
Ella langsung melihat ke arah tangan Hendra yang dia angkat dan terlihat memerah karena panasnya tungku. Gugun yang baru tiba di tempat itu langsung menghubungi dokter Imran. Gugun langsung mengajak tuannya itu ke sebuah tempat istirahat yang ada di dekat tempat kerajinan perak itu.
Ella juga langsung minta ijin pada teman-temannya untuk pergi sendiri. Karena kebetulan kejadian tadi tidak banyak di lihat orang. Hanya si ibu yang ceroboh yang langsung membawa lari anak-anaknya. Sungguh contoh yang tidak baik. Karena seharusnya dia minta maaf pada Ella dan Hendra. Tapi tidak melakukan itu, ibu-ibu tadi malah membawa anaknya menjauh.
Di dalam ruangan itu Imran mengobati tangan Hendra.
"Kamu bukan iron man Hen. Berhentilah bersikap sembrono begini!" ucap Imran menasehati Hendra.
"Kamu tidak mengerti, jika aku tidak melakukan ini maka dia yang akan terluka!" jawab Hendra.
"Dia siapa?" tanya Imran.
"Aku!" ucap Ella yang masuk ke ruangan itu dengan perlahan.
Para penjaga di luar sudah mengenal Ella, jadi mereka membiarkan Ella masuk. Melihat Ella datang dan mengatakan kalau Hendra terluka karena menyelamatkan nya, Imran pun hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan cepat pertanda dia mengerti kenapa sahabatnya Hendra sampai berbuat seperti itu.
"Baiklah sudah selesai. Jangan terkena air dulu sampai lukanya sembuh ya!" kata Imran yang lantas berdiri hendak meninggalkan Hendra dan Ella.
Tapi Hendra langsung berdiri dan bertanya.
"Kamu mau kemana?" tanya Hendra.
"Hei, aku mau keluar lah. Aku akan jadi obat nyamuk di sini!" jawab Imran yang langsung keluar dari ruangan itu.
Hendra juga berusaha memakai jaketnya lagi meski agak susah karena telapak tangan kanannya terbalut perban sampai ke jari-jarinya.
Melihat Hendra kesulitan seperti itu, Ella lantas meraih jaket Hendra itu dan berusaha membantu Hendra memakai jaketnya. Hendra langsung diam dan berbalik ke arah Ella yang tengah menundukkan kepalanya sambil mengarahkan jaket milik Hendra padanya.
"Aku bantu kamu pakai jaket mu!" ucap Ella tanpa melihat ke arah Hendra.
__ADS_1
Hendra pun tidak menolak tapi dia tetap diam dan tak bicara. Setelah jaketnya terpasang, Hendra langsung berjalan ke arah luar ruangan itu, Ella hanya bisa menghela nafasnya panjang. Dia bahkan belum mengucapkan terimakasih pada Hendra atas bantuan Hendra tadi. Jika Hendra tadi tidak membantunya, tentu tangan Ella yang akan terluka.
Setelah itu Ella kembali ke rombongan teman-temannya. Namun ada seorang anak kecil perempuan yang menghampiri Ella dan memberikan sebuah paper bag kecil padanya.
"Kakak, ini untukmu!" kata gadis kecil dengan pakaian khas penduduk lokal itu.
Ella meraih paper bag yang di ulurkan padanya itu dan bertanya pada gadis kecil itu.
"Untukku?"
Dan gadis kecil itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Dari siapa?" tanya Ella.
"Paman yang tangannya di perban!" jawab gadis kecil itu sambil berlari menjauh dari Ella.
Ella yang tahu siapa orang yang di maksud oleh gadis kecil itu langsung terdiam dan memandangi paper bag itu dengan tatapan bingung.
Beberapa jam kemudian mereka pun kembali ke kapal lagi, Dinda dan yang lain memamerkan apa yang mereka beli pada Ella.
"Harganya murah banget, di Seroja mana dapat perhiasan bagus begini, dengan harga segitu!" kata mbak Lusi yang senang mendapatkan sepasang anting untuk putrinya yang sudah SMP dengan harga yang sangat miring.
"Ya wajarlah mbak, kan langsung dari pengrajinnya!" ujar Dian yang juga membeli sebuah gelang.
Meskipun dia sering datang ke kota itu, karena enam bulan sekali dia menjadi tour guide melewati rute ini tapi dia langsung jatuh hati begitu melihat gelang perak yang ada ukuran bunga lotusnya.
"Kamu dapat apa El?" tanya Dinda.
Ella menggelengkan kepalanya, karena hadiah dari Hendra tadi sudah dia masukkan ke dalam tasnya sebelum teman-temannya melihat.
__ADS_1
"Aku tidak beli apa-apa." jawab Ella.
Dia memang tidak berbohong, dia memang tidak membeli apapun. Sampai di kamarnya Ella baru mengeluarkan isi paper bag dari Hendra. Sebuah kalung dengan liontin yang ada inisial huruf M. Tentu saja itu inisial namanya.
Ella meletakkan kalung itu kembali ke kotak dan memasukkan nya kembali ke paper bag. Ella pun menyimpannya di dalam lemari.
Waktu makan malam tiba, Ella, Dian dan rombongan menuju ke restoran tempat biasa mereka makan. Di sana malam ini ada permainannya yang menarik. Yaitu menari dengan iringan musik, di tengah lantai dansa itu ada beberapa kursi tersusun rapi. Dinda dan yang lain tampak antusias. Namun setelah makan malam Ella malah ingin kembali ke kamarnya. Tapi Dinda malah menarik tangannya dan berjalan ke lantai dansa.
Pembawa acara sudah menyalakan musik dan meminta para pengunjung untuk ikut serta. Sorak Sorai pengunjung lain terdengar setiap ada penumpang kapal yang maju untuk ikut serta.
"Ih Dinda, aku gak mau main begini, gak bisa joget aku!" protes Ella.
Namun tangannya tak kunjung di lepaskan oleh Dinda.
"Jangan gitu dong El, tuh aku sudah minta Jacky rekam kita. Aku mau upload di media sosial aku. Tahu gak sejak aku upload kegiatan di kapal ini juga kemana aja kita pergi, followers aku tuh nambah ratusan ribu. Plis dong El, bantuin temen mu yang pengen benget jadi selebgram ini ya!" pinta Dinda dengan tatapan memelas pada Ella.
Akhirnya Ella pun hanya bisa mendengus kesal tapi tetap berada di sana dengan Dinda.
Dinda dan Ella sudah berada di barisannya. Namun saat mereka sedang bersiap-siap tiba-tiba tepuk tangan dan sorak Sorai pengunjung makin terdengar riuh. Penasaran dengan apa yang terjadi, Ella dan Dinda pun menoleh ke arah sumber suara.
Ternyata Hendra Adirja dan Imran juga ikut berada dalam barisan orang-orang yang ikut berpartisipasi dalam acara tarian kursi tersebut.
Ella sedikit mengernyitkan keningnya setelah melihat tangan Hendra yang masih terbalut perban. Dia tampak khawatir karena pasti sangat sakit jika tangannya itu terluka karena tidak sengaja tersenggol orang lain atau terkena kursi kayu yang ada di belakang mereka ini.
Sementara Ella mencemaskan Hendra, seorang pria di sebuah kamar yang gelap dengan melihat siaran langsung dari media sosial Dinda. Dengan nama akun baru Agra mengikuti Dinda dan melihat setiap apa yang Dinda posting dengan tujuan ingin tahu apa yang sedang Ella lakukan.
Melihat Ella yang tengah duduk di sebelah Dinda dengan gaun malam itu, Agra pun mengulas senyum di bibirnya namun dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku rindu kamu El!" gumam nya lirih.
__ADS_1
***
Bersambung...