
Ella masih diam melihat ke arah Dinda yang memasang wajah serius. Tapi beberapa detik kemudian...
"Pfffttt"
Dinda tak sanggup lagi menahan tawanya, karena Ella terlihat sangat syock dengan pertanyaan Dinda itu.
Ella yang melihat Dinda lantas terkekeh, jadi bingung sendiri.
"Ha ha ha, maafkan aku ya. Aku tahu kamu sedang ada bisnis dengan tuan Hendra, good luck ya. Sekertaris nya bilang tuan Hendra memang sedang mencari sebuah perumahan untuk para karyawannya. Semoga sukses ya, semoga tuan Hendra mau membeli perumahan dari agen kita. Bisa ikut beli rumah juga kita El!" seru Dinda sambil terkekeh tiada henti.
Ella menaikkan kedua alisnya.
Plakk
Dinda lantas menepuk lengan Ella cukup kencang.
"Ya sudah aku mau istirahat dulu, kalau butuh apa-apa, butuh juru bicara tambahan. Cari saja aku ya! bye Ella!" seru Dinda yang langsung pergi dari sana menuju ke arah kamarnya.
Namun setelah kepergian Dinda, Ella malah terdiam di depan pintu sambil melihat ke arah perginya Dinda tadi. Setelah beberapa detik dia baru membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalamnya. Ella bahkan langsung menghubungi nomer kontak Agra lagi. Namun hasilnya masih sama. Nomer kontak Agra itu tak bisa di hubungi lagi.
Ella pun akhirnya memberanikan diri untuk menghubungi nomer Agatha. Tersambung, tertera tulisan berdering di layar ponsel Ella. Namun tak kunjung di angkat.
Ella menjadi gelisah, dua kali dia mencoba tapi tetap tidak di angkat. Saat menghubungi ketiga kalinya nomer Agatha, calon ibu mertuanya itu malah sudah tidak aktif.
Ella sampai membanting ponselnya ke atas tempat tidur lalu mengusap kepalanya gusar.
"Mas Agra, Tante Agatha sebenarnya kalian kemana, kalian kenapa sih, apa kalian mencoba untuk menghindari ku?" gumam Ella yang sudah sangat frustasi.
Agra benar-benar hanya menghubungi dirinya satu kali sejak dia naik sweet Cruise ini. Dan ini sudah hari ke sepuluh. Ella pun jadi sangat cemas.
Tapi saat Ella diam, dia kembali berpikir.
__ADS_1
"Tapi tidak mungkin kan, kalau mas Agra dan Tante Agatha menghindar, pernikahanku dan mas Agra akan di langsungkan akhir bulan ini, tidak mungkin di batalkan. Undangan pasti sudah mulai di sebarkan!" gumam Ella terus memikirkan segala kemungkinannya.
Ponsel Ella berbunyi, satu notifikasi pesan masuk. Membuat Ella buru-buru meraih ponselnya berharap itu balasan dari Tante Agatha. Tapi Ella harus menelan kekecewaan karena itu pesan stiker dari Hendra.
Pesan yang mengucapkan selamat malam dan selamat tidur dengan stiker. Ella pun tak melihatnya. Dia meletakkan kembali ponselnya. Sesungguhnya selama enam hari jalan bersama Hendra, Ella memang sudah mulai bisa memaafkannya. Tapi perasaan yang dulu tak sama lagi saat ini.
Cinta Ella benar-benar hanya untuk Agra Mahesa sekarang. Dia hanya mencoba memberi kesempatan pada Hendra, mengabulkan beberapa keinginan Hendra yang dulu tak pernah mereka lakukan bersama saat masih pacaran. Makan malam berdua, makan siang berdua, sarapan berdua. Main ski berdua, main bowling berdua dan hal lain yang dulu pasangan SMA tak bisa mereka lakukan karena banyak keterbatasan.
Ella juga hanya mencoba untuk bersikap baik saja pada Hendra yang sudah banyak membantunya dan teman-temannya selama di Sweet Cruise.
Sementara itu di kamar Hendra. Pria itu sedang sangat kegirangan. Sangat senang sampai dia mencium ponselnya yang baru mengirimkan pesan untuk Ella.
Imran yang melihat tingkah Hendra itu pun terkekeh.
"Sepertinya penyakit mu bertambah, sepertinya kamu sekarang sudah kena gangguan jiwa!" celetuk Imran di sofa premium dekat tempat tidur Hendra.
Bukk
"Sudah pergi sana! mengganggu saja!" keluh Hendra yang menunggu balasan pesan dari Ella.
"Ck... benar-benar kamu ini ya. Sekarang saja sudah dekat lagi dengan sang mantan. Sahabatmu ini kamu usir secara tidak hormat begini!" keluh dokter Imran.
Wajah ceria Hendra mendadak menjadi murung lagi ketika menunggu lama, tapi tak juga pesannya di baca oleh Ella. Imran yang menyadari hal itu langsung bertanya pada Hendra.
"Ada apa dengan wajahmu? kenapa di tekuk lagi?" tanya Imran.
"Dia tidak membaca pesannya!" jawab Hendra dengan ekspresi wajah yang begitu sedih.
Imran yang sebenarnya sudah bisa melihat dari cara Ella menatap Hendra. Dan dari sikapnya selama ini pun hanya bisa menghela nafas panjang. Imran sudah bisa mengira kalau perasaan Ella pada Hendra memang sudah tak sama lagi seperti yang selalu Hendra ceritakan padanya.
Namun Imran juga tak ingin membuat Hendra bersedih. Maka dokter muda tampan itu pun berkata.
__ADS_1
"Mungkin dia sedang mandi, atau dia malah sudah tidur. Kalian kan sudah menghabiskan beberapa hari ini dengan banyak sekali kegiatan. Dia pasti lelah!" jelas Imran yang coba untuk sedikit menghibur hati Hendra.
Hendra pun menganggukkan kepalanya pertanda dia paham maksud Imran.
"Kamu benar Imran, baiklah aku juga mau tidur. Besok aku akan sarapan bersamanya! kamu keluar saja sana!" ujar Hendra yang langsung masuk ke dalam selimutnya.
Imran yang mendengar hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan keluar dari kamar Hendra.
Keesokan harinya...
Bahkan sebelum Ella membuka matanya, ponselnya terus berdering. Dengan malas Ella meraih ponselnya lalu melihat siapa yang memanggilnya.
"Apa sih Hen? masih pagi tahu!" ucap Ella dengan suara khas bangun tidur.
"Cepat ke kamar ku, aku mau memperlihatkan cara membuat pancake cream padamu!" ucap Hendra yang langsung memutuskan panggilan teleponnya.
Ella langsung meletakkan ponselnya lagi di atas meja lalu merenggangkan otot nya dan sesekali mengusap wajahnya.
"Ya ampun, haruskah sepagi ini!" gumamnya lalu turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Ella sudah selesai bersiap. Dia keluar dari kamarnya, suasana masih sangat sepi. Saat dia melihat ke layar ponselnya masih jam lima pagi. Wajar jika banyak penumpang yang pastinya belum bangun. Hanya beberapa petugas bersih-bersih yang terlihat.
Setelah beberapa saat, Ella pun sampai di depan pintu Hendra. Tanpa sadar Ella langsung membuka pintu kamar itu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Ella berjalan malas ke arah dapur Hendra. Tapi saat sampai di sana, Ella melihat Hendra sedang sibuk mengocok adonan sambil bersenandung dan sesekali memutar tubuhnya seolah sedang menari. Ella bahkan tercengang ketika beberapa syair lagu yang Hendra nyanyikan dia ubah menjadi nama Ella.
Ella hanya bisa menghela nafasnya.
'Semua tidak akan seperti ini jika saja sejak awal kita tidak bersama Hen. Tidak akan satu pun yang akan tersakiti dan menyimpan dendam. Kamu sangat baik Hen, tapi meskipun begitu kita tetap tidak akan bisa bersama!' batin Ella yang sudah sangat yakin pada keputusannya.
***
__ADS_1
Bersambung...