Cinta 16 Hari Di Sweet Cruise

Cinta 16 Hari Di Sweet Cruise
Bab 9


__ADS_3

"Oh ya, aku mau bilang pada kalian semua!" seru Dian tiba-tiba membuat Ella dan yang lain langsung menoleh ke arah Dian.


"Nah, itu yang aku tunggu dari tadi. Apa itu mbak Dian?" tanya Dinda yang sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang akan Dian sampaikan.


Katanya dia akan mengatakan sesuatu sejak makan malam tadi. Tapi saat makan malam dan setelah selesai makan malam. Mbak Dian itu tidak kunjung mengatakan apa yang mau dia katakan.


"Besok kapal pesiar ini akan sampai di pemberhentian pertama, kita akan sampai di dermaga Gili mas Nusa tenggara barat. Kapal ini akan bersandar di sana selama setengah hari. Kita bisa turun dan berjalan-jalan di sana!" ujar Dian senang.


"Banyak tempat menyenangkan di tempat itu, kalian pasti suka. Kalian juga harus coba makanan daerah sana. Unik, pokoknya pasti seru!" kata mbak Dian yang terlihat sangat bersemangat.


Karena penjelasan mbak Dian begitu bersemangat. Akhirnya Ella dan yang lain juga jadi penuh semangat.


"Sekarang sebaiknya kita istirahat, biasanya setelah sarapan kapal ini sudah akan tiba di sana! selamat beristirahat, selamat malam semuanya!" ujar Dian yang langsung berpamitan lalu meninggalkan keempatnya untuk beristirahat di kamarnya.


"Mau ngapain kita di sana? naik kuda?" tanya Jacky yang orangnya mager maksimal.


"Seru tuh naik kuda, mau ah! kita balik kamar yuk, biar besok kita bangun pagi. Gak sabar deh!" ujar Dinda yang terlihat senang karena akan naik kuda di tempat bersandarnya kapal pesiar ini besok.


"Kalau kudanya baik, kalau galak kayak mbak Lusi, ih serem...!"


Setelah mengatakan perkataan itu, Jacky malah langsung berlari meninggalkan ketiga wanita itu.


"Kabur sana, dasar!" keluh Lusi.


Ella dan Dinda hanya terkekeh kecil saja, melihat mbak Lusi marah pada Jacky tapi gak bisa mengejarnya. Jadi muka marah dan pasrah yang bercampur menjadi satu mbak Lusi itu sangatlah terlihat lucu.

__ADS_1


Mereka bertiga pun akhirnya menyusul Jacky ke lantai 4 untuk kembali ke kamar mereka masing-masing.


"Met bobo cantik ya El!" ucap Dinda sambil menguap setelah sampai di depan pintu kamarnya.


Ella tersenyum lalu berjalan ke arah kamarnya. Namun begitu Ella tiba di depan kamarnya. Ella terkejut melihat sebuah karangan bunga yang ada di depan pintu kamarnya itu.


Ella yang sudah bisa menebak dari siapa karangan bunga yang begitu besar dan indah yang harganya pasti sangat mahal itu pun hanya memutar matanya malas dan melewati karangan bunga itu begitu saja.


Ella membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalamnya. Lewat ponselnya, Hendra mengawasi CCtv di depan kamar Ella. Dia menghela nafas kecewa karena Ella tidak menyentuh sama sekali bunga pemberiannya.


Imran yang ikut melihat hal itu, langsung menepuk bahu Hendra pelan.


"Teruslah berusaha, jangan menyerah, semangat!" ujar Imran yang membuat Hendra hanya diam sambil menatap ke arah pintu kamar Ella yang sudah tertutup rapat dan tidak ada tanda-tanda akan terbuka lagi.


Imran lalu meninggalkan kamar Hendra untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat. Namun Hendra yang masih berharap Ella keluar pun masih betah memandangi layar ponselnya yang hanya memperlihatkan gambar pintu kamar Ella yang tertutup rapat dan bunga pemberiannya di luar.


Sudah dapat ide, dia pun membuka pintu kamarnya dan keluar. Hendra menghubungi asisten pribadinya Desi, di tengah malam ketika semua orang sudah mulai istirahat dan hanya beberapa orang saja yang masih terjaga.


Desi yang sudah di beri tahu dia harus apa, langsung bergegas melaksanakan perintah Hendra. Setelah memberi perintah, Hendra kembali ke kamarnya untuk beristirahat.


Keesokan harinya...


Ella yang sudah siap dengan pakaian santai, juga tak ketinggalan kaca mata hitam pemberian Agra pun bergegas untuk segera berkumpul di titik kumpul. Ella membuka pintu kamarnya.


"Hah!" Ella terkesiap bukan main melihat apa yang ada di depan pintu kamarnya.

__ADS_1


Puluhan... oh tidak, mungkin ratusan bunga mawar sudah tersusun rapi di depan pintu kamar Ella. Membentuk tulisan permohonan maaf dari Hendra pada Ella. Bahkan tak ada jalan yang bisa dia gunakan untuk dia keluar dari banyaknya bunga mawar itu.


Ella mengepalkan dua tangannya di depan dada. Dia lalu mengangkat kakinya bersiap menginjak sususan bunga yang merangkai kata maaf itu. Tapi setelah di lihat lagi, bunga-bunga itu terlihat segar dan kondisinya baik. Ella berpikir harganya pasti mahal. Dia yang sangat menghargai uang dan kerja keras orang lain pun mengurungkan niatnya untuk menginjak bunga-bunga itu.


Sambil menghela nafas karena merasa Hendra menambahkan pekerjaan untuknya di pagi yang seharusnya dia tinggal santai berjalan ke resto untuk sarapan. Ella perlahan meraih satu persatu bunga mawar yang tersusun rapi itu dan meletakkan nya di pinggir. Agar dia bisa lewat. Tapi saat dia akan berjalan meninggalkan banyak bunga segar itu. Dia menghentikan langkahnya lalu berbalik.


Hendra yang masih mengawasi Ella dari layar ponselnya melalui satu buah kamera CCtv yang dia pasang di seberang kamar Ella. Awalnya terkekeh, karena dia memang tahu betul kalau Ella itu orangnya sayangan. Maksudnya tidak ingin sesuatu itu jadi mubazir. Hendra sudah bisa menduga hal yang dilakukan Ella itu. Tapi ketika Ella berbalik lagi, Hendra jadi penasaran dengan apa yang akan wanita itu lakukan.


Hendra terus memperhatikan Ella yang berjongkok seperti menyusun bunga-bunga itu menjadi tulisan.


Ella yang punya ide bagus membalas Hendra pun mulai merangkai bunga-bunga mawar itu menjadi tulisan. Ella cukup serius melakukannya.


"Memangnya kalau aku sudah tahu alasan mu meninggalkan aku kenapa? ibumu juga tidak kurang membuat hidupku menderita. Jika dia melihatku bersama mu lagi, wanita tua berambut merah mengerikan itu pasti akan mencekik ku! ih... tidak akan ku ulangi menjadi budak cinta!" gerutu Ella sambil menyusun tulisannya.


Setelah selesai, Ella bangkit berdiri dan menepuk-nepuk kedua telapak tangannya.


"Hah, lihat ini Hendra Adirja! biar kamu tahu rasa!" seru Ella yang langsung meninggalkan tempat itu.


Hendra yang penasaran karena tulisan itu begitu kecil terlihat di layar ponselnya bahkan meskipun sudah di zoom. Akhirnya memutuskan pergi ke depan kamar Ella.


Begitu tiba di sana dan melihat tulisan dari susunan bunga itu ternyata ekspresi wajah Hendra tak seperti yang Ella harapkan. Hendra tak marah, tapi malah terkekeh melihat Ella menulis.


*Memaafkanmu? tunggu ayam jantan bertelur!


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2