
Hendra yang kebetulan saja lewat di sebuah butik yang ada di lantai 3 ketika dia sedang berkeliling kapal itu bersama dengan Gugun dan Selly. Menyukai sebuah gaun yang terpanjang di etalase toko tersebut, Hendra langsung kepikiran dengan Ella. Dan berniat membelikan gaun itu untuk Ella.
Hendra pun menghubungi Ella karena dia sudah punya nomer ponsel Ella. Tapi ketika Hendra menghubungi nomer Ella dan panggilannya langsung di terima. Ella malah memanggilnya dengan panggilan mas. Selama ini bahkan Ella tak pernah memanggil Hendra dengan sebutan lain selain hanya dengan namanya saja tanpa embel-embel apapun.
Ketika Hendra protes karena kesal, Ella malah membalasnya dengan pertanyaan yang terkesan ketus.
"Kamu, ada apa?" tanya Ella membuat Hendra semakin menghela nafasnya kecewa.
Namun Hendra juga tidak mau mempermasalahkan hal itu. Karena dia sedang mengejar Ella. Dia tidak mau membuat Ella makin benci atau menaruh kesal semakin dalam padanya.
"Nanti siang makan siang di tempatku ya?" tanya Hendra.
Terdengar seperti bukan sebuah pertanyaan memang, lebih seperti sebuah ajakan yang memang jawabannya harus setuju.
"Dimana?" tanya Ella yang otaknya sedang loading.
"Di ruangan ku! aku ingin memberikan sesuatu padamu!" jawab Hendra yang masih menanggapi Ella dengan sangat sabar.
"Boleh menolak tidak?" tanya Ella.
"Bagaimana ya? apa setelah yang aku lakukan tadi untuk mu dan sahabatmu, kamu masih tidak mau kalau hanya sekedar menemaniku makan siang, El?" tanya Hendra.
Cukup lama Ella terdiam, dan Hendra juga hanya diam menunggu jawaban dari wanita yang bahkan sampai enam tahun masih sangat dia cintai itu.
"Baiklah, nanti siang aku ke sana!" ujar Ella.
Jawaban Ella itu langsung membuat senyum Hendra merekah. Gugun dan Selly yang melihatnya pun ikut senang.
Setelah Ella menutup panggilan telepon dari Hendra. Hendra lalu menyimpan kembali ponselnya. Dan melihat ke arah daun berwarna hijau putih gading yang ada di depannya itu.
__ADS_1
"Bungkus pakaian ini Gun, bawa ke kamarku ya!" ujar Hendra yang langsung di balas anggukan, bahkan Gugun sampai sedikit membungkukkan badannya ketika dia menganggukkan kepalanya.
Setelah itu, Hendra lanjut berkeliling lagi. Dia tidak mau sampai ada hal yang tak di inginkan seperti kejadian tuan Curtis. Hendra ingin memastikan kalau semua mitra dagangnya bersikap sopan pada pengunjung. Mau itu dari kelas apapun di kapal pesiar ini.
***
Sementara itu, Agatha masih terus melihat ke arah ponsel Agra yang sejak tadi Agra pandangi.
Agatha tahu apa yang sebenarnya putranya itu pikirkan, Agatha yakin kalau Agra sangat merindukan Ella. Namun Agra tak mau menghubungi Ella.
Sebenarnya Agatha dan kedua orang tua Ella sempat berpikir untuk menyembunyikan masalah hasil operasi itu dari Agra. Namun sayangnya ketika kedua orang tua Ella dan Agatha tidak ada di rumah sakit. Agra malah bertanya tentang keadaannya pada seorang suster. Dan suster yang polos itu malah memberitahukan semuanya pada Agra tentang bagaimana kondisinya.
Awalnya Agra terlihat sangat syock dengan hal itu. Tapi setelah dia berpikir selama semalaman dan tidak tidur. Agra menghubungi ibunya di pagi hari. Dan mengatakan ingin bicara dengan Agatha.
Yang di bicarakan Agra dengan Agatha adalah masalah pembatalan pernikahan nya dengan Ella. Agatha yang setuju dengan putranya dan tak ingin menghancurkan masa depan Ella yang masih sangat panjang hanya bisa mengiyakan permintaan sang anak.
Tapi sejak tadi, Agra benar-benar terus memandangi ponselnya.
Agatha sampai berkaca-kaca, dia tidak menyangka kalau semuanya akan jadi seperti ini. Tapi ketika Agra perlahan meraih ponselnya, Yudi dan Kartika mendadak masuk ke dalam ruang rawat Agra.
"Selamat pagi nak Agra, mbak Agatha!" sapa Yudi dan Kartika bersamaan.
Dengan cepat Agra meletakkan ponselnya lagi di atas meja. Dan tersenyum melihat ke arah calon ayah dan calon ibu mertuanya.
"Selamat pagi om, Tante!" kata Agra.
"Om dan Tante, bawakan kamu bubur ayam. Ini Tante sendiri yang memasaknya. Tante taruh di mangkuk ya?" tanya Kartika yang langsung meletakkan sebuah tas khusus makanan yang dia bawa agar tetap hangat di atas meja.
"Kenapa repot-repot mbak Tika?" tanya Agatha sambil mendekati Kartika yang langsung sibuk membuka termos makanannya dan menuangkan bubur buatannya untuk Agra ke dalam mangkuk kecil yang memang tersedia di ruangan Agra.
__ADS_1
"Aku sengaja memasaknya untuk Agra, repot-repot apa? mana ada repot untuk anak sendiri!" ucap Kartika.
Mendengar ucapan Kartika itu, hati Agra rasanya semakin nyeri. Agra memang tidak hanya menyayangi Ella, tapi juga keluarganya, semua anggota keluarganya. Hingga saat mendengar Kartika bicara seperti itu, Agra semakin tidak tega untuk melanjutkan pernikahannya dan menghancurkan masa depan Ella.
Yudi juga langsung mendekati Agra lalu menepuk bahunya dengan pelan.
"Nak Agra, bagaimana perasaan mu sekarang? sudah baikan?" tanya Yudi menunjukkan perhatiannya pada calon menantunya itu.
Dengan mata berkaca-kaca, Agra menoleh ke arah Yudi yang sedang melihat ke arahnya juga.
"Om, bagaimana kalau pernikahan ku dan Ella di batalkan saja?" tanya Agra dengan wajah sedih.
Yudi terkejut, dia langsung menarik tangannya dari bahu Agra. Begitu pula Kartika yang hampir saja menjatuhkan mangkuk bubur yang akan dia bawa mendekat kepada Agra. Sedangkan Agatha hanya duduk di sofa sambil menunduk sedih.
Kartika dan Yudi langsung melihat ke arah Agatha yang hanya tertunduk diam.
"Nak Agra ini bicara apa?" tanya Yudi terkejut bukan main.
"Aku sudah tahu semuanya om, tentang keadaan ku. Ella masih muda, masa depannya masih panjang. Dia sempura, aku yang kekurangan om. Aku tidak mau sampai membuat Ella menderita hanya karena menikah dengan pria yang cac4t seperti aku!" tutur Agra.
Kartika langsung meletakkan mangkuk yang dia pegang. Dan langsung menghampiri Agra.
"Nak Agra, kenapa memutuskan hal yang kalian berdua sepakati secara sepihak. Ella itu tulus mencintai nak Agra, aku ibunya Ella, aku tahu persis seperti apa putrimu itu. Ella akan tetap menerima apapun yang terjadi. Ella pasti akan semakin sedih kalau sampai dia tahu nak Agra membatalkan pernikahan hanya karena hal kecil seperti ini!" ucap Kartika panjang lebar.
"Ini bukan hal kecil Tante, aku tidak akan bisa mempunyai anak. Ella seharusnya bisa menikah dengan pria yang lebih baik...!"
"Nak Agra, tidak akan ada pria yang lebih baik dari nak Agra untuk Ella. Baiklah, kami para orang tua tidak berhak memaksakan juga kan, meski kami sangat ingin nak Agra dan Ella tetap menikah. Kalau begitu, kita tunggu saja Ella kembali, aku yakin keputusan Ella akan sama seperti kami!" tegas Yudi.
***
__ADS_1
Bersambung...