperti itu, Ella langsung menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gak usah kak, aku kurang bisa berkuda!" jawab Ella.
Orang tersebut langsung mengangguk paham dan langsung meninggalkan Ella yang masih sibuk merekam.
Setelah beberapa saat kemudian, mata Ella pun di buat melebar karena melihat sesuatu yang cukup jauh dari tempat itu sedang mendekat. Merasa penasaran sekaligus khawatir, Ella langsung memperbesar pengaturan pengambilan gambar pada kamera Dinda lagi.
Setelah jelas dengan apa yang dia lihat, Ella pun langsung menurunkan kamera yang terpasang tali yang di kalungkan di lehernya.
Ella langsung mengangkat kedua tangannya, dan melambaikan kedua tangannya itu ke arah teman-temannya.
"Angin... aduh apasih namanya. Teman-teman, ada angin beliung!" teriak Ella ke arah teman-temannya.
Beberapa orang yang melihat apa yang Ella lihat juga langsung berteriak saling memperingatkan satu sama lain dan berlari menjauh dari tempat itu.
Dinda yang lain di arahkan oleh pemandu berkuda untuk memacu kuda mereka ke arah yang lebih aman. Ella yang panik pun berusaha untuk berlari. Dan tanpa dia duga, Hendra datang dengan cepat ke arahnya dan langsung menarik dirinya naik ke atas kuda yang Hendra kendalikan.
"Eh, suruh siapa main angkat-angkat aja?" tanya Ella kesal.
Wajah Ella jadi cemberut, bibirnya juga manyun. Tapi dia berpikir benar yang dikatakan Hendra, dia harus bisa menyelamatkan diri dulu. Masalahnya dia juga masih punya banyak cicilan di kantor. Cicilan AC untuk kamar ayah dan ibunya masih dua bulan lagi. Juga cicilan motor adik bungsunya Romi masih enam bulan lagi. Meski awalnya Agra ingin membelikan nya tapi Ella menolak, dia ingin mandiri juga.
"Itu bibir bisa di kondisikan gak? kissable banget itu!" seru Hendra yang langsung membuat Ella menutup mulutnya dengan satu tangannya.
Sementara satu tangannya berpegangan pada lengan Hendra. Setelah itu semua saling menyelamatkan diri mereka masing-masing. Setengah jam kemudian, Ella baru sadar kalau sepertinya mereka terlalu jauh memacu kuda yang mereka berdua tunggangi hingga jauh ke tengah hutan.
"Berhenti, berhenti!" seru Ella.
Ella pun menoleh ke kanan dan ke kiri, dia sudah melihat angin beliung itu jauh dari tempat mereka berada saat ini. Tapi Ella malah bingung karena sekarang mereka benar-benar ada di tengah hutan.
"Ini dimana? ayo kembali!" kata Ella yang tak mau lama-lama berduaan dengan Hendra.
Bukannya mengikuti kata Ella, Hendra malah turun dari kuda mereka.
__ADS_1
"Eh, kenapa turun?" tanya Ella panik.
Ella panik karena dia tidak bisa mengendalikan kuda. Berkuda, kegiatan itu benar-benar baru kali ini dia lakukan.
"Aku lelah!" kata Hendra.
"Ya, kalau lelah cepat naik dan kita cepat kembali ke teman-teman yang lain!" balas Ella.
"Bagian belakang ku sakit, coba perhatikan berapa tempat yang kamu sisakan dari pelana kuda itu untukku?" tanya Hendra yang malah langsung duduk dan meluruskan kakinya di atas rumput kering.
Ella lalu melihat ke arah pelana yang ada di depannya. Dan benar saja, dia memang hanya menyisakan sedikit tempat untuk Hendra. Sedikit sekali.
Saat Ella sedang tidak fokus dan melihat ke arah lain, kaki Hendra memukul bagian belakang kaki kuda itu. Hingga membuat hewan berkaki empat itu meringkik lalu menaikkan dua kaki depannya.
Brukkk
Ella terjatuh dan kuda itu pun lari dan menjauh dari sana.
"Eh cepat tangkap!" seru Ella.
Mendengar Ella bicara seperti itu, Hendra bergegas menangkap Ella.
Plakkk
Tapi sebuah pukulan malah mendarat di lengan Hendra.
"Bukan aku, kudanya. Astaga!" kesal Ella pada Hendra.
***
Bersambung...
__ADS_1