
Hendra menjauh sedikit dari Ella sambil mengelus lengannya yang terasa panas. Sudah bertahun-tahun dia tidak mendapatkan tanda kasih sayang dari Ella itu.
Injakan di kaki Hendra, pukulan di lengannya bahkan terkadang cubitan sayang di perut samping dekat pinggang Hendra. Semua itu adalah hal yang biasa Ella lakukan pada Hendra sebagai pelampiasan rasa kesal atau gemasnya dulu. Tapi bagi Hendra itu adalah sebuah tanda sayang.
"Kamu masih galak saja, sama seperti dulu!" gumam Hendra yang terdengar jelas oleh Ella.
Mata tajam Ella langsung melotot ke arah Hendra.
"Tidak usah bicara yang dulu dulu lagi. Dulu ya dulu, sekarang ya sekarang. Huh... mana kudanya jauh bener lagi. Gimana kita bisa balik ke tempat tadi?" tanya Ella yang kesal.
Apalagi cuaca mendadak mendung setelah angin beliung tadi. Membuat Ella semakin cemas dia harus bagaimana agar segera kembali ke tempat berkuda dan tidak hanya berdua dengan Hendra.
***
Sementara itu di rumah sakit, semua orang tampak serius di ruang dokter Ibrahim. Agatha di temani Yudhi dan Kartika duduk di depan meja kerja dokter Ibrahim yang terlihat mengeluarkan beberapa laporan medis dan foto Rontgen dari bagian punggung Agra setelah pelaksanaan operasi selesai di lakukan.
"Semuanya baik-baik saja kan dok?" tanya Agatha yang sudah tidak sabar menunggu hasil operasi putranya satu-satunya.
Tapi Yudi dan Kartika terlihat cemas, masalahnya raut wajah dokter Ibrahim sejak tadi terlihat sangat serius dan terlihat pula beberapa kali menghela nafas berat dan panjang. Agatha memang selalu bersikap tenang, tapi Kartika tidak bisa seperti Agatha. Sejak tadi dia bahkan sudah menggenggam erat tangan Yudi dengan telapak tangan yang sangat dingin, jelas sangat bisa di rasakan oleh Yudi yang jadi ikut cemas juga.
"Kecelakaan itu... punggung dokter Agra terbentur sangat keras. Beruntungnya operasi nya berjalan dengan lancar, dan dokter Agra tidak akan lumpuh seperti kemungkinan terburuk yang sudah saya sampaikan pada nyonya dan tuan. Tapi...!"
Dokter Ibrahim kembali menjeda kalimatnya, membuat Agatha yang awalnya menghela nafas lega pun kembali menjadi cemas.
__ADS_1
"Tapi apa dokter?" tanya Kartika yang sudah panik dari tadi.
Dokter Ibrahim pun melihat ketiga orang yang duduk di depannya itu secara bergantian.
"Tapi kemungkinan untuk dokter Agra bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami mungkin akan sangat sulit...!"
"Maksudnya bagaimana dok?" tanya Agatha yang sudah menitikkan air mata yang sejak tadi sudah berusaha keras dia bendung. Menyela penjelasan dokter Ibrahim yang terkesan sangat hati-hati memilih kata-kata yang tepat yang akan dia sampaikan pada Agatha dan yang lain yang ada di ruangan itu.
"Benturan keras itu menyebabkan alat reproduksi dokter Agra sulit untuk bangun... maksud saya, bagian itu akan sulit untuk...!"
Dokter Ibrahim kembali menjeda ucapannya dan membuka kacamata nya. Dia sangat kesulitan menyampaikan berita ini, karena dia pun sudah mendapatkan kabar kalau akhir bulan ini dokter Agra akan menikah.
Agatha yang sudah tahu apa maksud dokter Ibrahim pun langsung terisak. Dia tidak tahu kalau akan ada hal seperti ini menimpa putranya yang menurutnya sangat baik orangnya. Dan merasa hal buruk seharusnya tidak terjadi pada Agra. Kartika yang mengerti betul apa yang di rasakan oleh Agatha langsung berdiri dari duduknya dan langsung berdiri di belakang Agatha sambil memegang dia lengannya dengan lembut.
"Segala jenis penyakit itu ada obatnya tuan, nyonya. Dari hasil pemeriksaan, kemungkinan untuk sembuh itu masih ada meskipun hanya sekitar tiga puluh persen saja. Tapi seperti kata nyonya tadi, dokter Agra adalah orang yang baik. Aku akan ikut mendoakan dokter Agra, agar keajaiban itu terjadi!" ucap sang dokter.
Ucapan dokter Ibrahim itu sebenarnya di maksudkan untuk memberikan harapan bagi Agatha dan yang lain. Tapi Agatha malah mendengar kata keajaiban itu dan mengartikan nya sebagai sesuatu yang sangat sulit.
Menurut Agatha yang dimaksud oleh dokter Ibrahim adalah, Agra hanya bisa sembuh jika ada keajaiban. Dan Agatha sangat paham, kalau yang namanya keajaiban itu terjadi satu banding satu juta. Akan sangat sulit.
Ketiganya pun kembali ke ruang rawat Agra, sepanjang koridor menuju ruangan rawat Agra, Agatha benar-benar diam tak bicara. Hal itu membuat Kartika sangat cemas.
"Mbak...!"
__ADS_1
"Kita batalkan saja pernikahan Agra dan Ella, Tika!" ujar Agatha tiba-tiba menyela ucapan yang ingin di sampaikan oleh Kartika.
Kartika langsung terdiam, Yudi juga menghentikan langkahnya.
"Kenapa mbak bicara seperti itu, Ella dan Agra akan menikah akhir bulan ini. Dan mereka saling mencintai...!"
"Tapi Agra cacat Tika, Agra cacat!" Isak tangis Agatha tak bisa dia hentikan lagi.
Kartika langsung memeluk erat Agatha.
"Mbak tadi kan dengar kata dokter, Agra masih bisa sembuh...!"
"Kemungkinannya hanya tiga puluh persen Tika, butuh waktu bertahun-tahun. Aku tidak mau Ella menderita!" ujar Agatha sangat sedih.
Yudi yang melihat Agatha menangis seperti itu merasakan sakit dan pedih di hatinya, begitu pula dengan Kartika. Wanita yang sedang dia peluk itu adalah wanita yang sudah menerima keluarga mereka dengan tangan terbuka meskipun Agatha tahu, Yudi dan keluarganya akan sangat menyusahkan mereka.
Di mata Yudi, Agra dan Agatha adalah sosok manusia yang berhati malaikat. Dengan tulus dan ikhlas mereka merangkul Ella dan keluarganya di saat paling terburuk dalam hidup mereka.
"Mbak Agatha, jangan bilang begitu. Ella tidak akan menderita hidup bersama dengan Agra. Aku tahu, jika Ella mengetahui hal ini pun dia akan berpikiran sama dengan ku dan ibunya. Mbak, Ella justru akan menderita kalau dia tidak jadi menikah dengan Agra. Seperti yang anak-anak kita katakan pada kita sebelum kita menentukan hari pernikahan mereka, mereka saling mencintai dan akan menerima apapun yang akan terjadi di masa depan mereka sambil bergandengan tangan dan saling menguatkan! mbak ingat kan?" tanya Yudi yang berusaha meyakinkan Agatha agar jangan terlalu putus asa.
Agatha kembali menangis di pelukan Kartika. Sementara Kartika pun punya pemikiran yang sama dengan Yudi. Dia tahu Ella sangat menghargai dan menghormati Agra. Dia yakin, putrinya itu akan menerima ketidaksempurnaan Agra itu. Karena itu masihlah hal kecil, di bandingkan dengan apa yang sudah Agra lakukan untuk Ella dan keluarganya. Jika tidak ada Agra saat itu, Romi adik Ella, anak bungsu Yudi dan Kartika mungkin sudah tidak ada lagi di dunia ini sekarang.
***
__ADS_1
Bersambung...