
Sementara itu Ella masih terus berjalan sambil mengomel di antara semak-semak rumput liar yang tingginya sampai di atas lutut orang dewasa. Terkadang tangannya mengibas-ngibas karena tertempel bunga-bunga halus dari rumput liar di sekitarnya.
Hendra juga hanya mengikuti langkah Ella, sambil terus memperhatikan langkah wanita di depannya itu. Untung saja keduanya pakai jeans dan kemeja lengan panjang. Jika tidak, mungkin lengan tangan dan kaki mereka bisa saja terluka karena goresan daun-daun yang tajam di kedua sisinya dan ranting-ranting yang kering yang berjatuhan dari pohon di sekitar tempat itu.
Ella bahkan sudah berkali-kali mengeluarkan ponselnya, dan sama sekali tidak ada signal di tempat itu. Tentu saja tidak ada, karena tower provider internet belum di bangun di tempat itu. Tempat yang masih sangat asri, dan sangat naturalistik sekali. Bahkan penduduk lokal masih menggunakan kuda sebagai alat transportasi mereka. Hanya para tour guide dan pemilik peternakan kuda yang memiliki kendaraan sebagai alat mobilitas. Kendaraan penduduk desa di sana juga hanya sepeda gowes saja.
"Sekarang bagaimana?" tanya Ella yang tiba-tiba berbalik dan berkacak pinggang di depan Hendra.
Hendra yang memang ikut berhenti saat langkah Ella berhenti pun terkekeh kecil.
"Kamu bertanya seolah aku membawamu ke dalam masalah El, padahal aku baru saja menyelamatkan mu dari ****** beliung. Aku menyelamatkanmu, artinya apa? aku ini pahlawan mu!" ujar Hendra.
Sebenarnya, Hendra mengatakan hal itu hanya untuk menghibur Ella. Tidak ada maksud lain, karena Hendra sudah melihat wajah Ella yang bete bukan main.
Ella pun mendengus kesal.
"Kamu menyelamatkan kita, tapi kamu mengarah ke jalan yang salah. Kita di tengah hutan, kudanya juga lari, entah kenapa dia lari. Dan kita sudah berjalan lama sekali, tapi masih tetap saja tidak kelihatan jalanan atau apapun itu selain rumput aneh ini!" keluh Ella panjang lebar.
Mendengar semua keluhan dari Ella itu, Hendra malah langsung duduk di bawah sebuah pohon lagi.
"Eh, kenapa malah duduk sih?" tanya Ella yang kesal seolah Hendra tak perduli sama sekali dengan situasi yang mereka hadapi saat ini.
__ADS_1
"Pikirkan caranya Hen? kita bisa mati di makan harimau liar di sini!" lanjut Ella lagi sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
"Kamu tidak membaca peta pulau ini ya, ini taman Nasional, kawasan pariwisata. Tidak ada harimau liar di sini. Dan beruntungnya, kamu sekarang ini sedang tersesat dengan Hendra Adirja, pemilik kapal pesiar Sweet Cruise yang sangat terkenal itu, kita hanya perlu menunggu di sini saja akan banyak orang yang mencari kita nanti!" seru Hendra dengan tatapan penuh kebanggaan pada Ella.
Ella hanya bisa menghela nafasnya. Karena apa yang dikatakan Hendra itu benar, sejak tadi dia juga sudah banyak berjalan dan tak menemukan apapun. Yang ada hanya haus dan lelah.
"Hemat tenagamu, duduk sini!" ucap Hendra sambil menepuk tumpukan daun kering yang ada di sebelahnya.
Ella pun memilih untuk mendengarkan Hendra kali ini. Tapi dia duduk cukup jauh dari Hendra.
Cukup lama mereka berdua sama-sama terdiam. Sampai tiba-tiba saja Hendra bersuara.
"Setelah aku pulih, aku mendatangi rumah mu!" ucap Hendra yang membuat Ella menahan emosinya lagi.
Mereka terus berjalan hingga stasiun dan pindah ke luar kota. Di sana mereka juga tidak punya tempat tinggal. Air mata Ella tiba-tiba saja menetes mengingat semua itu. Tapi Ella langsung memalingkan wajahnya dari Hendra, tak ingin pria itu melihatnya.
"Aku tiba di sana dan rumah mu sudah terbakar, semua orang yang ku tanya bilang kamu dan keluargamu tak selamat Ella. Aku masih ragu, aku mendatangi pemuka agama di sana Ella, dan dia bilang kamu dan keluargamu pergi. Aku juga sudah berusaha mencari mu, tapi sangat sulit. Aku melanjutkan pengobatan dan kuliah di luar negeri sambil terus meminta Imran mencari keberadaan mu. Tapi katanya dia selalu di halangi ibuku...!"
Hendra menjeda sebentar ucapannya.
"Maafkan aku Ella, semua yang terjadi padamu dan keluarga mu adalah kesalahan ku. Tapi sekarang semua sudah berbeda Ella, aku sudah tidak hidup di bawah bayang-bayang ibuku lagi, aku sudah berhasil membangun kerajaan bisnisku Ella. Dan semua ini untuk mu!" tutur Hendra dengan. penuh semangat mengatakan hal itu pada Ella.
__ADS_1
Tapi Ella yang mendengar semua ucapan Hendra itu segera menyeka air matanya lalu terkekeh kecil sebelum melihat ke arah Hendra.
"Kamu benar Hen, semua sudah berbeda. Aku juga akan menikah akhir bulan ini. Kamu sudah sukses dan mandiri kan sekarang, maka carilah wanita yang baik, yang lebih baik dariku. Yang akan di terima oleh ibumu dan keluarga mu. Lalu jangan pernah meninggalkannya atau mematahkan hatinya!" sahut Ella yang membuat Hendra terdiam.
Hendra lantas mendekat ke arah Ella.
"Aku tidak menginginkan wanita lain Ella, itu kenapa sampai saat ini aku sama sekali tidak menjalin hubungan dengan siapapun setelah kamu menghilang...!"
"Aku tidak menghilang Hendra, kamu yang menyuruhku pergi!" tegas Ella menyela ucapan Hendra.
Hendra langsung terdiam seribu bahasa. Sebab yang dikatakan Ella itu benar, dia yang memutuskan hubungan dengan Ella. Agar sang ibu tidak mengusik Ella dan keluarganya selama Hendra operasi dan dalam masa pemulihan.
Hendra tertunduk lesu.
"Kamu benar, aku yang memutuskan hubungan kita. Aku yang bilang agar kamu menjauh dariku, tapi apa kamu tahu kenapa aku melakukan semua itu, itu semua demi...!"
"Apapun alasannya, demi apapun itu seharusnya kamu jujur. Kamu harusnya jujur kalau kamu sakit, harusnya kamu juga katakan padaku kalau ibumu sangat tidak menyukai ku. Setidaknya sebelum ibumu melakukan semua itu pada ku dan keluarga ku. Aku bisa menjauh dari keluarga ku hingga mereka tak ikut menanggung semua kesalahan ku karena mencintai seseorang yang tak sepatutnya aku cintai!" sela Ella lagi yang air matanya sudah mengalir deras di pipinya.
Setelah menumpahkan semua perasaannya dan Hendra hanya bisa tertunduk diam karena dirinya juga merasa sangat bersalah. Ella langsung menyeka air matanya.
"Sekarang semua sudah terlambat Hendra, sudah terlambat!" tegas Ella.
__ADS_1
***
Bersambung...