Cinta 16 Hari Di Sweet Cruise

Cinta 16 Hari Di Sweet Cruise
Bab 18


__ADS_3

Ella dan Hendra sudah berada di ruang makan di ruangan Hendra. Makanan yang tersaji di meja makan itu semuanya adalah masakan Hendra.


Dan Ella juga percaya saat Hendra mengatakan semua itu hasil karyanya, karena setahu Ella, Hendra memang sangat pandai memasak.


"Silahkan di cicipi makanannya, lalu katakan bagaimana rasanya!" kata Hendra.


Ella langsung menganggukkan kepalanya dan mulia mencicipi makanan yang tersaji di atas piring di atas meja di hadapannya.


Setelah memasukkan satu suap tumis daging dan kentang goreng ke dalam mulutnya. Ella langsung tersenyum. Karena masakan Hendra memang seenak itu. Masakan Hendra sangat enak bahkan membuat Ella ingin segera makan lagi suapan kedua. Sampai dia lupa kalau Hendra sedang menunggu pendapat Ella tentang masakannya. Bagaimana rasanya.


Tapi karena Ella terus makan, maka Hendra juga hanya bisa tersenyum.


Setelah semua makanan yang ada di piringnya habis, baru Ella melihat ke arah Hendra. Lebih tepatnya melihat ke arah piring Hendra yang makanannya belum tersentuh sedikit pun.


Hendra yang melihat gerak-gerik Ella itu mengerti apa yang di inginkan oleh Ella. Hendra pun menarik piring kosong Ella lalu meletakkan piringnya ke hadapan Ella.


"Makanlah lagi, masih ada yang lain di dapur!" kata Hendra.


Tanpa ragu Ella memakan lagi makanan itu, jangan salahkan Ella. Karena memang porsinya benar-benar sangat sedikit. Daripada semangkuk mie ayam, tidak ada separuhnya kalorinya.


"Enak sekali, kenapa tidak buka restoran saja?" tanya Ella setelah dia kembali menghabiskan makanan yang ada di piring keduanya itu.


"Sudah, ada di kota Kenanga. Namanya Marcella Resto!" jawab Hendra.


Ella langsung meletakkan sendoknya. Dia langsung terdiam dan menghela nafasnya.


"Terimakasih untuk makan siangnya, aku akan kembali!" ucap Ella yang langsung berdiri dan hendak meninggalkan ruang makan itu.

__ADS_1


Hendra juga ikut berdiri dan mengejar Ella. Hendra memeluk Ella dari belakang, membuat langkah Ella terhenti. Jantungnya berdetak begitu kencang saat tangan hangat sang mantan itu memeluk erat perutnya.


"Aku sangat merindukanmu, sangat merindukanmu El!" lirih Hendra membuat hati Ella yang dulu memang di penuhi dengan


cinta untuk Hendra langsung terasa sangat sakit.


Begitu sakit hingga Ella rasanya sampai tak bisa bernafas. Enam tahun yang lalu, bahkan lima tahun yang lalu, di dalam hati Ella hanya ada nama Hendra Adirja. Tidak ada ruang untuk orang lain. Namun seiring waktu, empat tahun belakangan, hingga satu tahun terakhir Ella bahkan sudah bisa membuka hatinya untuk Agra dan berkompromi dengan keadaan.


Ella memejamkan matanya menahan sakit di dalam hatinya. Cukup lama, hingga beberapa detik kemudian tiba-tiba saja senyuman Agra terlintas begitu saja di pelupuk mata Ella.


Ella membuka matanya dan langsung melepaskan pelukan erat Hendra darinya. Ella berbalik dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maafkan aku, aku benar-benar harus pergi!" ucap Ella yang langsung berlari meninggalkan Hendra yang hanya bisa diam mematung di tempatnya.


Sesaat Hendra merasa Ella sangat dekat dengannya, sangat dekat hingga harapannya kembali bersama Ella semakin besar. Namun sesaat kemudian Hendra juga merasa kalau Ella mendadak menjadi sangat jauh lagi darinya, bahkan nyaris tak tergapai olehnya.


Ella berlari hingga masuk ke dalam lift. Dia merasa sangat kecewa, sangat kecewa pada dirinya sendiri yang hanya diam saja saat Hendra memeluknya.


Sesampainya di kamarnya Ella kembali membanting tubuhnya di atas tempat tidur dan berusaha untuk menghubungi Agra lagi. Tapi hasilnya tetap sama, nomer ponselnya tidak aktif. Semua media sosialnya terakhir aktif tiga hari lalu.


"Mas, kamu dimana? aku benar-benar butuh bicara denganmu!" keluh Ella sambil memeluk foto Agra yang diraihnya dari atas meja kecil di sebelah tempat tidurnya.


***


Dua hari kemudian...


Pagi hari, Agra sudah kembali dari rumah sakit, namun dia masih dalam proses pemulihan dan beristirahat di rumah ibunya. Ayah dokter Agra sudah meninggal sejak usianya tujuh belas tahun. Agra hanya memiliki ibunya saja di dunia ini.

__ADS_1


"Nak, ibu tinggal dulu ya. Kalau butuh apapun panggil ibu saja ya nak!" ujar Agatha yang langsung di balas anggukan kepala oleh Agra.


Sejak mengetahui hasil operasi itu, Agra memang menjadi sangat pendiam. Dia bahkan sering melamun dan sering tak menyahut seolah tak mendengar jika di panggil dengan suara pelan.


Agatha meninggalkan kamar anaknya dengan tersenyum, setelah menutup pintu kamar Agra. Agatha segera berlari menuju ke kamarnya. Di dalam kamar Agatha menangis sejadi-jadinya. Sambil memeluk foto keluarga, dirinya, suaminya, dan Agra yang kala itu masih SMP.


"Mas, anak kita sedang tidak baik-baik saja. Bantu kami mas, kuatkan hati Agra menghadapi cobaan dari tuhan ini untuknya mas. Dan tolong bukakan hati Ella, agar menerima Agra apa adanya. Aku mungkin menyetujui niat Agra itu, tapi aku tahu, tanpa Ella, Agra akan hancur!" lirih Agatha sambil terisak dan sesekali mengusap gambar suaminya dan Agra yang sedang berpelukan.


***


Siang harinya, kapal pesiar Sweet Cruise kembali berlabuh di dermaga sebuah pulau. Kali ini sangat ramai, karena Hendra benar-benar menurunkan semua barang-barang tuan Curtis sesuai apa yang dia ucapkan kala itu.


Ella juga terlihat diam sambil menyaksikan Hendra yang ada di dekat sebuah truk yang akan turun dari kapal membawa semua barang-barang tuan Curtis.


Ella memperhatikan Hendra yang bahkan tidak menoleh sekalipun padanya. Padahal dia sempat menegur Dinda dan mbak Dian tadi saat melewati rombongan mereka. Bukan hanya itu keanehan yang Ella rasakan, dua hari ini sejak Ella pergi dari ruangan Hendra waktu itu, Hendra benar-benar tidak menggangu nya sama sekali. Menghubungi nya pun tidak.


'Kenapa dengan orang ini?' tanya Ella dalam hati.


Mereka semua pun berjalan-jalan ke pusat kerajinan yang ada di kota tempat bersandar Sweet Cruise ini. Seperti sebelumnya, mbak Dian sudah mengatakan mereka harus kembali sebelum pukul lima sore.


Mereka pun pergi ke pusat kerajinan perak. Di sana mereka melihat proses pembuatan perhiasan perak. Namun suatu kejadian tak terduga terjadi saat Ella tengah asik menyaksikan pembuatan sebuah kalung, seorang wisatawan lain yang membawa dua anak kecil yang terus berlarian, tidak mengawasi anaknya itu dengan benar. Hingga menabrak Ella dan nyaris saja tangan Ella menyentuh tungku kecil panas yang ada di dekatnya.


Ella sudah berteriak, tapi sebuah tangan mengahalau tangannya dari panasnya tungku.


Pria itu mendesis menahan sakit.


"Hendra!" ucap Ella terkejut.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2