Cinta 16 Hari Di Sweet Cruise

Cinta 16 Hari Di Sweet Cruise
Bab 14


__ADS_3

Setelah Ella menyetujuinya, Hendra terlihat begitu bahagia. Senyum merekah di bibirnya. Dan cukup lama Hendra menahan tangan Ella agar tak lepas darinya. Sampai yang punya tangan kesal dan menarik tangannya menjauh dari tangan Hendra.


"Haih, meskipun aku setuju. Jangan coba-coba cari kesempatan dalam kesempitan ya!" ucap Ella memberi peringatan kepada Hendra.


Hendra hanya bisa kembali terkekeh. Setidaknya dia masih punya kesempatan untuk perasaan yang dulu ada di antara mereka hadir kembali. Meskipun sebenarnya rasa itu masih penuh di hati Hendra, namun dia mengerti rasa sakit Ella akibat kekejaman ibunya Hendra membuat cinta itu pasti hancur berkeping-keping.


Tapi Hendra sudah bertekad akan membuat Ella kembali mencintai dirinya seperti dulu.


Ella kemudian melihat ke arah meja di dekat tempat tidur Hendra. Disana terdapat sebuah nampan yang berisi bubur dan juga minuman yang terlihat dan tercium baunya seperti minuman herbal dan beberapa obat yang sudah di siapkan dalam sebuah tabung kaca kecil tertutup dengan tutupan karet yang begitu rapat.


"Kamu belum sarapan ya?" tanya Ella iseng.


"Belum, aku tidak berselera!" jawab Hendra yang menyibak selimutnya dan bersiap untuk turun dari tempat tidur.


"Heh, kamu mau ngapain? kamu masih sakit!" kata Ella yang menahan tangan Hendra saat akan turun dari tempat tidur.


"Aku baik-baik saja Ella, aku tidak mau mengobrol di atas tempat tidur seperti ini!" jelas Hendra.


"Kamu yakin?" tanya Ella.


Hendra pun mengangguk yakin.


"Tapi kamu harus sarapan dulu, lihat itu dokter Imran sudah menyiapkan obat untukmu!" seru Ella yang masih berusaha menahan Hendra.


"Kamu suapi aku ya, kalau kamu mau menyuapi aku, aku baru mau makan!" kata Hendra.


"Baiklah, mau makan di mana?" tanya Ella.


"Di sofa saja ya!" ucap Hendra.


Tapi saat Hendra akan berjalan, langkahnya kembali tidak stabil bahkan sampai kembali terjatuh lagi di atas tempat tidur.


"Hendra!"


Ella langsung menahan tubuh Hendra, jelas terlihat dari matanya kalau Ella sangat cemas pada kondisi Hendra. Ella sudah berpikir yang tidak-tidak. Ella yakin kalau sakit Hendra ini serius.


"Sudah, sudah... kamu rebahan saja di sini ya. Aku akan suapi kamu di sini!" ujar Ella panik.


Padahal sebenarnya Hendra sudah membaik, hanya saja karena dia belum sarapan hingga lewat jam sembilan pagi dan belum minum obat makanya tekanan darahnya kembali menurun. Tapi Ella bahkan sudah berpikir lebih dari itu. Mengingat Hendra yang pingsan kemarin ketika mereka berdua tersesat di pulau itu.

__ADS_1


Ella membantu Hendra untuk duduk bersandar di sandaran tempat tidur dan membantu Hendra meluruskan kakinya. Bahkan Ella langsung menyelimuti kaki Hendra sampai ke pinggangnya.


"Diam di situ, dan buka mulut mu!" seru Ella dengan tegas.


Ella langsung meraih mangkuk bubur yang ada di atas meja lalu memeriksa suhu panas dari mangkuk bubur itu.


"Sudah dingin, mereka pasti sudah menyiapkannya dari pagi ya, pasti tidak enak makan bubur dingin. Dimana microwave mu, aku hangatkan sebentar?" tanya Ella.


Hendra yang tertegun melihat Ella menggerutu seperti biasanya pun segera menaikkan alisnya begitu Ella melihatnya dengan tiba-tiba.


"Kenapa melihat ku begitu?" tanya Ella.


Hendra yang tertangkap basah sedang terkesima pada sang mantan itu langsung menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak terlalu gatal.


"Ah itu, tidak apa-apa. Kamu bertanya apa?" tanya Hendra mengalihkan perhatian Ella.


"Dimana microwave nya?" tanya Ella.


"Ada di ruangan sebelah ruangan ini!" ujar Hendra sambil menunjuk ke arah ruangan sebelah ruangan kamarnya itu.


Ella langsung bangun dan bergegas ke ruangan sebelah membawa mangkuk bubur yang sudah sedikit dingin.


Ella kemudian berpikir


'Rapi sekali, dia sakit kan. Apa mungkin dia melakukan semua ini sendiri. Atau si wanita pirang yang waktu itu? wah apa mereka tinggal satu kamar?'


Setelah buburnya panas kembali, Ella membawanya lagi ke kamar Hendra menggunakan piring berukuran sedang sebagai alasnya.


"Maaf sudah merepotkan mu" ucap Hendra yang melihat Ella kembali masuk ke ruang kamarnya.


"Tidak masalah, ini menu sarapan mu setiap hari?" tanya Ella yang duduk di dekat Hendra.


"Tidak juga, Imran hanya memberikan itu kalau penyakitku kambuh!" jawab Hendra.


Mendengar Hendra mengatakan hal itu, Ella langsung memicingkan matanya tajam ke arah Hendra.


"Jadi yang menyiapkannya dokter Imran? bukan sekertaris mu yang berambut pirang itu?" tanya Ella sambil mengaduk-aduk bubur yang ada mangkuk yang dia pegang.


Hendra melebarkan matanya mendengar apa yang dikatakan Ella. Hendra merasa seolah Ella cemburu pada sekertaris nya itu. Hendra bersorak dalam hatinya, dia bahkan berniat untuk menggoda Ella.

__ADS_1


"Oh, Selly. Dia memang sering datang kemari. Yang membereskan ruang kerja juga dia!" jelas Hendra yang kali ini berkata benar.


"Oh ya, dapur juga?" tanya Ella masih sambil mengaduk-aduk bubur yang ada di mangkuk dengan ritme yang mulai semakin cepat.


Semakin melihat Ella yang terlihat mulai kesal. Hendra semakin ingin menggodanya terus.


"Iya terkadang dapur juga kalau dia mampir makan malam kemari!" kata Hendra.


Hendra mang tidak berbohong pada Ella. Selly memang tak jarang makan malam bersama di ruangan Hendra ini. Tapi tidak hanya berdua dengan Hendra, selalu dengan Imran dan asisten pribadi Hendra yang satu lagi Gugun.


"Kalian sering makan malam berdua? apa dia juga membersihkan kamar mu?" tanya Ella yang mulai berhenti mengaduk bubur di mangkuk untuk Hendra.


"Pernah...!"


Dukk


Ella langsung meletakkan mangkuk bubur di atas meja dengan sedikit keras.


"Aku akan minta dokter Imran panggil Selly saja, agar dia yang menyuapi mu!" kata Ella yang langsung berdiri dan hendak pergi dari tempat itu.


Namun langkah Ella tertahan karena pergelangan tangannya di cekal oleh Hendra.


"Kenapa kamu marah, aku mau bilang pernah tidak ya? begitu!" jelas Hendra.


"Apa kamu cemburu?" tanya Hendra.


Ella yang mendengar pertanyaan dari Hendra langsung tersadar dengan apa yang sudah dia lakukan.


'Hais, kenapa aku malah baper begini sih? mau perempuan itu membersihkan kamarnya atau membersihkan dirinya sekalipun apa urusannya dengan ku, bod0hnya aku!' keluh Ella dalam hatinya sendiri.


Ella langsung melepaskan cekalan tangan Hendra darinya dengan tangannya yang satu lagi.


"Untuk apa aku cemburu?" tanya Ella.


"Benarkah, kalau begitu suapi aku. Kalau kamu pergi aku tak akan makan!" ucap Hendra.


Ella pun tak ingin berdebat lagi, dia masih tidak enak hati karena terkesan cemburu tadi.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2