
Sementara Ella semakin bete karena tak bisa jalan-jalan dengan teman-temannya. Menghubungi Agra pun tak bisa. Alhasil dia hanya duduk diam di kursi santai yang ada di belakangnya sambil memandang ke arah lautan yang begitu luas.
Tapi saat dia sedang santai sambil mendengarkan musik, seorang pria dengan sebuah laptop di tangannya juga ikut duduk di samping Ella.
Ella menoleh ke arah pria itu, tapi bukan untuk melihat pria itu. Ella melihat ke arah kursi santai yang jumlahnya mungkin belasan yang terjejer rapi di tempat itu. Ella heran saja, kenapa dari belasan kursi santai yang kosong. Pria berkacamata dan memegang laptop di tangannya itu malah duduk di sebelahnya. Benar-benar persis di sebelahnya. Tentu saja hal itu membuat Ella tidak nyaman.
Tapi daripada bertanya pada pria itu, Ella memilih untuk pergi saja dari tempat itu. Namun baru Ella akan berdiri, pria itu malah memanggil Ella.
"Marcella Wijaya, itu namamu kan?" tanya pria itu pada Ella.
Yah, pada siapa lagi? kan di situ hanya ada Ella dan pria berkacamata itu. Ella sontak saja langsung menghentikan aktivitas nya. Dia tidak jadi pergi dan malah berbalik menghadap ke arah pria berkacamata itu.
"Anda siapa ya?" tanya Ella heran.
Pria itu lantas melepaskan kacamatanya dan memandang ke arah Ella dengan ekspresi mata dan wajah yang sangat serius.
"Aku Imran, dokter Imran. Dokter yang menangani Hendra Adirja!" jawab sang dokter.
Mendengar jawaban dokter itu, Ella tak bisa menyembunyikan ekspresi wajah cemasnya. Meski dia membenci Hendra, namun mendengar pria itu di tangani dokter. Ella menjadi tidak tenang dalam hatinya.
"Kenapa dengan pria itu, apa dia sakit?" tanya Ella.
Dari pernyataan yang diajukan Ella, dan dari sinar mata wanita yang tadinya ketus itu, tapi saat Imran mengatakan dia dokter dan sedang menangani Hendra. Imran juga bisa merasakan kalau Ella perduli pada Hendra. Wanita berusia 26 tahun itu masih sangat mencemaskan keadaan Hendra Adirja.
"Duduklah! aku akan jelaskan semuanya!" kata Imran.
Dan tidak tahu kenapa, Ella menuruti apa kata Imran. Entah karena Ella memang ceroboh, atau memang dirinya sangat ingin tahu sebenarnya tentang keadaan pria bernama Adirja itu. Tidak sampai setengah menit setelah Imran menyuruhnya duduk, Ella sudah duduk dengan wajah serius di sebelah Imran. Di kursi santai yang sebelumnya juga dia duduki tadi.
Imran lalu mengangkat laptopnya dan meletakkan nya di pangkuannya. Lalu Imran membuka laptop itu.
__ADS_1
"Kamu sudah mengenal Hendra lama kan?" tanya Imran sambil membuka sebuah dokumen di laptop nya.
Ella masih melihat ke arah layar monitor laptop Imran, dan dia hanya mengangguk sekilas.
"Kalian bahkan sempat berpacaran bukan?" lanjut Imran bertanya.
Tapi kali ini, Ella mulai kesal. Dia menatap tajam ke arah Imran. Lalu memicingkan matanya.
"Aku akan pergi kalau kamu bertanya yang tidak-tidak lagi!" gertak Ella.
"Oke baiklah, lihat ini!" ucap Imran sambil mengarahkan layar monitor laptopnya ke hadapan Ella.
Mata Ella terlihat berkaca-kaca setelah melihat gambar yang berganti setelah beberapa detik di layar monitor laptop dokter Imran.
"Hen... dra!" lirih Ella terlihat jelas dia sangat sedih.
"Benar, ini Hendra!" tegas dokter Imran.
Dokter Imran lalu menghela nafasnya panjang.
"Sebenarnya aku tidak ingin ikut campur masalah percintaan orang. Tapi itu jika orang lain, Hendra Adirja adalah sahabatku, kamu bersahabat setelah operasi itu. Dia adalah pria yang baik, sangat tulus!" jelas dokter Imran.
"Bagaimana dia bisa seperti itu?" tanya Ella yang air matanya sudah menetes dari sudut matanya.
"Enam tahun lalu, dia sakit. Sangat parah, jantungnya mungkin saat itu hanya bisa bertahan kurang dari satu tahun...!"
Tes... tes...
Ella terisak, dia bahkan memejamkan matanya mendengar apa yang dikatakan dokter Imran.
__ADS_1
"Orang tuanya mencarikannya donor jantung sampai ke luar negeri. Dan usaha mereka berhasil, namun begitu kembali mereka mendapati Hendra sudah pacaran dengan seorang anak penjual mie ayam, kedua orang tua Hendra yang keturunan ningrat tak mau menerima hal itu, dan tak bisa mentolerir hal itu. Orang tua Hendra memberi syarat jika Hendra mau operasi maka dia harus memutuskan hubungannya dengan gadis itu. Juga menghancurkan hatinya agar gadis itu tidak datang lagi ke kehidupannya!" terang Imran.
Imran lalu memberikan sapu tangannya pada Ella, karena Ella terus terisak. Ella menolak, dan memilih memakai sapu tangannya sendiri dari dalam tas.
"Hendra datang padaku, dia bilang tidak mau di operasi karena dia tidak mau menyakiti mu..!"
Ella mengangkat kepalanya dan melihat ke arah dokter Imran. Ella berusaha melihat dokter itu berbohong atau tidak.
"Aku bersumpah, dia datang padaku dan memilih menghabiskan waktu kurang dari satu tahunnya bersama mu!"
Deg
Jantung Ella benar-benar ingin mencelos dari tempatnya.
'Sampai seperti itukah kamu menyayangi ku, Hen?' tanya Ella dalam hati.
"Tapi aku katakan padanya untuk menuruti perkataan orang tuanya. Karena kemungkinan keberhasilan operasinya itu adalah 99 persen. Dan hidupnya akan lebih lama, jadi dia bisa menghabiskan waktu lebih lama bersamamu. Dia setuju, tapi setelah operasi delapan bulan setelah itu, dia terus mencari mu Ella, tapi semua akses tentangmu di tutup. Saat dia ke rumah mu, dia sampai sakit lagi selama beberapa bulan karena tahu rumah mu terbakar. Ibunya bilang padanya kalau kamu dan keluargamu tewas dalam kebakaran itu!" jelas dokter Imran.
Ella terdiam, dia tak bisa berkata-kata saat ini. Dia pun tak tahu penyakit Hendra dulu. Kalau dia tahu, dia sendiri yang akan menjauh dari Hendra, agar pria yang pernah menjadi pria yang paling dia cintai itu tetap hidup.
"Dua hari lalu, aku melihat senyum sahabat ku itu kembali. Yang selama lima tahun lebih tidak aku lihat, dia bilang padaku jangan katakan apapun tentang penyakitnya pada orang lain. Tapi aku rasa jika aku tidak mengatakan ini padamu, sekeras apapun usaha Hendra mendekati dan membujuk mu dia tidak akan berhasil kan?" tanya Imran.
"Karena kamu mengira dia telah menghancurkan kehidupan mu, tapi dia benar-benar tidak tahu semua itu Ella. Mungkin dulu dia tidak bisa berbuat banyak, tapi sekarang dia adalah Hendra Adirja yang berbeda. Tidak akan ada yang bisa mengendalikan nya seperti enam tahun lalu!" tegas dokter Imran.
"Jika kamu ingin menemuinya, maka dia ada di lantai 7. Kamar sweet gold. Aku akan pergi, senang bisa bertemu denganmu Ella!" ucap dokter Imran meninggalkan Ella yang masih termenung sendirian.
***
Bersambung...
__ADS_1