
Pria itu meletakkan ponselnya setelah tak kuasa menahan rindunya pada Ella. Dia merebahkan dirinya dan memandang ke langit-langit kamarnya. Bayangan masa lalu ketika dirinya bertemu dengan Ella kala itu pun kembali teringat di benaknya.
Flashback On
Agra Mahesa, seorang dokter muda yang kala itu baru saja membuka klinik barunya di sebuah rumah yang baru dia beli dengan hasil kerja kerasnya sendiri selama tiga tahun bekerja di sebuah rumah sakit besar yang sangat terkenal di kota ini.
Pembukaan kliniknya begitu luar biasa, karena di hadiri oleh beberapa dokter senior dari rumah sakit tempatnya bekerja sebelumnya. Para dokter senior itu begitu bangga pada sosok Agra yang masih muda namun sangat berbakat dan pekerja keras.
Semua orang begitu sayang pada pria tampan yang juga di kenal rendah hati itu. Tiga hari pembukaan kliniknya, dokter muda itu begitu sibuk karena banyak sekali yang berobat di klinik barunya itu. Harga yang terjangkau, bahkan tak di pungut biaya sepeserpun untuk anak yatim dan lansia yang tak ada anak saudara membuat klinik dokter Agra cepat terkenal.
Hingga suatu sore, ketika dokter Agra tengah memeriksa pasien yang datang. Dia mendengar keributan di luar kliniknya. Setelah selesai menerima pasien itu dia pun keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Ketika dokter Agra membuka pintu, dirinya terkejut melihat seorang gadis yang terus melipat tangannya memohon pada perawat yang ada di resepsionis.
Gadis yang basah kuyup karena di luar memang sedang hujan, bahkan tanpa alas kaki. Gadis itu juga meminta maaf pada semua orang yang ada di sana agar memberinya kesempatan agar adiknya di periksa terlebih dahulu.
"Tolong, sus. Aku mohon, adikku pingsan. Ayahku sedang menggendongnya kemari. Tolong biarkan dia di periksa segera setelah dia datang!" pinta Ella yang sudah tak jelas mana derai air mata mana air yang menetes dari rambutnya karena guyuran hujan.
"Ada apa?" tanya Agra yang merasa sangat kasihan pada Ella.
Melihat snelli putih yang di pakai Agra, Ella yakin dialah dokter yang bertugas di klinik ini. Segera Ella bersimpuh di depan Agra.
"Dok, tolong adik saya dok. Dia pingsan!"
Dan baru Ella selesai mengatakan kalimat itu, Yudi sudah datang dengan tergopoh-gopoh menggendong anak bungsunya yang tengah pingsan dan tak sadarkan diri. Di belakangnya menyusul Kartika yang juga menggandeng anak keduanya dengan mata yang merah karena menangis tanpa henti.
Hati Agra langsung teras ngilu, dia tidak menyangka akan ada hal seperti ini yang dia lihat. Agra pun melihat ke arah semua pasien yang tadinya sudah lama menunggu.
"Mohon maaf ya bapak-bapak, ibu-ibu. Karena ini kondisi darurat. Maka saya akan tangani pasien ini dulu. Sebagai permohonan maaf saya semua pengobatan hari ini gratis!" seru dokter Agra.
__ADS_1
Semua orang terlihat saling berbincang-bincang lalu menganggukkan kepalanya mereka setuju. Sementara Ella yang langsung bangun membantu sang ayah malah terkejut karena dokter itu menurutnya sangat menakjubkan. Dia menggratiskan biaya demi memeriksa adiknya terlebih dahulu.
Ella dan keluarganya membawa si bungsu ke dalam ruang periksa. Setelah beberapa lama, akhirnya Romi, adik bungsu Ella sadarkan diri. Ella dan keluarganya tentu saja saat bersyukur. Ella juga tak tinggal diam saat adiknya dalam masa pengobatan, dia mengerjakan apapun yang bisa dia kerjakan di klinik itu, bersih-bersih, mencuci apapun yang kotor. Tapi Ella tetap bingung tentang biaya pengobatan Romi.
Ella yang sudah di beri pakaian, bukan hanya Ella. Tapi semua keluarganya di beri pakaian ganti oleh dokter Agra karena pakaian mereka basah kuyup terkena hujan. Ella segera mendatangi dokter Agra yang ada di ruangannya, tapi saat itu praktek dokter Agra belum buka.
Ella mengetuk pintu dengan sopan, ketika dokter Agra mempersilahkan dirinya untuk masuk, Ella baru membuka pintu ruangan dokter Agra tersebut.
"Dokter!" sapa Ella canggung.
"Ella, masuklah!" kata dokter Agra sambil tersenyum.
Ella masuk dan berdiri agak jauh dari meja kerja Agra.
"Kenapa? ada yang kamu butuhkan?" tanya Agra.
"Apa aku pernah mengatakan kalau kamu harus membayar untuk biaya pengobatan Romi, Ella?" tanya dokter Agra.
Ella merasa sangat tidak enak, lalu dokter Agra berdiri dan menghampiri Ella.
"Kamu tidak perlu membayar biayanya, kalian juga bisa tinggal di rumah itu sampai kapanpun. Percayalah aku ikhlas membantu kalian!" ucap dokter Agra.
Ella yang takjub pada kebaikan dokter Agra langsung memeluk dokter Agra sambil menangis.
"Terimakasih dokter, terimakasih banyak!" ucap Ella.
Namun sejak peristiwa itu, hati dokter Agra mulai terpaut pada Ella. Ibu dokter Agra, Agatha juga sering mengajak Ella ke toko bunga miliknya, Ella bekerja di sana pada awalnya. Hingga dia mendapatkan tawaran pekerjaan yang lebih baik sampai saat ini. Dan hubungan keduanya sekarang menjadi tunangan.
Flashback Off
__ADS_1
Agra masih menatap langit-langit kamarnya. Dia sangat mencintai Ella, tapi dia tak mau gadis muda yang ceria dan penuh semangat itu kehilangan masa depannya karena menikahi pria cacat sepertinya.
***
Sementara itu di kapal pesiar Sweet Cruise...
Alunan musik mulai di mainkan. Satu persatu peserta yang ikut tarian kursi itu berkurang karena setiap kali musik di hentikan, akan ada satu kursi yang di ambil dari tempat itu. Otomatis tempat duduk untuk para peserta jadi berkurang.
Tapi jika orang lain melihatnya dengan teliti, sebenarnya fungsi dokter Imran di dekat Hendra adalah memberikan tempat duduknya untuk Hendra. Dokter Imran yang berbadan besar dan jago beladiri itu mendorong setiap orang yang akan menduduki kursi di sebelahnya agar Hendra bisa duduk.
Dan dari kubu Dinda dan Ella juga tak mau kalah karena Dinda terus merengek pada Ella agar salah satu dari mereka harus menang.
"Ella plis, kita kerja sama oke. Kita harus menang! paling gak kalau bukan aku ya kamu yang menang!" ujar Dinda penuh semangat.
Dan benar saja, setelah tinggal empat kursi, di sana yang duduk adalah Dinda, Ella, Hendra dan dokter Imran.
Ella mengernyitkan keningnya melihat Hendra duduk di sebelahnya. Tapi Hendra tetap memasang wajah datar dan cool, meski hatinya sebenarnya bersorak gembira.
Satu kursi kembali di tarik, persaingan semakin ketat. Awalnya dokter Imran ragu mendorong Dinda. Tapi karena Hendra menatap tajam ke arahnya, dokter Imran terpaksa mendorong Dinda.
Ella yang sudah duduk tak tahu Dinda jatuh, sampai dia sadar semua orang bertepuk tangan dan Dinda berjalan ke arah Jacky.
Wajah terkejut Ella membuat Hendra ingin tertawa tapi tetap dia tahan.
"Ella, kamu harus menang!" teriak Dinda kencang.
***
Bersambung...
__ADS_1