
Di rumah sakit, Yudi ingin sekali mengatakan apa yang terjadi pada Ella. Dia tidak mau sampai ada sesuatu yang terjadi pada Agra, tapi Ella tidak mengetahuinya. Maka hal itu pasti akan jadi beban seumur hidup baginya, juga akan menjadi penyesalan seumur hidup bagi Ella.
Sementara itu Agatha, ibunda Agra baru saja kembali dari kantin rumah sakit untuk membeli minuman untuk semua orang yang menunggu proses operasi Agra. Ketika Agatha menghampiri Kartika yang tengah berdiri di dekat dinding batas antara ruangan dalam dan teras luar rumah sakit di lantai tiga dengan menepuk bahu calon besannya itu perlahan.
Kartika langsung terkesiap dan menoleh.
"Dek Kartika, ini minuman untukmu. Minumlah, dulu. Mas Yudi sedang bicara dengan siapa?" tanya Agatha seperti biasanya yang selalu bicara dengan sopan dan tutur kata yang halus.
"Dengan Ella, mbak. Dia terus menghubungi mas Yudi!" jawab Kartika.
Wajah Agatha mendadak menjadi sangat serius. Dia pun bergegas mendekati Yudi yang memang sepertinya akan berkata jujur pada Ella.
Yudi yang sudah berpikir panjang pun ingin mengatakan pada Ella.
"Nak, sebenarnya ketika nak Agra pulang dari kliniknya...!"
Yudi tak meneruskan perkataannya ketika ada seseorang yang menepuk bahunya pelan. Begitu Yudi menoleh dia melihat Agatha menggelengkan kepalanya perlahan pada Yudi.
Yudi paham apa yang dimaksud Agatha. Ayah Ella itu langsung menghela nafasnya.
"Ayah, apa yang terjadi setelah mas Agra pulang dari klinik?" tanya Ella panik dari seberang telepon.
"Maksud ayah, saat terakhir kali nak Agra menghubungi ayah, ya.. saat dia pulang dari klinik itu!" ungkap Yudi dengan gugup.
"Begitu ya yah? aku juga sudah menghubungi mama Agatha, tapi nomer ponselnya juga tidak aktif. Sebenarnya ada apa ya? aku jadi cemas!" jujur Ella pada sang ayah.
"Jangan khawatir nak, mungkin mereka sedang di luar kota yang sinyalnya tidak ada. Jangan berpikir yang tidak-tidak ya, nak Agra pasti akan menghubungi mu begitu dia bisa menghubungimu nak!" tambah Yudi lagi.
"Baiklah yah, tapi kalau mas Agra menghubungi ayah. Tolong katakan padanya untuk mengaktifkan nomernya ya yah!" kata Ella penuh harap.
"Iya nak, sudah dulu ya. Assalamualaikum!"
__ADS_1
"Waalaikumsalam!"
Setelah menutup panggilan telepon nya. Yudi melihat ke arah Agatha dengan perasaan sedih.
"Tapi bukankah lebih baik jika kita jujur pada Ella, mbak?" tanya Yudi.
"Ini permintaan Agra, mas. Lalu bagaimana kalau Ella tahu Agra kecelakaan, dia pasti mengupayakan segala yang dia bisa untuk pulang. Dia sendirian di sana, sedangkan kita semua bersama Agra di sini. Mas jangan cemas, Agra akan baik-baik saja, semua dokter di sini adalah sahabat Agra, mereka akan mengupayakan semua yang terbaik. Lagipula yang terluka hanya punggungnya, kata dokter senior juga tidak terlalu berbahaya. Semua akan baik-baik saja mas!" terang Agatha panjang lebar mencoba membuat Yudi tenang.
Setelah mendengar semua penjelasan Agatha, Yudi pun hanya bisa mengangguk paham.
Agatha tersenyum melihat kekhawatiran Yudi mulai berkurang. Padahal dia sendiri di dalam hati dan pikirannya sangat cemas tentang keadaan Agra. Dia bisa menenangkan orang lain padahal dirinya adalah orang yang paling cemas tentang keberhasilan operasi Agra.
***
Setelah mendapatkan jawaban dari sang ayah. Ella malah semakin tidak bersemangat. Hatinya semakin galau saja. Seandainya ada Agra di sisinya, meski dia dikenal sebagai dokter yang dingin dan irit bicara. Tapi begitu berada di dekat Ella, semua sikap dinginnya itu berubah. Agra akan menjadi sosok yang lucu dan romantis. Saat Ella sedang bimbang dan bingung begini, sebenarnya mendengarkan celoteh Agra adalah hal yang paling dia butuhkan.
Waktu terus berjalan, hingga matahari tenggelam dan menampakan cahaya bulan yang menerangi gelapnya malam. Langit begitu gelap, sepertinya akan turun hujan malam ini.
Tok tok tok
Ella yang hanya pakai pakaian biasa, bukan pakaian makan malam yang di sarankan oleh Dian pun membuka pintu kamarnya.
Ceklek
"Kamu belum siap?" tanya Dinda.
"Aku pakai ini saja ya, hanya makan malam biasa kan? tidak nonton pertunjukan opera kan?" tanya Ella masih dengan raut wajah malas.
Dinda pun mengangguk paham.
"Iya juga ya, lagian apa iya makan malam saja kita harus pakai dress, mini dress, gaun ha ha ha... aku nih yang kayaknya salah persepsi!" ujar Dinda terkekeh.
__ADS_1
Ella pun tersenyum mendengar Dinda berkata seperti itu. Mereka berdua lalu menuju ke depan pintu lift yang merupakan titik kumpul mereka semua. Ella dan teman-temannya.
"Sudah siap semuanya, aduh! ini kamu pakai blouse sama celana panjang El?" tanya Dian agak speechless juga pada penampilan Ella.
"Kan cuma makan malam mbak Dian, gak papa kan?" tanya Ella.
Dia pun menganggukkan kepalanya.
"Oke deh!" jawab Dian cepat.
Dian bersikap biasa padahal dalam hatinya dia bersorak gembira.
'Yes, akhirnya si Ella terlihat penampilan nya biasa aja. Jadi gak kayak kemarin, aku jomplang banget sama dia meskipun sama-sama pakai gaun malam!'
Mereka pun tiba di restoran yang kemarin. Malam itu hujan benar-benar turun. Mereka makan malam bersama tanpa ada gangguan. Jacky dan yang lain tak melewatkan kesempatan memilih menu yang harganya paling mahal di restoran itu, pancake dengan kaviar yang harganya bikin mata mereka melotot yang mereka pesan. Tapi tidak dengan Ella, dia hanya pesan steak biasa dengan karbo noodle pasta.
Setelah makan malam, Dian mengajak mereka untuk ke salah satu klub malam yang ada di dalam kapal. Tapi keempatnya menolak. Mereka belum pernah ke tempat seperti itu, dan memang tidak ingin ke tempat seperti itu.
Jadi Dian tidak bisa memaksa mereka mengikuti jadwal tour yang seharusnya. Mereka pun akhirnya hanya melihat derasnya hujan di salah satu tempat santai yang terdapat banyak kursi pijat refleksinya.
"Tahu gini kita pakai baju kayak Ella!" seru Lusi yang agak ribet dengan gaun malamnya.
Dinda dan Jacky hanya tertawa. Tanpa mereka sadari apa yang mereka lakukan itu sedang di awasi oleh dua orang pria tampan nan rupawan di salah satu sudut lantai di atas lantai dimana Ella dan teman-temannya berada.
"Jadi dia belum menemuimu?" tanya Imran pada Hendra.
"Sepertinya rasa bencinya padaku benar-benar sangat besar. Dia bahkan tidak mau mendengarkan penjelasan ku, dan penjelasan mu!" jawab Hendra dengan tatapan sendu ke arah Ella.
"Mungkin dia sedang memikirkan semua itu Hen, jangan terlalu over thinking. Hal baiknya adalah dia ada di dekatmu, mungkin dia hanya terlalu terkejut dengan semua yang terjadi padamu, dan pada hubungan kalian. Biarkan dia berpikir sejenak dengan tenang!" nasehat Imran pada Hendra.
"Tentu saja Imran, aku sudah menunggu dan mencarinya selama enam tahun, kali ini aku tidak akan melepaskan nya!" seru Hendra begitu yakin.
__ADS_1
***
Bersambung...