Cinta 16 Hari Di Sweet Cruise

Cinta 16 Hari Di Sweet Cruise
Bab 15


__ADS_3

Ella sudah selesai menyuapi Hendra dan memberikannya obat, karena itu Ella merasa sudah tidak ada lagi yang harus dia lakukan disitu. Karena itu Ella pun memutuskan untuk pergi saja dari kamar Hendra itu.


"Aku pergi ya, kamu jaga kesehatan mu dengan baik!" ucap Ella yang sudah berdiri dan bersiap untuk pergi.


Hendra terdengar kecewa mendengar Ella akan pergi. Tapi jika dia tetap menahannya, Ella pasti juga akan menolaknya. Jadi meskipun dia tidak rela. Hendra tetap menganggukkan kepalanya perlahan.


"Baiklah El, terimakasih banyak ya kamu sudah menjenguk dan merawat ku hari ini. Jika besok aku belum sehat, apa kamu mau datang lagi?" tanya Hendra dengan tatapan mata penuh harap yang di tujukan pada Ella.


"Tentu saja, kamu bisa menghubungiku. Mana ponselmu?" tanya Ella pada Hendra.


Hendra lalu menunjuk ke arah salah satu laci pada nakas yang ada di sebelah tempat tidur Hendra.


"Ada di situ!" kata Hendra.


Ella segera membuka laci itu, dan meraih sebuah ponsel dengan gambar apel yang di gigit di belakang ponsel tersebut.


Ella langsung memberikan ponsel itu pada Hendra. Hendra menerimanya dan membuka kunci layar itu lalu menyerahkan kembali ponselnya itu pada Ella.


Mata Ella langsung terpaku pada layar ponsel milik Hendra itu. Dimana di layar ponsel itu, foto Ella ketika dirinya masih SMA dulu yang menjadi wallpaper di layar ponsel Hendra tersebut. Foto Ella yang masih berusia 18 tahun yang masih memakai seragam SMA dengan poni dan kuncir kuda andalannya. Lalu dengan gaya dua hari di depan matanya yang sebelah kiri.


Ella malah terpaku melihat gambar dirinya itu dan tak langsung memasukkan nomor kontaknya di ponsel Hendra sampai layar tertutup kembali karena waktu on layar terbukanya sudah habis.


Begitu layar itu mati, Ella baru menoleh ke arah Hendra lagi.


"Tolong buka kuncinya lagi!" ucap Ella yang memberikan ponsel itu pada Hendra lagi.


Tanpa bertanya kenapa foto Ella yang masih jadi wallpaper di layar ponsel utama Hendra. Karena Ella sudah tahu jawabannya. Seperti yang Hendra katakan, kalau dia masih sangat mencintai Ella. Dan selama ini pun Hendra tak pernah berusaha untuk mencari pengganti Ella, karena memang tidak akan pernah ada yang menggantikannya.


Hendra membuka kunci layar ponselnya lagi dan kembali menyerahkan ponselnya pada Ella.


"Miss call ke nomer mu!" seru Hendra tiba-tiba.


"Ck... kamu takut aku memberimu nomer orang lain?" tanya Ella kesal.

__ADS_1


"Ya, kamu benar. Aku takut kamu memberiku nomer tour guide mu itu, dia terlihat menyeramkan!" jawab Hendra.


Ella langsung mengernyitkan keningnya, darimananya mbak Dian terlihat menyeramkan. Itu alasan yang terlalu mengada-ada menurut Ella.


Setelah memasukkan dan menyimpan nomer kontaknya di ponsel Hendra. Ella me-miss call nomernya sendiri. Hingga ponsel yang ada di dalam tasnya berdering baru dia memutuskan panggilan itu.


"Sudah percaya?" tanya Ella sambil memberikan ponselnya Hendra pada pemiliknya.


Hendra malah hanya terkekeh sambil meraih ponselnya dan meletakkannya kembali ke atas meja.


"Aku pergi ya, bye!" ucap Ella tak berbasa-basi lagi dan tanpa menunggu jawaban Hendra langsung keluar dari ruangan itu.


Saat Ella baru menutup pintu ruangan Hendra, tiba-tiba saja dia di kagetkan dengan suara orang yang bicara padanya.


"Kalian tidak bertengkar lagi kan?" tanya Imran yang berdiri di dekat pintu kamar Hendra.


Ella langsung memegang dadanya karena terkejut dengan suara Imran yang tiba-tiba.


"Dokter... kamu mengejutkan ku!" protes Ella sambil mudur kebelakang dan menyandarkan diri ke dinding sambil menetralkan detak jantungnya agar kembali tenang.


"Tidak dokter, dan dia juga sudah minum obat. Bahkan menghabiskan sarapannya tanpa sisa! kemarin itu dia kenapa dok?" tanya Ella.


"Dia stress berat Ella, dan hal itu membuat penyakit lamanya kambuh. Dia sudah katakan padaku, kalau kamu akhir bulan ini akan menikah. Aku tidak berhak meminta apapun padamu karena kita memang tak pernah punya hutang budi sebelumnya, tapi aku hanya ingin katakan padamu. Coba berikan Hendra kesempatan, dia orang baik Ella. Ibunya memang...!"


Imran menjeda ucapannya, karena dia mengerti ibunya Hendra memang benar-benar keterlaluan. Tapi itu semua di luar sepengetahuan Hendra. Jadi Imran merasa kalau Hendra tak pantas menanggung akibat dari perbuatan ibunya.


"Ella!" panggil Dian dari jauh.


Ella dan dokter Imran langsung menoleh ke arah Dian. Sementara Dian bergegas menghampiri keduanya dan kini sudah tiba di depan Ella dan dokter Imran.


"Ella, aku sudah mencari mu sejak tadi. Untung ada yang melihatmu menuju lantai ini. Itu di Jacky berantem di lantai 5!" ucap Dian tergopoh-gopoh.


"Ayo kesana!" ajak Dian.

__ADS_1


Ella terkejut bukan main dan langsung meninggalkan dokter Imran begitu saja tanpa berpamitan padanya.


Sementara itu Imran yang mendengar hal tersebut, langsung masuk ke dalam ruangan Hendra untuk mengabari hal ini pada sahabatnya itu.


Sesampainya di lantai 5, Jacky sedang di tahan oleh dua orang petugas kapal pesiar. Sementara seorang pria yang terlihat seperti orang kaya raya dengan setelan jas dan cerutu di tangannya sedang menunjuk-nunjuk ke arah Jacky.


"Lepaskan dia, apa yang dilakukan oleh temanku?" tanya Ella berusaha meminta agar para petugas melepaskan tangannya dari Jacky.


Ella kesal karena seolah para petugas itu membela orang yang bertengkar dengan Jacky.


"Lihat kan, sekarang perbedaannya orang yang masuk ke dalam kapal ini karena bayar dan karena voucher hadiah!"


"Hei!" teriak Jacky yang kembali tersulut emosi.


Manager lantai lima itu malah memperingatkan Jacky.


"Tuan tolong jangan buat masalah dengan tuan Curtis. Dia pemilik salah satu toko terbesar di kapal pesiar ini!" seru manager lantai lima.


Ella langsung mendekati Dinda yang tengah di peluk oleh mbak Lusi.


"Sebenarnya ada apa sih?" tanya Ella penasaran bukan main.


"Pria tua itu menggoda Dinda, dia menwarkan Dinda jadi istri kelimanya. Dinda menolak malah b0kongnya Dinda di tepok. Jacky marah dan mendorongnya, malah anak buahnya memukul Jacky. Dua penjaga itu tidak masalah, eh malah para petugas kapal ini membantu pria hidung bel4ng itu!" keluh mbak Lusi sambil terus berusaha menenangkan Dinda yang masih syokk.


Ella yang kesal lantas mendekat ke arah Jacky lagi dan menarik tangan petugas kapal pesiar yang menahan Jacky.


"Lepaskan tangan kalian, memangnya kenapa kalau kami masuk kapal ini dengan voucher, yang memberi kami voucher juga kan membayar. Menyebalkan sekali kalian ini!" pekik Ella.


"Nona, berhenti berteriak pada kami. Memangnya kau ini siapa?" tanya manager lantai lima itu.


"Dia calon istriku!"


Seru Hendra yang langsung membuat semua petugas kapal pesiar melepaskan tangan mereka dari Jacky.

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2