
"Mau berdansa denganku?" tanya Hendra mengulurkan tangannya.
Ella mengernyitkan keningnya, dan melihat ke arah tangan Hendra dan ke arah wajah pria itu secara bergantian. Sampai akhirnya dia menggelengkan kepalanya.
Tapi Hendra langsung meraih pinggang Hendra dan merangkulnya dengan erat, membuat Ella melotot tajam padanya.
"Jangan kurang ajar ya, kamu tahu kan aku pernah ikut ekskul taekwondo?" tanya Ella berusaha menggertak Hendra.
Dan Hendra pun mengangguk paham.
"Iya, aku ingat. Dan kamu tidak datang lagi ke ekskul itu setelah pertemuan kedua. Karena ada yang menendang mu!" ujar Hendra.
Ella mendengus kesal, karena ternyata ingatan Hendra tentang masa lalunya lumayan bagus. Bahkan tiba-tiba terdengar suara musik, Ella tidak tahu asalnya dari mana. Jadi dia celingak-celinguk mencari darimana kira-kira asal musik itu.
Dia menemukan sebuah speaker di dekat meja dan kursi yang ada di dekat mereka.
"Semua sudah di setting Ella, kamu suka kan lagi ini. Jauh di dasar jiwaku... engkau masih kekasihku!" Hendra mengikuti syair dari lagu itu.
Ella dulu memang sangat menyukai lagu itu. Tiba-tiba saja hari Ella terasa begitu sakit mengingat apa yang sudah terjadi enam tahun yang lalu. Matanya berkaca-kaca saat melihat Hendra, tangannya masih diam tak membalas pelukan Hendra dan tatapan dalam pria itu.
"Aku tahu enam tahun lalu itu sangat menyakiti mu. Tapi biarkan beberapa hari ini aku menebusnya untukmu!" ujar Hendra lalu memeluk Ella.
Ella masih diam, take membalas pelukan Hendra. Tapi tak juga menolaknya. Dia masih mencoba berkompromi dengan keadaan.
Cukup lama Hendra memeluk Ella hingga, lagi yang di putar tadi selesai.
Hendra mengajak Ella duduk di sampingnya. Hendra terus meminta maaf dan menjelaskan apa yang terjadi pada Ella.
"Aku bahkan lebih ingin menghabiskan waktuku yang tinggal sedikit untuk bersamamu dari pada menyakitimu. Tapi harapan bisa lebih lama dengan mu itu membuatku lemah El. Aku ingin mewujudkan mimpimu yang katamu ingin menua bersamaku!" tambah Hendra berusaha membuka hati Ella kembali.
Ella langsung tercengang, Hendra memang mengingat setiap hal darinya. Lagu kesukaannya, dia yang hanya ikut ekskul taekwondo dua kali pertemuan, lalu mimpi yang bahkan dia ucapkan sambil makan siomay di depan gerbang sekolah mereka dulu.
"Saat itu siomay di piringmu bahkan baru kamu makan satu tusuk, saat kamu mengatakan itu!" lanjut Hendra lagi.
Terus terang saja Ella merasa tersentuh, bahkan hal sekecil itu Hendra masih bisa mengingatnya.
__ADS_1
Ella jadi merasa dirinya sudah sangat keterlaluan pada Hendra. Karena memang sebenarnya Hendra tidak sepenuhnya bersalah atas apa yang menimpa dirinya dan keluarganya. Saat semua kejadian buruk menimpa Ella dan keluarganya itu, Hendra bahkan masih dalam masa pemulihan. Dan dia tidak tahu apa-apa.
Saat Hendra sudah sembuh pun dia tetap mencari Ella. Hanya saja ibunya terus menghalangi. Jadi Ella mulai berpikir kalau sebenarnya ini bukanlah salah Hendra.
"Kamu mau memaafkan aku kan?" tanya Hendra yang sudah bisa melihat tatapan Ella padanya berubah menjadi semakin melembut.
Ella diam selama beberapa detik, sampai dia menganggukkan kepalanya.
"Iya!" ucap Ella pelan.
Hendra langsung memeluk Ella, Hendra merasa sangat lega, begitu lega sampai matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih El, terima kasih!" ucap Hendra yang terdengar gemetaran sangking dia tidak bisa percaya hal ini.
Cukup lama Hendra memeluk Ella, setelah itu mereka makan siang bersama. Suasana di antara keduanya benar-benar sudah membaik. Hendra menceritakan bagaimana dirinya setelah operasi itu.
Sembari terus berusaha mencari Ella, Hendra kuliah lagi dan mengambil pendidikan pasca sarjana. Dia membangun bisnisnya sendiri sampai saat ini.
Dia juga menceritakan kalau ayah dan ibunya sudah berada di luar negeri, menghabiskan masa tua mereka disana dan menyerahkan semua bisnisnya pada sepupu Hendra yang bernama Antoni.
"Kamu tidak ingin tahu, kenapa bisnis ayah dan ibu di serahkan pada Antoni?" tanya Hendra pada Ella.
Ella pun menggelengkan kepalanya, pertanda dia tidak perduli sama sekali. Tapi Hendra tetap menjelaskan padanya.
"Karena aku memilih meninggalkan nama Odi di belakang namaku setelah pertengkaran dengan ibuku karena menolak perjodohan yang dia rencanakan untukku!" jelas Hendra.
Kali ini Ella mulai memperhatikan ucapan Hendra.
"Ibu menyuruhku menikah dengan seorang wanita yang merupakan putri dari koleganya, aku menolaknya. Dan ibuku bilang aku akan di coret dari nama keluarga jika aku menolak, dan aku melakukannya. Aku menolaknya, dan pergi dari rumah itu!" tambah Hendra lagi.
Ella sampai mengangkat sedikit kepalanya mendengar apa yang dikatakan Hendra. Tentu saja Ella tak perlu bertanya apa alasan Hendra melakukan itu. Karena pasti demi dirinya.
Ella mengusap lengan Hendra perlahan saat wajah pria di sampingnya itu mulai tampak sedih. Usapan tangan Ella itu benar-benar sebuah harapan untuknya.
Mereka berdua lalu menyusuri pantai sambil berjalan kaki dan bergandengan tangan. Kini giliran Ella yang menceritakan tentang dirinya dan pekerjaannya pada Hendra.
__ADS_1
"Mungkin kalau bukan karena mas Agra dan ibunya, kami masih terlunta-lunta di jalan...!" setelah mengatakan hal itu, Ella melepaskan tangannya yang di genggam oleh Hendra.
Ella lalu menghentikan langkahnya.
"Akhir bulan ini aku akan menikah dengan mas Agra!" ucap Ella.
Hendra menatap Ella yang mengatakan hal paling menyakitkan untuknya. Tapi Hendra berusaha untuk tersenyum.
"Iya aku tahu, kamu sudah mengatakannya berulang kali padaku. Tapi bahkan kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok El! bagaimana kalau kita jalani saja waktu yang ada?" tanya Hendra sambil menyipratkan air laut ke arah Ella.
Ella berusaha berlari menghindari cipratan air dari Hendra. Namun pria itu terus mengejarnya. Hingga Ella terjatuh dan Hendra pun ikut terjatuh. Mereka tertawa bersama melihat ke langit yang sudah mulai mendung.
"Langitnya mendung!" kata Ella.
"Iya!" jawab Hendra.
"Ayo kita kembali ke Sweet Cruise!" ajak Ella yang tak mau kalau hujan turun mereka berada di yacth itu.
"Ayo!" jawab Hendra lagi.
Mereka lalu bangun dan segera menuju ke yacth yang membawa mereka ke tempat ini. Akhirnya Hendra bisa tersenyum lepas karena usahanya berbuah manis. Hubungannya dengan Ella sudah membaik.
Begitu pula beberapa hari kemudian, Hendra lebih sering mengajak Ella ke tempat tempat indah dan menarik lainnya. Bahkan pernah satu hari, dia mengajak Ella berkeliling dengan helikopter.
Meski berada di kapal pesiar, akses Hendra benar-benar tak terbatas. Sudah lima hari Ella terus jalan-jalan dengan Hendra, hari ini juga Ella dan Hendra baru selesai bermain bowling bersama.
Saat Ella kembali ke kamarnya dia terkejut melihat Dinda berdiri di depan pintu kamarnya.
"Hai Din!" sapa Ella.
"El, sudah beberapa hari ini kamu tidak ikut kami. Sebenarnya kamu pergi dengan siapa? kamu tidak lupa kan, kalah kamu akhir bulan ini akan menikah?" tanya Dinda membuat Ella tercengang.
***
Bersambung...
__ADS_1