Cinta 16 Hari Di Sweet Cruise

Cinta 16 Hari Di Sweet Cruise
Bab 21


__ADS_3

Ella baru sadar kalau hanya tertinggal dua kursi di belakangnya. Dan kini hanya ada Hendra dan dokter Imran yang ada di sampingnya.


Mata Ella menatap curiga pada Hendra dan dokter Imran. Tapi dokter Imran langsung buru-buru mengangkat tangannya dan minta pembawa acara menyalakan musiknya kembali.


Musik kembali di nyalakan, mereka masih terus berputar mengitari dua kursi yang tersisa sambil menggerakkan tangan dan kaki mereka dengan ringan. Menari-nari kecil gitu.


Dan tiba-tiba suara musik di hentikan. Dokter Imran sengaja memberi ruang untuk Hendra bisa duduk. Saat Ella sudah duduk di kursi satunya lagi. Dokter Imran bahkan sangat pandai berakting, sampai dia memegang kepalanya dengan kedua tangannya dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat amat kecewa.


"Ah... kenapa aku bisa lebih lambat dari kalian berdua!" ucapnya yang makin membuat Ella curiga pada dokter Imran yang terkesan sangat lebay menanggapi kekalahannya.


Dokter Imran langsung menjauh dari Ella dan hendra.


'Ini rencana siapa ya? Hendra atau dokter aneh itu ya?' batin Ella bertanya-tanya.


Dan ketika Ella sedang berpikir seperti itu, tiba-tiba petugas memintanya segera berdiri untuk bisa mengurangi jumlah kursi yang hanya tinggal dua lagi itu.


Kini kursinya benar-benar hanya tinggal satu saja. Ella dan Hendra berdiri berdampingan. Dan musik pun kembali di putar kali ini mereka berputra mengitari satu buah kursi itu dengan langkah pelan. Mereka berdua saling memandang.


Sorak Sorai Dinda dan teman-teman Ella yang lain tak membuat konsentrasi Ella menjadi berkurang. Dia harus menang, apalagi lawannya Hendra. Dia harus buktikan pada Hendra kalau dia bisa menang dari hendra.


Hendra yang tahu Ella begitu ambisius lantas berkata pada Ella.


"Mau bertaruh? pasti aku yang menang!" kata Hendra.


"Dalam mimpimu!" balas Ella cepat terlihat jelas kalau dia yakin dia akan menang. Apalagi tangan Hendra kan masih terluka.


Ella berpikir kalau dokter Imran lah yang sengaja membuka jalan untuk Hendra. Jadi kalau sudah tidak ada dokter Imran, Ella mengira dirinya tidak akan kalah cepat dengan Hendra.


"Katakan saja kamu takut!" ejek Hendra terkekeh kecil.


Ella tak mau di anggap remeh oleh Hendra.


"Katakan apa taruhannya?" tanya Ella yang terkesan terburu-buru dan lupa berpikir terlebih dahulu sebelum mengatakan hal itu.


"Yang kalah akan mengabulkan satu keinginan pemenang!" kata Hendra.


Ella berpikir kalau dia akan gunakan kesempatan ini untuk Hendra tak lagi mengganggunya.

__ADS_1


"Baiklah setuju!" jawab Ella cepat tanpa berpikir panjang.


Tap


Suara musik pun kembali berhenti. Hendra lebih dulu duduk dan Ella yang tak menyangka Ella lebih cepat darinya malah ikut duduk.


Hasilnya pun semua orang yang melihat mereka lantas terkejut. Dan berseru kaget.


Ella yang menyadari dirinya tengah duduk di pangkuan Hendra pun segera ingin berdiri. Namun tangan Hendra yang terluka malah menahannya.


"Hendra, lepaskan aku!" pekik Ella.


"Aku menang kan? kamu kalah, kalah dalam permainan ini, juga dalam pertaruhan kita!" ucap Hendra yang membuat Ella terdiam.


Dia baru sadar kalau dia memang terlalu gegabah menyetujui pertaruhan dengan Hendra tadi.


"Ella!" panggil Dinda.


Ella tersadar dari lamunannya lalu bangun dari pangkuan Hendra. Semua orang memberi selamat pada Hendra. Ella pun menjauh dari pria itu dan langsung menghampiri Dinda dan teman-temannya.


"Maafkan aku...!"


Ella dan yang lain pun kembali ke kamar mereka masing-masing. Di depan pintu kamar Ella sudah berdiri Selly dengan paper bag di tangannya.


"Ada apa?" tanya Ella.


"Ini, ada hadiah dari tuan Hendra, nona. Harap nona besok pakai ini, untuk pergi jalan-jalan dengan tuan ke suatu tempat!" jelas Selly sambil tersenyum ramah dan mengatakan apa yang diperintahkan Hendra padanya itu dengan sopan pada Ella.


Setelah melihat tulisan mereek dagang yang ada di paper bag itu, Ella merasa tak harus menerima barang pemberian Hendra itu.


"Tidak mau, kembalikan saja pada Hendra!" ujar Ella yang sudah bersiap membuka pintu kamarnya.


"Tapi kata tuan anda kalah, jadi anda harus menepati janji!" seru Selly mengatakan persis seperti yang diperintahkan Hendra padanya.


Tak mau membuat masalah karena Ella sudah sangat lelah hari ini. Dia pun menerima paper bag itu lalu masuk ke dalam kamar sambil mengucapkan terimakasih pada Selly.


Di dalam kamar, Ella meletakkan paper bag itu tanpa melihat apa isinya. Ella kemudian kembali meraih ponselnya dan mencoba untuk menghubungi Agra lagi.

__ADS_1


Tapi berapa kali pun Ella menghubungi Agra, selalu saja di balas suara operator yang mengatakan kalau.


'Nomer yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan'


Mengirim pesan pun hanya centang satu saja berwarna abu-abu. Ella yang makin risau karena terjebak dengan Hendra di kapal ini menjadi takut sendiri.


"Mas Agra, kamu dimana sih mas? kenapa tidak bisa di hubungi. Aku benar-benar ingin dengar suara mu!" gumam Ella yang matanya langsung berkaca-kaca.


***


Keesokan harinya...


Ella pun terpaksa pergi dengan Hendra, karena Selly pagi-pagi sekali sudah menjemputnya. Untungnya hari ini memang tidak ada acara apapun dengan rombongan nya jadi Ella tak perlu memberi alasan.


Mereka pergi ke lantai dua. Ella tentu saja bingung. Tapi ternyata sebuah pintu kecil kapal terbuka, terhubung dengan sebuah jembatan besi yang mengarahkan mereka ke sebuah yacth yang sudah ada di dekat kapal.


"Mau kemana?" tanya Ella yang terkejut karena tangannya di tarik ke arah sana.


"Kencan!" jawab Hendra santai.


"Apa?" pekik Ella dengan mata melebar.


"Kamu kalah Ella, kita akan kencan satu hari ini. Tidak ada alasan menolak, ayo!" ajak Hendra yang langsung menarik tangan Ella menyeberangi jembatan yang di design khusus itu.


"Ta.. tapi...!"


Ella pun terpaksa mengikuti langkah Hendra. Dan di sanalah mereka berdua sekarang berada. Di sebuah yacth yang di kemudikan sendiri oleh Hendra menjauh dari Sweet Cruise.


Mereka menuju sebuah pulau kecil yang tak berpenghuni kelihatannya. Tapi saat sampai di sana sudah terlihat dari tepi pantai kalau di pinggir pantai itu sudah di siapkan seperti sebuah tempat yang sangat romantis. Dengan sebuah tempat berteduh dengan kain-kain putih yang berterbangan. Dan meja juga kursi bahkan ada tumpukan kayu yang di susun seperti api unggun yang belum dinyalakan.


Hendra mengajak Ella untuk turun dan menuju ke tempat itu.


"Bagaimana? bagus kan tempatnya?" tanya Hendra.


"Kalau siang akan terlihat bagus, tapi kalau malam dari jauh orang akan merinding dan ketakutan lalu kabur melihat kain-kain putih ini berterbangan!" jawab Ella jujur yang membuat Hendra mengernyitkan keningnya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2